Maghrib itu, hujan kembali turun.


Farhan parkir mobil di gang sempit depan rumah Ustadzah Maemunah — rumah tua di pinggir kampung, dengan pagar besi yang sudah karatan di sudut-sudutnya dan pot-pot tanaman yang berderet di teras kecil. Rumah ini sudah jadi tempat Farhan sering datang sejak ia remaja. Sejak ia masih mengaji dengan Pak Mahmud, ayahnya, yang dulu setiap Selasa malam membawanya ke pengajian di mushola sebelah.


Ia mengetuk pintu. Dua kali. Tidak terlalu keras.


"Masuk, Han!" — suara dari dalam.


Farhan membuka pintu, melepas sepatu di luar, lalu masuk. Ruang tamu Ustadzah Maemunah selalu sama — karpet hijau yang sudah aus di tengah, meja bundar rendah dengan taplak putih, dan satu lemari kayu di pojok yang penuh dengan buku-buku agama dan album foto. Bau melati tipis dari dupa kayu yang selalu dibakar ustadzah sehabis Maghrib.


Ustadzah Maemunah duduk di lantai, bersandar di tembok, dengan sebuah map cokelat di pangkuannya.


"Duduk." Ustadzah menepuk lantai di sampingnya. "Ibu sudah siapin kopi."


Di meja, sudah ada dua gelas kopi hitam — yang Farhan tahu pasti dibuat ustadzah sendiri, pakai biji yang ia giling pakai tangan, kebiasaan yang tidak ditinggalkannya sejak usianya dua puluhan.


Farhan duduk. Ia tidak langsung menyentuh kopi. Ia menatap map cokelat itu — map tipis, sederhana, tidak ada label apapun di kulitnya.


"Bu," Farhan memulai pelan, "sebelum saya buka map itu, saya mau tanya satu hal."


"Tanya saja."


"Kenapa Ibu bilang 'menemukan jawaban'?"


Ustadzah Maemunah tersenyum tipis. Ia tidak langsung menjawab. Ia mengangkat gelas kopinya, menyeruput sekali, lalu menaruhnya kembali.


"Han, kamu inget nggak yang ibu pernah bilang ke kamu, tiga tahun lalu — pas Sarah baru meninggal?"


Farhan menatap kopi di hadapannya.


"Yang mana, Bu?"


"Yang ibu bilang — 'Allah nggak mempertemukan dua orang yang utuh, Han. Allah mempertemukan dua orang yang saling melengkapi kekosongan.'"


Farhan menarik napas pelan.


Ia ingat. Tentu saja ia ingat. Itu kalimat yang Ustadzah Maemunah ucapkan saat ia mengantar makanan ke rumah Farhan, dua hari setelah pemakaman Sarah. Saat itu, Farhan masih belum bisa makan, masih belum bisa mandi, masih belum bisa apa-apa selain duduk di kursi di kamarnya dan menatap dinding selama berjam-jam. Ustadzah Maemunah datang, duduk di sebelahnya, memberi piring nasi, dan berkata kalimat itu — bukan untuk dijawab. Hanya untuk ditanam.


"Ibu," Farhan menggumam, "sampai sekarang saya masih nggak ngerti maksud kalimat itu."


"Nggak apa-apa." Ustadzah Maemunah tersenyum. "Mungkin malam ini kamu ngerti."


Lalu ia menyodorkan map cokelat itu ke arah Farhan.


Farhan menatap map itu. Ia tidak mengulurkan tangan untuk mengambilnya.


"Bu," ia menelan ludah, "sebelum saya buka — ibu masih sanggup kalau saya gagal lagi?"


Ustadzah Maemunah menatap Farhan. Lama. Lebih lama dari biasanya. Lalu — perlahan — ia menggeleng pelan.


"Enggak, Han."


Farhan kaget. Ia tidak menyangka jawabannya itu.


"Ibu nggak sanggup kalau kamu gagal lagi." Ustadzah Maemunah berkata pelan, suaranya jernih tapi ada beban di dalamnya. "Bukan karena ibu capek. Tapi karena ibu nggak mau lihat kamu sakit lagi. Jadi ibu mau jujur — ibu pilih nama ini bukan dari kumpulan ratusan biodata. Ibu pilih nama ini karena ibu kenal orangnya. Bertahun-tahun. Dan ibu rasa — kalau ada satu orang di muka bumi yang bisa ngerti kamu sekarang — orang itu dia."


Farhan menatap map.


"Han," Ustadzah Maemunah menambah, "sebelum kamu buka — ibu mau tanya. Kamu masih sanggup kecewa lagi?"


Kalimat itu — kalimat yang sama yang Farhan tanyakan ke ustadzahnya dari sisi lain — sekarang dilemparkan kembali kepadanya, dan rasanya beda.


Farhan menarik napas dalam-dalam.


"Saya nggak tahu, Bu."


"Itu jawaban yang jujur."


"Tapi..." Farhan menatap kopi di hadapannya, lalu menatap map. "Saya nggak mau berhenti karena takut. Saya mau berhenti — kalau memang harus berhenti — karena saya yakin."


"Bagus."


Farhan mengulurkan tangannya. Map cokelat itu lebih ringan dari yang ia kira.


Ia membukanya.


---


Halaman pertama: data pribadi.


**Nama lengkap:** Hana Maharani


**Tempat / tanggal lahir:** Bandung, 14 Maret 19—


**Pendidikan:** S1 Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia


**Pekerjaan:** Guru tahfidz TPA Al-Hidayah, editor lepas Penerbit Kalam Hati


**Alamat:** Jalan Bukit Asri III No. 28, Bandung


**Status orang tua:** Ayah almarhum. Ibu (Sumiyati, 58 tahun) tinggal bersama.


Lalu di halaman kedua — foto.


Farhan menatap foto itu.


Foto setengah badan, latar polos cokelat muda, gamis ungu sederhana, jilbab panjang, ekspresi yang tidak sedang tersenyum tapi tidak juga tegang. Foto yang biasa untuk biodata ta'aruf. Tidak ada yang istimewa.


Tapi wajah itu.


Farhan menatap foto itu — wajah yang sama dengan yang ia lihat di pojok aula tadi siang. Perempuan yang piringnya hampir jatuh, perempuan yang tangannya gemetar saat memegang gelas, perempuan yang matanya — Farhan ingat sekarang — terlihat persis seperti cermin kamarnya sendiri.


Hana Maharani.


Farhan mengangkat wajahnya pelan.


Ustadzah Maemunah duduk di seberang meja, menyeruput kopinya, menunggu.


"Bu—" suara Farhan keluar lebih pelan dari yang ia inginkan. Ia berdehem. "Bu, ini..."


"Iya."


"Yang tadi di aula?"


"Iya."


Farhan diam.


Ia menatap foto itu lagi. Lalu menatap halaman pertama. Lalu menatap foto lagi.


"Bu," ia bertanya, "ibu pilih nama dia... karena tadi di aula?"


Ustadzah Maemunah tersenyum tipis.


"Bukan, Han. Ibu pilih dia jauh sebelum hari ini. Sebenernya ibu udah mau kasih biodatanya ke kamu dua minggu lalu — tapi ibu ragu. Hana lagi belum siap. Hana lagi sembuh dari sesuatu juga." Ustadzah menarik napas. "Tapi tadi siang, di aula, ibu lihat kamu duduk satu meja sama dia. Dan ibu lihat ekspresi wajah dia waktu kamu nangkap piringnya. Dan ekspresi wajah kamu waktu mau pamit."


"Ekspresi yang gimana, Bu?"


"Ekspresi dua orang yang nggak sadar mereka baru aja ketemu sama orang yang mirip dirinya sendiri."


Farhan menatap kopi di hadapannya.


Lama.


Lalu — pelan-pelan — ia mengangkat tangannya, dan untuk pertama kalinya malam itu, ia mengulurkan jari telunjuknya dan menyentuh tepi foto Hana di biodata itu. Tidak menggesernya. Hanya menyentuh.


"Bu," ia bertanya, masih menatap foto, "dia tahu... saya yang waktu itu?"


"Belum."


"Belum?"


"Hana belum tahu apa-apa, Han. Ibu nelepon dia tadi siang juga, dari mobil — kamu inget kan ibu telpon kamu sama dia hari yang sama? Tapi ibu cuma bilang 'saya rasa saya menemukan jawabannya.' Dia nggak tahu maksud ibu. Dia bahkan nggak tahu siapa kamu — selain dokter teman koas Bayu yang nangkap piringnya."


Farhan mengangguk pelan.


"Dia lagi patah hati juga, Han." Ustadzah Maemunah berkata pelan. "Bukan patah karena meninggal. Patah karena — kamu tahu Bayu yang akad tadi siang?"


"Iya."


"Dua bulan sebelum dia khitbah ke Rania, dia masih dalam proses khitbah sama Hana."


Farhan mengangkat wajahnya cepat.


"Bayu—?"


"Mundur dari Hana. Pindah ke Rania, sepupunya sendiri."


Farhan menatap ustadzahnya. Lalu menatap foto. Lalu menatap ustadzahnya lagi.


"Ya Allah," gumamnya pelan.


Ia tidak tahu kenapa kalimat itu yang keluar. Mungkin karena tiba-tiba banyak hal masuk ke kepalanya sekaligus. Mata Hana di pojok aula. Bekas air mata di pelipisnya. Tangan yang gemetar saat memegang gelas. Datang ke pesta akad mantan calonnya sendiri, di hari pernikahan calonnya itu dengan sepupunya sendiri, duduk di pojok dan menahan air mata yang tidak boleh dilihat orang.


Dan dia datang. Dia datang ke pesta itu.


Farhan tidak tahu — sebelum malam ini, ia akan menyebut itu nekat, atau bodoh, atau sebagainya. Tapi sekarang, dengan foto Hana di depannya dan kalimat ustadzahnya yang masih berputar di kepalanya, ia tahu satu hal yang lain.


Itu bukan nekat. Itu bukan bodoh.


Itu pilihan orang yang sedang menolak menjadi orang yang ngumpet.


Farhan menutup biodata. Pelan. Ia mengembalikannya ke meja.


"Bu."


"Iya, Han."


"Saya mau."


Ustadzah Maemunah tersenyum. Tidak besar — hanya senyum yang lembut, yang membuat sudut matanya berkerut.


"Alhamdulillah."


"Tapi—" Farhan berhenti, ragu sebentar, lalu melanjutkan. "Saya minta satu hal."


"Apa?"


"Jangan kasih tau dia... siapa saya."


Ustadzah Maemunah mengangkat alis. "Maksudnya?"


"Saya — saya nggak mau dia tahu yang nangkap piringnya tadi siang itu saya. Setidaknya, belum sekarang." Farhan menatap kopinya. "Saya cuma mau dia lihat biodata saya, sama seperti dia lihat biodata orang lain. Tanpa foto, kalau bisa."


Ustadzah Maemunah mengerutkan kening.


"Kenapa, Han?"


Farhan diam sebentar.


Bagaimana ia menjelaskan ini?


Bagaimana ia menjelaskan bahwa selama lima ta'aruf terakhir — lima dari enam, kecuali yang pertama dulu — semuanya berakhir dengan dia merasa seperti barang yang dilihat dulu, ditimbang dulu, baru diputuskan. Bagaimana ia menjelaskan bahwa setiap kali biodata dengan fotonya dikirim, ia tahu — di seberang sana, ada keluarga yang sedang memutuskan apakah ia *cukup* — cukup tampan, cukup tinggi, cukup tampak meyakinkan untuk diajak masuk ke jenjang berikutnya. Bagaimana ia menjelaskan bahwa ia bosan dengan rasa itu.


Tapi yang ia ucapkan, hanya:


"Saya mau lihat — kalau dia setuju ketemu saya, dia setuju karena cerita saya. Bukan karena wajah saya, bukan karena gelar dokter saya."


Ustadzah Maemunah menatapnya lama.


Lalu mengangguk pelan.


"Oke, Han. Tapi kamu harus janji satu hal."


"Apa, Bu?"


"Kalau dia setuju ketemu, dan dia datang ke rumah ibu — kamu harus jujur di pertemuan pertama itu. Kamu harus bilang dia, kamu yang tadi siang. Jangan ditahan-tahan."


"Insyaallah, Bu."


Ustadzah Maemunah mengangguk.


"Satu lagi, Han."


"Iya?"


"Hana... dia perempuan yang udah pernah dijadiin pilihan kedua. Dia paling benci sama orang yang nggak jujur dari awal. Jadi kamu inget — kalau kamu mulai, kamu mulai bener. Dari pertama. Sampai akhir."


Farhan mengangguk.


"Insyaallah, Bu."


---


Farhan pulang malam itu dengan biodata Hana di kursi penumpang.


Hujan sudah berhenti saat ia berkendara pulang. Jalanan basah, lampu-lampu jalan memantul di aspal, dan kota terlihat lebih tenang dari biasanya. Tapi di dalam mobil Farhan, suasananya berbeda — ada sesuatu yang lebih ringan di dadanya, dan sesuatu yang lebih berat juga, pada saat yang bersamaan.


Lebih ringan karena untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, ia mengiyakan sesuatu bukan karena tekanan ayahnya, bukan karena rasa bersalah, bukan karena lelah. Ia mengiyakan karena ia *ingin*.


Lebih berat karena — ia tahu sekarang — perempuan yang piringnya nyaris jatuh tadi siang adalah perempuan yang akan duduk di ruang tamu Ustadzah Maemunah dua minggu lagi, dengan biodata Farhan di tangannya. Tanpa foto. Tanpa tahu siapa di seberangnya. Sampai pintu terbuka.


Farhan tidak tahu apakah keputusannya menyembunyikan identitas itu benar atau salah.


Yang ia tahu — saat ia sampai di rumah, ia tidak langsung tidur. Ia duduk di kursi di kamarnya, menyalakan lampu meja, membuka biodata Hana satu kali lagi, dan menatap foto itu lama.


Kali ini, ia tidak hanya menatap wajah.


Ia mencoba membayangkan — perempuan ini, di hari pertama ia ditolak Bayu, apa yang ia rasakan? Di hari ia tahu sepupunya sendiri yang dipilih, apa yang ia rasakan? Di pagi tadi, saat ia berdiri di depan cermin memilih gamis hijau zaitun untuk datang ke pesta itu, apa yang ia katakan pada dirinya sendiri?


Farhan menutup biodata.


Ia mengambil pulpen, dan di selembar kertas kecil — yang biasanya ia pakai untuk mencatat resep — ia menulis satu kalimat.


*"Hana Maharani — sama-sama patah. Mungkin justru karena itu, kita cocok."*


Ia melipat kertas itu, memasukkannya ke dalam map cokelat, dan menutup map itu.


Lalu — untuk pertama kalinya dalam tiga tahun — Farhan tidur tanpa mimpi tentang Sarah.


Ia mimpi tentang pojok aula. Tentang piring yang hampir jatuh. Tentang sepasang mata yang menatap balik, dan tidak menunduk.


---


Di sisi lain kota, di kamar yang lebih kecil dengan lampu meja yang lebih redup, Hana sedang menyalin ayat keenam belas surah Al-Hadid — yang sempat ia tinggalkan dua malam lalu.


Ia menyelesaikannya kali ini. Tanpa terputus. Tanpa membakar apa-apa.


Saat ia menutup mushaf, ia tidak tahu kenapa, tapi ia teringat sebentar — seorang laki-laki di pojok aula yang menangkap piringnya dengan refleks dokter yang sudah terlatih. Ia menggeleng pelan, tersenyum sendiri. *Aneh,* pikirnya, *kenapa wajahnya nempel di kepala?*


Ia mematikan lampu, dan tidur.


Ia tidak tahu — di seberang kota, di kursi dekat lampu meja yang masih menyala sampai pukul satu pagi, ada seorang laki-laki yang baru saja menulis namanya di selembar kertas, dan baru saja memutuskan — untuk pertama kalinya — bahwa ia ingin sekali lagi mencoba.


---