Pesan itu masuk saat Hana sedang menyalin ayat keenam belas surah Al-Hadid.


Tangannya berhenti di kata *yakhsya'* — pena masih menempel di kertas, ujungnya membentuk titik kecil yang terus membesar karena Hana lupa mengangkatnya. Layar ponsel di sebelahnya menyala, lalu padam, lalu menyala lagi. Ada notifikasi. Hana sudah biasa membiarkan ponsel berbunyi sampai ia selesai satu halaman — tapi kali ini, entah kenapa, ia melirik.


Nama pengirim: **Rania.**


Hana menatap layar selama beberapa detik. Lalu pelan-pelan, ia meletakkan pena, menutup mushafnya, dan menarik napas dalam-dalam — seperti orang yang akan masuk ke air dingin.


Ia mengetuk notifikasi.


*"Nan, gue mau ngundang lo ke akad gue."*


*"Sama mas Bayu."*


*"Tanggal 28 Februari. Aula Cendana, jam 9 pagi."*


*"Plis dateng ya. Lo sepupu paling deket buat gue."*


Hana menatap layar.


Ia menatapnya lama — cukup lama untuk membaca empat kalimat itu mungkin sepuluh kali, sampai huruf-hurufnya mulai kehilangan bentuk dan berubah jadi garis-garis hitam yang tidak punya arti.


Mas Bayu.


Nama itu — dua suku kata yang harusnya sudah ia hapus dari kosakatanya — terasa seperti dua jarum kecil yang masuk lewat layar dan menusuk dadanya dari dalam. Pelan. Tidak sakit di awal. Lalu, beberapa detik kemudian, baru terasa.


Bayu adalah laki-laki yang dua bulan lalu masih duduk di ruang tamu rumah ini, di kursi yang sama dengan yang sekarang sedang diduduki ibunya. Bayu yang membicarakan rencana khitbah dengan ibunya dengan suara hati-hati. Bayu yang berjanji akan datang ke rumah orang tuanya untuk membicarakan tanggal — *"Insyaallah minggu depan, Tante."*


Bayu yang minggu depannya itu tidak pernah datang.


Bayu yang dua minggu kemudian mengirim pesan, satu kalimat — *"Han, kita ketemu sebentar bisa?"* — dan duduk di kafe yang sama dengan tempat ia dulu mengantar Hana pulang setelah pertemuan pertama mereka, lalu berkata dengan suara yang ia tahan supaya terdengar tenang: *"Han, gue mau jujur. Gue rasa gue harus mundur dari proses ini."*


Bayu yang ketika Hana bertanya *kenapa*, tidak bisa menjawab langsung. Yang hanya bilang — *"Keluarga gue... ada pertimbangan lain."*


Hana ingat ia tidak menangis di kafe itu. Ia hanya bertanya satu hal lagi, pertanyaan yang ia tidak tahu kenapa keluar dari mulutnya: *"Pertimbangan lain itu, namanya siapa?"*


Bayu tidak menjawab. Tapi caranya tidak menjawab, sudah cukup.


Dua bulan kemudian, sepupu Hana — Rania — memposting foto di Instagram. Tangan kanan, jari manis, cincin perak sederhana. Caption-nya hanya emoji bunga.


Dan sekarang, dua bulan lebih setelah itu, undangan akadnya datang ke ponsel Hana lewat WhatsApp seperti ini hal yang biasa-biasa saja. Seolah Rania tidak tahu. Seolah Bayu lupa.


Atau — Hana menelan ludah — seolah keduanya memang tidak peduli.


"Han?"


Suara dari arah pintu kamar membuat Hana menoleh.


Ibunya berdiri di ambang pintu, mengenakan daster cokelat tua yang sudah lama warnanya pudar, tangan kanannya memegang gelas air hangat. Hana cepat-cepat mengusap pipinya — yang ternyata sudah basah, padahal ia tidak ingat kapan air mata itu mulai turun.


"Bu," ia tersenyum, "kok belum tidur?"


"Ibu mau minum dulu." Bu Sumiyati melangkah masuk pelan-pelan, lalu duduk di pinggir kasur. "Kamu nangis?"


"Enggak, Bu. Cuma—"


"Han."


Hana berhenti. Ibunya, meski tubuhnya makin kurus dan napasnya makin pendek belakangan ini, masih punya satu hal yang tidak pernah hilang: mata yang tidak bisa dibohongi.


Tanpa berkata apa-apa, Hana menyerahkan ponselnya kepada ibunya.


Bu Sumiyati memakai kacamata baca yang tergantung di leher dasternya. Membaca pesan itu pelan-pelan. Mengeja seperti sedang menerjemahkan bahasa asing.


Hana melihat wajah ibunya. Tidak ada terkejut. Tidak ada marah. Hanya — bibirnya mengatup sedikit lebih rapat, dan tangan yang memegang ponsel berhenti gemetar.


Lalu Bu Sumiyati meletakkan ponsel itu di samping mushaf yang masih terbuka.


Dan tanpa berkata apapun, ia membentangkan kedua tangannya.


Hana tidak sanggup menahan lagi.


Ia merebahkan tubuhnya ke pelukan ibunya, dan untuk beberapa detik yang terasa lama, ia hanya menangis — pelan, tanpa suara, hanya bahunya yang gemetar dan air mata yang turun ke daster ibunya. Bu Sumiyati tidak mengusap. Tidak menenangkan. Hanya memeluk. Pelukan yang tidak buru-buru, pelukan yang seolah berkata — *menangislah, Nak, ibu ada di sini.*


Lalu, setelah napas Hana mulai teratur, Bu Sumiyati berbisik di telinganya.


"Kamu nggak harus dateng, Nak."


"Tante Yati ngundang ibu juga, Bu."


"Ibu juga nggak harus dateng."


"Tapi kalau kita nggak dateng, semua orang akan—"


"Han." Bu Sumiyati menarik tubuhnya sedikit, memegang kedua bahu Hana, menatapnya. "Apa kata orang itu makanan paling pahit di dunia, Nak. Jangan kamu kunyah-kunyah terus."


Hana menundukkan wajah.


Ibunya benar. Ibunya selalu benar. Tapi tahu sesuatu benar tidak sama dengan bisa melakukannya.


---


Setelah ibunya kembali ke kamar, Hana duduk lama di lantai kamarnya.


Ia menatap laci meja belajarnya — laci paling bawah, yang sudah dua bulan ini tidak ia buka. Di dalamnya ada kotak kayu kecil, hadiah ulang tahun dari ayahnya — almarhum — yang selalu Hana pakai untuk menyimpan hal-hal yang ingin ia simpan tapi tidak ingin ia lihat setiap hari.


Hana berdiri. Membuka laci. Mengeluarkan kotak itu.


Di dalamnya ada surat-surat.


Tidak banyak. Hanya tujuh lembar. Tujuh surat tulisan tangan dari Bayu — yang dulu, di masa-masa awal, Bayu sengaja kirim lewat pos, karena katanya *"surat lewat WhatsApp itu nggak punya jiwa."* Tujuh surat yang dulu Hana baca berulang-ulang sampai tepiannya mulai melengkung. Tujuh surat yang berisi kalimat-kalimat seperti *"Han, gue mau bawa lo ke ibu gue minggu depan,"* dan *"Han, gue udah nabung buat khitbah,"* dan *"Han, gue minta lo doain proses kita lancar."*


Tujuh surat yang sekarang terasa seperti tujuh kebohongan dengan tulisan tangan yang bagus.


Hana membawa kotak itu ke wastafel kamar mandi.


Ia tidak berpikir. Tidak merencanakan. Hanya tangannya yang bergerak — mengambil korek api dari rak, menyalakannya, lalu mendekatkannya ke ujung surat pertama.


Api menjalar pelan. Mula-mula hanya ujung kertas yang menghitam. Lalu, perlahan, kalimat-kalimat itu mulai dilahap — *"Han, gue mau bawa lo—"* hilang. *"Han, gue udah nabung—"* hilang. *"Han, gue minta lo doain—"* hilang.


Hana memegang surat itu sampai api hampir menyentuh ujung jarinya, lalu melemparkannya ke wastafel. Surat kedua. Surat ketiga. Sampai tujuh.


Asap tipis naik ke cermin di atas wastafel. Hana menatap pantulan dirinya — wajah tanpa air mata sekarang, hanya pucat dan lelah. Rambutnya yang sebagian keluar dari jilbab tidur, lingkaran hitam di bawah mata, bibir yang mengatup keras.


Lalu suara ketukan pintu kamar terdengar.


"Han? Lo masih bangun?"


Hana cepat-cepat menyalakan keran, membilas abu di wastafel, mematikan korek api, lalu keluar dari kamar mandi.


Membuka pintu kamar.


Aisyah berdiri di sana, masih memakai jaket denim yang ia pakai tadi siang, satu tangan memegang kotak martabak yang masih hangat — bisa Hana cium baunya dari sini — dan tangan lainnya bertolak pinggang dengan ekspresi yang sangat khas Aisyah: campuran antara *gue tau lo lagi nggak baik-baik aja* dan *jangan harap gue pura-pura nggak tau*.


"Ay—"


"Diem dulu." Aisyah masuk, melepas sepatunya tanpa diminta, duduk di lantai kamar Hana, dan menaruh kotak martabak di tengah. "Tante Yati telpon ibu gue tadi. Dia nangis-nangis cerita soal undangan Rania. Katanya dia bingung gimana ngomong sama lo. Ibu gue telpon gue. Gue beli martabak. Gue dateng. Gitu doang."


Hana menatap sahabatnya. Lalu, untuk pertama kalinya malam itu — entah karena lelah atau karena sudah tidak ada lagi yang bisa keluar — ia tertawa. Pelan. Tapi tawa.


"Lo gila, Ay."


"Iya tau." Aisyah membuka kotak martabak. "Lo nggak harus dateng, Han. Beneran. Gue dukung apapun keputusan lo."


"Mama gue juga bilang gitu."


"Tante emang paling waras di antara kita." Aisyah menyodorkan potongan martabak. "Lo udah makan dari kapan terakhir?"


"Tadi siang."


"Pantesan otak lo udah error."


Hana menerima potongan itu, tapi tidak langsung memakannya. Ia hanya memegangnya di tangannya, menatap pola kotak-kotak coklat di atasnya, lalu menarik napas panjang.


"Ay."


"Hm?"


"Gue mau dateng."


Aisyah berhenti mengunyah.


Ia menatap Hana — lama, hati-hati, seperti dokter yang sedang memastikan pasiennya tidak sedang demam saat berbicara. "Han, lo yakin?"


"Enggak." Hana tertawa kecil. Tawa yang lebih mirip helaan napas. "Tapi gue rasa kalau gue nggak dateng, gue akan terus jadi orang yang ngumpet. Dan gue capek ngumpet."


"Han—"


"Sekali aja, Ay. Gue mau lihat. Gue mau nyaksiin sendiri. Setelah itu, gue selesai."


Aisyah diam lama. Lalu ia mengangguk pelan.


"Oke. Tapi gue temenin."


"Lo bukan keluarga."


"Gue keluarga lo. Bukan keluarga mereka." Aisyah mengangkat dagu. "Gue temenin. Titik."


Hana tersenyum tipis.


Kali ini, ia menggigit martabaknya.


---


Tanggal 28 Februari datang lebih cepat dari yang Hana siapkan.


Pagi itu, ia berdiri di depan cermin selama hampir empat puluh menit, mencoba tiga gamis berbeda, lalu kembali ke yang pertama. Hijau zaitun, sederhana, longgar. Bukan yang paling cantik di lemarinya. Tapi yang paling tidak akan menarik perhatian.


Aisyah datang menjemputnya jam delapan. Mereka berangkat sama-sama.


Aula Cendana ramai. Bunga-bunga di pintu masuk, karpet merah, tamu-tamu yang berbisik dan bersalaman. Hana berjalan masuk dengan tangan Aisyah yang menggenggam tangannya — sangat erat, seolah Aisyah lebih takut daripada Hana.


Ia melihat Rania di pelaminan. Putih, berkilau, tersenyum. Dan di sebelahnya — Bayu.


Hana tidak menatap lama. Ia hanya menatap sekali, lalu memalingkan wajah.


Ia tidak menangis. Ia bahkan tidak gemetar. Ia hanya berjalan, menyalami Tante Yati di pintu, mengucapkan selamat dengan kalimat yang sudah ia hafal di kepalanya selama dua minggu, lalu mencari tempat duduk di pojok ruangan.


Aisyah pergi ke meja prasmanan mengambil air. Hana duduk sendiri di kursi pojok, memegang gelas kosong di pangkuannya.


Ia menarik napas.


*Sebentar lagi,* ia berkata pada dirinya sendiri. *Setengah jam lagi. Lalu pulang. Selesai.*


Tapi saat ia mengangkat wajah, matanya tidak sengaja menangkap sesuatu di seberang ruangan.


Seorang laki-laki, duduk sendiri di pojok lain — pojok yang berseberangan dengannya. Kemeja putih sederhana, peci hitam, tidak terlihat seperti orang yang dikenal banyak orang di pesta ini. Tangannya memegang gelas teh, tapi tidak diminum.


Hana hampir tidak akan memperhatikannya, kalau bukan karena satu hal.


Mata laki-laki itu.


Sebentar — hanya sebentar — pandangan mereka bertemu. Tidak lama. Tidak ada yang spesial. Laki-laki itu tidak tersenyum. Tidak menunduk. Hanya menatap kembali, lalu pelan-pelan mengalihkan pandangan ke gelas di tangannya.


Tapi dalam dua detik itu, Hana mengenali sesuatu.


Sesuatu di mata laki-laki itu — yang ia tidak tahu namanya, tidak tahu darimana — yang tampak persis seperti yang ia lihat di pantulan cermin kemarin malam, saat ia berdiri di depan wastafel dan membakar surat-surat itu satu per satu.


Mata yang sama.


Mata orang yang baru saja patah.


---