Farhan tidak akan datang ke pesta itu, kalau bukan karena utang budi.
Bayu Pratama, mempelai pria di pelaminan itu, adalah teman seangkatannya di fakultas kedokteran. Mereka tidak terlalu dekat — Bayu jurusan dokter spesialis bedah, Farhan dokter umum, jalur karier mereka bercabang sejak tahun keempat — tapi ada satu malam, lima tahun lalu, saat Bayu yang sedang koas tiba-tiba menelepon Farhan jam dua pagi.
*"Han, ibu gue masuk UGD. Stroke. Gue lagi dinas di kota lain. Lo bisa cek?"*
Farhan, yang waktu itu juga lagi koas di rumah sakit yang sama, langsung turun ke UGD. Ia menemani ibu Bayu sampai pagi. Ia yang menelepon kerabat. Ia yang mengisi formulir. Ia yang ketika ibu Bayu akhirnya sadar, duduk di sebelahnya dan berkata pelan: *"Tante, Bayu sudah dalam perjalanan."*
Bayu tidak pernah melupakan itu.
Maka ketika undangan akadnya datang ke Farhan dua minggu lalu, Farhan tidak bisa menolak. Bukan karena ia ingin datang. Tapi karena ia ingat — di malam yang panjang lima tahun lalu, di ranjang nomor tujuh UGD, ibu Bayu pernah memegang tangannya dan berkata *terima kasih, Nak.*
Jadi ia datang.
Pagi itu, Farhan memakai kemeja putih sederhana — yang sama dengan yang ia pakai ke setiap acara setengah formal dalam tiga tahun terakhir — celana hitam, peci. Ia datang sendiri. Tanpa keluarga. Ayahnya menolak ikut karena katanya — *"Kalau bukan akad kamu sendiri, ayah nggak mau hadir ke akad orang lain."* Kalimat itu pedas, tapi Farhan diam-diam merasa lega. Setidaknya ia tidak perlu menjawab pertanyaan ayahnya selama perjalanan pulang.
Aula Cendana ramai saat ia sampai. Lebih ramai dari yang ia kira.
Farhan menyalami Bayu di pelaminan sebentar — Bayu memeluknya erat, berbisik *"makasih udah dateng, Han"* — lalu Farhan mundur dengan sopan dan mencari tempat yang tidak terlalu mencolok. Ia tidak suka pesta. Ia tidak pernah suka pesta. Tapi ia tahu adab — tidak boleh pulang sebelum makan, tidak boleh terlihat seperti tidak menghargai tuan rumah. Jadi ia duduk di pojok ruangan, mengambil teh, dan menunggu sampai waktunya untuk pamit terasa sopan.
Ia tidak akan memperhatikan apa-apa di pesta itu, kalau bukan karena satu hal.
Saat ia duduk di kursinya dan mengangkat gelas teh — matanya tanpa sengaja melintasi ruangan, ke arah seberang. Dan di pojok seberang, ia melihat seorang perempuan duduk sendiri.
Hanya itu — perempuan duduk sendiri.
Tidak ada yang istimewa.
Tapi entah kenapa, Farhan tidak langsung mengalihkan pandangan.
Perempuan itu memakai gamis hijau zaitun, jilbab yang sederhana, tangannya memegang gelas kosong di pangkuannya — bukan gelas yang habis dia minum, tapi gelas yang sejak tadi memang kosong. Wajahnya menunduk sedikit, tapi tidak menundukkan diri seperti orang yang malu — lebih seperti orang yang sedang menghitung sesuatu di kepalanya. Menahan sesuatu. Menghitung detik mungkin.
Lalu perempuan itu mengangkat wajah.
Dan pandangan mereka bertemu.
Dua detik. Mungkin tiga.
Farhan tidak menunduk. Bukan karena ingin menatap — tapi karena dalam dua detik itu, ia melihat sesuatu di mata perempuan itu yang membuatnya berhenti sebentar.
Sesuatu yang familiar.
Sesuatu yang persis seperti yang Farhan lihat di cermin kamarnya, dua malam yang lalu, saat ia pulang dari pemakaman.
Mata orang yang baru saja patah.
Farhan pelan-pelan mengalihkan pandangannya ke gelas teh di tangannya. Ia tidak ingin perempuan itu merasa diawasi. Tapi sesuatu dalam dadanya, untuk satu detik yang aneh, berbisik — *kamu kenal mata itu. Dari mana?*
Ia menggeleng pelan dalam hatinya. *Kamu nggak kenal. Sudah, fokus ke gelas. Sebentar lagi pulang.*
---
Lima belas menit kemudian, acara prasmanan dibuka.
Farhan berdiri, berjalan ke meja prasmanan dengan tertib. Ia tidak terlalu lapar. Tapi pulang dari pesta tanpa makan adalah hal yang akan diceritakan ulang oleh ibu-ibu yang melihat — Farhan tahu ini dari pengalaman. Jadi ia mengambil piring, menaruh sedikit nasi, satu potong rendang, sayur, sebagai bukti bahwa ia sudah makan.
Ia mencari meja yang sepi.
Sebagian besar meja sudah terisi. Hanya satu meja di pojok ruangan yang masih kosong — atau hampir kosong. Di sana, satu perempuan duduk sendiri, masih dengan gelas kosong di pangkuannya, dan satu kursi di sebelahnya sudah ada piring tapi penghuninya entah ke mana.
Perempuan itu.
Farhan ragu sebentar. Ia sebenarnya bisa mencari meja lain, mungkin di luar aula, di teras. Tapi saat ia ragu, seorang ibu lewat di belakangnya dengan piring berisi, mengangguk sopan padanya, lalu berkata — *"Mas, di pojok itu masih kosong, kayanya."*
Tidak ada cara untuk menolak tanpa terlihat aneh.
Farhan berjalan ke meja itu.
Ia berdiri di samping kursi kosong, berdehem pelan. "Maaf, ini kosong ya?"
Perempuan itu mengangkat wajah. Pandangan mereka bertemu untuk kedua kalinya. Kali ini lebih dekat — Farhan bisa lihat sekarang, jelas, bahwa mata perempuan itu memang seperti yang ia kira. Dan ada sesuatu lagi yang baru ia perhatikan: bekas air mata yang sudah kering di pelipis, tipis, hampir tidak terlihat, tapi ada.
"Iya," perempuan itu menjawab pelan. "Silakan, Mas."
Farhan duduk, dua kursi berjarak darinya. Ia tidak ingin terlihat memaksa duduk dekat. Ia menaruh piringnya, mengambil sendok, lalu pelan-pelan mulai makan.
Mereka tidak bicara. Hanya suara peralatan makan dan suara samar dari pelaminan yang terdengar.
Kursi yang tadi ada piringnya — kursi yang Farhan kira sudah ada penghuninya — tetap kosong. Mungkin temannya ke kamar mandi.
Farhan diam-diam melirik perempuan itu sekali — bukan dengan tatapan, hanya gerakan mata yang cepat. Perempuan itu tidak makan. Ia hanya memegang sendok, mengaduk-aduk nasi di piringnya tanpa benar-benar makan.
Lalu sesuatu terjadi.
Perempuan itu mengambil gelas teh di samping piringnya — bukan gelas kosong yang dari tadi ia pegang, tapi gelas yang baru ia ambil dari prasmanan. Tangannya gemetar sedikit. Saat ia mengangkat gelas itu, ia tidak melihat bahwa pinggiran gelas tersangkut di tepi piringnya — dan saat ia menarik, piring itu terlompat dari meja, miring, mau jatuh ke lantai.
Farhan tidak berpikir.
Tangannya bergerak sendiri. Ia memang sedang duduk dekat — refleks dokter, refleks orang yang selama lima tahun belajar menangkap sesuatu yang jatuh — ia ulurkan tangan kiri, dan piring itu mendarat di telapak tangannya. Beberapa butir nasi tumpah, tapi piringnya tidak pecah.
Hening sebentar.
Perempuan itu menatap piring di tangan Farhan, lalu menatap Farhan, lalu menatap piring lagi. Wajahnya memerah pelan-pelan.
"Ya Allah," ia berkata, suaranya hampir berbisik. "Maaf, Mas."
"Tidak apa-apa." Farhan menaruh kembali piring itu di meja, pelan. "Saya kebetulan lihat."
"Saya nggak hati-hati."
"Tidak apa-apa." Farhan mengulang. Ia tidak tahu apa lagi yang harus dikatakan. Ia mengambil tisu dari kotak di meja, mengelap sedikit kuah yang menempel di tangannya. "Beneran. Saya juga sering."
Perempuan itu menatap sebentar — sepertinya mencari kebohongan di kalimat Farhan, tidak menemukan — lalu mengangguk pelan. "Terima kasih, Mas."
"Sama-sama."
Hening lagi.
Tapi kali ini, hening yang sedikit berbeda. Bukan hening dua orang asing yang kebetulan satu meja — tapi hening dua orang yang baru saja membagi sesuatu, sekecil apapun itu.
Beberapa detik kemudian, perempuan itu berdehem pelan.
"Hana."
Farhan menoleh.
"Saya Hana," perempuan itu mengulang. Tangannya tidak terulur — adab. Hanya kalimat. "Sepupunya Mbak Rania."
"Farhan." Ia membalas dengan suara yang ia jaga supaya tidak terlalu pelan. "Teman koas Bayu dulu."
Hana mengangguk.
Mereka tidak bicara lagi setelah itu. Tapi sesuatu sudah terjadi — pertukaran nama, pertukaran posisi, pengakuan kecil bahwa mereka sama-sama tamu yang sama-sama tidak betah di pesta ini.
---
Lima menit kemudian, seorang perempuan berjaket denim datang ke meja itu, sambil membawa dua gelas air.
"Han, gue dari tadi nyari—" perempuan itu berhenti, melihat Farhan, lalu menatap Hana dengan ekspresi cepat yang Farhan tidak bisa baca. "Oh. Maaf, Mas. Saya temennya."
"Tidak apa-apa." Farhan mulai berdiri. "Saya juga mau pamit."
"Mas—" Hana tiba-tiba bersuara, lalu langsung berhenti. Wajahnya kembali memerah. "Maaf. Saya cuma mau bilang terima kasih lagi."
"Tidak masalah." Farhan mengangguk sopan. "Selamat menikmati acaranya."
Ia mengambil piringnya yang sudah kosong, berjalan ke meja pengembalian, lalu — sebelum keluar dari ruangan — ia berhenti sebentar untuk pamit pada Bayu dan keluarga di pelaminan.
Saat ia hampir sampai di pintu keluar, seseorang memanggilnya.
"Mas Farhan?"
Farhan menoleh.
Seorang ibu — berhijab cokelat, usia mungkin lima puluhan, wajah yang Farhan kenal tapi tidak bisa langsung tempatkan — berdiri di samping meja, menatapnya dengan ekspresi yang Farhan tidak bisa baca. Lalu, dua detik kemudian, Farhan ingat.
Ustadzah Maemunah.
Ia tidak menyangka ustadzahnya hadir di pesta ini. Tapi memang — Ustadzah Maemunah adalah teman dekat Tante Yati, ibunya Rania. Mungkin diundang sebagai pelengkap.
"Bu," Farhan menundukkan kepala sopan. "Sudah lama tidak ketemu."
"Iya, sudah lama." Ustadzah Maemunah tersenyum, tapi senyumnya terlihat sedikit berbeda — seolah ada sesuatu yang sedang ia pikirkan. "Kamu datang sendiri?"
"Iya, Bu."
"Kamu makan di pojok tadi?"
Pertanyaan itu agak aneh. Farhan mengerutkan kening tipis. "Iya, Bu. Kebetulan tempatnya yang kosong."
Ustadzah Maemunah tidak menjawab. Ia hanya menatap Farhan — lama, dengan ekspresi yang Farhan kenal sekarang. Ekspresi orang yang sedang menyatukan dua hal di kepalanya yang tadinya tidak ia kira berhubungan.
Lalu — perlahan — sudut bibirnya naik sedikit. Bukan senyum. Lebih ke ekspresi orang yang baru saja mendapat ide.
"Han."
"Iya, Bu?"
"Ingat janji kemarin? Datang ke rumah ibu, ba'da Maghrib?"
"Insyaallah, Bu."
"Bagus." Ustadzah Maemunah mengangguk. "Ibu tunggu."
Ia berjalan menjauh, kembali ke arah meja makan.
Farhan menatap punggung ustadzahnya yang menjauh, lalu mengangkat bahu pelan dalam hatinya. Mungkin ia salah baca. Mungkin ustadzah memang lagi banyak pikiran.
Ia keluar dari aula.
---
Di dalam mobil, Farhan duduk sebentar sebelum menyalakan mesin.
Ia mengangkat tangan kirinya — tangan yang tadi menangkap piring — dan menatap telapaknya. Masih ada satu butir nasi kecil yang menempel di sela jari telunjuk dan jempolnya. Ia mengusapnya pelan dengan tisu, lalu melemparkan tisu itu ke tempat sampah di dashboard.
Tangan itu, sekarang, terasa sedikit aneh.
Bukan sakit. Bukan gatal. Hanya — Farhan tidak tahu namanya — semacam ingatan tubuh akan sesuatu yang baru saja terjadi. Berat piring. Berat sedikit kuah yang tumpah. Berat tatapan orang yang berkata *maaf, Mas* dengan suara yang ia coba tahan supaya tidak gemetar.
Ia menggeleng pelan. Menyalakan mesin.
Lalu ponselnya berdering.
Ustadzah Maemunah. Lagi.
Farhan mengangkat dengan satu tangan. "Bu?"
*"Han."* Suara di seberang aneh — bukan suara yang biasa. Lebih ringan. Hampir antusias. *"Ibu tahu kamu lagi di mobil. Ibu mau bilang satu hal cepat."*
"Iya, Bu."
*"Biodata yang ibu siapin buat kamu — yang harusnya kamu ambil malam ini..."*
"Iya, Bu?"
Ustadzah Maemunah berhenti sebentar di seberang. Lalu Farhan bisa mendengar — meski lewat telepon — suara senyum yang menyebar di wajah ustadzahnya.
*"Han, saya rasa saya menemukan jawabannya."*
---
Di sisi lain kota, di mobil Aisyah yang sedang menjauh dari Aula Cendana, ponsel Hana juga berdering.
Hana mengangkat dengan tangan yang masih sedikit gemetar — bukan karena Farhan, ia meyakinkan dirinya, tapi karena hari yang panjang.
"Bu?"
*"Hana, Nak."* Suara Ustadzah Maemunah di seberang. *"Ibu tahu hari ini berat buat kamu. Tapi ibu mau bilang satu hal."*
"Iya, Bu."
*"Saya rasa saya menemukan jawabannya."*
Hana mengerutkan kening.
"Jawaban... apa, Bu?"
Tapi Ustadzah Maemunah sudah menutup telepon sebelum sempat menjawab.
Hana menatap layar ponselnya yang gelap, lalu menatap kaca jendela mobil. Aisyah sedang menyetir, tidak memperhatikan. Di luar, jalan-jalan ibu kota sedang ramai. Cuaca cerah. Tidak ada hujan hari ini.
Tapi entah kenapa, Hana merasa — di mejanya yang tadi, di antara piring yang hampir jatuh dan kalimat *Tidak apa-apa* yang diucapkan dua kali oleh seorang asing — ada sesuatu yang baru saja berputar di hidupnya. Pelan. Tidak terlihat. Tapi berputar.
Ia tidak tahu apa.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya dalam dua bulan, ia tidur tanpa membakar apa-apa.
---
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar