Kalau ada satu hal di dunia ini yang lebih menyebalkan dari bunyi bel masuk jam tujuh pagi, itu adalah eksistensi seorang manusia bernama Bramantyo.

Gue menaruh tas di atas kursi dengan kasar, menghasilkan suara bantingan yang lumayan keras sampai beberapa anak di kelas menoleh. Tapi tentu saja, oknum yang menjadi alasan kenapa mood gue ancur pagi ini sama sekali nggak merasa bersalah. Dia cuma melirik gue sekilas dari balik layar ponselnya yang miring—posisi andalan kalau lagi asyik main game.

"Tumben jam segini udah nyampe. Nggak mampir warung Mang Ujang dulu buat numpang tidur?" sapa Bram tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Tangannya lincah mengetuk-ngetuk layar, sementara sebelah kakinya naik santai ke atas laci meja. Meja gue.

Gue menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesabaran yang rasanya sudah menguap sejak gue melangkah melewati gerbang sekolah. "Singkirin kaki lo dari meja gue, Bram," ucap gue, menekan setiap suku kata.

"Meja ini milik negara, Nai. Kita cuma hak guna pakai," jawabnya asal. "Lagian, area gue masih lebih sempit dari area lo. Lihat nih." Dia menunjuk garis imajiner di tengah meja dengan dagunya. "Lo makan tempat banget."

"Gue makan tempat karena buku cetak Sejarah ini tebelnya ngalahin dosa lo!" Gue mendorong buku cetak bersampul cokelat itu ke arahnya, memaksa kakinya turun.

Bram mendecak pelan, akhirnya memasukkan ponselnya ke saku seragamnya yang tidak pernah dimasukkan dengan rapi. Dia menumpukan dagu di telapak tangannya, menatap gue dengan alis terangkat sebelah. Rambutnya agak berantakan, khas cowok yang bangun tidur, mandi asal basah, dan langsung cabut ke sekolah tanpa kenal sisir.

"Marah-marah mulu. Pantesan nggak ada yang mau nembak," celetuknya santai.

Gue langsung melotot. Tanganku refleks mengambil tempat pensil dan memukulkannya ke bahu Bram. Nggak terlalu keras, tapi cukup bikin dia mengaduh lebay sambil tertawa. "Bisa diam nggak? Gue lagi pusing, sumpah. Pak Joko hari ini mau ngadain kuis lisan Sejarah dan gue semalam ketiduran jam sembilan."

"Ya elah, kuis Pak Joko doang. Paling ditanya kapan VOC bubar," kata Bram sambil menarik tempat pensil gue, membuka resletingnya, dan tanpa dosa mengambil pulpen gel hitam kesayangan gue.

"Balikin pulpen gue, Bram!"

"Minjem bentar. Pulpen gue hilang."

"Lo tiap hari bilang pulpen lo hilang! Kemarin lo ngilangin pulpen merah gue, minggu lalu pulpen biru. Lama-lama gue suruh lo bayar sewa alat tulis."

Bram tertawa pelan, suara tawanya berat tapi entah kenapa selalu terdengar mengejek di telinga gue. Dia mulai memutar-mutar pulpen gel gue di sela-sela jarinya dengan sangat lihai. "Nanti gue ganti. Sekalian sama pabriknya gue beliin buat lo."

Gue cuma bisa mendengus kesal dan memutuskan untuk mengabaikannya. Berdebat dengan Bram di pagi hari adalah cara paling efektif untuk membuang-buang energi. Lebih baik gue pakai waktu sepuluh menit sebelum bel untuk membaca buku Sejarah.

Gue membuka halaman tentang penjajahan Belanda, mencoba memaksa otak gue yang masih setengah tidur ini untuk menyerap rentetan tahun dan nama-nama tokoh yang ejaannya bikin lidah keseleo. Tapi tentu saja, semesta sepertinya nggak pernah mengizinkan gue belajar dengan tenang.

Sinar matahari pagi dari jendela di sebelah kanan gue tiba-tiba menyorot tajam, tepat mengenai mata gue. Gue menyipitkan mata, mencoba menutupi sisi wajah gue dengan telapak tangan, tapi silaunya tetap tembus. Posisi tempat duduk gue ini memang strategis kalau mau cari angin, tapi jadi neraka kalau matahari mulai naik.

Gue baru saja berniat berdiri untuk menarik gorden ketika tiba-tiba, cahaya silau itu menghilang.

Gue menoleh. Bram sedang berdiri setengah membungkuk, menarik kursi kayunya mundur, lalu menggantungkan jaket hoodie hitamnya di sandaran kursi. Posisi jaket itu... entah kebetulan atau disengaja, pas banget menghalangi cahaya matahari yang tadi menusuk mata gue.

Bram kembali duduk, menguap lebar sambil meregangkan tangannya ke atas. "Panas banget gila hari ini. Padahal baru jam tujuh," gumamnya, sama sekali nggak menatap gue. Dia mengambil buku tulisnya sendiri dan mulai mencoret-coret asal di halaman belakang.

Gue menatap jaket hitam yang sekarang menjadi tameng matahari gue, lalu menatap cowok di sebelah gue ini. Sejenak, ada perasaan aneh yang lewat. Kayak... dia sengaja ngelakuin itu buat gue? Ah, nggak mungkin. Bramantyo dan kata 'perhatian' adalah dua hal yang nggak akan pernah ada di kalimat yang sama. Paling dia memang ngerasa kepanasan aja.

"Lo ngapain ngeliatin gue gitu?" tegur Bram tiba-tiba, matanya masih fokus ke coretan di bukunya. "Gue tahu gue ganteng, tapi lo bisa fokus ke buku lo aja nggak? Nanti nangis kalau ditanya Pak Joko."

Hilang sudah sepersekian detik rasa terima kasih gue. "Geer banget lo jadi manusia," ketus gue, kembali menunduk menatap buku Sejarah.

Kelas perlahan mulai ramai. Suara obrolan, tawa, dan decitan kursi ditarik memenuhi ruangan. Di tengah kebisingan itu, gue berusaha keras menghafal. Tapi saking paniknya, tulisan di buku itu rasanya cuma lewat aja di depan mata tanpa ada yang nempel di otak. Gue mengacak-acak rambut frustrasi. Mati gue. Pak Joko kalau ngasih nilai nggak pernah kenal ampun.

Bel masuk akhirnya berbunyi, terdengar seperti lonceng kematian di telinga gue.

Gue menarik napas dalam-dalam, menutup buku tebal itu dengan pasrah. Saat gue berniat memasukkan buku itu ke kolong meja, sesuatu jatuh dari sela-sela halamannya.

Sepotong kertas loose leaf berwarna kuning muda.

Gue mengerutkan kening. Gue nggak pernah pakai loose leaf warna kuning. Tangan gue terulur mengambil kertas itu yang jatuh ke lantai. Saat gue membaliknya, mata gue melebar.

Di kertas itu, tertera tulisan tangan yang sangat rapi. Bukan cuma sekadar tulisan, itu adalah ringkasan. Ringkasan materi Sejarah bab penjajahan Belanda—lengkap dengan tahun-tahun penting, tokoh-tokoh kunci, dan poin-poin peristiwa yang biasanya sering dijadikan pertanyaan jebakan oleh Pak Joko. Di bagian paling bawah pojok kanan, ada tulisan kecil: Baca yang stabilo kuning aja, sisanya nggak usah dihafal.

Gue menatap kertas itu dengan bingung. Siapa yang menaruh ini di buku gue? Kapan?

Gue menoleh ke samping. Bram sedang menelungkupkan kepalanya di atas meja, berbantalkan lipatan tangannya, bersiap untuk tidur.

"Bram," panggil gue pelan.

Dia nggak bergerak.

"Bram, lo tahu nggak ini kertas siapa?"

Kali ini dia bergumam pelan dari balik lengannya. "Apaan sih, Nai. Berisik. Pak Joko belum masuk, biarin gue tidur lima menit lagi."

Gue menatap lagi kertas di tangan gue. Tulisannya terlalu rapi untuk ukuran tulisan Bram yang mirip sandi rumput. Lagipula, mana mungkin cowok pemalas yang bahkan pulpennya saja harus minjem ini mau repot-repot membuatkan ringkasan Sejarah?

Gue menyelipkan kertas itu ke dalam saku rok gue tepat saat sosok tinggi berkumis tebal milik Pak Joko melangkah masuk ke dalam kelas. Jantung gue sedikit berdebar, tapi kali ini, ada setitik harapan. Dan sementara kelas mulai hening untuk berdoa, pikiran gue tertinggal pada satu pertanyaan: siapa orang yang diam-diam menaruh catatan ini?