Malam itu turun hujan rintik-rintik, mengetuk kaca jendela kamar dengan irama yang konstan dan menenangkan. Di atas ranjang berseprai putih bersih, Dimas, putra semata wayang Alya yang baru berusia lima tahun, tertidur pulas. Dada kecilnya naik turun teratur, memeluk sebuah boneka beruang lusuh yang selalu menjadi teman tidurnya.
Alya berdiri di ambang pintu kamar, mengukir senyum tipis melihat pemandangan itu. Tangannya yang sedikit kasar karena rutinitas mencuci dan memasak setiap hari, tanpa sadar mengusap peluh di dahinya. Ia lelah, tentu saja. Menjadi ibu rumah tangga tanpa bantuan asisten bukanlah hal yang mudah. Namun, setiap kali menatap wajah polos Dimas, dan membayangkan suaminya yang bekerja keras demi mereka, semua rasa lelah itu menguap begitu saja.
Rendra, suaminya, baru saja berangkat subuh tadi. Pria itu mengatakan ada proyek mendadak di luar kota yang mengharuskannya pergi selama tiga hari. Sebelum pergi, Rendra sempat mengecup kening Alya, berbisik lembut memintanya menjaga diri dan Dimas, lalu bergegas membelah jalanan yang masih gelap.
Tujuh tahun menikah, Alya tidak pernah meragukan Rendra sedikit pun. Pria itu bukan tipe suami yang romantis dengan bunga dan cokelat, tetapi ia bertanggung jawab. Gajinya selalu diserahkan utuh, ia jarang marah, dan di mata keluarga besar, Rendra adalah menantu idaman. Pria karismatik, tenang, dan sangat mencintai keluarganya.
Alya melangkah menuju meja kerja kecil di sudut ruang tengah, berniat merapikan tumpukan dokumen tagihan listrik dan air. Saat ia mengumpulkan kertas-kertas itu, matanya menangkap sebuah benda pipih berwarna hitam yang tergeletak di balik tumpukan map.
Kening Alya berkerut. Ia mengambil benda itu. Sebuah ponsel.
Ponsel Rendra.
Alya mengenalinya. Itu adalah ponsel kedua Rendra yang biasa digunakan untuk urusan pekerjaan. Alya menghela napas panjang, merutuki kecerobohan suaminya. "Bagaimana dia bisa kerja kalau ponselnya ketinggalan?" gumam Alya pelan. Ia menekan tombol daya, sekadar ingin mengecek apakah baterainya masih ada, berniat menyimpannya di laci agar tidak dimainkan oleh Dimas besok pagi.
Layar ponsel itu menyala. Terang, menyilaukan mata Alya yang sudah terbiasa dengan cahaya temaram ruang tengah.
Alya tidak pernah memiliki kebiasaan memeriksa ponsel suami. Rendra tahu sandi ponsel Alya, dan Alya tahu sandi ponsel Rendra. Tidak ada rahasia, pikirnya selama ini. Karena layarnya tidak terkunci—Rendra mungkin lupa menekan tombol kunci saat terakhir kali menggunakannya—layar itu langsung menampilkan sebuah aplikasi galeri foto yang sedang terbuka.
Napas Alya tertahan. Jari telunjuknya yang berniat menekan tombol home mendadak kaku di udara.
Di layar itu, tertampang sebuah foto.
Awalnya, otak Alya menolak untuk memproses apa yang dilihatnya. Ia mengira itu adalah foto kerabat Rendra, atau mungkin foto rekan kerjanya di acara kantor. Namun, seiring dengan matanya yang terpaku pada layar, sebuah rasa dingin mulai merayap dari ujung kaki hingga ke dadanya.
Dalam foto itu, Rendra berdiri di sebuah taman yang asri. Ia mengenakan kemeja biru muda santai yang Alya tahu betul—kemeja itu adalah hadiah ulang tahun darinya dua tahun lalu. Namun, bukan kemeja itu yang membuat dunia Alya berhenti berputar.
Tangan kiri Rendra merangkul pinggang seorang wanita berambut panjang, berkulit bersih, dengan senyum yang begitu manis. Wanita itu menyandarkan kepalanya di bahu Rendra, terlihat sangat nyaman dan terbiasa dengan sentuhan itu. Sementara tangan kanan Rendra mengangkat seorang anak laki-laki berusia sekitar enam tahun, yang sedang tertawa lebar memamerkan gigi susu yang rapi. Anak itu memiliki mata Rendra. Senyum Rendra. Tarikan rahang Rendra.
Mereka terlihat bahagia. Sangat bahagia. Ada binar di mata Rendra yang sudah lama tidak Alya lihat saat pria itu bersamanya di rumah.
Tangan Alya mulai gemetar. Jantungnya bergemuruh hebat, memukul-mukul tulang rusuknya dengan brutal. Ia menelan ludah, tetapi tenggorokannya terasa seperti disumpal pasir.
Siapa wanita ini? Siapa anak ini? Kenapa Mas Rendra memeluk mereka seperti itu?
Alya mencoba mencari alasan logika. Mungkin ini sepupunya? Mungkin ini istri temannya? Tapi gestur mereka terlalu intim. Tatapan Rendra pada wanita itu dalam foto bukanlah tatapan seorang teman atau kerabat. Itu adalah tatapan seorang pria kepada pasangannya.
Dengan jari yang bergetar hebat, Alya menggulir layar sedikit ke bawah. Aplikasi itu menampilkan bagian deskripsi atau nama album dari foto tersebut. Di sana, diketik dengan huruf yang sangat jelas, sebuah kalimat pendek yang berhasil meruntuhkan seluruh dunia Alya dalam hitungan detik.
"Keluargaku yang paling berharga."
Air mata yang tidak Alya sadari telah menggenang, akhirnya tumpah menetes di atas layar kaca ponsel itu. Pandangannya mengabur. Telinganya berdenging keras, menenggelamkan suara rintik hujan di luar jendela. Kakinya mendadak kehilangan kekuatan, membuat Alya merosot jatuh ke lantai dengan suara berdebum pelan.
Ia membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan, menahan jeritan yang meronta ingin keluar dari dadanya. Udara di sekitarnya seolah tersedot habis, membuatnya megap-megap. Perutnya mual luar biasa. Rasa sakitnya begitu nyata, seolah ada sebilah pisau tak kasat mata yang ditusukkan ke jantungnya lalu diputar dengan kejam.
Tujuh tahun... Tujuh tahun ia menanti suaminya pulang setiap malam. Menghemat uang belanja agar mereka bisa mencicil rumah. Mengurus Dimas sendirian saat Dimas demam tinggi karena Rendra beralasan harus lembur. Merelakan mimpinya bekerja di perusahaan desain agar bisa mengabdi sepenuhnya sebagai seorang istri. Dan di sini, di sebuah layar kecil berukuran enam inci, seluruh pengorbanannya hancur berkeping-keping.
Setelah beberapa menit menangis tanpa suara dalam kehancuran total, insting Alya sebagai seorang wanita mengambil alih. Rasa hancur itu perlahan bercampur dengan keputusasaan yang menuntut jawaban. Ia mengusap air matanya dengan kasar, matanya memerah dan menatap tajam ke arah layar ponsel.
Ia harus tahu kapan foto ini diambil. Ia harus tahu di mana.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Alya menyentuh ikon detail pada foto tersebut. Layar menampilkan informasi metadata foto. Tanggal pengambilan: bulan lalu. Tepat saat Rendra beralasan harus mengikuti pelatihan kantor selama seminggu.
Alya terus menggulir ke bawah, mencari informasi lokasi GPS yang biasanya terekam di kamera. Matanya memicing saat melihat sebuah peta kecil dengan pin merah menyala.
Alamat itu muncul dengan jelas.
Nama sebuah perumahan, blok, dan nomor jalan.
Satu hal yang membuat napas Alya kembali tercekat, pin merah itu tidak berada di Jakarta. Lokasi perumahan itu berada di kota yang jaraknya tiga jam perjalanan kereta dari tempat Alya tinggal sekarang. Kota yang sama persis dengan tempat Rendra berkata ia sedang melakukan perjalanan dinas hari ini.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar