Perjalanan pulang menuju kotanya terasa seperti sebuah simulasi yang tidak nyata. Alya duduk di bangku kereta yang berguncang pelan, menatap ke luar jendela yang kini memantulkan bayangan wajahnya sendiri di kaca yang menggelap oleh senja. Wajah itu tampak asing. Matanya bengkak, bibirnya pucat, dan ada ruang kosong yang mengerikan di balik tatapannya.
Ia telah mati hari ini. Setidaknya, sebagian dari dirinya—Alya yang naif, yang selalu percaya bahwa cinta dan kesetiaan adalah pondasi utama dalam pernikahannya—telah terkubur di bawah bayangan rumah berpagar putih di kota seberang sana.
Sesampainya di stasiun, Alya memaksakan diri untuk mencuci muka di toilet umum, menepuk-nepuk pipinya agar sedikit merona sebelum menjemput Dimas di rumah ibunya. Ia tidak boleh terlihat hancur. Belum saatnya.
"Bunda!" seruan riang Dimas menyambutnya di ambang pintu. Anak laki-laki itu berlari dan menabrakkan tubuhnya ke kaki Alya.
Alya berjongkok, merengkuh tubuh mungil itu erat-erat. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Dimas, menghirup aroma bedak bayi dan keringat khas anak-anak yang menenangkan. Tiba-tiba saja, bayangan Arka—anak Rendra dan Maya—yang memeluk Rendra pagi tadi kembali berkelebat. Dada Alya kembali sesak, tapi ia menggigit lidahnya kuat-kuat, menahan air mata yang mendesak.
Maafkan Bunda, Dimas. Maafkan Bunda karena tidak bisa memberimu keluarga yang utuh seperti yang kamu banggakan, batin Alya menjerit pedih.
Dua hari berikutnya adalah neraka yang harus Alya lewati dengan mata terbuka. Menunggu kepulangan Rendra dengan kesadaran penuh akan pengkhianatan pria itu adalah siksaan mental yang menyayat kewarasannya perlahan-lahan. Alya membersihkan rumah seperti biasa, mencuci piring, dan melipat pakaian, tetapi setiap sudut rumah ini kini terasa seperti panggung sandiwara murahan.
Sofa tempat mereka biasa menonton televisi bersama, meja makan tempat Rendra sering memuji masakannya, bingkai foto pernikahan mereka yang tergantung manis di dinding ruang tamu... semuanya kini tampak seperti ejekan yang menertawakan kebodohan Alya.
Hingga akhirnya, Jumat malam itu tiba.
Suara deru mesin mobil yang familier terdengar memasuki halaman sempit rumah mereka. Disusul suara derit pagar yang ditutup, dan langkah kaki berat yang mendekati pintu depan.
Klak! Pintu terbuka.
"Assalamualaikum... Ayah pulang!"
Suara bariton itu menggema di ruang tengah. Rendra melangkah masuk dengan sebuah koper kecil di tangan kirinya dan tas ransel di bahu kanannya. Pria itu mengenakan kemeja kotak-kotak yang lengannya digulung hingga siku, terlihat sedikit kusut. Wajahnya dipoles dengan ekspresi kelelahan yang sangat sempurna—persis seperti seorang suami pekerja keras yang baru saja menempuh perjalanan jauh dari lokasi tambang antarpulau.
Alya yang sedang menemani Dimas menggambar di karpet ruang tengah, merasakan aliran darahnya membeku. Telinganya berdenging. Otot-otot di wajahnya menegang keras saat mencoba memahat sebuah senyuman.
"Ayah!" Dimas langsung menghambur ke arah Rendra.
"Wah, Jagoan Ayah udah nungguin, ya?" Rendra menjatuhkan tasnya, menangkap tubuh Dimas, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi. Tawa mereka berdua pecah. "Ayah bawa oleh-oleh, lho! Ada cokelat pesanan Dimas."
Alya berdiri dengan kaki yang terasa seperti diikat beban puluhan kilogram. Ia berjalan mendekat, mengambil alih koper dan ransel suaminya.
"Udah pulang, Mas. Gimana kerjanya?" suara Alya terdengar lirih, namun anehnya cukup stabil.
Rendra menurunkan Dimas, lalu beralih menatap Alya. Ia tersenyum—senyum teduh yang dulu selalu berhasil meluluhkan hati Alya—lalu mencondongkan tubuhnya untuk mengecup kening istrinya.
Saat bibir Rendra menyentuh kulit keningnya, Alya harus mengepalkan tangannya di balik punggung hingga kuku-kukunya menancap ke telapak tangan, menahan rasa mual yang luar biasa. Aroma tubuh Rendra... aroma parfum maskulin yang bercampur dengan wangi pelembut pakaian yang tidak pernah Alya beli, langsung menusuk indra penciumannya. Itu wangi rumah tangga lain.
"Capek banget, Al. Kerjaan di lapangan lagi banyak masalah, debu di mana-mana. Badanku rasanya mau rontok," keluh Rendra sambil memijat tengkuknya sendiri. Aktingnya begitu natural, nyaris tanpa cacat. "Aku mandi dulu ya, lengket banget rasanya. Tolong siapin air hangat ya, Sayang."
Sayang. Kata itu kembali membuat luka di dada Alya menganga lebar. Panggilan yang sama yang pria ini gunakan untuk wanita berbalut daster motif bunga tempo hari.
"Iya, Mas. Aku buatin air hangat. Pakaian kotornya biar aku keluarin dari tas," jawab Alya datar, menunduk agar Rendra tidak bisa melihat kebencian yang berkobar di matanya.
Rendra mengangguk tanpa curiga, lalu berjalan santai menuju kamar mandi, bersiul kecil sambil mengusap kepala Dimas yang sedang sibuk membuka bungkus cokelat.
Alya menyeret langkahnya ke ruang cuci di belakang dapur. Ia meletakkan ransel Rendra di atas mesin cuci. Tangannya bergetar saat mulai membuka ritsleting tas tersebut. Satu per satu pakaian kotor Rendra ia keluarkan. Ada beberapa kemeja, kaus dalam, dan celana panjang.
Saat Alya mengeluarkan sebuah jaket parasut hitam dari dasar tas, tangannya merasakan sebuah benda kaku berbentuk persegi panjang di dalam saku dalam jaket tersebut.
Kening Alya berkerut. Ia merogoh saku itu dan menarik benda tersebut keluar.
Itu adalah sebuah amplop putih dari sebuah rumah sakit swasta bergengsi. Bukan rumah sakit di kota mereka, melainkan di kota tempat rumah berpagar putih itu berada.
Dengan napas yang mulai memburu, Alya membuka lipatan amplop tersebut. Di dalamnya terdapat lembaran kuitansi pembayaran yang dicetak rapi. Mata Alya memindai tulisan di atas kertas itu, dan jantungnya serasa berhenti berdetak saat membaca nama pasien yang tertera.
Nama Pasien: Ny. Maya Savitri. Poli: Kebidanan & Kandungan (Obgyn). Layanan: Pemeriksaan USG & Vitamin Prenatal.
Tangan Alya bergetar hebat. Kertas kuitansi itu terlepas dari pegangannya, jatuh melayang ke lantai. Namun, matanya terpaku pada selembar kertas foto hitam putih berukuran kecil yang ikut meluncur keluar dari dalam amplop tersebut.
Alya berjongkok, memungut foto itu dengan ujung jari yang sedingin es.
Itu adalah hasil cetak USG. Di sudut kanan atas foto tersebut, tertera nama Maya, lengkap dengan tanggal pemeriksaan yang baru dilakukan dua hari yang lalu—tepat di saat Rendra beralasan sedang berada di luar pulau. Di bagian tengah foto yang didominasi warna hitam, terdapat sebuah kantung rahim dengan titik putih kecil di dalamnya.
Di bagian bawah foto itu, ada tulisan tangan Rendra yang sangat Alya kenali lekuk hurufnya, menggunakan tinta pulpen biru:
"Sehat-sehat di perut Ibu ya, Nak. Ayah dan Kak Arka nggak sabar nunggu kamu lahir."
Dunia Alya tidak hanya runtuh; dunianya hancur berkeping-keping hingga menjadi debu. Rendra tidak hanya memiliki keluarga lain. Rendra tidak hanya membagi cinta dan uangnya. Suaminya... pria pengkhianat itu... sedang menantikan anak kedua dari wanita lain.
Sementara sebulan yang lalu, saat Alya memohon agar mereka bisa memberikan adik untuk Dimas, Rendra dengan wajah memelas menolaknya mentah-mentah. "Biaya sekolah makin mahal, Al. Aku belum sanggup kalau harus biayain anak kedua. Dimas aja cukup ya, aku nggak mau kalian hidup susah."
Alya membekap mulutnya dengan kedua tangan, menahan jeritan keras yang merobek pita suaranya dari dalam. Air matanya tumpah menderas, membasahi lantai ruang cuci yang dingin. Kebohongan pria itu bukan sekadar perselingkuhan sesaat; itu adalah sebuah pengkhianatan terencana yang dilakukan selama bertahun-tahun, menyedot habis darah dan keringat Alya untuk menghidupi kehidupan mewahnya di tempat lain.
Dari arah kamar mandi, suara gemericik air shower terdengar mengalir. Rendra sedang mandi, membersihkan diri di rumah ini, setelah menanam benih kehidupan baru di rahim wanita lain.
Mata Alya yang semula berlinang air mata kepedihan, perlahan berubah. Kesedihan dan kehancurannya menguap, digantikan oleh sorot tajam yang dingin dan mematikan. Ia mengusap sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan secara kasar.
Baik, Mas Rendra, batin Alya dengan rahang terkatup rapat. Kalau ini permainan yang kamu buat... mari kita mainkan sampai salah satu dari kita hancur berantakan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar