Matahari pagi menembus celah gorden kamar, menyilaukan mata Alya yang bengkak dan merah. Semalaman ia tidak tidur. Sedetik pun matanya tidak bisa terpejam. Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan senyum bahagia Rendra bersama wanita lain dan anak kecil itu terus berputar seperti kaset rusak di kepalanya.

Ia telah memindahkan foto itu ke ponselnya sendiri sebelum mengembalikan ponsel Rendra ke posisi semula di atas meja kerja, tepat seperti saat ia menemukannya.

Pagi itu, Alya bergerak seperti robot. Ia memandikan Dimas, menyiapkan sarapan nasi goreng kesukaan anaknya, dan menyuapinya dengan senyum yang dipaksakan. Setiap kali Dimas bertanya, "Bunda sakit? Mata Bunda merah," Alya hanya menjawab dengan suara parau bahwa ia kurang tidur karena menonton drama Korea semalam. Kebohongan pertama dari seorang ibu yang sedang berusaha menjaga dunia kecil anaknya agar tidak runtuh.

Pukul delapan pagi, Alya menelepon ibunya yang tinggal beda kecamatan.

"Ibu, Alya boleh titip Dimas sehari ini saja? Ada urusan mendadak yang harus Alya urus ke luar," ucap Alya, berusaha keras menstabilkan suaranya agar tidak terdengar bergetar di telepon. Untungnya, ibunya menyanggupi tanpa banyak bertanya.

Setelah mengantar Dimas ke rumah ibunya, Alya tidak pulang. Ia memanggil taksi daring dan langsung menuju stasiun kereta. Pakaiannya sangat sederhana—celana kulot hitam, blus lengan panjang berwarna krem, dan sebuah kacamata hitam besar untuk menutupi matanya yang sembap. Di tangannya, ia memegang erat tas selempang yang berisi dompet dan ponselnya.

Di dalam kereta yang melaju membelah antarkota, Alya hanya duduk membisu menatap ke luar jendela. Pemandangan gedung-gedung tinggi perlahan berganti menjadi hamparan sawah dan perumahan padat, tetapi pikirannya kosong.

Ada pergolakan batin yang menyiksa di dadanya. Sebagian kecil hatinya—sisa-sisa dari cinta naifnya selama tujuh tahun—berteriak memohon agar semua ini hanya salah paham. Mungkin itu kakak angkatnya? Mungkin itu keponakannya dari kerabat jauh yang tidak pernah ia ceritakan? Namun logika dan insting kewanitaannya menamparnya kuat-kuat. Tidak ada pria yang menulis 'Keluargaku yang paling berharga' untuk keponakan, sementara foto istri dan anak kandungnya sendiri jarang ia unggah.

Tiga jam perjalanan terasa seperti tiga abad. Ketika kereta akhirnya berhenti di stasiun tujuan, Alya melangkah keluar dengan kaki yang terasa seperti agar-agar. Udara di kota ini sedikit lebih sejuk, tetapi bagi Alya, kota ini terasa begitu asing dan mengancam.

Ia langsung menuju pangkalan taksi dan menyebutkan alamat yang ia hafal mati semalaman.

"Perumahan Griya Asri, Pak. Blok C."

Sopir taksi mengangguk dan menjalankan mobilnya. Sepanjang jalan, Alya meremas ujung blusnya. Keringat dingin membasahi telapak tangannya. Apa yang akan ia lakukan jika bertemu wanita itu? Menamparnya? Menjerit? Atau malah pingsan? Alya tidak punya rencana apa-apa. Ia hanya butuh melihat dengan mata kepalanya sendiri. Ia butuh membuktikan bahwa mimpi buruk ini nyata, agar ia tahu cara untuk terbangun darinya.

Taksi memasuki sebuah kawasan perumahan menengah ke atas yang bersih dan terawat. Pohon-pohon palem berjajar rapi di sepanjang jalan. Lingkungan ini terasa sangat tenang, berbeda jauh dengan kawasan tempat tinggal Alya yang padat dan berisik oleh suara motor tetangga.

"Di sebelah mana, Bu?" tanya sopir taksi membuyarkan lamunannya.

Alya memeriksa ponselnya lagi. "Berhenti di pertigaan depan saja, Pak. Dekat taman kecil itu."

Setelah membayar taksi, Alya turun. Kakinya berpijak pada aspal jalanan perumahan tersebut. Ia menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara, seolah sedang bersiap menyelam ke dasar lautan yang gelap.

Ia berjalan perlahan, menyusuri trotoar. Matanya nanar memperhatikan nomor-nomor rumah yang menempel di tembok pagar. C11... C12... C14...

Langkahnya terhenti.

Tepat di seberang jalan, sekitar dua puluh meter dari tempatnya berdiri, terdapat rumah berpagar putih dengan nomor C15. Rumah itu persis seperti latar belakang foto yang ia lihat semalam. Ada tanaman rambat di kanopi garasinya, dan sebuah ayunan kecil di halaman depan.

Sebuah mobil SUV hitam terparkir di carport. Alya sangat mengenali pelat nomor mobil itu. Itu adalah mobil Rendra, mobil yang selalu Alya bersihkan setiap akhir pekan bersama Dimas.

Alya mundur selangkah, bersembunyi di balik pohon palem besar di pinggir jalan. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga telinganya bergemuruh. Ia menunggu. Menunggu tanpa tahu apa yang sebenarnya ia harapkan.

Sepuluh menit berlalu seperti penyiksaan. Alya baru saja akan melangkah maju untuk memencet bel rumah tersebut, ketika suara derit pagar yang dibuka menghentikannya.

Napas Alya tercekat. Seluruh darah di tubuhnya terasa berdesir dingin, membekukan aliran nadinya.

Dari balik pintu utama rumah itu, muncul seorang pria. Pria itu mengenakan kaus polo putih dan celana pendek selutut, terlihat begitu santai dan nyaman. Di tangannya, ia membawa sebuah plastik berisi sampah rumah tangga.

Itu Rendra. Suaminya. Pria yang tadi subuh berpamitan untuk pergi dinas kerja dengan kemeja formal dan wajah lelah.

Namun, bukan hanya kehadiran Rendra yang membuat dunia Alya hancur tak bersisa. Di belakang Rendra, wanita dari foto itu muncul. Ia memakai daster cantik bermotif bunga, tersenyum cerah, lalu berjinjit sedikit untuk merapikan kerah kaus Rendra dengan gerakan yang begitu natural dan intim. Rendra membalasnya dengan usapan lembut di puncak kepala wanita itu.

Alya mencengkeram batang pohon di dekatnya kuat-kuat agar tidak jatuh tersungkur. Matanya membelalak lebar, mengunci pemandangan menyakitkan di depannya, sementara air mata mulai jatuh berderai tanpa bisa dicegah.

"Mas..." bisik Alya lirih, suaranya pecah teredam angin.

Tepat pada detik itu, pintu pagar terbuka lebih lebar, dan seorang anak laki-laki berlari keluar menyusul mereka, memeluk kaki Rendra sambil tertawa riang.