Waktu seolah berhenti berdetak. Angin pagi yang seharusnya membawa kesejukan, kini terasa seperti ribuan jarum es yang menusuk pori-pori kulit Alya. Di balik batang pohon palem besar yang menjadi satu-satunya tempatnya berlindung, Alya mematung. Kakinya seakan terpaku pada aspal, tak mampu digerakkan, sementara matanya tak bisa berpaling dari pemandangan yang tengah mengoyak kewarasannya secara perlahan.

Jarak dua puluh meter bukanlah jarak yang jauh. Alya bisa melihat semuanya dengan sangat jelas. Terlalu jelas hingga rasanya menyakitkan.

Di depan rumah berpagar putih itu, suaminya—pria yang selama tujuh tahun ini tidur di sampingnya, membagi selimut dengannya, dan menjadi pusat dari seluruh hidupnya—berdiri dengan tawa lepas yang belum pernah Alya lihat selama berbulan-bulan terakhir. Rendra baru saja melemparkan kantong sampah ke dalam tempat sampah depan rumah, lalu menepuk-nepuk tangannya sejenak.

Wanita berambut panjang itu—Maya—berjalan mendekat dengan langkah ringan. Daster bermotif bunga matahari yang dikenakannya berkibar pelan tertiup angin. Maya mengulurkan tangan, tanpa ragu menyentuh kerah kaus Rendra yang sedikit terlipat.

"Mas, kalau buang sampah jangan sambil ngelamun. Ini kerahnya sampai kelipat begini," ucap Maya. Suaranya terdengar lembut, mengalun santai, khas seorang istri yang sangat nyaman dengan suaminya.

Rendra terkekeh pelan. Pria itu menunduk sedikit, membiarkan jemari Maya merapikan pakaiannya. "Tadi lagi mikirin kerjaan sedikit, Sayang. Maaf, ya."

Tangan Rendra yang besar dan kokoh terangkat, menyelipkan helaian rambut Maya yang tertiup angin ke belakang telinga wanita itu. Sebuah sentuhan yang begitu sederhana, namun berhasil membuat dada Alya serasa dihantam palu godam.

Alya membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan yang bergetar hebat. Kuku-kukunya menancap kuat pada pipinya, berusaha menahan suara isakan yang mendesak keluar dari tenggorokannya. Napasnya tersengal-sengal. Matanya memanas, memproduksi air mata tanpa henti yang kini membasahi punggung tangannya sendiri.

Sayang. Kata itu menggema di telinga Alya, berulang-ulang, menghancurkan sisa-sisa keyakinan yang susah payah ia bangun sejak semalam. Rendra memanggil wanita itu dengan sebutan yang sama persis seperti yang sering ia bisikkan di telinga Alya sebelum tidur. Bagaimana bisa seorang pria memiliki dua wajah yang begitu sempurna?

Ingatan Alya tiba-tiba terlempar pada kejadian seminggu yang lalu. Pagi itu Rendra terburu-buru bersiap karena katanya ada rapat direksi. Alya, yang baru selesai memasak sarapan, menghampiri Rendra di depan pintu dan mencoba membenarkan dasi suaminya yang sedikit miring. Namun, Rendra menepis tangannya dengan halus. "Aku bisa sendiri, Al. Aku buru-buru, nanti telat," ucap pria itu dingin, nyaris tanpa menatap mata Alya, sebelum berlalu pergi begitu saja.

Saat itu Alya memakluminya. Ia berpikir suaminya hanya sedang stres memikirkan beban pekerjaan demi menghidupi dirinya dan Dimas. Ia menelan kekecewaannya dan mengantar kepergian Rendra dengan senyum.

Namun melihat apa yang terjadi di depannya saat ini, kebenaran itu menampar Alya dengan sangat keras. Rendra tidak menepis tangannya karena sedang terburu-buru. Rendra menepisnya karena mungkin sentuhan Alya sudah tidak lagi memiliki arti apa-apa baginya. Sentuhan yang Rendra dambakan adalah sentuhan wanita yang kini berdiri di hadapannya.

"Kopinya udah aku taruh di meja teras ya, Mas. Mumpung masih panas," ujar Maya lagi, memberikan senyum manis yang membuat wajahnya terlihat semakin bersinar.

"Makasih, istriku yang paling cantik," balas Rendra. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mengecup dahi Maya dengan penuh kasih sayang. Maya memejamkan mata, menerima kecupan itu dengan senyum kebahagiaan yang terlukis jelas di bibirnya.

Alya memejamkan matanya rapat-rapat, menggigit bibir bawahnya hingga terasa anyir darah di ujung lidah. Kepalanya pusing. Rasa mual yang luar biasa kembali menyerang perutnya. Ia ingin berteriak. Ia ingin berlari ke seberang jalan, menjambak rambut wanita itu, dan menampar wajah suaminya yang penuh kebohongan. Ia ingin menghancurkan kebahagiaan palsu yang sedang dipertontonkan di hadapannya ini.

Namun, jangankan untuk melangkah, sekadar berdiri tegak pun Alya harus bersandar pada kasar batang pohon palem. Seluruh tenaganya terkuras habis oleh rasa syok dan pengkhianatan yang terlalu besar untuk ditanggung tubuh kecilnya.

Tiba-tiba, suara derit engsel pintu rumah C15 kembali terdengar.

Dari dalam rumah, seorang anak laki-laki berlari ke luar dengan langkah-langkah kecil yang lincah. Anak itu mengenakan piyama bergambar mobil pemadam kebakaran. Di tangannya terdapat sebuah mainan robot berbahan plastik.

"Mobil-mobilannya mana, Jagoan?" tanya Rendra. Wajahnya seketika berubah cerah melihat kedatangan anak itu. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, siap menyambut.

Alya menahan napas. Anak itu... Arka. Anak yang ada di dalam foto semalam. Dilihat secara langsung, kemiripannya dengan Rendra semakin tidak terbantahkan. Bentuk alisnya, lengkung senyumnya, semuanya adalah replika kecil dari pria yang selama tujuh tahun ini dipanggil 'Suami' oleh Alya.

Anak itu menabrakkan tubuh mungilnya ke pelukan Rendra. Dengan sigap, Rendra mengangkat tubuh anak itu ke udara, memutarnya perlahan hingga tawa riang memecah keheningan pagi di kompleks perumahan tersebut. Maya yang berdiri di samping mereka ikut tertawa, memperingatkan agar suaminya berhati-hati.

Itu adalah potret keluarga yang sempurna. Hangat, penuh cinta, dan bahagia. Potret yang selama ini selalu Alya usahakan setengah mati di rumah kecil mereka, namun nyatanya Rendra telah mewujudkannya di rumah lain, bersama wanita lain.

"Mainannya rusak sayapnya satu!" seru anak itu polos, menunjukkan robot di tangannya pada Rendra.

Rendra menurunkan anak itu ke dalam dekapannya, mengusap puncak kepalanya dengan sayang. "Nanti sore kita beli yang baru, ya? Kan kemarin janjinya kalau pintar belajarnya mau dibelikan mainan baru."

Mendengar itu, dada Alya terasa diremas hingga hancur. Bayangan Dimas, putranya sendiri, melintas di benaknya. Tadi malam, Dimas menangis karena ingin dibelikan sepatu bola baru seperti teman-temannya. Rendra, melalui sambungan telepon, beralasan bahwa bulan ini banyak pengeluaran dan meminta Dimas bersabar. "Tunggu bulan depan ya, Jagoan. Ayah lagi kerja keras kumpulin uang buat Dimas," begitu kata Rendra dari ujung telepon.

Uang itu ternyata tidak pernah dikumpulkan untuk Dimas. Uang itu mengalir ke rumah berpagar putih ini. Kehidupan mewah ini, mobil SUV ini, mainan robot ini.

Alya mencengkeram dadanya yang terasa sesak. Air matanya terus mengalir tanpa bisa dikendalikan. Dunia di sekelilingnya berputar. Pandangannya mulai buram.

Di seberang sana, anak laki-laki itu memeluk leher Rendra dengan erat. Ia menatap wajah Rendra dengan binar mata penuh kekaguman dan kasih sayang, senyumnya mengembang lebar, sebelum akhirnya mengucapkan satu kata yang meruntuhkan pertahanan terakhir kewarasan Alya.

"Terima kasih, Ayah!"