Panggilan itu bagai petir yang menyambar tepat di atas kepala Alya.

Ayah.

Kata itu berdengung di telinga Alya berulang-ulang, menenggelamkan semua suara lain di sekitarnya. Tawa Rendra, suara lembut Maya, deru mesin mobil dari kejauhan—semuanya lenyap, digantikan oleh gema dari satu kata sakral tersebut. Kata yang selama ini hanya diucapkan oleh Dimas untuk pria itu.

Alya tidak sanggup lagi melihat. Kakinya mundur satu langkah yang gemetar, lalu langkah lainnya. Ia berbalik, menjauh dari pohon palem itu dengan tergesa-gesa. Langkahnya gontai, setengah terseret, seperti orang yang kehilangan pijakan. Kacamata hitam besar yang bertengger di hidungnya menyembunyikan mata bengkak dan lelehan air mata yang terus membanjiri pipinya.

Ia tidak peduli ke mana kakinya melangkah, yang ia inginkan hanyalah pergi sejauh mungkin dari rumah bernomor C15 itu. Ia ingin berlari, namun lututnya terasa begitu lemas. Perutnya bergejolak hebat. Di ujung blok, tepat di bawah pohon mangga rindang, Alya menemukan sebuah bangku semen panjang di depan sebuah warung kelontong kecil yang sepi.

Tanpa memedulikan tatapan heran dari ibu pemilik warung yang sedang menata sabun saset di etalase, Alya menghempaskan tubuhnya ke bangku itu. Ia menunduk dalam-dalam, menumpukan sikunya pada lutut dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang hebat. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah, meski ia berusaha keras meredamnya agar tidak mengundang perhatian.

Rasanya ia ingin mati saja detik ini juga. Sakitnya terlalu nyata, menembus hingga ke sumsum tulangnya. Tujuh tahun pernikahannya, kesetiaannya, pengorbanannya menjadi ibu rumah tangga seutuhnya dan menahan diri dari segala kemewahan, semuanya terasa seperti lelucon yang sangat kejam.

"Mbak? Mbak nggak apa-apa?"

Sebuah suara menegurnya pelan. Alya tersentak. Ia buru-buru menyusut air mata dengan punggung tangannya dan menarik napas panjang yang terdengar gemetar. Ia mendongak, melihat ibu pemilik warung—wanita paruh baya dengan daster batik—berdiri di depannya dengan wajah khawatir, menyodorkan sebotol air mineral dingin.

"Minum dulu, Mbak. Pucat banget mukanya. Habis jalan jauh, ya?" tanyanya ramah.

Alya menerima botol itu dengan tangan yang masih gemetar. "Te—terima kasih, Bu," suaranya serak dan pecah. Ia membuka tutup botol itu dengan susah payah dan menenggak isinya. Sensasi dingin air yang melewati tenggorokannya sedikit membantunya kembali bernapas normal.

"Mbaknya lagi cari alamat, ya? Dari tadi saya lihat Mbak berdiri di dekat pertigaan sana, kayak orang bingung," selidik ibu itu sambil duduk di kursi plastik tak jauh dari Alya. Matanya memancarkan rasa ingin tahu yang khas dari seorang warga lokal.

Jantung Alya berdegup kencang. Ia menatap ibu warung itu. Otaknya yang sejak tadi dikuasai emosi kini mulai dipaksa bekerja cepat. Ini adalah kesempatannya. Kesempatan untuk mengetahui seberapa jauh kebohongan Rendra telah mengakar di tempat ini.

Alya mengatur napasnya, mencoba memasang ekspresi senormal mungkin. Ia melepas kacamata hitamnya perlahan, membiarkan ibu itu melihat matanya yang sembap, namun Alya dengan cepat beralasan.

"Iya, Bu. Maaf saya numpang duduk, tiba-tiba asam lambung saya kumat, mual sekali," Alya berbohong, memaksakan seulas senyum tipis yang getir. Ia menunjuk ke arah jalan yang baru saja ia lewati. "Saya... saya kebetulan lewat sini, cari rumah teman lama."

"Oh, pantesan pucat gitu. Mau saya bikinin teh hangat, Mbak?"

"Nggak usah, Bu, ini air putih sudah cukup. Makasih banyak," tolak Alya halus. Ia menggeser duduknya sedikit, menatap lurus ke mata ibu warung itu. "Bu, saya mau tanya. Ibu kenal sama yang tinggal di rumah cat krem, pagar putih nomor C15 di blok sana?"

Wajah ibu warung itu langsung berbinar, seolah baru saja menemukan topik obrolan yang menyenangkan. "Oh! Rumahnya Pak Rendra sama Mbak Maya? Ya kenal atuh, Mbak! Mereka kan sering belanja keperluan dapur di mari kalau pas pembantunya lagi pulkam. Kenapa, Mbak? Mbak temannya Mbak Maya, ya?"

Mendengar nama suaminya dan wanita itu disebut berdampingan dengan begitu ringan, dada Alya kembali terasa seperti ditikam. Ia mencengkeram botol air mineral di tangannya kuat-kuat hingga plastiknya berkerut.

"I—iya, Bu. Teman lama. Tapi saya sudah hilang kontak lama sekali. Jadi takut salah rumah," Alya menjawab dengan suara pelan, menjaga agar suaranya tidak bergetar. "Memangnya... mereka sudah lama tinggal di situ, Bu?"

"Wah, sudah lumayan lama, Mbak. Kalau nggak salah ya, sejak Mas Arka—anaknya itu—baru umur setahunan. Berarti sekitar lima tahunan lah mereka beli rumah di situ," jelas ibu warung itu antusias, tanpa menyadari bahwa setiap kata yang diucapkannya baru saja merobek hati wanita di depannya.

Lima tahun. Lima tahun Rendra memiliki rumah ini. Lima tahun Rendra menyembunyikan keluarga lain tanpa pernah Alya curigai sedikit pun. Di saat Dimas baru lahir dan Alya sedang berjuang mengatasi baby blues sendirian karena Rendra selalu beralasan sibuk dengan pekerjaan proyeknya, ternyata pria itu sedang sibuk membangun rumah tangga baru di kota ini.

"Mereka... sering di rumah, Bu? Pak Rendra itu setahu saya kerjanya sibuk," pancing Alya lagi. Rasa sakit menderanya, namun rasa penasaran dan insting untuk mencari kebenaran jauh lebih besar. Alya mengorbankan hatinya untuk dihantam kenyataan-kenyataan baru.

"Wah, kalau Pak Rendra mah emang sibuk banget, Mbak. Katanya sih kerjanya jadi manajer di tambang atau apalah gitu di luar pulau. Jadi ya pulangnya cuma sebulan atau dua bulan sekali, paling lama seminggu di sini, terus berangkat lagi," cerita ibu itu panjang lebar sambil merapikan dagangannya. "Kasihan sih sebenarnya Mbak Maya, masih muda cantik gitu sering ditinggal-tinggal suaminya."

Alya menggigit bibir bawahnya keras-keras. Manajer di tambang luar pulau? Itu kebohongan yang sama persis dengan yang Rendra gunakan padanya setiap kali ia tidak pulang ke rumah berhari-hari.

"Tapi ya, Mbak," lanjut ibu warung itu sambil bersandar di kusen pintunya, menatap ke arah jalanan dengan senyum kagum. "Meskipun jarang pulang, Pak Rendra itu suami idaman banget, lho. Sayang banget sama keluarganya."

"Suami... idaman?" ulang Alya lirih, kata-kata itu terasa seperti racun di lidahnya.

"Iya! Kalau lagi pulang ke sini, wah, nggak pernah pisah itu mereka. Pagi-pagi suka joging bareng bertiga keliling kompleks, sorenya ngajak Mas Arka main sepeda. Mbak Maya juga sering dibeliin perhiasan baru atau diajak makan di luar. Nggak pernah tuh kedengaran mereka berantem atau ribut. Rukun terus. Harmonis."

Ibu warung itu menoleh kembali menatap Alya, matanya menyipit dengan sebuah senyuman tulus yang ironisnya sangat mematikan bagi Alya.

"Makanya, ibu-ibu di kompleks sini tuh pada iri sama Mbak Maya. Mereka itu keluarga paling bahagia di blok ini, Mbak."

Dunia Alya seketika berhenti berputar.

Keluarga paling bahagia di blok ini.

Kalimat itu menancap di otak Alya, mengunci rapat semua celah kebohongan yang berusaha ia sangkal sejak semalam. Tidak ada lagi ruang untuk ilusi. Tidak ada lagi keraguan. Wanita itu, Maya, bukanlah simpanan gelap yang disembunyikan di apartemen kumuh. Maya hidup di bawah sinar matahari, diakui oleh lingkungan, dicintai dengan sepenuh hati oleh Rendra, dan dihormati oleh tetangga sebagai seorang istri yang sah dan bahagia.

Lalu... siapa dirinya?

Siapa Alya selama tujuh tahun ini? Seorang istri yang hanya menunggu sisa-sisa waktu Rendra? Seorang wanita bodoh yang rela mencuci pakaian kotor suaminya sementara sang suami menggunakan kemeja bersih dan wangi untuk memeluk wanita lain?

Alya tidak bisa lagi bernapas. Dadanya terasa begitu penuh oleh amarah, penghinaan, dan kesedihan yang tak terbatas. Ia berdiri dengan cepat, menaruh selembar uang dua puluh ribuan di atas bangku, dan memaksakan diri membungkuk sedikit ke arah ibu warung itu.

"Makasih... airnya, Bu. Saya permisi dulu," ucap Alya terbata-bata, langsung berbalik sebelum wanita itu sempat mengatakan kembaliannya.

Alya berjalan setengah berlari menjauh dari kompleks perumahan itu. Pandangannya mengabur tertutup air mata yang kembali turun deras. Ia berjalan menuju jalan raya, menyetop taksi pertama yang lewat, dan menjatuhkan dirinya ke kursi belakang mobil dengan tubuh gemetar hebat.

Di dalam taksi yang membawanya kembali menuju stasiun kereta, Alya menangis sejadi-jadinya. Tangisan tanpa suara yang sangat menyiksa. Ia menekan wajahnya pada tas selempangnya, meredam jeritan keputusasaan yang meronta ingin dilepaskan. Ia hancur. Hatinya telah dikhianati dengan cara yang paling keji yang tak pernah ia bayangkan.

Di tengah tangisannya, pikiran Alya perlahan menjadi jernih. Sebuah kesadaran dingin mulai menyusup ke dalam benaknya. Tujuh tahun kebohongan ini tidak mungkin dilakukan Rendra sendirian. Pasti ada celah. Pasti ada rahasia lain yang belum ia ketahui.

Dan satu hal yang pasti, ketika pria itu pulang esok hari ke rumah mereka dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa... Alya bersumpah, ia tidak akan menjadi wanita bodoh yang sama lagi.