Aku baru saja pulang dari survei proyek heritage di Magelang. Tiga hari di pemondokan tua dekat Borobudur, mengukur ulang ornamen kayu yang sudah lapuk. Pinggangku pegal, kepalaku penuh sketsa, dan yang aku inginkan hanya satu—mandi air hangat, lalu memeluk Adipati dan Maheswari erat-erat.
Tapi kunci gudang itu hilang.
Aku ingat menaruhnya di laci nakas kamar kami. Tapi tadi pagi, sebelum pamit ke Bramanta, aku tergesa-gesa. Mungkin Bram memindahkannya. Mungkin Lastri saat membersihkan. Aku berjalan ke kamar perawat yang terletak di sayap kanan rumah joglo ini, bermaksud sekadar mengintip apakah kunci itu nyangkut di sana saat Lastri menyapu kemarin.
Pintu kamar Lastri terbuka. Dia sedang di taman belakang, menemani Eyang Putri menjemur diri pagi. Aku masuk pelan-pelan, hanya berniat melihat permukaan meja dan laci nakas kecil di sudut.
Laci itu kubuka.
Dan di situlah benda itu.
Pipih. Putih kecoklatan. Dua garis—satu tegas, satu samar. Test pack. Alat tes kehamilan.
Jantungku jatuh ke perut.
Aku menutup laci itu cepat, seakan benda di dalamnya bisa meledak. Aku duduk di tepi ranjang Lastri sebentar, mencoba menarik napas. Kayu joglo tua di atas kepala berderak pelan seperti menertawakanku.
Untuk apa Lastri menyimpan test pack?
Lastri belum menikah. Lastri baru dua puluh tiga tahun, anak bungsu dari keluarga sederhana di Bantul. Dia datang ke rumah ini empat bulan lalu, lewat rekomendasi tetangga, ketika ibu mertuaku—Eyang Putri—terkena stroke ringan dan butuh perawat yang sabar. Lastri lulusan SMK keperawatan, ramah, rajin, dan yang paling penting: aku percaya padanya.
Aku percaya padanya.
Kalimat itu mendadak terasa pahit di lidahku.
Kututup laci, lalu keluar dari kamarnya tanpa suara. Di lorong yang menghubungkan kamar Lastri dengan ruang tengah, aku berhenti sebentar di depan foto pernikahan kami. Aku dan Bramanta. Sembilan tahun lalu. Dia memakai beskap hijau lumut, aku memakai kebaya putih hadiah eyang almarhumah. Wajah kami masih sangat muda di foto itu. Sangat percaya pada masa depan.
"Bunda!"
Suara Maheswari, anak bungsuku yang baru empat tahun, memecah lamunan. Dia berlari ke arahku sambil menyeret boneka kelinci kesayangannya. Di belakangnya, Adipati—enam tahun, sudah mulai serius seperti ayahnya—menggandeng tangan Lastri.
"Bunda sudah pulang!" Adipati melompat ke pelukanku. "Mbak Lastri tadi masakin pisang goreng! Enak banget, Bun!"
Aku memeluk mereka erat. Aroma rambut anak-anakku, aroma sabun bayi yang sejak bertahun-tahun aku pakai, mendadak terasa seperti satu-satunya hal yang masih aku miliki di dunia ini.
Dari sudut mataku, aku melihat Lastri.
Dia tersenyum sopan, sedikit menunduk seperti biasa. Rambutnya diikat ekor kuda, daster bunga-bunga yang ia kenakan sederhana. Tapi kali ini aku menatapnya berbeda. Aku menatap perutnya. Aku menatap pinggulnya. Tubuhnya memang sedikit lebih berisi dari empat bulan lalu, tapi aku selalu mengira itu karena dia makan teratur di rumah ini—di rumahnya sendiri di Bantul, katanya, kadang sehari hanya makan dua kali.
"Mbak Sasi, sudah pulang? Saya buatkan teh nasgithel ya?" suaranya halus seperti biasa.
"Tidak usah, Mbak. Saya mau mandi dulu," jawabku, mencoba mengontrol getar di suaraku. "Eyang sudah sarapan?"
"Sudah, Mbak. Tadi habis bubur ayam dan obatnya. Tensinya juga sudah saya ukur, normal."
"Bagus. Terima kasih, Mbak Lastri."
Dia mengangguk, lalu menggandeng anak-anakku kembali ke ruang bermain. Aku berdiri di lorong itu cukup lama, memandangi punggungnya menjauh.
Dia sangat baik. Selama ini dia sangat baik.
Tapi test pack itu tidak akan sampai ke laci kamarnya sendiri.
Aku masuk ke kamar utama, mengunci pintu. Tasku kuletakkan sembarangan. Aku duduk di tepi ranjang, lalu—untuk alasan yang bahkan aku sendiri tidak mengerti—aku mulai memeriksa kemeja-kemeja Bramanta yang tergantung di lemari.
Kemeja batik biru yang ia pakai dua hari lalu masih tergantung. Aroma parfumnya samar—aroma yang kuhafal, aroma kayu cendana yang aku pilihkan sendiri tahun lalu. Aku mengangkat kerah kemeja itu ke wajahku.
Dan aku mencium sesuatu yang lain.
Manis. Bunga melati. Aroma yang bukan parfumku.
Di kerah bagian dalam, sehelai rambut panjang tertinggal. Hitam. Lurus. Aku mengambilnya hati-hati, meletakkannya di atas tisu putih.
Rambutku ikal. Bahuku sebatas tengkuk.
Rambut Lastri lurus. Panjang sampai pinggang.
Aku duduk di tepi ranjang itu, dengan sehelai rambut di pangkuanku, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasakan sesuatu yang sebelumnya hanya aku baca di novel-novel: dunia berhenti berputar. Telinga aku berdenging. Dan otakku menolak menerima apa yang baru saja aku temukan.
Tidak. Bisa jadi rambut itu tertempel di kursi kantor Bram. Bisa jadi rambut mahasiswinya saat bimbingan. Bisa jadi rambut tetangga yang kebetulan bersinggungan di pasar.
Tapi rambut itu tertinggal di kerah dalam. Bagian yang hanya bisa tersentuh kalau seseorang memeluknya dari arah belakang.
"Sasi? Kamu di dalam?"
Suara Bramanta dari balik pintu. Aku berdiri terlalu cepat sampai pusing menyergap. Cepat-cepat aku selipkan tisu berisi rambut itu ke dalam dompet, lalu kubuka pintu.
Bramanta di sana. Senyumnya yang biasa. Wajahnya yang teduh. Kacamata berbingkai kayu yang kuhadiahkan saat ulang tahunnya yang ke-35. Suami yang selama ini aku banggakan di depan teman-teman SMA-ku, di reuni keluarga, di rapat orangtua murid Adipati.
"Sayang, kamu kelihatan capek. Aku pijitin ya?" tangannya terulur, menyentuh pipiku lembut.
Aku menatap matanya. Mata yang sembilan tahun aku percaya. Mata yang sama yang berjanji di hadapan penghulu, di hadapan Allah, untuk menjaga aku sampai surga.
"Tidak usah, Mas. Aku mau mandi dulu," kataku, tersenyum sebisaku.
"Oke. Nanti malam aku belikan sate kambing favoritmu, ya. Sekalian aku rindu kamu."
Dia mengecup keningku. Aku merasakan bibirnya hangat di keningku. Dan untuk pertama kalinya selama sembilan tahun, sentuhan itu membuat kulitku merinding.
Bukan karena cinta. Bukan karena rindu.
Karena curiga.
Aku menutup pintu kamar mandi pelan. Aku menyalakan keran shower keras-keras. Aku duduk di lantai keramik dingin itu, dengan baju masih lengkap, dan menangis tanpa suara.
Tisu berisi sehelai rambut itu masih kugenggam erat.
Air shower membasahi rambutku, menempel di pipiku, mengalir turun bersama air mata yang tak mau berhenti. Aku mencoba mengingat kembali tiga hari terakhir. Aku mencoba mengingat seluruh sembilan tahun pernikahan kami—mencari celah, mencari tanda yang seharusnya aku perhatikan dari dulu.
Bram yang akhir-akhir ini sering pulang siang katanya untuk makan. Bram yang dua minggu lalu mendadak membelikan Lastri ponsel baru karena katanya kasihan ponsel lamanya rusak. Bram yang sejak dua bulan lalu sering tidur di ruang tamu dengan alasan asma kambuh dan tidak ingin mengganggu tidurku.
Asma kambuh.
Sembilan tahun aku tidur sekamar dengan suamiku, baru kali ini asmanya kambuh malam-malam. Padahal Bram tidak pernah punya asma—ayahnya yang punya. Aku terlalu lelah dengan proyek heritage. Aku terlalu sibuk mengejar deadline gambar kerja sampai larut. Aku menerima alasan itu begitu saja, bahkan merasa bersalah karena tidak bisa merawatnya lebih baik.
Bodoh sekali kamu, Sasi.
Aku menampar pelan pipiku sendiri. Tidak. Aku belum boleh menyebut diriku bodoh. Aku belum punya bukti yang cukup. Satu test pack di laci perawat. Sehelai rambut panjang di kerah suami. Itu belum apa-apa. Test pack itu bisa milik teman Lastri. Rambut itu bisa kebetulan menempel.
Tapi naluriku berkata lain.
Naluri seorang istri, naluri seorang ibu, naluri seorang perempuan yang tahu—jauh sebelum otaknya menerima—bahwa ada yang busuk di rumahnya sendiri.
Aku ingat pesan almarhum eyang tiga tahun sebelum beliau meninggal. Saat itu kami sedang membersihkan kamar joglo lama ini bersama-sama. Eyang berkata pelan sambil menyapu, "Sasi, kalau nanti rumahmu ramai, jangan pernah biarkan perempuan muda yang bukan mahrom suamimu tidur serumah denganmu."
Aku tertawa waktu itu. "Eyang, kuno banget sih."
Eyang tidak ikut tertawa. "Kuno tidak apa-apa, Nduk. Yang penting selamat. Setan itu lewat di celah yang kamu pikir aman."
Aku menelan ludah. Air shower terasa lebih dingin dari seharusnya. Atau mungkin kulitku yang sudah tidak bisa merasakan apa-apa.
Aku berdiri. Aku mematikan shower. Aku mengeringkan tubuhku dengan handuk. Di cermin yang berembun, aku menatap diriku sendiri—mata bengkak, hidung memerah, bibir gemetar.
Tidak. Aku tidak akan bertanya pada Bram sekarang. Aku tidak akan menuduh siapa pun sebelum aku punya bukti yang tidak bisa dibantah. Aku ini arsitek. Aku biasa bekerja dengan data, dengan ukuran, dengan presisi.
Aku akan memperlakukan kasus ini seperti proyek baru. Tenang. Sistematis. Tanpa emosi.
Aku keluar dari kamar mandi, menggunakan piyama tidur favoritku yang dijahit sendiri oleh Mama. Aku duduk di meja rias, menyisir rambut, dan menatap pantulan diriku di cermin.
"Sasi Pranadira," aku berbisik pada bayangan diriku sendiri, "kamu harus kuat. Demi Adipati. Demi Maheswari. Demi dirimu sendiri."
Bayanganku di cermin mengangguk pelan.
Dari ruang keluarga terdengar tawa Adipati dan Maheswari, lalu suara Bramanta yang ikut tertawa, lalu—dan ini yang membuat dadaku ngilu—suara Lastri yang juga tertawa lepas, seperti dia sudah menjadi bagian dari keluarga ini.
Atau mungkin memang sudah.
Aku menarik napas panjang. Aku akan keluar dari kamar ini sebentar lagi, tersenyum kepada suamiku, mencium anak-anakku, berterima kasih pada Lastri atas pisang gorengnya. Aku akan berperan menjadi istri yang baru pulang dinas, bahagia bertemu keluarganya.
Tapi mulai detik ini, di balik senyum itu, aku akan mulai mencari kebenaran.
Dan jika kebenaran itu menghancurkanku, aku akan tetap berdiri.
Karena perempuan-perempuan di keluarga Pranadira tidak pernah roboh tanpa perlawanan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar