Empat hari menunggu adalah empat hari di neraka kecil yang aku buat sendiri.


Setiap pagi aku bangun, mencium kening Bramanta yang masih tidur, lalu menatapnya beberapa detik—mencoba mengingat wajah yang dulu aku cintai sebelum aku tahu apa yang mungkin disembunyikannya. Setiap pagi aku ke dapur, menyapa Lastri dengan senyum hangat, bertanya kabar Eyang Putri, mendengar Lastri berkata "Eyang sehat, Mbak, semalam tidur nyenyak". Setiap pagi aku berakting menjadi istri yang puas.


Dan setiap malam, di kamar mandi yang sama dengan kerannya yang aku nyalakan keras-keras, aku menulis di buku catatan kecil yang aku sembunyikan di balik tumpukan handuk.


Catatan kecurigaanku.


***


SENIN, 7 MEI - Bram pulang siang jam 12.30. Bilang lupa bawa flashdisk. Berapa lama di rumah? 35 menit. Lastri ke mana? Tidak ada di dapur saat aku telepon Yu Sumi (asisten yang datang pulang dari Bantul) untuk memastikan. - Bram balik ke kampus jam 13.05. Aroma parfum Bram berubah saat pulang malam—lebih ringan, seperti baru mandi.


SELASA, 8 MEI - Lastri minta izin keluar jam 10 pagi. Katanya beli pampers Eyang. Pulang jam 12.15. Dua jam untuk beli pampers di apotek yang jaraknya 3 km? - Aku cek struk yang dia simpan di laci dapur. Struknya beneran dari Apotek K-24. Tapi waktu transaksi: jam 10.42. Jadi 1.5 jam ke mana?


RABU, 9 MEI - Bram bilang ada rapat dadakan sampai malam. Pulang jam 22.30. Aku sudah tidur saat dia masuk kamar—pura-pura tidur. Pakaiannya bukan pakaian rapat. Dia berganti baju sebelum masuk kamar utama. - Aku cium bantalku setelah dia tidur. Wangi sampo Pantene sachet yang biasa Lastri pakai. Sampoku Sunsilk.


KAMIS, 10 MEI - Maheswari cerita siang tadi: "Bunda, Mbak Lastri tadi nangis." Kutanya kenapa, Maheswari bilang nggak tahu. Cuma lihat Mbak Lastri nangis pelan-pelan di belakang dapur sambil pegang HP. Lastri nangis kenapa? Apa Bram sudah mulai bilang sesuatu yang membuatnya cemas? Atau... apa Bram sudah bilang dia ingin mengakhiri 'hubungan'?


***


Empat halaman penuh dalam empat hari.


Aku menutup buku catatan itu, menyembunyikannya kembali di balik handuk. Aku duduk di tepi bathtub, menunduk, menatap pantulan diriku di lantai keramik yang baru dipel.


Sasi yang dulu—Sasi yang memenangkan lomba sketsa SMA, yang lulus cum laude dari Arsitektur UGM, yang membangun studio dari nol bersama dua sahabat—Sasi yang dulu tidak akan percaya bahwa dirinya akan duduk di lantai kamar mandi pukul satu pagi, mencatat kebohongan suaminya seperti detektif gagal.


Tapi inilah aku sekarang. Ibu dua anak. Istri yang dikhianati. Detektif amatir yang sedang membangun kasusnya sendiri.


***


Jumat pagi, sebelum berangkat ke kantor, aku mampir ke kamar Eyang Putri.


Eyang sedang duduk di kursi rotan dekat jendela. Selimut tebal tersangkut di bahunya. Sinar matahari menyusup dari balik gorden, menerangi rambut putihnya yang sudah tipis. Eyang tersenyum saat melihatku.


"Sasi, Nak," suaranya parau, "tumben pagi-pagi mampir."


"Sasi mau ke kantor, Eyang. Mampir dulu."


Aku duduk di sebelahnya. Aku menggenggam tangannya yang dingin dan sedikit kering. Tangan yang dulu memasakkan opor terenak yang pernah aku makan. Tangan yang dulu menerima pinanganku saat Bram membawaku pertama kali ke rumah ini.


"Eyang sehat?"


"Sehat, Nak. Lastri rajin. Kemarin dia mandiin Eyang sampai bersih, gosok punggung Eyang. Eyang udah lupa kapan terakhir ada yang gosok punggung Eyang sebersih itu."


Aku tersenyum tipis.


"Lastri orang baik ya, Eyang."


"Iya, Nak. Eyang sayang sama dia. Dia orangnya halus, sopan. Beruntung kita dapet Lastri."


Dadaku ngilu. Aku menelan ludah. Aku tidak tahu harus berkata apa.


"Eyang... boleh Sasi tanya sesuatu?"


"Tanya apa, Nduk?"


"Eyang dulu... saat Eyang muda... pernah curiga sama Mbah Kakung?"


Eyang Putri menatapku lama. Mata tuanya yang sudah keruh, tapi masih bisa membaca apa yang ada di hati orang. Eyang adalah ibu mertuaku, ibunya Bramanta, tapi sejak Bram kuliah aku sudah menganggapnya seperti ibu kandung sendiri.


"Curiga apa, Sasi?"


"Curiga... Mbah Kakung lagi suka sama orang lain."


Eyang menarik napas panjang. Lama dia diam. Lalu dia mengelus punggung tanganku.


"Sasi, kamu lagi ada masalah?"


Aku ingin sekali jawab iya, Eyang. Aku ingin sekali bersandar di bahu wanita tua ini dan menangis seperti anak kecil. Tapi aku tidak bisa. Eyang baru saja stroke. Tekanan emosional bisa membuatnya kambuh.


"Nggak, Eyang. Cuma penasaran aja. Sasi lagi baca novel."


Eyang tersenyum miring. Dia tidak percaya. Tapi dia tidak memaksa.


"Pernah, Nak. Eyang pernah curiga. Tapi Eyang nggak pernah salahin Mbah Kakung sebelum Eyang punya bukti yang nggak bisa dibantah. Karena rumah tangga itu bukan main-main, Sasi. Sekali salah tuduh, retaknya susah disembuhkan."


"Trus Eyang gimana?"


"Eyang sabar. Eyang doa. Eyang perhatikan diam-diam. Sampai suatu hari Eyang lihat sendiri. Lalu Eyang ngomong baik-baik sama Mbah Kakung. Eyang nggak ngamuk. Eyang nggak teriak-teriak. Eyang cuma bilang, 'Mas, kalau Mas memilih dia, saya pulang ke rumah orang tua saya. Tapi kalau Mas memilih saya, Mas berhenti sekarang juga, dan kita mulai lagi dari awal.'"


"Trus Mbah Kakung milih siapa, Eyang?"


"Mbah Kakung nangis. Minta maaf. Mengaku semua. Trus berhenti."


Aku mengangguk. Eyang Putri menggenggam tanganku lebih erat.


"Tapi Sasi, Nak. Setiap rumah tangga beda. Setiap laki-laki beda. Ada yang bisa berhenti, ada yang nggak. Ada yang menyesal sebentar, lalu balik lagi. Kalau kamu sampai pada titik harus memutuskan, putuskan dengan kepala dingin dan hati yang sudah siap dengan jawaban apapun."


"Iya, Eyang."


"Dan Nak..." suara Eyang lebih pelan, "kalau yang sedang mengkhianati kamu itu Bramanta, Eyang akan berdiri di pihakmu. Walaupun Bramanta anak kandung Eyang."


Aku tersedak. Tangis yang sejak tadi aku tahan akhirnya tumpah. Aku memeluk Eyang erat. Tubuh tuanya yang ringkih, tulang pundaknya yang menonjol, aroma minyak kayu putih yang menempel di bajunya—semuanya membuatku semakin terisak.


"Eyang tahu?"


"Eyang... menebak, Nduk. Eyang bukan ibu kemarin sore. Eyang sudah tinggal di rumah ini hampir setahun. Eyang lihat sikap Bramanta belakangan. Eyang lihat Lastri belakangan. Eyang lihat kamu hari ini—matamu bengkak, tubuhmu kurus, kamu pura-pura tertawa di meja makan."


"Eyang..."


"Sasi, Nak. Eyang nggak akan ikut campur. Tapi Eyang kasih satu pesan."


"Apa, Eyang?"


"Apapun yang nanti kamu temukan, ingat satu hal. Kamu, Sasi Pranadira, perempuan baik. Kamu nggak salah apa-apa. Apa yang mereka lakukan, kalau memang benar, itu salah mereka. Bukan salahmu."


Aku menangis di pelukan ibu mertuaku—wanita yang seharusnya membela anaknya tanpa syarat, tapi yang justru memilih membelaku tanpa memintanya. Aku menangis sampai gamis batikku basah. Sampai pundaku gemetaran. Sampai akhirnya Eyang Putri sendiri yang ikut menangis.


***


Aku datang terlambat ke kantor. Tapi dadaku terasa lebih ringan—dan pada saat yang sama, lebih siap.


Hari Minggu masih dua hari lagi. Aku akan menunggu. Aku akan menyiapkan hatiku, otakku, dan keberanianku.


Karena sebentar lagi, mata yang tak pernah tidur—lima kamera CCTV yang Mas Wibowo pasang—akan melihat segalanya untukku.


Dan aku, untuk pertama kalinya selama dua minggu ini, sudah siap melihat kebenaran.