Pagi datang dengan langit kelabu di atas Sleman. Hujan ringan mengetuk genteng tanah liat rumah joglo, suara yang biasanya membuatku tenang. Pagi ini suara itu seperti detik jam yang tak mau berhenti.


Aku bangun lebih dulu dari Bramanta. Aku mandi cepat. Aku memakai gamis batik warna coklat tanah, sederhana, tanpa make-up tebal. Hari ini aku tidak ingin terlihat seperti istri yang sedang bermasalah.


Saat aku turun ke dapur, Lastri sudah di sana. Dia sedang menggoreng tempe. Rambutnya diikat ke atas. Daster yang ia pakai pagi ini berbeda dari daster yang ia pakai semalam—warna biru muda dengan motif bunga matahari.


"Selamat pagi, Mbak Sasi."


"Selamat pagi, Mbak Lastri." Aku menarik kursi, duduk di meja makan. "Mbak tadi malam tidur jam berapa?"


Tangannya tidak berhenti membalik tempe.


"Em... lupa, Mbak. Tapi cepet kok, soalnya capek. Tadi sore Eyang minta dipijetin lama."


"Eyang nggak bangun lagi tengah malam?"


"Bangun sebentar minum. Trus tidur lagi."


"Mbak yang nemenin?"


"Iya, Mbak."


Lastri menjawab tanpa menatapku. Tangannya tetap sibuk dengan spatula. Tapi aku perhatikan, bahunya sedikit kaku. Tidak sekaku semalam, tapi ada perbedaan kecil yang baru sekarang aku notice.


"Tempe goreng favorit Adipati ya, Mbak?"


"Iya, Mbak Sasi. Sambil sambel kacang yang kemarin saya bikin."


Aku tersenyum. Sopan. Hangat. Persis senyum yang biasa aku berikan pada orang yang aku sayangi. Lastri membalas senyumku dengan senyumnya sendiri—polos, tidak berdosa, mata yang sedikit menyipit karena pipi gemuknya terangkat.


Kalau dia berbohong, dia adalah pembohong terbaik yang pernah aku temui.


***


Setelah sarapan, aku pamit ke kantor. Bramanta menggandengku sampai pintu, mengecup keningku, melambaikan tangan. Adipati sudah berangkat ke sekolah dengan jemputan. Maheswari main di ruang tamu dengan boneka-bonekanya. Lastri di belakang, membersihkan meja makan.


Pemandangan keluarga yang sempurna.


Aku menyetir mobil keluar dari halaman, melewati gerbang besi yang sudah berkarat di bagian engselnya, menyusuri jalan pedesaan di pinggiran Sleman menuju kota Yogya. Tapi aku tidak berbelok ke arah studio arsitekturku di Jalan Gejayan. Aku berbelok ke arah selatan, melewati ring road, menuju makam keluarga di Imogiri.


Aku ingin menemui Eyang.


Eyang kandungku. Bukan Eyang Putri yang sekarang sakit di rumah— itu ibu mertua yang juga aku panggil 'Eyang' sejak Adipati lahir. Eyang yang ingin aku temui pagi ini adalah eyang kandungku, ibunya Mama, yang meninggal tiga tahun lalu di usia delapan puluh tiga.


Pemakaman keluarga di Imogiri terletak di lereng bukit. Aku memarkir mobil di bawah, lalu menaiki tangga batu yang sudah licin karena hujan tadi pagi. Pohon kemboja tua di kanan kiri jalan, daunnya menetes-netes. Sepatuku basah saat aku sampai di pusara Eyang.


Aku berjongkok. Aku menabur kelopak kantil yang aku beli di warung kaki tangga.


"Eyang," bisikku, "Sasi datang."


Angin lembab menampar wajahku. Di kejauhan, suara burung prenjak.


"Eyang, dulu Eyang pernah ngomong sama aku, jangan biarkan perempuan muda yang bukan mahrom suamiku tinggal serumah. Sasi ketawain Eyang waktu itu. Sasi bilang Eyang kuno."


Mataku panas.


"Sekarang Sasi minta maaf, Eyang."


Aku menunduk. Aku ingat suara Eyang yang lirih tapi tegas. Ingat bagaimana Eyang dulu memimpin dapur saat lebaran, saat seluruh keluarga besar Pranadira berkumpul. Eyang adalah perempuan yang tidak pernah meninggikan suara, tapi ucapannya selalu didengar. Bahkan kakekku—yang dosen filsafat itu—selalu manut sama eyang.


"Eyang, apa yang harus Sasi lakukan?"


Pertanyaan itu kulemparkan ke udara, ke tanah, ke pohon-pohon kemboja, ke siapapun yang mendengar. Tentu saja tidak ada jawaban. Tapi aku merasa lebih tenang. Seperti Eyang sedang mengusap punggungku dari kejauhan.


"Sasi nggak boleh gegabah, kan, Eyang?"


Angin menerpa lagi.


"Sasi harus pinter. Sasi harus dapet bukti dulu sebelum tuduhan keluar dari mulut Sasi. Iya kan, Eyang?"


Aku tersenyum kecil. Aku tahu apa yang akan Eyang katakan seandainya beliau masih hidup. 'Nduk, kalau curiga, jangan curiga setengah-setengah. Selidiki sampai jelas. Karena tuduhan yang salah sama bahayanya dengan kebenaran yang ditutupi.'


Aku berdiri. Aku merapikan gamis batikku. Aku menabur kantil yang tersisa.


"Sasi pamit dulu, Eyang. Doain Sasi, ya."


Aku turun dari pemakaman dengan langkah yang lebih ringan dari saat aku naik. Tidak karena bebanku berkurang—tapi karena aku sekarang tahu apa yang harus aku lakukan.


***


Sebelum kembali ke kantor, aku mampir ke sebuah toko elektronik kecil di daerah Bantul. Toko milik Mas Wibowo, teman SMA-ku, yang sekarang membuka usaha CCTV dan alarm rumah.


"Sasi! Tumben! Mau pasang CCTV di studio?"


"Bukan, Mas. Di rumah."


"Lho, di rumah Sleman? Bukannya udah ada CCTV?"


"Yang lama udah rusak, Mas. Mau ganti yang baru."


Mas Wibowo mengusap tengkuknya. Dia tahu rumah Sleman-ku—dia sendiri yang dulu memasang CCTV sederhana di pagar depan saat kami baru pindah ke sana lima tahun lalu.


"Mau yang seperti apa, Sas? Yang outdoor lagi?"


"Yang indoor, Mas. Buat di dalam rumah."


Mas Wibowo terdiam. Aku tahu dia memperhatikanku. Aku tahu dia melihat mata bengkakku yang aku samarkan dengan kacamata sebening kaca. Tapi Mas Wibowo orang baik. Dia tidak bertanya.


"Mau berapa titik, Sas?"


"Lima."


"Lima?"


"Iya. Yang bisa rekam suara juga ya, Mas. Yang bisa Sasi pantau dari HP."


Mas Wibowo mengangguk pelan. Dia tidak bertanya kenapa aku butuh CCTV indoor lima titik dengan rekaman suara. Tapi dia melihatku—lama dan dalam—sebelum akhirnya membuka katalog.


"Sasi, apapun yang lagi kamu hadapi, Mas Wibowo doain semoga lancar, ya."


Aku menelan ludah. Aku tidak mempercayai suaraku sendiri untuk menjawab. Aku hanya mengangguk.


"Kapan mau dipasang?"


"Hari Minggu, Mas. Pas aku, suamiku, sama anak-anak lagi nginep di rumah Mama di Kotagede. Nanti Sasi kasih kunci ke Mas."


"Nginep semua? Pembantu juga?"


"Iya."


"Oke. Sasi, satu hal. Mas pasang dengan profesional. Tidak akan kelihatan. Tapi Sasi yang harus pinter—kalau Sasi sendiri nggak tahu di mana saya pasang, nanti kelihatan kagetnya kalau ngeliat kamera."


"Baik, Mas. Sasi titip, ya."


"Dan satu lagi, Sas."


"Iya, Mas?"


"Kalau apa yang Sasi cari ternyata terbukti, datang ke Mas. Mas bantu Sasi cari pengacara terbaik di Yogya. Mas punya banyak kenalan."


Aku mengangguk lagi. Mata mulai berkaca-kaca, tapi aku menahan. Tidak boleh menangis di toko orang. Tidak boleh menunjukkan kelemahan di tempat umum.


"Terima kasih, Mas Wibowo."


***


Sore aku pulang ke rumah Sleman. Hujan sudah berhenti. Halaman joglo basah, bau tanah segar. Adipati lari ke arahku saat aku turun dari mobil, membawa kertas ulangan matematika.


"Bunda! Mas dapat seratus!"


"Wah! Pintar Adipati, Bunda!" Aku mengangkatnya, memutarnya seperti yang dia suka sejak balita.


Bram keluar dari pendopo. Senyum sumringah. Dia memeluk Adipati setelah aku turunkan. Lalu dia mengecup keningku, seperti biasa.


"Sayang, kamu kelihatan lebih segar dari pagi tadi."


"Iya, Mas. Tadi mampir ke makam Eyang dulu sebelum ke kantor."


"Oh, Sayang sayang aku ini," dia merangkulku ke arah pendopo, "besok aku temani."


Aku tersenyum. Aku mengangguk. Aku berjalan masuk ke rumah sambil tetap dirangkul suamiku—suami yang mungkin sudah mengkhianatiku, tapi sampai aku melihat buktinya dengan mata kepalaku sendiri lewat layar HP, aku akan berpura-pura tidak tahu.


Selama empat hari lagi.


Sampai hari Minggu, saat CCTV itu terpasang di lima titik di rumah ini.


Lalu kita lihat, Mas. Siapa yang sebenarnya kamu peluk di malam hari saat istrimu sedang dinas keluar kota.