Sabtu pagi, aku mengusulkan sesuatu yang sudah aku rencanakan tiga hari sebelumnya.
"Mas, gimana kalau kita nginep semalam di rumah Mama? Adipati sama Maheswari kangen sama Eyang Kakungnya."
Bramanta sedang menyeruput kopinya di pendopo, koran terbentang di pangkuannya. Dia mengangkat alis.
"Nginep semua?"
"Iya. Semuanya. Eyang Putri juga. Lastri juga."
"Eyang kuat naik mobil?"
"Cuma satu jam ke Kotagede. Lastri bisa nemenin Eyang di mobil. Mama udah siapin kamar bawah biar Eyang nggak susah naik tangga. Sasi udah telpon Mama tadi."
Bram terdiam sebentar. Aku bisa melihat matanya bergerak cepat— memikirkan, mungkin menimbang. Lalu dia tersenyum.
"Boleh, Sayang. Bagus malah. Ide bagus."
Senyumnya itu—senyum yang seandainya aku belum tahu apa-apa, akan kuanggap sebagai senyum suami yang penuh cinta. Tapi sekarang senyum itu hanya membuatku semakin yakin bahwa Bram sedang menghitung. Dia mungkin berpikir: bagus, satu malam dia bisa pulang ke kosnya. Atau Lastri yang nginep di kos itu. Atau mereka berdua yang... entahlah.
Apapun rencana mereka, aku tidak peduli. Yang penting, hari ini rumah ini akan kosong. Dan Mas Wibowo akan masuk membawa peralatannya.
***
Pukul sebelas siang, kami berangkat. Aku menyetir mobil keluarga, Bram di sebelahku. Adipati dan Maheswari di kursi belakang. Eyang Putri di kursi tengah baris ketiga, ditemani Lastri yang menyangga bantal di pinggangnya.
Aku menengok ke spion. Lastri sedang membantu Eyang minum dari botol. Telaten. Sabar. Sopan. Aku nyaris tertawa pahit— seandainya saja perempuan ini benar-benar seperti yang ditampilkannya, dia akan menjadi malaikat di rumah kami. Sayangnya aku punya alasan untuk percaya bahwa dia bukan malaikat. Dia bahkan mungkin bukan perempuan yang aku kira selama empat bulan ini.
Sebelum keluar dari halaman, aku menyelipkan kunci cadangan rumah ke dalam amplop coklat. Aku menitipkan amplop itu pada Yu Sumi, ART pulang-pergi yang sudah ikut keluarga ini selama tujuh tahun—satu-satunya orang di lingkungan rumah ini yang aku percaya seratus persen.
"Yu Sumi, nanti jam dua, Mas Wibowo dari toko CCTV datang. Kasih kunci ini. Saya udah bilangin Mas Wibowo. Yu Sumi nggak perlu nemenin di dalam—biar Mas Wibowo kerja sendiri. Nanti jam lima dia balikin kunci ke Yu Sumi."
"Nggih, Bu. Tapi... CCTV apa, Bu? Yang depan kan udah ada."
"Yang ini buat di dalam, Yu. Mau jagain Eyang."
Yu Sumi mengangguk. Tidak banyak tanya. Itulah yang aku suka dari Yu Sumi—dia mengerti bahwa ada hal-hal di rumah orang yang tidak perlu dia tanyakan.
***
Di rumah Mama, Kotagede, semuanya terlihat sempurna sehari penuh. Adipati main petak umpet dengan sepupu-sepupunya yang memang sengaja Mama undang. Maheswari bersantai di pangkuan Eyang Kakung—papaku—yang membacakan dongeng Kancil. Eyang Putri ngobrol dengan Mama soal resep botok mlanding. Lastri di dapur membantu memotong sayuran.
Bram dan papaku ngobrol soal politik di pendopo, ditemani kopi tubruk dan singkong rebus.
Aku melihat dari jendela ruang tengah. Pemandangan yang harusnya menghangatkan hati seorang istri. Pemandangan yang dulu, pasti, membuatku berbisik dalam hati: terima kasih ya Allah atas keluarga ini.
Sekarang aku hanya melihat satu pertunjukan teater amatir dengan kostum yang sangat meyakinkan.
"Sasi."
Mama datang dari belakang, menyentuh bahuku.
"Iya, Ma?"
"Kamu kenapa?"
"Nggak apa-apa, Ma."
"Ibumu ini bukan ibu kemarin sore, Sasi Pranadira. Empat hari ini Mama lihat suaramu di telepon udah beda. Sekarang Mama lihat matamu udah beda. Ada apa?"
Aku menggigit bibir bawah. Aku menatap Mama—wanita berusia enam puluh dua yang masih cantik dengan rambut sebahu yang mulai memutih, yang masih mengelola katering kecil di rumah sendiri, yang membesarkan aku dan dua kakakku tanpa pernah sekalipun bersuara tinggi.
"Ma, Sasi minta ijin nginep di sini malam ini. Sasi sama anak-anak."
"Lho, kan emang udah direncanakan."
"Mama... Sasi mau cerita. Tapi nanti malam aja, ya. Setelah anak-anak tidur. Pelan-pelan."
Mama menatapku lama. Lalu dia mengangguk pelan.
"Mama tunggu di kamar Mama, Sasi."
***
Pukul setengah lima sore, ponselku berdering. Mas Wibowo.
"Sasi, udah selesai. Lima titik—dapur, ruang tamu, lorong dekat kamar Lastri, ruang keluarga, dan satu di dekat pintu kamar utama. Aku sengaja nggak pasang di dalam kamar utama atau di dalam kamar Lastri. Nanti Sasi yang putuskan kalau perlu kamera tambahan."
"Cukup, Mas. Cukup."
"Aplikasinya udah aku install di HP Sasi. Password aku kasih nanti pas ketemu. Sekarang Sasi udah bisa pantau live."
"Terima kasih, Mas. Banyak banget. Sasi nggak tahu cara bales."
"Bales nanti, Sas. Pas semuanya udah kelar. Kunci udah aku balikin ke Yu Sumi."
Aku menutup telepon. Aku duduk di tepi ranjang kamar tamu rumah Mama. Tangan gemetar. Aku membuka aplikasi yang baru dipasang di HP-ku.
Lima kotak kecil muncul di layar.
Dapur—kosong. Cahaya sore lembut. Tirai bergoyang pelan.
Ruang tamu—kosong. Sofa rotan, meja kayu jati, lukisan wayang yang dilukis Bram tahun pertama pernikahan kami.
Lorong kamar Lastri—kosong. Pintu kamarnya tertutup.
Ruang keluarga—kosong. TV mati. Mainan Maheswari berserakan di lantai.
Pintu kamar utama—kosong. Pintu tertutup.
Rumah kami benar-benar kosong. Lima sudut, lima mata yang tak pernah tidur, semuanya terhubung ke ponsel di tanganku.
Aku menutup aplikasi. Aku meletakkan ponsel di atas selimut. Aku menarik napas panjang.
Sekarang aku tidak harus menunggu di rumah untuk tahu apa yang terjadi di rumahku sendiri.
***
Malamnya, setelah anak-anak tidur, aku ke kamar Mama.
Mama duduk di kursi kayu di sudut kamar, memegang segelas teh hangat. Aku duduk di kakinya, di lantai, seperti yang biasa aku lakukan saat masih kecil setiap kali ada masalah di sekolah. Kepalaku aku letakkan di pangkuannya.
Lalu aku menceritakan semuanya.
Test pack di laci Lastri. Sehelai rambut di kerah Bram. Aroma melati. Bram pulang siang dua kali. Lastri yang panggil Bram 'Mas' di belakang anak-anak. Bram yang ganti baju tengah malam. Buku catatan kecurigaan. Pemakaman Eyang. Toko Mas Wibowo. CCTV lima titik yang baru dipasang sore tadi.
Mama mendengarkan tanpa memotong. Tangannya mengelus rambutku sepanjang aku bercerita. Sesekali aku merasakan tetes air mata jatuh di rambut—bukan air mataku, tapi air mata Mama.
Saat aku selesai, kami diam lama.
"Sasi."
"Iya, Ma."
"Mama mau nanya satu hal. Jawab jujur."
"Iya, Ma."
"Kamu cinta sama Bramanta?"
Pertanyaan itu menusukku. Aku menatap mata Mama.
"Cinta, Ma. Sasi cinta sama Bram."
"Bahkan setelah semua ini?"
Aku terdiam. Aku tidak tahu jawabannya. Atau aku tahu, tapi aku takut mengakuinya.
"Sasi cinta sama Bram yang Sasi kenal sembilan tahun lalu, Ma. Tapi Bram yang sekarang... Sasi nggak yakin Sasi masih kenal laki-laki itu."
Mama mengangguk pelan.
"Sasi, Mama dukung apapun keputusanmu. Mau menggugat cerai— Mama dukung. Mau memberi Bram kesempatan kedua—Mama dukung. Tapi Sasi harus janji satu hal sama Mama."
"Apa, Ma?"
"Apapun yang kamu putuskan nanti, kamu putuskan saat hatimu udah nggak gemetar lagi. Bukan saat marah, bukan saat sedih. Saat tenang. Janji?"
"Janji, Ma."
Mama membungkuk, mengecup ubun-ubunku.
"Sekarang tidur, Sasi. Mama temani. Kamu butuh tidur nyenyak malam ini."
Aku tidur di kamar Mama malam itu. Untuk pertama kalinya dalam empat hari, aku tidur lebih dari empat jam.
Dan ponselku—dengan lima mata tak pernah tidur di dalamnya—aku letakkan di nakas, tertutup rapat.
Aku belum siap menonton apapun malam ini.
Tapi besok... besok aku akan kembali ke rumah Sleman. Dan besok malam, atau malam berikutnya, atau pada malam saat aku "dinas keluar kota" lagi, mata-mata itu akan bekerja untukku.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar