Malam itu sate kambing tetap datang. Tetap di piring rotan yang sama. Tetap dengan irisan jeruk nipis yang sengaja Bram peras sendiri di atas dagingnya, persis cara yang aku suka. Tetap dengan teh tawar panas dari poci tanah liat hadiah ulang tahun pernikahan kami yang ketujuh.


Tapi di lidahku, sate itu tidak ada rasanya.


Adipati makan dengan lahap, bercerita panjang lebar tentang ulangan matematika besok. Maheswari sibuk mencocol nasi ke kuah kacang. Bram sesekali tertawa kecil, mendengarkan celoteh anak-anak. Lastri makan terpisah di dapur—bukan karena dia disuruh, tapi karena dia sendiri yang selalu memilih begitu.


"Mbak Lastri, sini saja makan di sini," kataku, mencoba membuat suaraku terdengar normal.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya nemenin Eyang dulu. Eyang mau makan bubur."


Aku mengangguk. Nada Lastri tetap sama. Sopan. Halus. Tanpa beban. Kalau memang ada yang ia sembunyikan, dia pemain yang sangat baik. Atau aku yang terlalu ingin percaya bahwa dia tidak menyembunyikan apa-apa.


Aku menatap Bramanta yang sedang menyuapkan sepotong daging ke mulut Maheswari. Tangannya lembut. Senyumnya tulus. Kalau ada orang asing masuk ke ruang makan kami sekarang, dia akan melihat satu keluarga sempurna.


Aku juga melihat keluarga sempurna itu, sembilan jam yang lalu.


***


Selesai makan, anak-anak kuajak ke kamar. Aku membacakan buku cerita untuk Maheswari—buku tentang putri yang membangun istana dari kayu—sampai dia tertidur memeluk boneka kelincinya. Adipati membaca komik di sebelahku, kepalanya bersandar di bahuku.


"Bunda."


"Ya, Sayang?"


"Bunda sayang Ayah?"


Pertanyaan itu menusukku tanpa peringatan. Aku menoleh perlahan.


"Kenapa nanya begitu, Mas?" Kupanggil Adipati 'Mas' sejak ia mulai bisa bicara.


"Tadi siang Mbak Lastri bilang sama Ayah, 'Mas Bram nanti malam masih sibuk?' Bunda."


Aku terdiam.


"Mbak Lastri panggil Ayah 'Mas'?"


"Iya. Tapi Mbak Lastri bilangnya pelan-pelan. Mas kira ngira-ngira aja waktu lagi belajar di meja makan. Mbak Lastri kira Mas nggak dengar."


Adipati anak yang teliti. Sejak umur lima tahun, dia bisa mengingat detail-detail kecil yang orang dewasa abaikan. Itu salah satu hal yang membuatku bangga padanya.


Tapi malam ini, aku tidak ingin Adipati seteliti ini.


"Mungkin Mbak Lastri salah ngomong, Mas. Atau Bunda yang salah denger," aku berusaha tertawa kecil. "Adipati pintar banget sih, dengarnya."


"Mas nggak suka Bunda."


"Hm? Kenapa?"


"Mas nggak suka kalau Mbak Lastri panggil Ayah pakai 'Mas'. Kayak Bunda. Bunda kan yang biasanya panggil Ayah pakai 'Mas'."


Aku memeluknya. Erat. Seerat-eratnya. Sampai dia protes pelan karena susah napas. Aku melepaskan pelukan, kucium puncak kepalanya yang masih berbau sampo Johnson's.


"Adipati, anak ganteng, sekarang tidur, ya. Besok ulangan matematika."


"Bunda kok matanya basah?"


"Bunda capek aja, Sayang. Tiga hari di Magelang, Bunda kurang tidur."


Adipati menatapku lama. Mata anakku itu—mata yang sama dengan mata Bramanta—seperti mencari sesuatu di wajahku. Lalu dia mengangguk pelan, dan menarik selimut sampai ke dagu.


"Selamat tidur, Bunda."


"Selamat tidur, Mas. Bunda sayang Adipati."


"Mas sayang Bunda."


Aku mematikan lampu kamar anak-anak. Aku berdiri di lorong sebentar, bersandar di dinding kayu jati yang dingin. Mata basah. Dada sesak.


Mbak Lastri panggil Bram pakai 'Mas'.


Aku mencoba mengingat. Sejak kapan? Bukankah biasanya Lastri selalu memanggil Bram dengan 'Pak Bram' atau 'Pak Dosen' kalau sedang bercanda? Sejak kapan dia berani memakai panggilan yang biasanya kupakai untuk suamiku sendiri?


Dan kenapa harus 'pelan-pelan'? Kenapa harus berhati-hati supaya Adipati tidak dengar?


Pertanyaan-pertanyaan itu menumpuk di kepalaku seperti gambar-gambar kerja yang menumpuk di studio. Tapi tidak satupun pertanyaan itu yang berani aku ucapkan keras-keras. Belum.


***


Bram sudah berada di kamar saat aku masuk. Dia sedang membaca jurnal akademik yang dia kerjakan untuk konferensi bulan depan. Kacamatanya sedikit melorot di hidungnya. Dia mengangkat wajah saat melihatku.


"Anak-anak sudah tidur?"


"Sudah."


"Sini, Sayang. Aku pijitin pundakmu."


Aku duduk di tepi ranjang. Aku biarkan tangannya menyentuh bahuku. Aku biarkan ibu jarinya menekan otot-otot leherku yang memang kaku setelah tiga hari membungkuk di atas meja gambar. Pijatannya seperti biasa—bukan terlalu kuat, bukan terlalu lembut. Pijatan suami yang sudah hafal punggung istrinya.


"Kamu kurus, Sas. Di Magelang nggak makan teratur, ya?"


"Lumayan, Mas. Cuma capek."


"Besok nggak usah ke kantor dulu. Istirahat."


"Aku ada meeting jam sepuluh sama klien dari Bali."


"Klien mana?"


"Pak Wirana. Yang mau renovasi vila di Ubud."


Bram terdiam sebentar. Lalu jari-jarinya berhenti bergerak di bahuku.


"Kamu kenal sama Pak Wirana udah lama, ya?"


"Sejak proyek Pertamina dulu. Kenapa, Mas?"


"Nggak. Cuma... aku perhatiin akhir-akhir ini kamu sering pergi-pergi keluar kota. Apa nggak capek, Sayang?"


Aku mengangkat wajahku, menatap Bram di pantulan cermin lemari.


"Sebelum ini Mas nggak pernah keberatan, kan?"


"Aku cuma khawatir."


"Khawatir apa?"


Bram tidak langsung menjawab. Dia berdiri, mengambil air mineral di nakas, meneguknya pelan.


"Khawatir kamu kerja terlalu keras."


Aku menoleh. Mata kami bertemu langsung sekarang, bukan lewat cermin.


"Mas, kamu kalau ada yang mau ngomong, ngomong aja."


"Nggak ada. Aku cuma... aku ingin kamu lebih sering di rumah, itu aja."


"Lebih sering di rumah?"


"Iya."


"Kenapa baru sekarang minta itu?"


Pertanyaanku tajam, lebih tajam dari yang aku rencanakan. Bram menatapku, dan untuk sesaat saja—satu detik mungkin—aku melihat sesuatu di matanya. Bukan cinta. Bukan rindu. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang ingin dia sembunyikan.


Lalu dia tersenyum. Senyum yang kuhafal. Senyum suami yang baik.


"Ya... aku rindu kamu, Sas. Itu aja."


Dia mengecup keningku. Dan kali ini, lebih dari pagi tadi, ciuman itu terasa asing di kulitku.


***


Tengah malam.


Aku terbangun karena haus. Aku meraba sebelah ranjang. Tubuh Bram ada di sana, tidur miring membelakangiku, napasnya teratur. Aku merasa lega untuk satu detik—lalu rasa lega itu mengkhianatiku karena ternyata aku sudah sampai pada titik di mana keberadaan suamiku di sebelah ranjang menjadi sesuatu yang harus aku verifikasi.


Aku turun pelan. Aku berjalan ke dapur, mengambil air dingin dari kulkas. Dapur terang. Lampu di lorong menuju kamar Lastri juga terang. Mungkin Lastri belum tidur—biasanya dia begadang nonton drama Korea di ponselnya.


Tapi ada yang berbeda malam ini.


Pintu kamar Lastri terbuka sedikit. Dari celah itu, aku bisa melihat sebagian ranjangnya. Kosong. Selimut tergulung tidak rapi.


Lastri tidak ada di kamarnya.


Aku menahan napas. Aku berjalan pelan-pelan ke arah kamar Eyang—mungkin Lastri sedang menemani Eyang yang kadang bangun karena pinggangnya sakit. Tapi pintu kamar Eyang tertutup rapat. Aku mengintip lewat celah, lampunya mati. Eyang tidur nyenyak. Tidak ada Lastri di sana.


Halaman belakang? Toilet? Dapur belakang?


Aku mencari. Tidak ada.


Aku kembali ke kamar utama. Aku berdiri di depan pintu sebentar. Aku membukanya pelan.


Bram masih di ranjang. Tidur miring. Napas teratur.


Tapi sandalnya tidak ada di dekat pintu.


Aku berjalan pelan ke ranjang. Aku memandangnya dari atas. Rambutnya basah. Bagian leher belakangnya berkeringat. Piyamanya... bukan piyama yang dia pakai sebelum aku tidur tadi.


Bram berganti baju di tengah malam.


Aku mundur perlahan. Aku tidak ingin dia tahu aku tahu. Aku masuk ke kamar mandi, menutup pintu, menyalakan keran. Aku duduk di lantai keramik dingin itu—tempat yang sama dengan sembilan jam yang lalu—dan kali ini, aku tidak menangis.


Aku berpikir.


Karena mulai besok, aku punya banyak hal yang harus aku kerjakan.