Jakarta di hari Selasa biasanya terasa seperti mesin raksasa yang tidak punya perasaan, tapi bagiku, Naya, semuanya terasa jauh lebih ringan. Mungkin karena sisa kehangatan dari oat milk latte yang baru saja kuminun, atau mungkin karena pesan singkat dari Dika yang muncul di layar ponselku tepat saat aku baru saja duduk di kubikel kantor.

“Good luck buat meeting internalnya hari ini, Sayang. Jangan lupa makan siang, ya. Nanti sore aku jemput, ada kejutan dikit. Love you!”

Aku tersenyum tipis, tipe senyum yang hanya muncul kalau kita merasa benar-benar aman. Dika adalah definisi dari pelabuhan yang tenang. Sudah dua tahun kami bersama, dan dalam dua tahun itu, tidak ada satu hari pun di mana aku merasa harus menebak-nebak perasaannya. Dia transparan, stabil, dan selalu ada dengan pelukan hangatnya yang beraroma campuran parfum maskulin lembut dan detergen laundry yang bersih.

“Cie, yang pagi-pagi udah dapet asupan gizi dari ayang,” celetuk Rini, sahabat sekaligus rekan setimku di divisi marketing, sambil meletakkan segelas iced americano di mejaku.

“Apaan sih, Rin. Biasa aja,” jawabku, meski pipiku mulai terasa sedikit panas.

“Biasa aja katanya? Lo tuh ya, Nay, kalau lagi chat sama Dika, auranya tuh kayak lagi dikelilingi bunga-bunga aesthetic di Pinterest. Kadang gue iri, gimana bisa ada cowok sesabar dan se-stable Dika di tengah gempuran cowok-cowok red flag di Jakarta Selatan ini?”

Aku tertawa. Rini benar. Dika adalah anomali. Dia bekerja sebagai senior developer di sebuah tech firm ternama, tipe pria yang lebih suka menghabiskan malam minggu dengan menonton dokumentari di Netflix atau masak pasta carbonara ala-ala di apartemenku daripada party di Senopati. Bersamanya, hidupku terasa terstruktur. Tidak ada drama, tidak ada tangisan jam tiga pagi, tidak ada rasa takut ditinggalkan tanpa alasan.

Hari itu berjalan seperti biasa. Aku sibuk dengan spreadsheet kampanye sustainability yang sedang kami garap. Meeting internal berjalan lancar, bos memuji creative deck yang kubuat, dan Andi—anggota tim kami yang paling receh—terus-menerus melontarkan candaan tentang betapa dia butuh liburan ke Bali secepatnya.

“Nay, lo ikut kan entar malem? Andi mau treat kita martabak di kantor,” ajak Rini saat jam menunjukkan pukul lima sore.

“Duh, sori banget, Rin. Dika udah di depan. Katanya ada acara penting,” jawabku sambil merapikan tas.

“Oalah, pantesan rapi bener hari ini. Ya udah, have fun ya sama si Mas Developer!” seru Andi dari kubikel sebelah.

Aku melambaikan tangan dan bergegas turun. Dika benar-benar sudah menunggu di depan gedung kantor dengan mobil SUV-nya yang selalu rapi. Begitu aku masuk ke mobil, aroma menenangkan langsung menyambutku. Dika mencondongkan badannya, mengecup keningku pelan sebelum mengusap pipiku.

“Capek banget ya hari ini?” tanyanya lembut.

“Lumayan, tapi worth it. Kamu gimana? Tadi katanya ada kejutan?”

Dika terkekeh sambil mulai membelah kemacetan Jakarta. “Iya. Jadi gini, kamu inget kan aku sering cerita soal ‘Abang’ mentor aku waktu aku pertama kali merintis karier? Orang yang bantuin aku banget pas aku baru pindah ke Jakarta?”

Aku mengangguk. Aku sering mendengar nama itu. Dika sangat mengaguminya. Katanya, pria itu bukan cuma sekadar atasan, tapi sudah seperti kakak laki-laki yang tidak pernah dia punya. Dika sering bercerita bagaimana ‘Abang’ ini mengajarinya coding sampai pagi, memberinya pinjaman uang saat dia sedang seret, bahkan mengajarinya cara menghadapi politik kantor yang kejam.

“Dia baru balik dari Amerika, Nay. Setelah lima tahun di sana, dia mutusin buat balik ke Jakarta dan bakal join jadi konsultan utama di proyek besar kantor kita. The best part is, dia ngajak kita dinner besok malam. Dia pengen banget ketemu sama cewek yang udah bikin aku ‘tobat’ dari jadi workaholic,” Dika tertawa, matanya berbinar penuh semangat.

“Wah, keren banget! Akhirnya aku bisa ketemu sama orang legendaris itu,” balasku tulus. “Tapi aku deg-degan, Dik. Kalau aku nggak sesuai ekspektasinya gimana? Kamu selalu ceritain dia kayak dia itu standar emas buat segala hal.”

Dika menggenggam tanganku erat di atas gear stick. “Hey, dengerin. Dia itu orangnya sharp, pinter banget, tapi sebenernya hatinya sangat loyal. Dia itu orang yang percaya kalau setiap bab di hidup kita itu penting. Dia pasti bakal suka sama kamu, karena kamu adalah bab terbaik di hidup aku.”

Aku tersipu. Rayuan Dika itu nggak pernah berlebihan, selalu pas dan terasa tulus.

“Dia di Amerika ngapain aja emangnya?” tanyaku penasaran.

“Kerja di fintech besar di New York. Dia sukses banget di sana, tapi entah kenapa tiba-tiba mutusin buat balik. Katanya ada urusan yang belum selesai di sini. An unfinished business, gitu dia bilangnya tadi pas kita teleponan.”

Kalimat itu—unfinished business—entah kenapa membuat ulu hatiku sedikit berdenyut. Tapi aku segera menepisnya. Mungkin hanya rasa lapar karena belum makan sore.

“Namanya siapa sih, Dik? Aku sering dapet ceritanya tapi kayaknya nggak pernah tau nama lengkapnya. Kamu cuma manggil Bang-Bang terus.”

Dika terdiam sejenak, fokus pada lampu merah di depan kami. “Namanya Hans. Hans Pratama. Tapi aku biasa manggil dia Bang Hans aja. Besok kita dinner di tempat yang agak fancy dikit ya, dia yang pilih tempatnya. Dia bilang ini sekalian selebrasi kepulangan dia.”

Aku tertegun sejenak mendengar nama itu. Hans. Nama yang cukup pasaran, pikirku. Di Jakarta ada ribuan orang bernama Hans. Tapi ada satu Hans yang... Ah, nggak mungkin. Itu sudah lima tahun yang lalu. Hans yang itu sedang berada di antah berantah, mungkin sudah menikah dengan bule atau sudah lupa sama sekali kalau ada cewek bernama Naya di Jakarta.

“Nay? Kok bengong?” Dika menyentuh hidungku gemas.

“Eh, nggak apa-apa. Cuma mikir besok pake baju apa ya biar kelihatan elegan tapi nggak lebay,” bohongku sambil tertawa kecil.

Dika tertawa, lalu menarik tanganku dan mencium punggung tanganku lama. “Pake apa aja kamu tetep yang paling cantik. Malam ini kita makan sate padang aja ya di deket apartemen? Aku lagi pengen banget.”

“Boleh! Extra bumbu ya?”

“Siap, Tuan Putri.”

Malam itu berjalan dengan sangat fluffy. Kami makan sate padang sambil bercanda tentang kelakuan Andi di kantor, lalu Dika membantuku mencuci piring sambil terus bercerita tentang kehebatan Bang Hans. Bagaimana Bang Hans bisa membaca karakter orang hanya dari cara mereka berjabat tangan, bagaimana Bang Hans selalu ingat detail kecil seperti siapa yang suka kopi tanpa gula atau siapa yang benci bawang mentah.

Saat Dika pamit pulang dan aku merebahkan diri di tempat tidur, aku menatap langit-langit kamar. Aku merasa sangat beruntung. Aku punya pekerjaan yang oke, sahabat yang seru, dan pacar seperti Dika yang sangat menghargaiku.

Besok hanyalah makan malam biasa dengan mentor pacarku. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku sudah menutup semua bab masa laluku rapat-rapat, menguncinya, dan membuang kuncinya ke laut dalam.

Tapi entah kenapa, malam itu aku bermimpi tentang hujan di bandara. Dan aroma kopi hitam yang pahit.