Bab 4: Kenapa Keluarga Itu Complicated
Restoran Italia ini memiliki pencahayaan yang sangat moody—temaram, hangat, dan seharusnya romantis. Tapi bagiku, lampu gantung kristal di atas meja nomor 12 ini terasa seperti lampu interogasi. Aroma truffle oil dan rosemary yang menguar dari dapur terbuka biasanya akan membuat seleraku bangkit, tapi sekarang, perutku rasanya seperti sedang dipelintir oleh tangan raksasa.
Dika duduk di sampingku, tangannya masih sesekali mengelus punggungku, sebuah gestur sayang yang biasanya membuatku merasa paling beruntung di dunia. Tapi malam ini, setiap sentuhan Dika justru membuat rasa bersalahku semakin meradang.
Di depan kami, Hans duduk dengan santai. Dia baru saja memesan botol wine merah yang harganya mungkin setara dengan cicilan motor Andi selama setahun.
"Jadi, Bang Hans benar-benar bakal pegang proyek sustainability di kantor Naya?" Dika memulai percakapan dengan nada antusias yang membuatku ingin menghilang di bawah meja. "Gila ya, dunia sekecil itu. Aku nggak nyangka orang yang paling aku kagumi bakal kerja bareng sama cewek yang paling aku cintai."
Hans menyesap wine-nya pelan. Matanya tidak lepas dariku, sebuah tatapan yang sangat intens—tatapan yang dulu sering dia berikan saat kami sedang berdebat soal strategi marketing di kantor lamanya.
"Iya, Dik. Benar-benar kebetulan yang... menarik," jawab Hans. Suaranya berat, penuh penekanan pada kata 'menarik'. "Naya ini salah satu aset terbaik di tim marketing mereka, kan? Aku sudah lihat beberapa deck presentasinya. Sharp as always."
Kalimat terakhirnya—as always—membuatku hampir tersedak air putih. Hans sedang bermain api. Dia sengaja menyelipkan detail-detail kecil yang menunjukkan bahwa dia 'tahu' kemampuanku, tapi dengan cara yang seolah-olah dia baru mempelajarinya dari dokumen kantor.
"Wah, Bang Hans sudah lihat kerjaan Naya? Gimana menurut Abang?" tanya Dika, benar-benar bangga.
"Bagus. Sangat rapi. Tapi masih ada sedikit ketakutan untuk jadi 'aneh', seperti yang dulu pernah aku bilang," Hans tersenyum tipis. Sangat tipis. Hanya aku yang tahu bahwa itu adalah referensi langsung ke pertemuan pertama kami lima tahun lalu di Kuningan.
Aku mengepalkan tangan di bawah meja. "Terima kasih, Pak Hans. Saya akan mencoba untuk lebih 'berani' di proyek kali ini," jawabku dengan nada sedingin mungkin. Aku sengaja memanggilnya 'Pak' untuk menegaskan jarak.
Dika tertawa kecil. "Duh, jangan kaku-kaku banget lah manggilnya, Nay. Bang Hans ini udah kayak abang aku sendiri. Dia yang ngajarin aku kalau hidup itu bukan cuma soal coding, tapi soal gimana kita bisa bertahan di tengah badai Jakarta."
"Oh ya?" aku menoleh ke Dika, mencoba mengalihkan fokus. "Abang kamu ini hebat banget ya kelihatannya."
"Bukan kelihatan lagi, Nay. Dia itu martir. Dia selalu mikirin orang lain dulu sebelum dirinya sendiri. Dulu pas di Amerika, dia pernah kirim uang buat biaya rumah sakit Ibu aku tanpa bilang-bilang. Dia baru ngaku setahun kemudian pas aku tanya," cerita Dika dengan mata berbinar.
Aku terdiam. Martir? Hans yang kukenal adalah orang yang paling egois karena memutuskan segalanya sendirian. Tapi sisi Hans yang diceritakan Dika adalah sisi yang tidak pernah aku lihat. Sisi 'pahlawan' yang diam-diam menolong orang. Apakah ini alasan dia pergi dulu? Untuk menjadi pahlawan di tempat lain?
"Keluarga itu memang rumit, Dik," Hans menyela, suaranya mendadak berubah menjadi lebih serius. "Kadang kita harus melakukan hal-hal yang menyakitkan untuk melindungi orang-orang yang kita sayangi. Meskipun orang itu akhirnya membenci kita selamanya."
Suasana meja mendadak menjadi berat. Aku bisa merasakan tatapan Hans yang seolah-olah sedang memohon pengertian dariku lewat udara yang tipis. Tapi kemarahan yang sudah kusimpan selama lima tahun tidak bisa luntur hanya dengan satu kalimat filosofis.
"Melindungi atau melarikan diri, Pak Hans?" tanyaku, memberanikan diri menatap matanya langsung. "Ada perbedaan tipis antara menjadi martir dan menjadi pengecut yang takut menghadapi kenyataan bersama-sama."
Dika tampak bingung melihat tensi yang tiba-tiba naik. Dia berdeham, mencoba mencairkan suasana. "Eh, makanannya datang! Perfect timing."
Pelayan datang membawa pesanan kami. Osso Buco untuk Dika, Seafood Linguine untukku, dan Ribeye Steak untuk Hans. Kami mulai makan dalam keheningan yang canggung. Dika mencoba mencairkan suasana dengan menceritakan lelucon-lelucon receh tentang kantor, tapi pikiranku melayang jauh.
Tiba-tiba, Hans menggeser piring rotinya ke arahku. "Ini, ambil garlic bread-nya. Kamu nggak suka bawang mentah, kan? Tapi kalau yang sudah dipanggang begini biasanya kamu suka."
Aku mematung. Garpu di tanganku hampir jatuh.
Dika menatap Hans dengan heran. "Lho, Bang? Kok Abang tahu Naya benci bawang mentah? Padahal aku tadi belum sempat kasih tahu."
Degub jantungku rasanya sampai terdengar ke telinga. Aku melirik Hans, yang sekarang tampak sedikit menyesali kecerobohannya. Dia baru saja meledakkan salah satu rahasia kecil kami di depan Dika.
"Ah, itu..." Hans berdehem, mencoba mencari alasan secepat kilat. "Tadi pas baca profil tim marketing di dokumen proyek, ada bagian 'fun facts' atau semacamnya, kan? Aku rasa aku baca di sana."
"Masa sih? Perasaan nggak ada deh bagian kayak gitu di profil karyawan," gumam Dika, masih dengan raut bingung.
"Mungkin aku salah ingat sama orang lain," Hans buru-buru menimpali, suaranya kembali ke nada profesionalnya yang dingin. "Banyak orang yang benci bawang mentah, Dik. Bukan cuma Naya."
Aku segera mengambil sepotong roti itu dengan tangan gemetar. "Iya, Dik. Mungkin Pak Hans cuma nebak aja. Banyak kok cewek yang nggak suka bawang karena bau."
Dika akhirnya mengangguk, meski masih ada kilatan ragu di matanya. Dia bukan orang bodoh. Dia seorang developer yang terbiasa dengan logika dan pola. Kecil kemungkinan mentornya bisa menebak detail sekecil itu tentang pacarnya tanpa ada alasan yang kuat.
Makan malam berlanjut dengan percakapan yang terasa sangat dipaksakan. Hans mulai bercerita tentang kehidupannya di New York—tentang betapa dinginnya musim dingin di sana, tentang betapa kerasnya persaingan di Wall Street, dan tentang betapa dia merindukan makanan Indonesia.
"Kenapa baru balik sekarang, Bang?" tanya Dika.
"Karena ada urusan yang belum selesai," jawab Hans, lagi-lagi memberikan tatapan itu padaku. Tatapan yang mengatakan bahwa 'urusan' itu adalah aku. "Aku pikir lima tahun sudah cukup untuk membuat semuanya tenang. Ternyata aku salah. Ada beberapa hal yang nggak bisa diselesaikan cuma dengan waktu."
Aku merasa sesak. Ruangan restoran yang luas ini mendadak terasa sangat sempit. Aku butuh udara. Aku butuh ruang untuk bernapas tanpa ada aroma parfum Hans yang mengintimidasi indra penciumanku.
"Maaf, aku ke toilet sebentar ya," kataku sambil berdiri terburu-buru.
Aku tidak menunggu jawaban Dika. Aku berjalan cepat menuju area belakang restoran, melewati lorong-lorong yang dihiasi lukisan klasik Italia. Begitu sampai di depan cermin toilet yang besar, aku menyalakan keran air dingin dan membasuh wajahku berkali-kali.
Naya, tenang. Lo harus profesional. Lo nggak boleh hancur di sini, bisikku pada bayanganku di cermin.
Mataku terlihat sedikit memerah. Ketegangan ini jauh lebih melelahkan daripada lembur seminggu penuh. Hans benar-benar kembali, dan dia masuk ke dalam hidupku lewat pintu yang paling tidak terduga. Dia adalah mentor dari pria yang ingin kunikahi. Dia adalah bagian dari 'keluarga' masa depanku.
Bagaimana aku bisa menjelaskan ini pada Dika? Dika yang begitu memuja Hans. Dika yang sangat tulus. Jika aku jujur, aku akan menghancurkan hubungan mentor-murid yang mereka banggakan. Tapi jika aku diam, aku sedang memelihara bom waktu di dalam hubunganku sendiri.
Tiba-tiba, pintu toilet terbuka. Aku segera mengeringkan wajahku dengan tisu, bersiap untuk keluar. Tapi langkahku terhenti saat melihat siapa yang berdiri di sana.
Bukan Dika. Tapi Hans.
Dia berdiri di depan pintu yang tertutup, menghalangi jalanku. Napasnya terlihat sedikit berat, dan topeng profesionalnya yang tadi dia pakai di meja makan kini sudah benar-benar lepas.
"Kita harus bicara, Naya," suaranya serak, penuh dengan emosi yang tertahan selama lima tahun.
"Nggak ada yang perlu dibicarakan, Pak Hans. Pacar saya menunggu di meja," jawabku dengan suara bergetar, mencoba berjalan melewatinya.
Hans menahan lenganku. Sentuhannya masih sama—hangat, kokoh, dan membuat seluruh sarafku berteriak. "Lima tahun, Nay. Kamu pikir aku nggak tersiksa? Kamu pikir pergi tanpa kata itu mudah buat aku?"
Aku menyentakkan tanganku dengan kasar. "Jangan berani-berani bicara soal siksaan di depan aku, Hans! Kamu yang pergi! Kamu yang mutusin segalanya di parkiran bandara itu! Kamu nggak punya hak buat merasa tersiksa!"
"Aku ngelakuin itu buat nyelamatin kamu!" Hans setengah berteriak, suaranya tertahan oleh dinding toilet yang kedap suara. "Keluarga aku bangkrut, Nay. Ayah aku masuk penjara. Aku nggak mau bawa kamu masuk ke dalam lubang hitam itu. Aku mau kamu punya masa depan yang cerah, bukan masa depan yang penuh hutang dan rasa malu!"
Aku terpaku. Seluruh kemarahan yang tadinya meluap-luap mendadak membeku. Keluarga bangkrut? Ayah masuk penjara?
"Kenapa kamu nggak bilang?" bisikku. "Kenapa kamu nggak kasih aku kesempatan buat milih?"
"Karena aku tahu kamu bakal milih buat bertahan. Dan aku nggak sanggup lihat kamu menderita karena kesalahan keluarga aku," Hans melangkah maju, sekarang jarak kami sangat dekat. Aku bisa mencium aroma wiski dan kesedihan dari napasnya. "Aku pengecut, Nay. Aku tahu itu. Tapi melihat kamu sekarang... bersama Dika... itu adalah hukuman terberat yang pernah aku terima."
"Dika mencintai aku, Hans," kataku, air mata mulai jatuh di pipiku. "Dia memberikan aku semua yang nggak pernah kamu kasih: Kejujuran dan Keamanan."
"Tapi kamu nggak mencintai dia dengan cara kamu mencintai aku, kan?" tanya Hans dengan nada yang sangat menyakitkan.
Tepat saat itu, pintu toilet diketuk dari luar.
"Naya? Kamu di dalam? Kok lama banget?" itu suara Dika.
Duniaku rasanya runtuh. Hans dan aku membeku dalam posisi yang sangat mencurigakan. Jika Dika masuk sekarang, semuanya akan berakhir. Rahasia lima tahun ini akan meledak menjadi serpihan yang menghancurkan semua orang di meja nomor 12 itu.
"Naya?" panggil Dika lagi, suaranya terdengar lebih dekat.
Aku menatap Hans dengan panik. Inilah saatnya. Inilah momen di mana 'keluarga' yang rumit ini benar-benar menjadi bencana yang tak terelakkan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar