Bab 3: Pertama Kali Mereka Bertiga

Rabu sore di Jakarta selalu punya reputasi sebagai waktu paling menyebalkan dalam seminggu. Macetnya seolah-olah seluruh penduduk kota sepakat untuk turun ke jalan di jam yang sama. Tapi di dalam mobil Dika, kemacetan itu justru terasa seperti ruang isolasi yang menyenangkan. Lagu-lagu synth-pop dari LANY mengalun pelan dari speaker, bercampur dengan aroma kopi hazelnut yang tadi sempat kami beli di drive-thru.

“Nay, serius deh, kamu pake terusan navy itu... you look stunning,” Dika melirikku sekilas saat mobil kami merayap di daerah Senopati. Tangannya yang bebas meraih tanganku, mengelusnya lembut. “Bang Hans pasti bakal kaget liat pacar aku sekeren ini.”

Aku tertawa kecil, mencoba menutupi kegugupan yang sejak pagi tadi bersarang di perutku. “Lebay deh, Dik. Ini cuma baju lama yang aku temuin di pojok lemari. Kamu tuh yang kelihatan ganteng pake kemeja rapi gitu, biasanya kan kaos oversized terus.”

Dika terkekeh. “Ya sekali-kali lah, menghargai mentor legendaris. Oh iya, tadi Rini sama Andi sempet titip salam. Katanya kalau makanannya enak, jangan lupa dibungkusin buat besok di kantor.”

Mengingat Rini dan Andi selalu berhasil membuatku rileks. Tadi siang di kantor, mereka benar-benar jadi tim hore yang luar biasa.

“Nay, inget ya, lo harus tampil dominan. Tunjukin kalau lo bukan lagi staff kroco yang dulu dia kenal—maksud gue, yang mentor Dika kenal,” Rini sempat memberikan wejangan sambil membantu merapikan eyeliner-ku.

“Bener, Mbak Nay! Jangan mau kalah wibawa. Kalau dia sombong soal New York, lo sombongin soal ROAS kampanye kita yang tembus target Q1!” Andi menimpali dengan gaya khasnya yang penuh semangat.

Mengingat dukungan mereka membuatku merasa punya "pasukan" di belakangku. Aku bukan lagi Naya yang hancur di parkiran bandara. Aku adalah Naya yang sukses, yang dicintai oleh pria sehebat Dika.

“Dik, menurut kamu... Bang Hans itu tipe yang kaku nggak sih?” tanyaku, mencoba menggali informasi tanpa terlihat terlalu curiga.

“Kaku? Hmm, nggak juga sih. Dia itu tipe yang direct. Kalau dia suka, dia bilang suka. Kalau dia nggak suka... ya dia bakal bilang itu sampah tepat di depan muka kamu,” Dika tertawa, seolah hal itu adalah lelucon yang lumrah. “Tapi tenang aja, dia itu sangat menghargai loyalty. Dan dia tau betapa aku sayang sama kamu. Dia nggak mungkin jahat sama ‘keluarga’ mentorannya sendiri.”

Kata ‘keluarga’ itu terasa seperti duri kecil yang menusuk ulu hatiku. Bagaimana jika Hans tahu bahwa ‘keluarga’ yang dimaksud Dika adalah mantan kekasihnya yang dia tinggalkan tanpa kata?

“Dika, kalau ternyata... aku sama dia nggak nyambung gimana?”

Dika menghentikan mobilnya karena lampu merah. Dia menoleh padaku, menatapku dengan mata cokelatnya yang selalu memancarkan ketulusan. “Nay, dengerin. Kamu itu orang paling asik yang pernah aku kenal. Kamu pinter, kamu lucu, dan kamu punya energi yang bikin orang ngerasa nyaman. Kalau dia nggak nyambung sama kamu, berarti dia yang masalah, bukan kamu. Just be yourself, okay?

Dia mengecup punggung tanganku lama. Kehangatan itu menjalar, mencoba mengusir kedinginan yang mulai merayap di ujung jemariku. Bersama Dika, semuanya selalu terasa masuk akal. Dia adalah jawaban dari semua doa-doa tenangku setelah badai Hans lima tahun lalu.

Kami sampai di depan sebuah restoran Italia yang sangat exclusive di daerah SCBD. Lampu-lampu kristal terlihat dari balik kaca besar, dan para valet berpakaian rapi sibuk menyambut mobil-mobil mewah yang datang. Restoran ini adalah tipe tempat di mana kamu harus memesan meja berminggu-minggu sebelumnya. Tipe tempat yang sangat... Hans.

“Bang Hans udah di dalem, katanya meja nomor 12, yang deket jendela,” Dika merapikan kerah kemejanya sambil menggandeng tanganku masuk.

Langkahku terasa berat. Setiap langkah mendekati meja itu rasanya seperti berjalan menuju kursi eksekusi. Aku mencoba mengatur napas, melakukan teknik box breathing yang diajarkan terapisku dulu. Inhale, hold, exhale, hold. “Nah, itu dia!” Dika setengah berbisik dengan nada antusias yang tidak bisa disembunyikan.

Aku melihat seorang pria duduk membelakangi kami. Bahunya lebar, kemeja biru tuanya pas di badan, dan cara dia duduk tetap memancarkan dominasi yang sama. Dia sedang menatap ke luar jendela, melihat rintik hujan yang mulai membasahi Jakarta.

Dika menarikku mendekat. Jantungku berdentum sangat keras sampai aku takut Dika bisa mendengarnya.

“Bang!” panggil Dika dengan suara ceria.

Pria itu berbalik. Dan waktu seolah berhenti berputar.

Seluruh suara hiruk pikuk restoran, denting sendok dan garpu, serta musik jazz di latar belakang mendadak lenyap. Yang ada hanya aku dan sepasang mata tajam yang menghantuiku selama lima tahun terakhir. Mata yang sama yang dulu menatapku dengan cinta, lalu berubah menjadi dingin di bandara, kini menatapku dengan keterkejutan yang berusaha disembunyikan di balik topeng profesionalitasnya.

“Hans,” gumam Dika, masih belum menyadari ketegangan yang terjadi. “Bang Hans, kenalin, ini Naya. Pacar aku yang sering aku ceritain.”

Hans berdiri pelan. Tinggi badannya masih sama, auranya masih sama, bahkan aroma parfum sandalwood dan tobacco miliknya yang samar masih bisa kukenali dari jarak ini. Dia tampak lebih matang, ada sedikit kerutan tipis di sudut matanya yang justru membuatnya terlihat lebih berwibawa.

Hans mengulurkan tangannya. Tangannya yang dulu sering menggenggam tanganku saat kami terjebak lembur, tangannya yang dulu sering mengusap air mataku.

“Hans,” suaranya berat, serak, dan masih memiliki kemampuan untuk membuat seluruh saraf di tubuhku bergetar. Dia menyebut namanya seolah-olah kami baru pertama kali bertemu. Seolah-olah lima tahun lalu itu tidak pernah terjadi.

Aku menatap tangannya, lalu menatap matanya. Ada tantangan di sana. Ada luka yang tersembunyi. Dan ada sebuah rahasia besar yang kini menggantung di antara kami bertiga.

Aku menarik napas panjang, menguatkan hati, dan menyambut tangannya.

“Naya,” jawabku singkat. Suaraku tidak bergetar. Aku bangga pada diriku sendiri untuk hal itu.

Sentuhan itu berlangsung singkat, tapi rasanya seperti ledakan statis. Dika dengan riang mengajak kami duduk, mulai bercerita panjang lebar tentang betapa senangnya dia bisa mengumpulkan dua orang paling penting di hidupnya dalam satu meja.

“Dunia sempit banget ya, Bang? Ternyata Naya kerja di kantor yang sama dengan proyek konsultan yang bakal Abang pegang nanti,” Dika tertawa, benar-benar tidak tahu bahwa dia baru saja menjatuhkan bom atom di tengah-tengah kami.

Hans menyesap wiskinya, matanya tidak lepas dariku. “Iya, Dik. Dunia memang sempit. Terlalu sempit sampai kadang kita ketemu lagi sama hal-hal yang kita pikir sudah selesai.”

Aku memegang gelas air putihku erat-erat. Makan malam ini akan menjadi makan malam terlama dalam hidupku. Dan aku menyadari satu hal yang mengerikan: meskipun aku mencintai Dika dengan seluruh rasa amanku, kehadiran Hans di depanku ini membuktikan bahwa bab yang belum selesai itu tidak akan pernah benar-benar tertutup sebelum ada kejujuran yang menghancurkan.

Hans tersenyum tipis—senyum yang dulu sangat aku cintai, tapi sekarang terasa seperti ancaman. “Jadi, Naya... sudah berapa lama kalian bersama?”

Pertanyaan itu terdengar seperti awal dari sebuah interogasi. Dan aku tahu, malam ini bukan hanya soal makan malam, tapi soal bagaimana masa lalu mulai menuntut haknya kembali.