Suara ketukan pintu Dika terasa seperti vonis mati yang bergema di dinding toilet yang berlapis marmer dingin ini. Jantungku berpacu begitu cepat hingga rasanya oksigen di ruangan ini mendadak habis. Di depanku, Hans masih mematung. Jarak kami begitu dekat—terlalu dekat untuk dua orang yang seharusnya sudah menjadi orang asing. Aku bisa melihat urat nadi di lehernya yang menegang, dan binar luka di matanya yang seolah meneriakkan penyesalan lima tahun dalam satu detik.

"Naya? Kamu nggak apa-apa di dalam?" Suara Dika terdengar lebih cemas sekarang. Gagang pintu berbahan kuningan itu mulai bergerak.

Panic mode: On.

Aku mendorong dada Hans dengan sekuat tenaga. Sentuhan telapak tanganku pada kemeja biru tuanya yang halus terasa membakar. Hans tersentak, seolah baru tersadar dari trans. Dia segera mundur dua langkah, membenahi letak jam tangan kulitnya dengan gerakan mekanis yang kaku.

"I-iya, Dik! Sebentar, lipstik aku tadi agak berantakan!" teriakku, suaraku melengking satu oktav lebih tinggi dari biasanya. Aku buru-buru menyambar tisu, mengusap sudut mataku yang basah, dan mencoba mengatur napas agar tidak terdengar seperti orang yang baru saja lari maraton emosional.

Hans memberikan isyarat dengan dagunya ke arah cermin, memberi tahuku untuk merapikan rambutku yang sedikit acak-acakan. Lalu, dengan ketenangan yang menakutkan—ketenangan seorang profesional yang terbiasa menangani krisis—dia berjalan menuju wastafel seberang, menyalakan keran, dan mulai mencuci tangannya seolah-olah dia memang ke sini hanya untuk itu.

Aku membuka pintu toilet dengan tangan yang masih gemetar.

Dika berdiri di sana, wajahnya menunjukkan perpaduan antara lega dan bingung. "Lama banget, Sayang. Aku pikir kamu pingsan atau—" Kalimatnya terhenti saat matanya menangkap sosok pria tinggi di belakangku. "Lho, Bang Hans? Abang ke sini juga?"

Hans mematikan keran, mengeringkan tangannya dengan tisu pelan-pelan, lalu menoleh dengan senyum tipis yang sangat... palsu. "Iya, Dik. Tadi sekalian mau cuci tangan, ternyata ketemu Naya di depan pintu. Dia bilang lipstiknya bermasalah."

Dika menatapku, lalu menatap Hans. Ada jeda tiga detik yang terasa seperti keabadian. Logika seorang senior developer di kepalanya pasti sedang mencoba melakukan debugging pada situasi ini. Dua orang yang baru kenal, berada di area toilet yang sama dalam waktu yang cukup lama. Secara statistik, itu mencurigakan.

Tapi Dika adalah Dika. Dia terlalu tulus untuk memelihara prasangka buruk pada orang yang dia anggap pahlawan.

"Oh, pantesan. Ya udah, yuk balik ke meja. Dessert-nya udah keluar, tadi aku pesenin Tiramisu kesukaan kamu," kata Dika sambil merangkul pundakku. Tangannya terasa hangat, sebuah pengingat nyata tentang kenyamanan yang selama dua tahun ini menjadi duniaku.

Kami berjalan kembali ke meja nomor 12. Namun, suasana sudah tidak lagi sama. Jika tadi tensinya terasa seperti kabel yang menegang, sekarang rasanya seperti kabel itu sudah putus dan percikan apinya mulai membakar karpet.

Tiramisu itu disajikan dengan cantik di piring porselen putih. Tapi saat aku menyuapnya, rasanya hambar. Pikiranku masih tertinggal di lorong toilet tadi. Keluarga bangkrut. Ayah masuk penjara. Informasi itu menghantamku lebih keras dari dugaan manapun. Selama lima tahun, aku membenci Hans karena aku pikir dia meninggalkan aku demi ambisinya di Wall Street. Aku membencinya karena aku pikir aku tidak cukup berharga untuk dipertahankan.

Ternyata, dia pergi karena dia merasa dirinya yang tidak berharga.

"Nay, kamu kok diem aja? Nggak enak ya kue-nya?" tanya Dika, suaranya memecah lamunanku.

"Enak kok, Dik. Cuma aku tiba-tiba ngerasa agak pening aja. Mungkin karena AC-nya terlalu kencang," bohongku lagi. Aku merasa seperti pembohong profesional malam ini.

Hans menyesap kopi hitamnya. Tanpa gula, tanpa krimer. Sama seperti lima tahun lalu. Dia menatapku lewat uap panas kopinya. "Mungkin Naya butuh istirahat, Dik. Besok kan hari pertama kita kick-off proyek di kantor. Kita nggak mau aset terbaik tim marketing malah burnout di hari pertama, kan?"

Kalimat itu terdengar seperti perhatian, tapi bagiku, itu adalah ancaman halus. Besok kita akan bertemu lagi. Besok sandiwara ini berlanjut.

"Iya juga sih. Bang, sori ya kalau kita harus cabut duluan," kata Dika sambil meraih tagihan di meja, tapi Hans sudah lebih dulu meletakkan kartu kreditnya.

" My treat, Dik. Anggap saja ini perayaan kecil untuk 'pertemuan' kita yang sangat berkesan malam ini," kata Hans. Dia menekankan kata 'pertemuan' sambil menatapku dalam-dalam.

Sepanjang perjalanan pulang, Dika terus bercerita tentang betapa hebatnya Bang Hans. "Kamu liat kan, Nay? Meskipun udah sukses di New York, dia tetep inget hal-hal kecil. Kayak soal kamu nggak suka bawang mentah tadi. Dia emang punya insting yang kuat soal orang."

Aku hanya bisa menatap keluar jendela, melihat lampu-lampu Jakarta yang kabur karena gerimis mulai turun lagi. Insting? Bukan, Dik. Itu bukan insting. Itu adalah sisa-sisa memori dari seorang pria yang pernah hafal setiap inci tubuh dan jiwaku.

"Dik," panggilku pelan.

"Ya, Sayang?"

"Kalau... kalau ternyata Bang Hans nggak seperti yang kamu bayangkan, kamu bakal tetep kagum sama dia?"

Dika terdiam sejenak, fokus membelah kemacetan di jalan layang Non-Tol Antasari. "Maksudnya gimana? Bang Hans ya Bang Hans. Dia orang yang paling berjasa buat aku. Tanpa dia, aku mungkin masih jadi developer medioker di Bandung yang nggak tahu cara nego gaji. Kenapa kamu nanya gitu?"

Aku menelan ludah. Lidahku kelu. "Nggak apa-apa. Cuma... kadangkan orang bisa berubah setelah lima tahun."

"Dia emang berubah, Nay. Dia kelihatan lebih... lonely. Aku ngerasa ada sesuatu yang dia sembunyiin. Tapi ya itu urusan dia, kan? Yang penting dia tetep orang baik."

Orang baik. Kata itu terus berdenting di kepalaku sampai kami sampai di depan lobi apartemenku.

Dika turun dari mobil, membukakan pintu untukku, dan memelukku erat. "Besok semangat ya hari pertamanya sama Bang Hans. Jangan grogi. Kamu hebat, dia hebat, kalian bakal jadi tim yang solid."

Aku membalas pelukannya, mencoba mencari sisa-sisa rasa aman yang biasanya langsung mengalir setiap kali Dika menyentuhku. Tapi malam ini, pelukan itu terasa berbeda. Ada sesuatu yang menghalangi. Sebuah bayangan pria dengan kemeja biru tua yang berdiri di depan pintu toilet, menahan lenganku dan mengatakan bahwa dia tersiksa.

Saat Dika sudah pergi, aku tidak langsung naik ke atas. Aku berdiri di lobi, menatap hujan yang semakin deras. Aku merogoh tas tanganku, mencari ponsel.

Ada satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal.

“Aku tahu kamu benci aku. Tapi kumohon, jangan ceritakan apa-apa pada Dika. Dia tidak pantas tahu betapa rusaknya mentornya ini. Sampai ketemu besok di kantor, Naya. – H”

Aku meremas ponselku sampai jemariku memutih.

Belahan jiwa adalah konsep yang indah dalam puisi, tapi dalam kenyataan, belahan jiwa bisa menjadi masalah terbesar dalam hidupmu. Terutama ketika belahan jiwamu adalah masa lalu yang menolak untuk mati, sementara hidupmu yang sekarang adalah rumah yang sudah terbangun rapi.

Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku berbaring di tempat tidur, mencium aroma parfum Dika di bantal sebelahku, tapi pikiranku memutar ulang memori di Kuningan, memori di bandara, dan fakta menyakitkan bahwa Hans Pratama masih mengingat detail terkecil tentang diriku.

Dia masih ingat aku benci bawang mentah. Dia masih ingat cara menatapku agar aku merasa tidak berdaya. Dan yang paling menakutkan adalah: aku menyadari bahwa aku belum sepenuhnya membencinya seperti yang aku bayangkan selama lima tahun ini.

Kemarahan itu ada, tapi di bawahnya, ada sebuah luka yang merindukan penyembuhan. Dan besok, aku harus bekerja bersamanya seolah-olah hatiku tidak sedang berdarah-darah.

Selamat datang di badai yang sebenarnya, Naya. Dan kali ini, Dika tidak akan bisa melindungimu.