Lima tahun itu waktu yang lama, tapi memori punya cara licik untuk membuat semuanya terasa baru terjadi kemarin sore. Malam ini, setelah Dika menyebut nama itu, aku berbaring menatap langit-langit kamar yang berpendar karena lampu jalanan Jakarta. Pikiranku terlempar ke masa di mana aku belum mengenal apa itu "stabilitas". Masa di mana hidupku adalah tentang adrenalin, kopi hitam yang terlalu pahit, dan seorang pria bernama Hans Pratama.

Aku pertama kali bertemu Hans di sebuah networking event untuk para startup enthusiast di sebuah coworking space daerah Kuningan. Waktu itu aku masih seorang fresh graduate yang ambisius, memegang segelas wine murah dan kartu nama yang desainnya aku buat sendiri dengan susah payah.

Hans berdiri di pojok ruangan, dikelilingi oleh orang-orang yang tampak memujanya. Dia tidak banyak bicara, tapi setiap kali dia membuka mulut, semua orang terdiam. Ada aura otoritas yang natural dalam dirinya. Dia memakai kemeja hitam dengan lengan digulung, jam tangan kulit yang tampak mahal, dan tatapan mata yang seolah bisa membaca isi kepalamu dalam sekali lirik.

"Kartu nama lo desainnya clean, tapi font-nya terlalu safe," suara berat itu muncul di belakangku saat aku sedang asyik memperhatikan brosur.

Aku berbalik dan jantungku hampir melompat. Itu dia. Sang mentor legendaris yang dibicarakan semua orang.

"Sori?" tanyaku, mencoba tetap terlihat cool meski tanganku gemetar.

"Naya, kan? Marketing? Lo kelihatan kayak orang yang punya banyak ide tapi takut buat dicap aneh," Hans mengambil kartu namaku, memutarnya di antara jari-jarinya yang panjang. "Besok datang ke kantor gue. Gue butuh orang yang 'takut' kayak lo buat gue tantang."

Dan begitulah mulainya. Hans bukan cuma mentorku; dia menjadi pusat gravitasiku.

Bekerja untuk Hans adalah sebuah rollercoaster. Dia adalah bos yang kejam tapi brilian. Dia akan menyuruhku merombak satu deck presentasi sepuluh kali hanya karena satu slide warnanya kurang "bernyawa". Tapi dia juga orang yang akan memesankan pizza jam dua pagi saat kami masih terjebak di kantor, lalu mengajakku mengobrol tentang filosofi hidup sambil duduk di lantai ruang rapat yang dingin.

"Lo tahu kenapa gue suka hujan, Nay?" tanyanya suatu malam, saat badai besar melanda Jakarta.

"Karena romantis?" jawabku asal, sambil menguap.

"Karena hujan itu jujur. Dia nggak pura-pura. Dia jatuh ya jatuh aja, nggak peduli orang siap atau nggak," Hans menatap ke luar jendela besar kantor. Lalu dia menoleh padaku, tatapannya melembutβ€”sesuatu yang sangat jarang dia tunjukkan. "Lo itu kayak hujan buat gue, Nay. Datang pas gue nggak siap, tapi bikin semuanya jadi lebih sejuk."

Malam itu, di bawah temaram lampu kantor, Hans menciumku untuk pertama kalinya. Rasanya seperti ledakan espressoβ€”pahit, kuat, dan membuat ketagihan.

Dua tahun berikutnya adalah tahun-tahun paling intens dalam hidupku. Kami adalah pasangan yang tidak terpisahkan. Hans mengajariku segalanya. Dia membentukku menjadi Naya yang tajam dan berani. Kami berbagi mimpi tentang membangun perusahaan bersama, tentang rumah minimalis di pinggiran kota, tentang masa depan yang tampak begitu cerah di depan mata.

Hans tahu segala hal tentangku. Dia tahu aku benci bawang mentah di burgerku. Dia tahu aku harus mendengarkan podcast kriminal sebelum tidur agar pikiranku tenang. Dia tahu titik-titik lemahku, dan dia tahu cara membuatku merasa seperti wanita paling hebat di dunia.

Tapi Hans adalah api. Dan api, seberapa pun hangatnya, pada akhirnya akan membakar kalau kita terlalu dekat.

Tanda-tanda itu mulai muncul di tahun ketiga. Hans menjadi lebih tertutup. Dia sering menerima telepon rahasia, sering pulang terlambat dengan aroma stres yang pekat, dan tatapannya sering kosong saat kami sedang makan malam bersama.

"Ada apa, Hans? Lo bisa cerita sama gue," kataku suatu kali di apartemennya.

"Nggak ada, Nay. Cuma urusan kantor yang sedikit messy. Lo nggak perlu tahu," jawabnya dingin.

Itu adalah kalimat favoritnya: Lo nggak perlu tahu. Hans selalu merasa dia harus menjadi pahlawan sendirian. Dia tidak pernah membiarkan aku masuk ke dalam kegelapannya. Dia pikir dia sedang melindungiku, padahal dia sedang membangun tembok di antara kami.

Sampai akhirnya, hari itu datang. Hari yang mengubah seluruh garis hidupku.

Pagi itu hujan turun sangat deras. Hans menjemputku dengan mobilnya, tapi dia diam seribu bahasa. Wajahnya pucat, rahangnya mengeras. Dia membawaku ke Bandara Soekarno-Hatta, bukan ke kantor.

"Kita ngapain ke sini? Mau jemput klien?" tanyaku bingung.

Hans memarkir mobilnya, tapi tidak mematikan mesin. Dia menatap lurus ke depan, enggan menatap mataku.

"Gue harus pergi, Nay," katanya pelan. Suaranya pecah.

"Pergi? Ke mana? Surabaya? Bali?"

"New York. Pesawat gue berangkat dua jam lagi."

Aku tertawa. Aku pikir dia sedang bercanda. Hans sering memberikan kejutan aneh. Tapi saat aku melihat tas koper besar di kursi belakang, tawa itu langsung mati di tenggorokanku.

"Hans, lo ngomong apa sih? Kenapa tiba-tiba? Kenapa gue nggak tahu?"

"Gue dapet offer yang nggak bisa gue tolak. Dan... ada beberapa urusan keluarga yang harus gue beresin di sana. Gue nggak bisa bawa lo, Nay."

"Kenapa? Gue bisa tunggu! Atau gue bisa ikut nyusul bulan depan!" seruku, air mata mulai mengaburkan pandanganku.

Hans akhirnya menoleh. Ada luka yang sangat dalam di matanya, tapi ada juga ketegasan yang mematikan. "Jangan tunggu gue. Gue nggak tahu kapan gue balik. Atau kalau gue bakal balik."

"Lo mutusin gue di parkiran bandara? Setelah dua tahun kita bareng? Tanpa diskusi? Tanpa penjelasan?!" suaraku meninggi, menjadi jeritan frustrasi di dalam kabin mobil yang sempit.

"Gue ngelakuin ini buat lo, Nay. Lo layak dapet orang yang lebih stabil daripada gue sekarang," Hans mengambil dompetnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat dan meletakkannya di tanganku. "Ini buat bayar sewa apartemen lo selama setahun depan. Maafin gue."

Aku melempar amplop itu ke wajahnya. "Gue nggak butuh duit lo, Hans! Gue butuh penjelasan! Gue butuh lo jujur!"

Hans tidak bergeming. Dia turun dari mobil, mengambil kopernya, dan berjalan menuju terminal keberangkatan tanpa menoleh sedikit pun. Aku mengejarnya di tengah hujan, meneriakkan namanya sampai suaraku habis, sampai pakaianku basah kuyup. Tapi dia terus berjalan. Langkahnya mantap, punggungnya tegak, seolah dia sedang menjalankan misi militer daripada sedang menghancurkan hati seseorang.

Dia pergi tanpa negosiasi. Dia pergi seolah-olah dua tahun kami hanyalah sebuah proyek yang gagal dan harus segera ditutup bukunya.

Aku terduduk di lantai bandara yang dingin, di tengah lalu-lalang orang yang tidak peduli. Hari itu, Naya yang ambisius dan penuh warna mati. Selama berbulan-bulan setelah itu, aku hanya menjadi mayat hidup. Aku membenci Hans dengan seluruh jiwaku. Aku membenci cara dia mengontrol kehidupanku, dan aku membenci diriku sendiri karena masih merindukan aroma kemejanya.

Lalu Dika datang.

Dika menemukan puing-puing diriku. Dia tidak mencoba membentukku kembali seperti Hans. Dia hanya ada di sana, memegang tanganku saat aku menangis, membawakanku sup hangat saat aku sakit, dan pelan-pelan mengajariku bahwa cinta tidak harus selalu meledak-ledak. Cinta bisa berupa keheningan yang nyaman. Cinta bisa berupa rencana masa depan yang pasti.

Bersama Dika, aku belajar untuk bernapas lagi. Aku belajar untuk tidak takut pada hujan. Aku belajar untuk membangun hidup yang "aman".

Tapi sekarang, saat aku berbaring di tempat tidurku yang nyaman, nama yang diucapkan Dika tadi sore terus bergema seperti alarm bahaya. Hans Pratama.

Kenapa sekarang? Kenapa setelah aku merasa sudah benar-benar sembuh? Kenapa dia harus kembali sebagai "mentor" pria yang sekarang paling aku sayangi?

Aku memejamkan mata rapat-rapat. Sesak di dadaku kembali lagi, persis seperti rasa sesak di bandara lima tahun lalu. Aku takut. Aku takut kalau tembok yang sudah kubangun dengan susah payah bersama Dika akan hancur hanya dengan satu tatapan dari pria itu.

"Ini cuma kebetulan," bisikku pada kegelapan. "Besok cuma makan malam biasa. Lo udah move on, Naya. Lo udah bahagia."

Tapi di sudut hatiku yang paling dalam, aku tahu itu bohong. Karena setiap kali aku menutup mata, aku masih bisa melihat Hans berdiri di tengah hujan, dan aku masih bisa merasakan sisa ciumannya yang terasa seperti kafeinβ€”pahit, kuat, dan tetap membuat ketagihan meski sudah lima tahun berlalu.