Hujan di Jakarta malam itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan reda. Suaranya yang menghantam kaca jendela restoran mewah di kawasan SCBD terdengar seperti ribuan jarum yang mencoba menembus pertahanan. Di dalam ruangan privat bernuansa emas dan marmer itu, suhu udara terasa jauh lebih rendah daripada pendingin ruangan yang terpasang.
Nicholas—atau Nicho sebagaimana teman-temannya memanggilnya—duduk dengan punggung kaku, seolah tulang belakangnya terbuat dari besi panas. Jemarinya mencengkeram erat tangan Shila di bawah meja. Ia bisa merasakan betapa dingin dan gemetarnya tangan wanita yang ia cintai itu. Shila, dengan gaun putih sederhana dan riasan tipis, tampak seperti bunga lili yang sedang layu di tengah badai.
Di hadapan mereka, duduk dua penguasa yang tak terbantahkan: Tuan dan Nyonya Baskara. Dan di sebelah mereka, duduklah Anindira.
Anin tetap diam. Ia mengenakan gaun sutra berwarna hitam yang kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Rambutnya disanggul rapi tanpa cela, memperlihatkan sepasang anting berlian yang berkilau setiap kali ia menggerakkan kepala. Matanya yang tenang menatap piring porselen di depannya, menolak untuk memberikan reaksi apa pun terhadap ketegangan yang nyaris meledak di ruangan itu.
"Cukup dramanya, Nicholas," suara Tuan Baskara memecah keheningan. Berat dan penuh otoritas. "Letakkan tangan wanita itu, dan mulailah bersikap seperti pria dewasa."
Nicho tidak bergeming. Ia justru mengeratkan genggamannya. "Aku tidak akan melepaskan Shila, Ayah. Tidak hari ini, tidak selamanya. Jika Ayah mengundang kami hanya untuk menghina Shila, kami akan pergi sekarang."
Nyonya Baskara menghela napas panjang, sebuah suara yang penuh dengan penghinaan yang halus. "Menghina? Tidak, Sayang. Kami hanya sedang bersikap realistis. Lihatlah dia," matanya melirik Shila seolah wanita itu adalah noda di taplak meja mahalnya. "Apa yang bisa dia berikan padamu? Dia hanya seorang pemain biola di kafe-kafe kecil dengan riwayat kesehatan yang memprihatinkan. Dia tidak akan sanggup berdiri di sampingmu saat kau memimpin perusahaan."
"Shila punya hati! Sesuatu yang sepertinya sudah hilang dari keluarga ini!" bentak Nicho.
"Nicholas, jaga bicaramu," suara Anin terdengar untuk pertama kalinya. Lembut, namun memiliki kekuatan yang membuat Nicho menoleh tajam ke arahnya. "Orang tuamu hanya memikirkan masa depanmu."
Nicho tertawa sinis, sebuah tawa yang penuh dengan kebencian murni. "Masa depanku? Atau masa depan saham keluargamu, Anindira? Jangan bersikap seolah kau adalah pahlawan di sini. Kita semua tahu kau setuju dengan perjodohan konyol ini karena kau haus akan kekuasaan yang bisa diberikan nama Baskara padamu."
Anin memejamkan mata sejenak. Kata-kata Nicho menghujam jantungnya lebih dalam daripada yang pria itu bayangkan. Nicho tidak tahu bahwa setiap malam Anin berdoa agar cintanya pada pria itu menghilang, namun takdir justru mengikat mereka dengan cara yang paling kejam.
"Aku melakukan ini karena ini yang terbaik untuk semua orang, Nicho," bisik Anin pelan.
"Terbaik untukmu, bukan untukku!" Nicho berdiri, menarik Shila bersamanya. "Dengarkan aku baik-baik. Aku akan menikahinya hanya karena Ayah mengancam akan mencabut dana pengobatan Shila jika aku menolak. Tapi jangan harap kau akan mendapatkan seorang suami, Anindira. Kau hanya akan mendapatkan sebuah raga yang membencimu setiap kali ia bernapas."
Nicho melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan ruangan yang kini dipenuhi aura kehancuran. Shila mengikuti di belakangnya sambil terisak pelan, merasa sangat kecil dan tak berdaya.
Sisi yang Tak Terlihat
Setelah kepergian Nicho, Tuan Baskara hanya mendengus. "Dia akan terbiasa. Setelah menikah, dia akan sadar bahwa cinta tidak bisa membayar tagihan rumah sakit atau menjaga harga saham tetap stabil."
Anin masih terduduk diam. Tangannya yang berada di bawah meja kini menggenggam erat ujung gaunnya. "Apakah ini benar, Paman? Apakah memaksanya adalah jalan satu-satunya?"
Nyonya Baskara mengusap tangan Anin lembut. "Anin, kau adalah menantu impian kami. Kau cantik, cerdas, dan berasal dari keluarga yang setara. Nicho hanya sedang terobsesi dengan rasa kasihan terhadap wanita itu. Suatu saat, dia akan berterima kasih padamu karena tetap bertahan di sisinya."
Anin hanya bisa tersenyum getir. Berterima kasih? Ia tahu Nicho. Pria itu adalah tipe orang yang akan membakar seluruh dunianya hanya untuk menghukum orang yang ia benci. Dan saat ini, Anin adalah target utama dari kemarahan itu.
Di parkiran restoran, di dalam mobil yang tertutup rapat, Nicho memeluk Shila dengan posesif. Ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Shila, menghirup aroma vanila yang selalu menenangkannya.
"Maafkan aku, Shila. Maaf aku harus melakukan ini," bisik Nicho dengan suara yang pecah.
Shila menggeleng dalam pelukan Nicho. "Aku yang minta maaf, Nicho. Karena aku lemah, kau harus terjepit seperti ini. Menikahlah dengannya. Aku akan tetap di sini, di apartemen kecil kita. Aku tidak butuh status, aku hanya butuh kamu."
"Aku berjanji," Nicho menjauhkan wajahnya, menatap mata Shila dengan intensitas yang menakutkan. "Hanya kau yang akan menyentuh hatiku. Anindira... dia hanya akan mendapatkan dinding es. Aku akan membuatnya menyesal karena telah melangkah masuk ke dalam hidupku."
Malam itu, di kediaman masing-masing, dua orang sedang mempersiapkan diri untuk sebuah perang yang dinamakan pernikahan. Nicho dengan segala dendamnya, dan Anin dengan segala ketabahan yang dipaksakan.
Anin berdiri di balkon kamarnya, menatap lampu-lampu kota Jakarta yang berkerlap-kerlip. Ia teringat sepuluh tahun yang lalu, saat Nicho memberikan payungnya ketika ia menangis karena kehilangan anjing peliharaannya. Saat itu, Nicho adalah pelindungnya. Sekarang, pria yang sama adalah orang yang paling ingin menghancurkannya.
"Jika mencintaimu adalah sebuah kesalahan, maka aku sedang menuju kehancuranku sendiri, Nicho," gumam Anin pada angin malam.
Persiapan yang Menyakitkan
Minggu-minggu berikutnya adalah maraton persiapan yang menyiksa. Anin harus memilih gaun pengantin sendirian karena Nicho selalu menolak untuk datang dengan alasan sibuk. Nicho bahkan tidak membalas pesan singkatnya yang menanyakan warna tema dekorasi.
Suatu hari di butik pengantin ternama, Anin bertemu dengan sahabat Nicho, Gavin.
"Anin, kau yakin ingin melanjutkan ini?" tanya Gavin prihatin melihat wajah Anin yang semakin tirus. "Nicho benar-benar kacau. Dia menghabiskan setiap malam di bar atau di tempat Shila. Dia tidak sedang dalam kondisi untuk menjadi suami yang baik."
Anin mencoba tersenyum, meski senyum itu tidak mencapai matanya. "Aku sudah berjanji pada keluargaku, Gavin. Dan... aku masih berharap, mungkin setelah pernikahan ini berjalan, Nicho akan melihat bahwa aku bukan musuhnya."
Gavin menghela napas. "Nicho itu keras kepala. Jika dia sudah memutuskan seseorang sebagai antagonis dalam hidupnya, akan sulit untuk mengubah pikirannya."
Di sisi lain, Nicho benar-benar menjalankan rencananya. Ia sengaja menunjukkan kemesraannya dengan Shila di depan publik, seolah-olah ingin menampar wajah Anin dan keluarganya. Berita-berita di tabloid mulai bermunculan tentang "Cinta Segitiga Sang Pewaris Baskara", namun keluarga Baskara tetap menutup telinga dan menekan Anin untuk tetap diam.
Pernikahan ini bukan lagi tentang persatuan dua hati. Ini adalah transaksi bisnis yang dibalut dengan kain putih suci. Di balik kemegahan yang sedang dipersiapkan, ada luka yang mulai membusuk, menunggu waktu untuk meledak dan menghancurkan siapa saja yang ada di dekatnya.
Hari pernikahan tinggal menghitung hari. Dan bagi Nicho, itu adalah hari di mana ia akan secara resmi memulai hukuman bagi Anindira. Baginya, setiap detik pernikahan ini nanti adalah cara untuk menunjukkan pada dunia bahwa cinta tidak bisa dibeli dengan saham, dan kesetiaan tidak bisa dipaksa dengan perjanjian di atas materai.
Anin, di sisi lain, mulai menyadari bahwa ia bukan hanya sedang menikahi pria yang ia cintai, tapi ia sedang melangkah masuk ke dalam kandang singa yang sedang terluka dan kelaparan. Dan ia hanya memiliki satu senjata: ketulusan yang mungkin tidak akan pernah dianggap.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar