Pagi di hari pernikahan seharusnya menjadi saat di mana mentari membawa harapan baru, namun bagi Anindira, cahaya matahari yang menerobos celah gorden kamarnya terasa seperti sorot lampu interogasi yang menelanjangi ketakutannya. Di luar sana, Jakarta sedang bersiap menyaksikan "Pernikahan Abad Ini" antara dua dinasti besar, Baskara dan Hardiwidjaja. Namun di dalam kamar ini, hanya ada kesunyian yang mencekik.

​Sepuluh orang penata rias dan asisten desainer masuk ke kamarnya dengan langkah yang diatur sedemikian rupa, seolah mereka sedang menyiapkan seserahan untuk dewa. Anin duduk mematung di depan cermin besar. Ia melihat wajahnya perlahan berubah di bawah sapuan kuas mahal. Matanya yang lelah disamarkan dengan eyeliner tajam, pipinya yang tirus diberi rona semu, dan bibirnya dipulas warna merah berani—warna yang Nicho benci karena menurut pria itu, warna merah adalah simbol ambisi.

​"Anda sangat cantik, Nona Anindira," bisik salah satu penata rias dengan nada kagum yang tulus.

​Anin hanya tersenyum tipis. Cantik, pikirnya pahit. Apa gunanya kecantikan jika pria yang akan berdiri di sampingnya nanti lebih memilih melihat bayangan wanita lain di dalam kepalanya?

​Gaun pengantin putih karya desainer ternama itu kini melekat di tubuhnya. Ratusan kristal swarovski yang dijahit tangan berkilau menyilaukan mata, namun bagi Anin, gaun itu terasa seberat baju zirah baja. Ia merasa sedang bersiap untuk pergi berperang, bukan menuju pelaminan.

​Janji yang Ternoda

​Katedral tua itu telah dihiasi ribuan bunga lili putih dan mawar pastel. Wanginya memenuhi ruangan, membaur dengan aroma lilin dan kayu tua. Saat pintu besar terbuka, seluruh hadirin berdiri. Musik organ mengalun megah, mengisi setiap sudut ruangan dengan gema yang menggetarkan dada.

​Anin berjalan di atas karpet merah, lengannya bertaut pada lengan ayahnya yang tampak begitu bangga. Di ujung sana, Nicho berdiri. Pria itu tampak sangat tampan dalam balutan tuxedo hitam yang dijahit sempurna. Namun, saat mata mereka bertemu, Anin merasakan hawa dingin yang luar biasa. Tidak ada binar bahagia, tidak ada decak kagum. Mata Nicho hanya memancarkan kekosongan yang gelap, seolah ia sedang menatap dinding kosong.

​Nicho mengambil tangan Anin dari ayahnya. Genggamannya sangat kuat, namun tidak hangat. Ia menarik tangan Anin seolah sedang mengamankan barang bukti, bukan menyambut pendamping hidup.

​Pendeta mulai mengucapkan liturgi pernikahan. Suaranya yang berat dan tenang memenuhi ruangan, namun di telinga Nicho, suara itu terdengar seperti lonceng kematian bagi kebebasannya. Ia membayangkan Shila saat ini—mungkin wanita itu sedang meringkuk di apartemen mereka, menangis sambil memeluk biola kesayangannya. Pikiran itu membakar dada Nicho dengan rasa bersalah yang luar biasa, dan ia melampiaskan rasa sakit itu kepada tangan Anin yang sedang ia genggam. Ia menekan jemari Anin hingga wanita itu harus menggigit bibir bawahnya untuk menahan rintihan.

​"Nicholas Baskara, apakah engkau bersedia menerima Anindira Hardiwidjaja sebagai istrimu..."

​Nicho terdiam sejenak. Keheningan itu berlangsung cukup lama hingga para tamu mulai berbisik cemas. Tuan Baskara yang duduk di barisan depan memberikan tatapan peringatan yang tajam. Nicho menarik napas panjang, suaranya terdengar parau dan dingin saat akhirnya ia menjawab.

​"Saya bersedia."

​Dua kata itu jatuh seperti batu besar ke dalam air yang tenang, menciptakan riak penderitaan yang panjang. Saat tiba giliran Anin, suaranya terdengar lembut namun bergetar.

​"Saya bersedia."

​Saat mereka diminta bertukar cincin, tangan Nicho gemetar—bukan karena gugup, tapi karena kemarahan yang tertahan. Ia menyematkan cincin emas putih itu ke jari manis Anin seolah sedang memasang borgol. Dan saat ia harus mencium sang mempelai wanita, Nicho hanya mendekatkan wajahnya, membiarkan bibirnya menyentuh kening Anin dengan sangat singkat—sebuah kontak fisik yang terasa lebih seperti penghinaan daripada kasih sayang.

​Resepsi di Atas Air Mata

​Pesta resepsi di hotel bintang lima itu berlangsung seperti sirkus kemewahan. Ribuan tamu dari kalangan elit, pejabat, dan pengusaha bersulang untuk kebahagiaan palsu mereka. Nicho dan Anin berdiri di atas pelaminan selama berjam-jam, menyalami orang-orang dengan senyum plastik yang dipaksakan.

​"Tersenyumlah, Anindira," desis Nicho di sela-sela jabat tangan dengan seorang duta besar. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau, kan? Setidaknya berikan pertunjukan yang bagus untuk penontonmu."

​Anin tetap mempertahankan senyumnya meskipun kakinya sudah mati rasa karena sepatu hak tinggi. "Aku hanya melakukan apa yang seharusnya kita lakukan, Nicho."

​"Seharusnya?" Nicho tertawa sinis sambil melambai pada kamera. "Kau seharusnya malu pada dirimu sendiri karena mencuri kebahagiaan orang lain. Kau lihat pria di sudut sana? Itu Haikal, kakak Shila. Dia datang ke sini untuk memastikan bahwa aku benar-benar menjadi pengkhianat. Kau puas sekarang?"

​Anin melirik ke arah yang ditunjuk Nicho. Di sana berdiri seorang pria muda dengan wajah yang penuh kebencian. Anin memalingkan wajah, hatinya terasa remuk. Ia ingin menjelaskan bahwa ia juga kehilangan banyak hal hari ini, namun ia tahu Nicho tidak akan pernah mau mendengar.

​Malam semakin larut, dan saat pesta akhirnya berakhir, Nicho tidak menunggu Anin. Ia langsung berjalan menuju mobil pengantin, meninggalkan Anin yang harus dibantu oleh asisten untuk mengangkat ekor gaunnya yang panjang. Di dalam mobil, keheningan menyelimuti mereka. Nicho menatap ke luar jendela, sementara Anin hanya bisa menatap buket bunganya yang mulai layu.

​Malam Pertama di Penjara Emas

​Mansion baru yang diberikan keluarga Baskara sebagai hadiah pernikahan berdiri megah di kawasan perumahan elit. Rumah itu gelap saat mereka sampai. Nicho masuk lebih dulu, melepas dasinya dengan kasar dan melemparkannya ke sofa ruang tamu.

​Anin mengikuti di belakang, merasa sangat asing di rumah yang seharusnya menjadi miliknya. "Nicho, apakah kau lapar? Aku bisa meminta pelayan untuk—"

​"Jangan panggil namaku dengan mulutmu yang penuh kebohongan itu," potong Nicho tajam. Ia berbalik, menatap Anin dengan tatapan yang bisa membekukan darah. "Kau pikir karena kita sudah sah secara hukum, hidupmu akan indah?"

​Nicho melangkah maju, memojokkan Anin ke dinding dekat tangga. Anin bisa mencium aroma alkohol dari napas Nicho—pria itu pasti banyak minum di resepsi tadi.

​"Dengar, Anindira. Aku akan mengatakannya sekali saja agar kau tidak perlu berimajinasi yang aneh-aneh. Rumah ini memiliki dua sayap. Kau di sayap kiri, aku di sayap kanan. Jangan pernah masuk ke kamarku tanpa izin, dan jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku lebih baik menghabiskan malam dengan memikirkan Shila daripada harus melihat wajahmu di ranjangku."

​Anin menelan ludah, air matanya kini tak terbendung lagi. "Nicho, aku istrimu sekarang..."

​"Istri karena paksaan!" bentak Nicho hingga suaranya menggema di ruangan yang luas itu. "Kau adalah pengingat hancurnya harga diriku sebagai pria. Kau adalah alasan Shila menangis malam ini. Jangan pernah berharap status 'istri' itu memberimu hak atas cintaku."

​Nicho berbalik dan menaiki tangga dengan langkah berdentum, menuju kamarnya sendiri dan membanting pintu dengan sangat keras.

​Anin luruh ke lantai. Gaun pengantinnya yang mahal kini menyapu lantai yang dingin. Di tengah kemewahan rumah itu, Anin menangis tersedu-sedu, meratapi cinta tulusnya yang kini dianggap sebagai dosa besar. Ia telah resmi menjadi Nyonya Baskara, namun ia merasa seperti orang paling miskin di dunia.

​Ia menyentuh cincin di jarinya—lingkaran logam yang terasa sangat berat. Malam pertama pernikahannya tidak diisi dengan romansa, melainkan dengan pernyataan perang. Anin tahu, hari-hari ke depan tidak akan menjadi lebih mudah. Ia telah memilih jalan ini, dan sekarang ia harus bertahan di dalamnya, meskipun ia harus hancur berkeping-keping.

​Di kamarnya yang gelap, Nicho mengeluarkan ponsel. Ia menelepon Shila. Saat suara isakan Shila terdengar di seberang sana, Nicho memejamkan mata, membiarkan air matanya sendiri jatuh. "Aku merindukanmu, Shila. Aku membencinya... aku sangat membencinya."

​Dan di balik dinding yang sama, Anin mendengar suara Nicho yang samar. Setiap kata rindu Nicho untuk Shila adalah sayatan belati di hati Anin. Inilah awal dari janji yang tak diinginkan, sebuah simfoni luka yang baru saja dimulai.