Keheningan di mansion Baskara setelah kunjungan mertua terasa jauh lebih menyesakkan daripada sebelumnya. Sandiwara singkat itu menyisakan residu yang aneh; Nicho yang semakin garang untuk menutupi rasa bersalahnya, dan Anin yang semakin layu karena menyadari betapa mahirnya suaminya berakting cinta tanpa sedikit pun melibatkan hati.
Seminggu kemudian, sebuah undangan fisik berwarna navy dengan tinta emas mendarat di meja rias Anin. Itu adalah acara amal tahunan Yayasan Bakti Bangsaβsebuah perhelatan sosial paling bergengsi yang dikelola oleh rekan bisnis keluarga Baskara dan Hardiwidjaja. Sebagai menantu baru, ketidakhadiran Anin akan menjadi skandal besar.
Anin menatap bayangannya di cermin. Ia memilih gaun silk berwarna sampanye yang sederhana namun sangat elegan. Ia merias wajahnya dengan telaten, menutupi kantung mata akibat kurang tidur dan memulas bibirnya dengan warna yang lembut. Ia berharap, setidaknya di depan publik malam ini, Nicho akan menjaga martabatnya sebagai istri sah.
"Sudah selesai?" suara berat Nicho menginterupsi dari ambang pintu.
Nicho berdiri di sana, mengenakan setelan tuksedo yang sangat pas di tubuh atletisnya. Pria itu tampak luar biasa tampan, namun tatapannya tetap sedingin es.
"Sudah, Nicho. Kita berangkat sekarang?" tanya Anin sambil meraih tas tangannya.
Nicho tidak menjawab. Ia hanya berbalik dan berjalan mendahului Anin, tidak berniat menawarkan lengan untuk digandeng. Di dalam mobil, keheningan kembali meraja. Nicho sibuk dengan ponselnya, sesekali tersenyum tipisβsebuah senyum yang Anin tahu pasti ditujukan untuk pesan singkat dari Shila.
Tamu yang Merusak Malam
Aula hotel bintang lima itu sudah dipenuhi oleh kaum elit Jakarta saat mereka tiba. Lampu kristal raksasa memantulkan cahaya ke perhiasan mahal para tamu. Saat Nicho dan Anin masuk, lampu sorot seolah mengikuti mereka. Mereka adalah pasangan emas, potret kesuksesan dua keluarga besar.
"Nicholas! Anindira! Kalian tampak serasi sekali malam ini," sapa seorang kolega bisnis ayah Nicho.
Nicho memasang senyum diplomatiknya. Ia merangkul pinggang Anin, memberikan ilusi kemesraan yang sempurna bagi siapa pun yang melihat. Anin mencoba menikmati momen singkat itu, meskipun ia tahu itu hanya fatamorgana.
Namun, ketenangan itu hancur saat pintu aula kembali terbuka. Seorang wanita masuk dengan gaun berwarna biru pucat yang tampak terlalu sederhana untuk acara semegah ini. Ia membawa biola di tangannya.
Itu Shila.
Anin merasakan cengkeraman tangan Nicho di pinggangnya mengendur, lalu terlepas sama sekali. Mata Nicho terpaku pada sosok wanita di ambang pintu itu dengan binar yang tak pernah ia berikan pada Anin.
"Kenapa dia di sini?" bisik Anin, suaranya bergetar karena rasa malu yang mulai merayap.
"Dia diundang sebagai pengisi acara musik kamar malam ini," jawab Nicho tanpa menoleh pada Anin. "Dan aku yang merekomendasikannya."
Penghinaan Terbuka
Acara dimulai dengan sambutan formal, diikuti oleh pertunjukan musik. Saat tiba giliran Shila, ruangan menjadi sunyi. Shila berdiri di atas panggung kecil, tampak rapuh namun bercahaya di bawah lampu sorot. Ia mulai menggesek biolanya, memainkan melodi sedih yang seolah menceritakan penderitaannya sebagai "wanita yang terbuang".
Anin melihat Nicho berdiri di sudut ruangan, tidak melepaskan pandangannya dari Shila. Para tamu mulai berbisik-bisik. Mereka tahu siapa Shilaβwanita yang sering terlihat bersama Nicho sebelum pernikahan mendadak ini terjadi.
Setelah pertunjukan selesai, Nicho bukannya kembali ke sisi Anin, ia justru melangkah menuju panggung dan memberikan buket bunga mawar merah yang entah sejak kapan ia siapkan. Di depan ratusan pasang mata, Nicho menggenggam tangan Shila dan membantunya turun dari panggung.
"Permainan yang luar biasa, Shila," suara Nicho terdengar cukup keras untuk didengar oleh orang-orang di sekitarnya.
Beberapa tamu wanita mulai melirik Anin dengan tatapan kasihan. Anin berdiri sendirian di tengah kerumunan, memegang gelas sampanye dengan tangan yang gemetar hebat. Ia merasa seperti badut yang sedang ditonton dalam pertunjukan komedi tragis.
Batas Kesabaran
Anin berjalan mendekati Nicho yang masih asyik mengobrol dengan Shila di tengah aula, mengabaikan tatapan sinis dari orang-orang.
"Nicho, bisa kita bicara sebentar?" tanya Anin serendah mungkin.
Nicho menoleh, matanya berkilat tidak suka. "Kau lihat aku sedang sibuk, Anindira. Shila baru saja menyelesaikan pertunjukan yang melelahkan."
"Nicho, semua orang melihat. Kau mempermalukanku di depan kolega orang tua kita," desis Anin, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
Shila menunduk, wajahnya tampak merasa bersalah. "Maaf, Nona Anin. Aku tidak bermaksud..."
"Jangan minta maaf padanya, Shila. Dia tidak punya hak untuk mengatur siapa yang aku beri bunga," potong Nicho tajam. Ia menatap Anin dengan kebencian murni. "Jika kau merasa dipermalukan, itu karena kau memang pantas mendapatkannya. Kau yang memaksa masuk ke dalam hidupku, jadi terimalah konsekuensinya."
Anin merasa seolah-olah ditampar di depan umum. Ia berbalik dan berjalan cepat menuju toilet, tidak peduli lagi dengan citra yang harus ia jaga. Di dalam bilik toilet yang sempit, ia menangis tersedu-sedu. Ia meremas gaun mahalnya, meratapi kebodohannya yang masih mengharapkan sepercik rasa hormat dari suaminya.
Malam itu berakhir dengan bencana. Nicho pulang lebih dulu bersama Shila, meninggalkan Anin yang harus memesan taksi sendiri untuk pulang ke mansion mereka.
Saat Anin sampai di rumah, mansion itu gelap dan sepi. Nicho tidak pulang. Sekali lagi, pria itu memilih tempat tidur Shila daripada rumah yang mereka tempati bersama. Anin masuk ke kamarnya, melepaskan perhiasannya satu per satu, merasa setiap berlian itu seperti belati yang menyayat kulitnya.
Ia tahu, ini bukan lagi sekadar sandiwara. Ini adalah perang terbuka. Nicho tidak hanya ingin ia menderita di dalam rumah, tapi pria itu ingin menghancurkan harga dirinya di depan seluruh dunia.
Anin memejamkan mata, memeluk dirinya sendiri di atas ranjang yang dingin. "Berapa lama lagi aku bisa bertahan?" bisiknya pada kegelapan. Ia belum tahu bahwa badai yang lebih besar akan datang di bab selanjutnya, saat rasa frustrasi Nicho mencapai puncaknya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar