Pagi itu, suasana di mansion Baskara terasa lebih mencekam daripada biasanya. Nicho belum pulang sejak semalam—sesuai dugaannya, pria itu menghabiskan malam di apartemen Shila. Anin duduk di meja makan yang luas, menatap secangkir teh yang sudah mendingin. Ia merasa seperti hantu yang menghuni rumah mewah ini; ada, tapi tak dianggap.

Ketukan keras di pintu depan memecah kesunyian. Asisten rumah tangga berlari membukanya, dan seketika suara langkah kaki yang otoriter menggema di aula utama.

"Anindira! Di mana Nicholas?"

Anin tersentak. Itu suara Nyonya Baskara. Di belakangnya, Tuan Baskara melangkah dengan wajah datar yang selalu memancarkan aura tekanan. Anin segera berdiri, merapikan gaun rumahan sutranya, dan memasang senyum terbaik yang bisa ia kerahkan.

"Mama, Papa... selamat pagi. Kenapa tidak memberi kabar kalau mau berkunjung?" Anin mendekat, mencium tangan kedua mertuanya dengan takzim.

"Kami ingin melihat bagaimana kabar pengantin baru ini. Kenapa rumah ini sepi sekali?" Nyonya Baskara mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tengah yang luas. Matanya yang tajam seolah bisa mengendus sisa-sisa keberadaan Shila di sana kemarin.

"Nicho... dia sedang di kamar, Ma. Semalam dia pulang sangat larut karena ada urusan proyek di luar kota yang mendesak, jadi dia masih beristirahat," dusta Anin lancar. Lidahnya sudah mulai terbiasa memoles pahitnya kenyataan dengan kebohongan demi menjaga martabat keluarga.

Tuan Baskara duduk di sofa kulit, menatap Anin intens. "Syukurlah kalau dia bekerja keras. Aku berharap kalian segera memberikan kabar baik soal pewaris. Perusahaan membutuhkan stabilitas, dan anak adalah pengikat yang paling kuat."

Anin membeku. Anak? Membayangkan Nicho menyentuhnya saja terasa seperti mimpi buruk yang mustahil, apalagi mengharapkan seorang anak.


Panggilan Darurat

"Aku akan panggilkan Nicho sebentar, Ma," pamit Anin.

Ia berlari ke atas, masuk ke kamar Nicho yang kosong dan beraroma parfum maskulin yang tajam. Dengan tangan gemetar, ia menekan nomor Nicho. Panggilan pertama ditolak. Panggilan kedua diabaikan. Pada panggilan ketiga, suara berat dan ketus Nicho akhirnya menyahut.

"Apa lagi, Anindira? Jangan menggangguku. Shila sedang tidak enak badan."

"Orang tuamu ada di bawah, Nicho," bisik Anin mendesak, suaranya sarat dengan kepanikan. "Papa dan Mama datang mendadak. Mereka ingin bertemu denganmu. Kalau kau tidak pulang sekarang, sandiwara ini akan berakhir dan kau tahu apa konsekuensinya bagi Shila."

Hening sejenak di seberang sana. Anin bisa mendengar helaan napas kasar Nicho.

"Dua puluh menit. Pastikan mereka tidak naik ke atas," ketus Nicho sebelum memutus sambungan.

Anin menghela napas lega yang singkat. Ia segera merapikan tempat tidur Nicho yang rapi—membuatnya seolah-olah baru saja ditiduri—dan meletakkan beberapa potong pakaian Nicho di keranjang cucian agar terlihat ada aktivitas.


Topeng yang Sempurna

Dua puluh menit kemudian, deru mobil Nicho terdengar di halaman. Nicho masuk melalui pintu samping menuju tangga belakang, langsung menuju kamarnya tanpa terlihat oleh orang tuanya yang sedang dijamu teh oleh Anin di ruang makan.

Beberapa saat kemudian, Nicho turun. Ia mengenakan kaos santai dan celana pendek, rambutnya sedikit berantakan—akting yang sempurna sebagai pria yang baru bangun tidur. Ia berjalan mendekat dan, yang membuat jantung Anin hampir berhenti, Nicho merangkul pinggang Anin di depan orang tuanya.

"Pagi, Pa, Ma. Maaf Nicho terlambat turun, semalam benar-benar melelahkan," ucap Nicho sambil mengecup pelipis Anin.

Anin tersentak kecil, namun ia segera menyesuaikan diri. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Nicho, membiarkan kehangatan tubuh pria itu menipu indranya. Untuk sesaat, jika ia memejamkan mata, ia bisa membayangkan bahwa ini adalah nyata. Bahwa Nicho benar-benar mencintainya.

"Kalian terlihat sangat serasi," ujar Nyonya Baskara dengan senyum puas. "Anin, kau pasti merawat Nicho dengan sangat baik. Lihat, wajahnya terlihat lebih cerah."

"Tentu saja, Ma. Anin istri yang luar biasa," sahut Nicho. Tangannya yang melingkar di pinggang Anin tiba-tiba mencubit kulit Anin dengan keras, sebuah peringatan tersembunyi agar Anin tidak besar kepala.

Anin menahan ringisannya, tetap tersenyum manis. "Nicho juga suami yang sangat perhatian, Ma."


Makan Siang yang Menyesakkan

Sandiwara berlanjut hingga makan siang. Nicho terus menunjukkan kemesraan palsu; mengambilkan lauk untuk Anin, menggenggam tangannya di atas meja, bahkan memuji masakan Anin yang kemarin ia sebut sebagai "sampah".

"Nicho bilang kalian akan berlibur ke Bali bulan depan?" tanya Tuan Baskara.

Nicho menatap Anin dengan tatapan yang sulit diartikan. "Tentu, Pa. Kami butuh waktu berdua tanpa gangguan pekerjaan... atau apa pun."

Anin hanya bisa mengangguk, hatinya terasa perih. Ia tahu 'gangguan' yang dimaksud Nicho adalah Shila, dan 'berdua' adalah hal terakhir yang diinginkan Nicho bersamanya.

Setelah orang tua Nicho pergi, suasana berubah seketika seolah saklar lampu dimatikan. Nicho melepaskan rangkulannya dari pinggang Anin dengan sentakan kasar, seolah menyentuh Anin adalah hal yang menjijikkan.

"Puas kau sekarang?" desis Nicho sambil mengelap tangannya dengan serbet, seakan mencoba menghapus bekas sentuhan Anin.

"Aku hanya menyelamatkanmu, Nicho. Jika mereka tahu kau tidak ada di rumah semalam—"

"Jangan merasa jadi pahlawan!" bentak Nicho. Ia melangkah maju, memojokkan Anin ke meja makan. "Kau sangat menikmati sentuhanku tadi, bukan? Kau haus akan perhatian dariku sampai-sampai kau menggunakan orang tuaku untuk memaksaku memelukmu?"

"Tidak, Nicho... aku tidak pernah meminta mereka datang—"

"Dengar, Anindira. Jangan pernah berpikir sandiwara tadi mengubah apa pun. Bagiku, kau tetaplah penjara. Dan liburan ke Bali itu? Jangan harap aku akan membawamu. Aku akan pergi, tapi tidak bersamamu."

Nicho menyambar kunci mobilnya kembali. Sebelum pergi, ia menoleh dengan senyum miring yang menyakitkan.

"Oh, dan satu lagi. Cucilah bajuku yang kau berantakkan di kamar tadi. Kau bilang kau ingin jadi istri yang baik, kan? Lakukan tugasmu sebagai pelayan."

Pintu terbanting menutup. Anin berdiri sendirian di ruang makan yang kini kembali sunyi. Sisa makanan lezat di atas meja kini terasa hambar. Ia menyentuh pinggangnya yang tadi dicubit Nicho, bekasnya mulai membiru, sama seperti hatinya yang semakin lebam oleh kenyataan.

Sandiwara hari ini sukses besar di mata dunia, namun di balik pintu jati itu, Anindira sadar bahwa ia sedang menari di atas duri, dan setiap langkahnya hanya membawanya lebih dekat pada kehancuran.