Matahari pagi di Jakarta biasanya membawa semangat bagi mereka yang mengejar mimpi, namun bagi Anindira, setiap fajar yang menyingsing terasa seperti vonis baru untuk menjalani hukuman yang tak berkesudahan. Seminggu telah berlalu sejak malam pernikahan yang kelam itu. Rumah megah pemberian keluarga Baskara yang seharusnya menjadi istana cinta, kini tak lebih dari sebuah bangunan dingin dengan koridor-koridor yang menyimpan gema kebencian.

​Anin terbangun di sayap kiri rumah. Kamarnya luas, sangat indah dengan sentuhan interior klasik modern, namun ia merasa seperti narapidana di sel isolasi mewah. Ia bangun lebih awal, merapikan dirinya, dan turun ke dapur. Meskipun Nicho melarangnya mencampuri urusannya, Anin tetap bersikeras menjalankan tugasnya. Ia ingin menjadi istri yang baik, meskipun hanya untuk dirinya sendiri.

​Di dapur, ia mulai menyiapkan sarapan. Aroma kopi segar dan roti panggang mulai memenuhi ruangan. Anin sedang menata piring di meja makan saat ia mendengar suara langkah kaki dari tangga.

​Jantungnya berdegup kencang. Itu Nicho.

​Nicho turun dengan setelan kerja yang sempurna. Namun, wajahnya menunjukkan kelelahan yang nyata. Matanya merah, dan ada aura kemarahan yang belum padam sejak semalam—malam di mana ia lagi-lagi pulang pukul tiga pagi dengan aroma alkohol yang menyengat.

​"Selamat pagi, Nicho," sapa Anin dengan suara selembut mungkin, mencoba memaksakan senyum di bibirnya yang pucat. "Aku membuatkan sandwich gandum dan kopi hitam tanpa gula, seperti yang biasa kau minum."

​Nicho berhenti di ujung meja. Ia menatap makanan itu, lalu beralih menatap Anin dengan tatapan merendahkan. Tanpa sepatah kata pun, ia menarik kursi, namun bukan untuk duduk. Ia hanya mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja pantry.

​"Jangan buang-buang waktumu, Anindira," suara Nicho terdengar parau dan tajam. "Aku tidak akan memakan apa pun yang keluar dari tanganmu. Aku tidak ingin keracunan oleh kepura-puraanmu."

​"Aku tulus membuatnya, Nicho. Setidaknya minumlah kopinya agar kau tidak pusing saat menyetir," Anin mencoba mendekat, namun Nicho mundur selangkah seolah-olah Anin adalah wabah yang harus dihindari.

​"Simpan perhatianmu untuk orang tuaku saat mereka berkunjung nanti. Di depan mereka, kau boleh berakting sebagai istri teladan. Tapi di sini? Kau bukan siapa-siapa."

​Tamu yang Tak Terundang

​Nicho melangkah pergi menuju pintu depan, namun langkahnya terhenti saat sebuah mobil taksi berhenti di depan gerbang. Seorang wanita turun dengan langkah ragu. Tubuhnya kecil, wajahnya pucat, dan ia membawa sebuah tas biola di punggungnya.

​Itu Shila.

​Anin, yang mengikuti Nicho sampai ke teras, merasa dunianya seolah runtuh. Ia tidak menyangka Nicho akan seberani ini—membawa Shila ke rumah yang baru saja mereka tempati.

​"Shila? Kenapa kau ke sini?" tanya Nicho, suaranya berubah drastis. Tidak ada lagi nada tajam atau dingin; yang ada hanyalah kekhawatiran yang mendalam.

​Shila menunduk, jari-jarinya memainkan ujung bajunya. "Aku... aku merindukanmu, Nicho. Dan aku merasa tidak enak badan pagi ini. Aku takut sendirian di apartemen."

​Nicho segera mendekat dan merangkul bahu Shila dengan posesif. Ia mengabaikan kehadiran Anin yang berdiri mematung di ambang pintu, menyaksikan pemandangan yang menghancurkan hatinya itu.

​"Kenapa tidak meneleponku? Aku akan menjemputmu," ucap Nicho lembut sambil mengusap pipi Shila.

​Shila melirik ke arah Anin, matanya berkaca-kaca. "Apakah aku mengganggu? Aku tahu ini rumah kalian..."

​Nicho menoleh ke arah Anin dengan tatapan menantang. "Kau tidak mengganggu siapa pun, Shila. Ini rumahku. Dan di rumah ini, kau adalah tamu kehormatanku."

​Nicho kemudian menuntun Shila masuk melewati Anin tanpa sedikit pun rasa bersalah. Bau parfum vanila Shila menyengat hidung Anin, bau yang menjadi pengingat bahwa ia tidak akan pernah bisa menggantikan posisi wanita itu di hati Nicho.

​Penghinaan di Meja Makan

​Nicho mendudukkan Shila di meja makan—meja yang sama di mana Anin baru saja menata sarapan untuk Nicho.

​"Kau belum sarapan, kan? Makanlah ini," kata Nicho sambil menggeser piring berisi sandwich buatan Anin ke hadapan Shila.

​Anin meremas tangannya sendiri di balik punggung. Ia merasa harga dirinya sedang diinjak-injak di hadapan wanita yang menjadi duri dalam pernikahannya.

​"Ini... buatan Nona Anindira?" tanya Shila pelan, suaranya terdengar sangat rendah hati, namun bagi Anin, itu terdengar seperti ejekan halus.

​"Tidak masalah siapa yang membuatnya. Anggap saja ini dibuat oleh pelayan rumah ini," sahut Nicho dingin tanpa menatap Anin.

​Anin tidak tahan lagi. Ia melangkah maju. "Nicho, ini keterlaluan. Aku bisa menerima kau mengabaikanku, tapi membawa wanita lain ke rumah kita di minggu pertama pernikahan kita? Bagaimana jika orang tuamu atau media tahu?"

​Nicho berdiri, matanya berkilat marah. "Rumah kita? Jangan pernah lancang menyebut rumah ini milikmu. Kau di sini hanya karena kontrak dan paksaan. Shila di sini karena aku mencintainya. Jika kau merasa terganggu, kau boleh pergi ke kamarmu dan jangan keluar sampai aku memintanya."

​Shila memegang tangan Nicho, mencoba menenangkannya. "Sudahlah, Nicho. Aku tidak ingin kalian bertengkar karena aku. Aku akan pergi..."

​"Tidak, Shila. Kau tetap di sini," perintah Nicho. Ia kemudian beralih ke Anin. "Keluar dari sini, Anindira. Sekarang."

​Anin membalikkan badan, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Ia menaiki tangga dengan langkah terburu-buru, masuk ke kamarnya, dan mengunci pintu. Ia menyandarkan punggungnya di pintu, merosot jatuh ke lantai, dan menangis tanpa suara.

​Di bawah, ia bisa mendengar sayup-sayup suara tawa kecil Shila dan nada suara Nicho yang sangat lembut—sesuatu yang tidak pernah Nicho berikan padanya. Ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri, seperti penjahat di tengah drama cinta yang tragis.

​Gunjingan Para Pelayan

​Kehadiran Shila di rumah itu tidak hanya menyiksa Anin, tapi juga menjadi bahan pembicaraan di antara para pelayan. Mereka melihat bagaimana sang nyonya rumah diabaikan, sementara wanita lain dilayani layaknya seorang putri oleh sang tuan.

​"Kasihan Nyonya Anin," bisik salah satu asisten rumah tangga di area cuci. "Dia cantik dan sangat baik, tapi Tuan Nicho sepertinya benar-benar membencinya."

​"Iya, wanita yang dibawa Tuan itu... kelihatannya lemah sekali. Tapi Tuan Nicho sampai menyuapinya tadi di meja makan," timpal yang lain.

​Anin tidak sengaja mendengar percakapan itu saat ia turun untuk mengambil air minum. Ia hanya bisa terdiam, menelan pahitnya kenyataan bahwa ia kini menjadi bahan kasihan. Baginya, kasihan adalah penghinaan yang lebih berat daripada kebencian.

​Sore harinya, Nicho mengantar Shila pulang. Sebelum pergi, ia masuk ke kamar Anin tanpa mengetuk pintu.

​Anin yang sedang duduk di balkon tersentak. "Nicho? Ada apa?"

​"Aku akan menginap di tempat Shila malam ini. Jika ibuku menelepon, katakan aku ada pertemuan bisnis mendadak di luar kota," kata Nicho tanpa ekspresi.

​"Kau akan meninggalkanku sendirian lagi?" tanya Anin dengan nada putus asa.

​"Kau sudah biasa sendirian selama sepuluh tahun mengejarku, bukan? Apa bedanya satu malam lagi?" Nicho tersenyum sinis. "Nikmatilah rumah besarmu ini, Anindira. Karena hanya ini yang akan kau dapatkan dariku. Harta, tapi bukan hati."

​Pintu terbanting menutup. Suara deru mobil Nicho yang menjauh terdengar beberapa menit kemudian.

​Anin berjalan menuju cermin. Ia melihat pantulan wanita yang tampak hancur. Ia menyentuh cincin pernikahannya yang berkilau di bawah lampu kamar. Ia teringat sepuluh tahun yang lalu, saat ia pertama kali jatuh cinta pada Nicho yang saat itu membelanya dari gangguan anak-anak nakal di sekolah.

​“Aku akan melindungimu, Anin,” kata Nicho kecil saat itu.

​Sekarang, pria yang berjanji melindunginya adalah pria yang paling giat menghancurkannya. Anin memejamkan mata, mencoba mencari sisa-sisa kekuatan di hatinya. Ia tahu, Shila hanyalah awal. Konflik ini akan menjadi lebih besar, dan ia harus bersiap sebelum badai yang sebenarnya datang menghantam