Aku tidak bergerak selama beberapa detik.
Atau mungkin beberapa menit. Aku tidak tahu. Waktu berhenti bekerja dengan cara yang normal. Aku hanya tahu bahwa jantungku berdetak keras sekali, dan aku mendengarnya di telinga seperti genderang, dan piano itu terus bermain dengan pelan, dengan sabar, seolah tidak peduli bahwa ada orang yang sedang mencoba bernapas di ambang pintu belakang.
Otakku berputar mencari penjelasan.
Pencuri? Tidak ada pencuri yang masuk rumah dan memainkan piano. Itu tidak logis. Kecuali pencuri itu gila. Tapi kalau gila, tidak akan setenang ini.
Hantu? Aku menertawai diriku dalam hati — tertawa pendek, getir, tidak lucu. Aku arsitek. Aku orang yang percaya pada struktur dan angka. Aku tidak percaya hantu.
Tapi aku sedang berdiri di rumah yang kutinggalkan dua tahun, mendengar lagu yang hanya istriku-lah yang memainkannya dengan cara itu, dan punggung seseorang — punggung seorang perempuan, aku bisa melihat itu sekarang — sedang membelakangiku di bangku piano.
Aku mengambil napas.
Aku maju.
Langkahku hampir tidak bersuara di atas karpet. Tapi di satu titik aku menginjak papan lantai yang agak longgar — papan yang selalu mendecit, yang dulu selalu jadi alasan Laras mengomel karena katanya papan itu mengganggu saat ia sedang mencari inspirasi. Papan itu mendecit sekarang. Suaranya pelan, tapi dalam keheningan rumah, ia terdengar seperti teriakan.
Perempuan itu berhenti bermain.
Ia tidak menoleh dulu. Ia hanya mengangkat jari-jarinya perlahan dari tuts. Lalu — dan ini adalah gerakan paling lambat yang pernah kulihat dalam hidupku — ia memutar tubuhnya di bangku.
Aku sudah mengepal erat-erat tanganku, tanpa sadar. Kuku-kukuku menekan telapak tanganku sendiri.
Perempuan itu menoleh.
Dan menatapku.
Dan tersenyum.
---
Aku kira aku akan melihat wajah Laras.
Aku siap untuk itu. Aku sudah menyiapkan kemungkinan bahwa otakku benar-benar rusak, bahwa dua tahun menyangkal dan minum kopi sebagai pengganti makan dan berhenti minum obat antidepresan membuatku berhalusinasi. Aku siap untuk jatuh ke lantai dan menangis dan mengakui pada diri sendiri bahwa aku lebih hancur dari yang aku akui selama ini.
Tapi wajah itu bukan wajah Laras.
Wajah itu asing.
Perempuan itu muda — mungkin akhir dua puluhan. Rambutnya panjang, digulung longgar di belakang kepala, beberapa helai jatuh di sisi wajah. Ia memakai kardigan rajut — warna abu-abu, warna yang akrab, tapi aku tidak ingin memikirkan kenapa warna itu akrab. Di bawah kardigan, blus putih lengan panjang.
Matanya besar. Lembut. Warnanya cokelat tua, hampir hitam di cahaya lampu kuning ini. Dan ia menatapku dengan ekspresi yang aneh — bukan terkejut, bukan takut, bukan marah. Lebih seperti...
Lebih seperti ia sudah menunggu.
"Maaf," ia berkata, suaranya pelan. "Saya tidak bermaksud mengagetkan Bapak."
Suaranya — suara itu juga asing. Lembut, sedikit serak, tapi bukan suara Laras. Laras bersuara lebih tinggi, lebih ceria. Suara perempuan ini lebih dalam, lebih tenang, seperti suara hujan di sore hari.
Aku membuka mulutku. Aku menutupnya lagi. Aku membuka lagi.
"Siapa kamu?"
Suaraku sendiri terdengar aneh di telingaku — terlalu kasar, terlalu keras, seperti orang yang sedang menahan sesuatu tapi tidak yakin apa. Aku mengulang pertanyaan itu lebih pelan.
"Siapa kamu? Kenapa kamu di rumahku?"
Ia berdiri dari bangku piano. Tubuhnya tidak tinggi — mungkin sampai bahuku. Tangannya terkatup di depan, seperti seseorang yang sedang menghadap guru. Ia tidak melangkah mendekat. Ia tetap berdiri di dekat piano, memberiku ruang.
"Nama saya Senja," katanya. "Saya yang menjaga rumah ini."
"Yang menjaga rumah ini?"
"Iya, Pak."
"Siapa yang menyuruhmu menjaga rumah ini?"
Ia tersenyum sedikit — senyum yang kecil, hampir minta maaf. "Ibu Wulan. Beliau yang mempekerjakan saya."
Aku merasa tanganku gemetar. Aku meletakkannya di saku jaket supaya ia tidak terlihat.
"Kapan? Kapan beliau mempekerjakanmu?"
"Sudah... cukup lama, Pak. Beberapa tahun."
"Beberapa tahun?"
"Iya."
Aku menelan ludah. Aku memaksa diriku untuk berpikir logis. Ibu Wulan tidak pernah menyebut apa pun tentang petugas rumah — tidak padaku, tidak di catatan yang notaris serahkan. Tapi Ibu Wulan memang orang yang suka menyimpan hal-hal untuk dirinya sendiri. Aku hampir tidak mengenalnya, jujur saja. Mungkin ia memang menyewa seseorang dan tidak menganggap itu penting untuk kuketahui.
"Kamu tinggal di sini? Di rumah ini?"
Ia ragu sedikit sebelum menjawab. "Kadang-kadang, Pak. Kalau sedang membersihkan rumah. Saya ada kamar di belakang. Tapi saya... saya bisa pulang ke tempat saya sendiri kalau Bapak tidak nyaman."
Ada kamar di belakang. Aku ingat — di bagian belakang rumah, dekat dapur, memang ada satu ruangan kecil yang dulu kami rencanakan jadi gudang. Aku tidak memeriksanya tadi. Aku hanya mengecek ruangan-ruangan utama.
Aku mencoba menenangkan diriku. Aku mencoba membuat ini masuk akal.
"Kamu memainkan 'Hujan Bulan Juni'."
Ia mengangguk pelan.
"Kenapa lagu itu?"
"Saya... suka lagu itu, Pak. Saya tidak tahu. Ada banyak partitur di piano. Saya suka memainkannya kadang-kadang. Ibu Wulan tidak pernah keberatan. Tapi kalau Bapak tidak suka, saya tidak akan—"
"Bukan itu."
Aku tidak tahu kenapa suaraku pecah di kata itu. Aku mengambil napas. Aku mencoba lagi.
"Bukan itu. Aku... aku cuma kaget."
Senja mengangguk. Ia menatap lantai sebentar, lalu mengangkat wajahnya lagi.
"Pak Arsen, saya tahu saya mengagetkan Bapak. Saya tidak tahu Bapak akan sampai malam ini. Ibu Wulan dulu biasanya mengabari saya beberapa hari sebelum Bapak — sebelum siapa pun datang. Tapi karena beliau sudah... " Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya mengatupkan mulut.
Aku tidak tahu ia tahu namaku.
Aku tidak memperkenalkan diri.
Aku membuka mulutku untuk bertanya, tapi Senja sudah lebih dulu. "Dari foto-foto di rumah ini. Saya kenal wajah Bapak."
Oh.
Ya. Itu masuk akal. Ada foto-foto di rumah ini. Di koridor, di kamar, mungkin juga di kamar ibu tiriku. Aku tidak memeriksa semuanya. Tentu saja ia tahu wajahku.
Aku menarik napas panjang.
"Oke," kataku. "Oke. Senja, ya?"
"Iya, Pak."
"Aku butuh waktu sebentar. Maaf."
"Tentu saja, Pak."
Aku berbalik. Aku berjalan kembali ke sofa. Aku duduk. Tanganku masih gemetar. Aku mengeluarkan ponsel dari saku. Aku ingin menelepon Raka. Aku ingin mengatakan, *Rak, di rumah ini ada orang yang aku tidak kenal, yang katanya sudah kerja di sini bertahun-tahun, dan Ibu Wulan tidak pernah bilang apa-apa ke aku, dan perempuan itu memainkan lagu yang cuma Laras yang biasa memainkannya, dan aku tidak tahu aku harus bagaimana.*
Tapi aku tidak menelepon.
Aku meletakkan ponsel di meja. Aku menatapnya tanpa fokus.
Senja masih berdiri di dekat piano. Ia tidak datang menghampiriku. Ia menunggu — entah menunggu apa. Mungkin menunggu aku memutuskan.
"Senja?" panggilku akhirnya, tanpa memandangnya.
"Iya, Pak?"
"Kamu... kamu punya kontrak kerja? Bukti kalau Ibu Wulan memang mempekerjakanmu?"
Ia diam sebentar. Lalu: "Tidak ada yang tertulis, Pak. Ibu Wulan dan saya hanya lisan saja. Beliau membayar saya tunai setiap bulan."
"Setiap bulan?"
"Iya."
"Berapa?"
"Lima juta, Pak."
Lima juta. Sebuah angka yang masuk akal untuk gaji penjaga rumah di Bandung. Tidak terlalu tinggi, tidak terlalu rendah. Aku tidak bisa memastikan apakah itu benar atau tidak.
"Bulan ini Ibu Wulan sudah membayarmu?"
Senja menggeleng pelan. "Belum sempat. Tapi... itu tidak penting, Pak. Saya tetap bekerja. Saya tidak pernah meninggalkan rumah ini kosong."
Aku mengangguk pelan. Aku menatap ke arah piano. Kain putih yang tadi jatuh, sudah dilipat rapi di atas bangku sekarang. Aku tidak memperhatikan kapan ia melipatnya.
"Kamu sudah makan?" tanyaku.
Pertanyaan itu keluar sendiri. Bodoh. Aku tidak tahu kenapa aku menanyakan hal itu. Tapi aku tidak menariknya kembali.
Ia tersenyum sedikit. "Sudah, Pak. Bapak sudah makan belum?"
"Aku makan roti di kereta."
"Saya bisa buatkan sesuatu. Di kulkas ada bahan untuk mi rebus. Pakai telur."
"Nggak usah."
"Bapak yakin?"
"Iya. Aku—"
Aku tidak melanjutkan. Aku tidak tahu bagaimana menyelesaikan kalimat itu tanpa terdengar kasar. *Aku tidak mau kamu memasak untukku karena aku belum memutuskan apakah kamu boleh ada di rumahku.* Itu terdengar buruk, bahkan di kepalaku sendiri.
Senja mengangguk. Ia mundur satu langkah. "Saya akan ke belakang dulu, Pak. Kalau Bapak butuh apa-apa, panggil saja. Saya tidur di kamar belakang, dekat dapur."
"Oke."
Ia berjalan keluar dari ruang tamu. Langkahnya tidak bersuara sama sekali — tidak mendecit seperti langkahku di papan lantai longgar itu. Aku mengikutinya dengan mata sampai ia menghilang di lorong menuju dapur.
Pintu kamar belakang terbuka. Lalu tertutup pelan.
Aku sendirian lagi di ruang tamu.
---
Aku tidak tidur.
Aku mencoba. Aku berbaring di sofa, menarik selimut ke dagu, dan memejamkan mata. Tapi setiap kali aku hampir tertidur, aku membayangkan seseorang memainkan piano lagi, atau langkah tak bersuara di lorong, atau sesuatu yang lebih menyeramkan yang tidak ingin kunamai.
Aku menyalakan ponsel. Aku membuka pesan. Aku mengetik:
*Rak, bisa kirim foto kontrak atau dokumen apa pun yang Ibu Wulan simpan soal rumah Lembang? Ada perempuan di sini yang katanya kerja di rumah ini. Aku nggak kenal.*
Aku menghapus pesan itu.
Aku mengetik lagi:
*Rak, kamu tahu nggak kalau Ibu Wulan sewa pengurus rumah untuk Lembang?*
Lebih baik. Aku mengirimnya.
Raka tidak membalas segera. Tentu saja. Ini sudah lewat tengah malam. Ia pasti sudah tidur.
Aku menaruh ponsel di dada. Aku menatap langit-langit.
Nama perempuan itu Senja.
Senja. Bukan Laras.
Aku tertawa pelan pada diri sendiri — tawa yang getir. Tentu saja bukan Laras. Aku tahu itu. Aku tidak gila. Aku tidak benar-benar berharap menemukan Laras di rumah ini. Aku tidak percaya pada hantu. Aku tidak percaya pada keajaiban. Aku hanya percaya pada orang yang memilih tidak datang dan kemudian harus pulang karena tidak ada pilihan lain.
Tapi suara piano itu.
Dan cara Senja memainkan lagu itu. Cara ia menekankan nada di bar keempat, ritardando kecil di bar kedelapan — detail-detail kecil yang tidak ada di partitur, yang dulu Laras temukan sendiri karena, katanya, *"Lagu itu kalau dimainin sesuai not aja nggak ada hujannya, Sen. Harus ada jedanya, biar terasa tetesannya."*
Orang lain tidak main lagu itu begitu.
Tapi Senja tadi.
Tadi, aku yakin, ia memainkannya persis seperti itu.
Aku memejamkan mata lebih kuat. Aku memaksa diri untuk berpikir rasional. *Ada jutaan pemain piano di dunia. Mungkin mereka belajar dari rekaman yang sama. Mungkin ini aransemen umum yang aku tidak tahu. Mungkin Senja belajar dari partitur yang Laras tulis dan ditinggal di rumah ini. Mungkin. Mungkin. Mungkin.*
Tapi "mungkin" tidak menjelaskan kenapa, sepanjang sisa malam itu, ketika aku akhirnya jatuh tertidur dengan tidak nyaman, aku bermimpi tentang seseorang yang berdiri di kaki sofa — memperhatikan aku tidur — dan tidak beranjak pergi sampai fajar.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar