Ada amplop cokelat di atas meja apartemenku sejak dua hari lalu, dan aku belum berani membukanya.

 

Aku tahu isinya. Raka yang mengantarkannya sendiri, dengan ekspresi yang biasa ia pakai saat harus menyampaikan berita buruk di pengadilan. Tatapan itu — setengah profesional, setengah permintaan maaf. Ia hanya meletakkan amplop itu di meja, menepuk bahuku, lalu pergi tanpa banyak bicara.

 

Dua tahun kami berteman cukup intens untuk ia tahu bahwa aku butuh waktu.

 

Tapi dua hari sudah berlalu, dan amplop itu masih di sana. Tidak tersentuh. Sudutnya menatapku seperti mata yang menunggu jawaban.

 

Aku duduk di meja, mengaduk kopi yang sudah dingin, dan akhirnya mengambilnya. Tangan kananku gemetar sedikit. Aku mendengar diriku tertawa pelan — tawa yang terdengar seperti orang asing. Gemetar karena amplop. Hebat sekali, Arsen. Tiga puluh dua tahun dan takut sama amplop.

 

Aku menyobek sisi atasnya.

 

*"Kepada Tuan Arsen Pradipta, sehubungan dengan wafatnya Ibu Wulan Ariyanti pada tanggal sepuluh Maret lalu..."*

 

Aku berhenti membaca.

 

Ibu tiriku meninggal sebulan yang lalu. Aku tahu. Aku datang ke pemakamannya, berdiri di belakang kerumunan, memakai topi rajut dan kacamata hitam seperti tokoh film yang sedang menghindari paparazzi. Aku tidak menyapa siapa-siapa. Aku pulang bahkan sebelum tanah di atas peti itu selesai disiram.

 

Aku tidak dekat dengan Ibu Wulan. Ayah menikahi beliau setahun setelah ibu kandungku meninggal, dan aku — yang saat itu dua belas tahun dan sedang bersiap membenci dunia — memutuskan bahwa Ibu Wulan adalah bagian dari dunia itu. Aku sopan padanya. Aku mengucap selamat lebaran setiap tahun. Tapi aku tidak pernah memanggilnya "Ibu" dengan nada yang sebenarnya, dan aku tidak pernah menganggap rumah beliau sebagai rumah.

 

Kecuali satu rumah. Rumah di Bandung.

 

Rumah yang sekarang — menurut surat ini — menjadi milikku.

 

*"...Bapak diwajibkan hadir untuk proses serah terima properti di Jalan Sanggara nomor dua belas, Lembang. Kunci telah dititipkan kepada notaris yang bersangkutan. Mohon dikonfirmasi paling lambat tanggal tiga puluh April..."*

 

Aku membaca kalimat itu tiga kali sebelum otakku mulai memproses.

 

Jalan Sanggara.

 

Rumah itu.

 

Aku menaruh surat itu di meja dengan pelan, seolah ia bom yang bisa meledak kalau diletakkan dengan salah. Aku berdiri. Aku berjalan ke jendela. Aku membuka tirai. Jakarta di luar sana tampak seperti biasa — macet, kelabu, tidak peduli.

 

Aku menutup tirai lagi.

 

Rumah di Lembang. Rumah yang aku dan Laras bangun bersama setelah menikah. Tanahnya kecil, tapi kami memilihnya karena ada pohon jambu tua di halaman belakang, dan Laras bilang pohon itu mengingatkannya pada rumah neneknya. Aku yang merancang denahnya. Laras yang memilih warna setiap dinding. Aku memasang sendiri rak bukunya. Laras menanam bunga di bawah jendela dapur.

 

Dan aku belum pernah menginjakkan kaki di rumah itu sejak dua tahun lalu.

 

Dua tahun, satu bulan, tujuh belas hari.

 

Aku menghitungnya tanpa perlu menghitungnya. Angka itu selalu ada di kepalaku, seperti alarm yang tidak pernah bisa dimatikan.

 

Handphone-ku bergetar. Raka.

 

Aku menatap nama itu lima detik sebelum mengangkat.

 

"Kamu sudah buka amplopnya?"

 

"Baru saja."

 

"Dan?"

 

"Dan apa?"

 

Raka menghela napas di ujung sana. Napas yang panjang. Napas yang kuhafal. "Sen. Kamu harus ke sana."

 

"Aku bisa minta notaris yang urus."

 

"Tidak bisa. Kamu harus tanda tangan sendiri. Itu aturan. Selain itu—"

 

"Selain itu apa?"

 

Jeda.

 

"Selain itu, Ibu Wulan menulis catatan pribadi untuk kamu. Notaris bilang, dia diminta menyerahkannya langsung ke tangan kamu. Di rumah itu. Bukan di mana-mana lagi."

 

Aku menertawakan udara kosong.

 

"Dia dramatis, ya."

 

"Dia ibu tiri kamu, Sen. Dia punya hak buat dramatis."

 

Aku menutup mata. Aku merasa lelah — bukan lelah tubuh, tapi lelah jenis yang berbeda. Lelah yang membuatku mengerti kenapa orang-orang tua kadang tidur dua belas jam sehari.

 

"Kapan aku harus ke sana?"

 

"Paling lambat dua minggu lagi. Tapi Sen—"

 

"Iya?"

 

"Aku tahu ini berat. Tapi mungkin ini juga—"

 

"Jangan mulai."

 

"Dengerin dulu—"

 

"Raka. Jangan."

 

Ia diam. Aku mendengarkan napasnya saja selama beberapa detik. Ia sahabatku sejak SMA. Ia pengacara yang baik, orang yang lebih baik. Ia satu-satunya yang tidak menyerah padaku selama dua tahun terakhir, bahkan ketika aku menolak semua telepon, semua undangan, semua usahanya untuk menyeretku kembali ke dunia yang masih berputar.

 

Ia berhak mengatakan sesuatu. Tapi aku belum siap mendengarnya.

 

"Aku akan ke sana," kataku akhirnya. "Minggu depan."

 

"Aku temani?"

 

"Tidak usah."

 

"Sen—"

 

"Aku bilang tidak usah, Rak. Aku... aku butuh sendirian dulu. Di rumah itu."

 

Raka diam lagi. Lalu: "Oke. Tapi telepon aku kalau ada apa-apa. Apa saja. Aku angkat, jam berapa pun."

 

"Oke."

 

"Arsen."

 

"Apa?"

 

"Rumah itu sudah menunggumu terlalu lama."

 

Aku menutup telepon sebelum suaraku pecah.

 

---

 

Aku tidak langsung bergerak. Aku duduk di sofa selama entah berapa lama — mungkin satu jam, mungkin tiga — menatap langit-langit seperti itu punya jawaban. Kopiku sudah benar-benar dingin sekarang. Aku tidak peduli.

 

Rumah itu sudah menunggumu terlalu lama.

 

Kalimat Raka menggantung di udara ruangan. Aku memutarnya berkali-kali di kepala, mencoba memahami kenapa ia terdengar seperti ancaman dan doa sekaligus.

 

Rumah yang menunggu.

 

Siapa yang memikirkan rumah seperti itu? Rumah adalah bangunan. Batu bata, semen, genteng. Rumah tidak menunggu. Rumah tidak merasa apa-apa.

 

Tapi aku tahu, dalam hati yang paling jujur, bahwa rumah di Lembang itu tidak pernah menjadi *hanya* rumah. Itu adalah wadah dari segala hal yang pernah kami punya — aku dan Laras. Setiap sudutnya adalah percakapan. Setiap dinding adalah keputusan yang kami ambil bersama. Meja makan kayu itu kami beli di pasar loak saat gaji pertama Laras cair. Lemari pakaian itu kami rakit sendiri selama satu akhir pekan, dengan Laras mengomel karena instruksinya dalam bahasa Jerman dan aku mengaku-aku bisa membaca bahasa Jerman padahal tidak bisa.

 

Rumah itu bukan ruang. Rumah itu adalah waktu yang membeku.

 

Dan aku meninggalkannya — membuangnya, lebih tepatnya — karena aku tidak bisa menanggung beratnya lagi.

 

Sekarang ia memanggilku kembali. Atau Ibu Wulan yang memanggilku kembali, melalui rumah itu, melalui surat ini, melalui catatan yang menunggu di tempat yang paling tidak ingin kukunjungi di muka bumi.

 

Aku berdiri. Aku pergi ke dapur. Aku membuka kulkas. Tidak ada apa-apa kecuali dua kaleng bir dan sekotak susu yang mungkin sudah basi.

 

Aku tertawa pelan. Tidak ada yang lucu. Tapi kadang tawa keluar sendiri, karena opsi yang lain — menangis — terasa terlalu melelahkan.

 

---

 

Malam itu aku tidak bisa tidur.

 

Aku membuka laci meja kerja, laci yang hampir tidak pernah kusentuh selama dua tahun terakhir. Di dalamnya, di bagian paling belakang, ada bingkai foto yang dulu kupajang di meja kantor. Aku memindahkannya ke sini saat aku berhenti pergi ke kantor. Lalu aku menutup laci itu dan tidak membukanya lagi.

 

Aku mengeluarkan bingkai itu sekarang.

 

Laras tersenyum padaku dari balik kaca. Rambutnya digulung longgar. Ia memakai kardigan rajut abu-abu — kardigan kesayangannya, yang ia pakai di musim apa saja. Di belakang punggungnya, pantai Parangtritis. Angin mengangkat ujung kardigannya. Matanya menyipit karena tertawa.

 

Aku yang memotret foto itu.

 

Aku masih ingat perasaan saat shutter kamera berbunyi. Aku ingat aku berpikir — *ini orang yang akan aku kawini.* Kami sudah bertunangan saat itu. Kami akan menikah tiga bulan kemudian. Tapi di detik itu, di pantai itu, dengan Laras yang menertawakan sesuatu yang sekarang aku lupa — di detik itulah aku betul-betul menyadari bahwa aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamanya.

 

Aku meletakkan bingkai itu menelungkup di meja.

 

Dua tahun. Aku sudah dua tahun tidak berani melihat foto itu lebih dari lima detik.

 

Handphone-ku bergetar lagi. Pesan dari Raka.

 

*"Sen, dr. Maheswari titip pesan. Katanya kalau kamu ke Bandung, jangan lupa bawa obatnya. Dan teleponlah dia. Dia nggak akan marah."*

 

Aku menatap pesan itu lama.

 

Obat itu ada di laci kamar tidurku. Kotak kecil berwarna putih. Aku berhenti minum empat bulan yang lalu — atau tiga bulan, aku tidak yakin. Aku berhenti karena aku mulai merasa baik-baik saja. Atau merasa kosong yang setara dengan baik-baik saja. Sulit membedakannya.

 

dr. Maheswari juga berhak marah. Tapi ia tidak akan. Itu salah satu hal yang paling membuatku tidak nyaman tentangnya — ia tidak pernah marah, bahkan ketika seharusnya.

 

Aku membalas Raka dengan satu kata: *Oke.*

 

Aku tidak bermaksud menepati janji itu.

 

---

 

Aku memesan tiket kereta ke Bandung tiga hari kemudian.

 

Aku berkemas tidak banyak. Dua setel pakaian. Sikat gigi. Laptop. Charger. Buku yang sudah kubaca setengahnya selama empat bulan terakhir dan tidak pernah selesai-selesai.

 

Aku tidak membawa obat.

 

Aku juga tidak membawa foto Laras. Aku meninggalkannya di meja, tertelungkup, seperti sebelumnya.

 

Sebelum aku mengunci apartemen, aku berhenti di pintu. Aku menatap ruangan kecilku — tempat aku bersembunyi dari dunia selama dua tahun. Sofa yang membentuk lesung di tengahnya karena terlalu sering kududuki. Tumpukan piring di wastafel. Jendela yang selalu tertutup tirai.

 

Apartemen ini terasa seperti ruang tunggu. Seperti stasiun yang sebenarnya tidak pernah aku anggap tujuan.

 

Aku mengunci pintu.

 

Di dalam lift, aku melihat bayanganku di dinding stainless steel. Laki-laki tiga puluh dua tahun yang terlihat seperti empat puluh. Lingkaran hitam di bawah mata. Janggut yang belum dicukur. Rambut yang terlalu panjang. Jaket yang tidak cocok.

 

Aku tidak terlihat seperti orang yang akan pulang.

 

Aku terlihat seperti orang yang berjalan menuju sesuatu yang mungkin tidak akan bisa ia tinggalkan lagi.

 

Tapi aku tetap turun. Aku tetap naik taksi. Aku tetap duduk di kereta dan menatap jendela saat Jakarta memudar di belakangku, berubah jadi sawah, berubah jadi bukit, berubah jadi pinggiran kota yang tidak kukenal.

 

Rumah itu sudah menunggumu terlalu lama, kata Raka.

 

Aku tidak tahu kenapa kalimat itu terus bergema di kepala.

 

Tapi setiap kali ia bergema, aku merasakan sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan — sesuatu yang sangat mirip dengan rasa takut, tapi bercampur dengan sesuatu yang lain. Sesuatu yang hampir, hampir, hampir mirip dengan harapan.

 

Aku menutup mata.

 

Kereta terus melaju ke Bandung.

 

Rumah itu terus menunggu.