Aku terbangun karena aroma kopi.
Aroma itu masuk ke mimpiku dulu — aku mimpi aku sedang duduk di kafe kecil di Jalan Braga, yang biasa kudatangi dulu bersama Laras. Di mimpi itu, Laras duduk di seberangku, tertawa tentang sesuatu, dan aroma kopinya begitu kuat sehingga aku bisa merasakannya di lidah.
Lalu aku membuka mata, dan aroma itu masih ada.
Aku di sofa. Di rumah Lembang. Cahaya pagi masuk dari jendela ruang tamu — cahaya kuning keemasan yang tajam, khas pagi Lembang yang tidak tertutup polusi. Jam di dinding menunjukkan pukul setengah tujuh.
Dan dari arah dapur, aroma kopi menyeruak pelan.
Aku duduk perlahan. Leherku kaku karena tidur di posisi yang tidak tepat. Aku menggerakkan bahuku, menekan bagian yang nyeri. Aku mendengar suara kecil dari dapur — piring yang ditata, suara air dari keran, gemerincing halus sendok di gelas.
Ia masih di sini.
Aku mengucek mata. Aku merapikan rambutku dengan tangan. Aku berdiri dari sofa. Kakiku kaku juga. Aku berjalan pelan ke arah dapur.
Dan aku melihat Senja di sana.
Ia berdiri di konter dapur, membelakangiku, sedang mengaduk sesuatu di wajan. Ia memakai kardigan abu-abu yang sama seperti tadi malam. Rambutnya digulung dengan cara yang sama. Tapi ada apron putih yang kini terikat di pinggangnya — apron yang aku kenal. Apron yang dulu Laras beli di Pasar Baru, dengan gambar strawberry kecil di sudut kanan bawah.
Aku berhenti di ambang pintu dapur.
Senja menoleh. Ia tersenyum. Senyum kecil, tenang.
"Pagi, Pak. Bapak sudah bangun."
Aku tidak menjawab. Aku menatap apron itu.
Senja mengikuti arah pandangku. "Apronnya, Pak? Saya temukan di laci. Ibu Wulan bilang boleh saya pakai kalau sedang masak. Tapi kalau Bapak tidak suka—"
"Tidak," kataku cepat. Terlalu cepat. "Tidak apa-apa."
Aku berdeham. Aku melangkah masuk ke dapur. Meja makan kecil di tengah dapur sudah tertata — dua piring, dua gelas, dua cangkir kopi. Ada roti bakar, telur mata sapi, tomat iris, dan — aku berhenti sebentar saat melihatnya — sebotol kecil selai srikaya di tengah meja.
Selai srikaya itu berlabel. Bukan merek umum. Merek dari toko kue tua di Jalan Braga yang sudah tidak berproduksi lagi sejak tiga atau empat tahun lalu. Aku tahu karena aku pernah mencarinya setelah Laras meninggal dan tidak pernah menemukannya.
"Dari mana kamu dapat ini?" tanyaku, mengangkat botol itu.
Senja menoleh dari wajannya. "Oh, itu. Ibu Wulan masih simpan stok lama di lemari. Sepertinya dulu sering dibelikan untuk Bapak."
"Ibu Wulan tidak pernah beli selai ini."
"Mungkin beliau yang menerima titipan? Saya tidak tahu detailnya, Pak. Saya hanya menemukan beberapa di lemari atas."
Aku menaruh botol itu kembali di meja. Aku duduk di kursi. Aku mencoba tidak berpikir tentang siapa yang mungkin menitipkan selai srikaya ke Ibu Wulan, dan untuk apa, dan kapan.
Senja menuangkan telur mata sapi ke dalam piringku. Ia bergerak dengan hati-hati — ia tidak mendekat terlalu dekat, dan saat menyerahkan piring, jari-jarinya tidak menyentuh jari-jariku. Aku memperhatikan itu. Detail kecil, tapi aku memperhatikannya.
"Bapak mau kopinya gimana?" tanyanya.
"Apa?"
"Kopinya. Pahit atau manis?"
"Oh. Pahit. Tanpa gula."
"Sudah saya siapkan begitu, Pak. Cangkir sebelah kiri. Di sebelah kanan ada gula, kalau-kalau Bapak berubah pikiran."
Aku menatapnya. Ia tidak menoleh. Ia sedang memindahkan roti bakar dari panggangan ke piring.
"Gimana kamu tahu aku minum kopi tanpa gula?" tanyaku, mencoba membuat suaraku terdengar biasa.
Ia ragu sebentar. Satu detik, dua detik. Lalu: "Tebakan, Pak. Bapak terlihat seperti orang yang suka kopi pahit."
Ia tersenyum sedikit. Aku tidak tahu apakah senyum itu jujur atau senyum yang dipasang untuk menutupi sesuatu.
Aku menyesap kopi. Rasanya sempurna. Tidak terlalu asam, tidak terlalu pahit. Perbandingan air dan bubuk kopi yang pas. Seperti kopi yang sudah diracik khusus untuk lidahku.
---
Kami makan dalam diam untuk beberapa menit.
Atau lebih tepatnya, aku makan. Senja duduk di kursi di seberangku, tapi ia tidak menyentuh makanannya. Ia hanya memegang cangkir kopinya dengan dua tangan, seperti orang yang sedang menghangatkan jari dari dingin.
"Kamu nggak makan?" tanyaku.
"Saya sudah makan tadi subuh, Pak. Nanti lapar lagi baru makan lagi."
Aku mengangguk. Aku mengambil gigitan roti bakar dengan selai srikaya. Rasanya — aku harus mengakui — sangat enak. Roti yang dipanggang pas, selai yang masih segar meskipun katanya dari stok lama. Aku memejamkan mata sebentar tanpa sadar.
"Enak?" tanya Senja pelan.
Aku membuka mata. Ia menatapku dengan ekspresi yang sulit kubaca. Bukan sekadar ingin tahu. Lebih seperti... harapan. Seperti jawabanku penting.
"Iya," kataku. "Enak."
Ia tersenyum. Senyum yang kali ini lebih lebar, meski masih lembut.
"Syukurlah."
Ada jeda. Aku menyesap kopi lagi. Senja menatap ke luar jendela dapur. Cahaya pagi jatuh di wajahnya, membuat matanya terlihat lebih terang — cokelat dengan sedikit kilau emas di tengahnya.
"Senja?"
"Iya, Pak?"
"Aku minta maaf soal semalam."
Ia menatap kembali padaku. "Minta maaf kenapa, Pak?"
"Aku... agak keras. Aku nggak seharusnya bicara begitu."
Ia menggeleng pelan. "Saya mengerti, Pak. Saya memang mengagetkan Bapak. Saya juga minta maaf karena tidak memperkenalkan diri lebih dulu."
"Bukan salahmu."
"Tidak juga salah Bapak."
Kami saling menatap sebentar. Ia mengalihkan pandangan lebih dulu, ke cangkir kopinya.
Aku meneruskan makan. Aku sadar aku lebih lapar dari yang kukira. Aku menghabiskan roti bakar pertama dengan cepat, dan Senja — tanpa bertanya — mengambilkan roti bakar kedua dari panggangan dan menaruhnya di piringku.
"Terima kasih," kataku.
"Sama-sama, Pak."
---
Setelah sarapan, Senja membereskan piring. Ia menolak saat aku mencoba membantu.
"Bapak istirahat saja. Ini pekerjaan saya."
"Aku nggak mau jadi tamu di rumah sendiri."
"Bapak bukan tamu, Pak. Tapi Bapak juga baru saja sampai. Istirahatlah dulu."
Aku mengalah. Aku pindah ke ruang tamu. Aku duduk di sofa. Aku mengambil ponselku.
Ada balasan dari Raka, dikirim jam empat pagi.
*Gak tahu soal pengurus rumah. Gue cek catatan Ibu Wulan nanti pagi. Siapa nama perempuan itu?*
Aku mengetik: *Senja.*
Aku melihat indikator "sedang mengetik" muncul di layar. Lalu hilang. Lalu muncul lagi.
Akhirnya Raka membalas: *Oke. Gue cek.*
Hanya itu.
Aku merasa ada sesuatu yang ganjil dari balasannya, tapi aku tidak bisa menentukan apa. Mungkin ia lelah. Mungkin ia belum minum kopi. Aku mengirim pesan lain:
*Rak, kamu kenapa?*
Ia membalas lebih cepat kali ini: *Gak apa-apa. Nanti gue telepon siangan ya.*
Aku menaruh ponsel di meja kopi.
Senja datang dari dapur. Ia membawa nampan kecil dengan cangkir kopi baru dan sepiring biskuit. Ia meletakkannya di meja.
"Saya buatkan kopi lagi, Pak. Kalau-kalau masih haus."
"Terima kasih, Senja."
"Bapak mau saya bersihkan kamar utama? Supaya malam ini Bapak bisa tidur di sana?"
Aku ragu. Aku tidak ingin tidur di kamar itu. Tapi aku juga tidak ingin tidur di sofa lagi untuk malam kedua — leherku sudah protes dari sekarang. Dan aku tidak mau terlihat terlalu aneh di depan Senja, siapa pun ia sebenarnya.
"Oke. Boleh. Terima kasih."
Ia mengangguk. Ia hendak beranjak, tapi lalu berhenti.
"Pak?"
"Iya?"
"Di kamar itu... ada barang-barang lama. Baju, beberapa perhiasan, buku. Apa yang harus saya lakukan dengan itu?"
Aku menelan ludah.
"Barang-barang siapa?"
"Saya... tidak tahu, Pak. Perempuan, sepertinya. Saya tidak membuka lemari secara menyeluruh. Ibu Wulan bilang jangan."
Barang-barang Laras. Aku meninggalkannya persis seperti ia meninggalkannya. Aku tidak pernah punya keberanian untuk merapikannya.
"Jangan disentuh dulu," kataku. "Biarkan saja seperti itu. Aku... aku akan urus sendiri nanti."
"Baik, Pak."
Ia pergi ke arah kamar utama. Aku mendengar suara kain dibuka — dari ruang tamu, aku bisa mendengarnya meski pelan. Seprai yang diganti. Jendela yang dibuka. Suara angin masuk ke kamar yang sudah dua tahun tidak dihembus udara segar.
Aku memejamkan mata. Aku mencoba tidak memikirkan apa yang sedang ia lihat di kamar itu — kemeja Laras yang masih tergantung di lemari, parfumnya yang mungkin masih ada di meja rias, jam tangan yang ia lepas di meja nakas malam itu, sebelum kami pergi ke acara yang tidak pernah sampai.
---
Sekitar sepuluh menit kemudian, Senja kembali ke ruang tamu.
"Kamar sudah bersih, Pak. Saya ganti seprai dan buka jendela. Tapi saya tidak sentuh lemari dan meja rias, seperti yang Bapak minta."
"Terima kasih."
"Bapak mau saya buatkan makan siang nanti?"
"Nggak usah. Aku mungkin keluar sebentar. Ada yang mau aku lihat."
Ia mengangguk.
"Bapak mau saya ikut?"
Aku menatapnya. Pertanyaan itu aneh — bukan karena tidak masuk akal, tapi karena cara ia menanyakannya. Seperti ia benar-benar ingin ikut. Seperti ia tidak ingin ditinggal di rumah sendirian.
"Nggak usah," jawabku pelan. "Kamu di sini saja."
Sesuatu berkedip di matanya. Sebentar. Lalu hilang.
"Baik, Pak."
Ia berbalik. Ia kembali ke dapur. Aku mendengar suara keran yang dibuka, piring yang dicuci.
Aku menatap ke arah piano di sudut ruang tamu.
Kain putih yang tadi malam jatuh, sekarang terlipat rapi di atas bangku — seperti yang tadi kulihat semalam. Tapi penutup tutsnya tidak lagi tertutup kain. Tuts piano itu terlihat dari sini, putih dan hitam, mengkilap di cahaya pagi.
Aku berjalan ke arah piano.
Aku berdiri di depannya. Aku meletakkan jariku di satu tuts — tuts C tengah. Aku menekannya pelan.
Nada itu berbunyi. Bersih. Hanya sedikit meleset dari nada sempurna — seolah piano ini sudah lama tidak ditala, tapi tidak cukup lama untuk betul-betul rusak.
Di atas piano, ada partitur yang terbuka.
"Hujan Bulan Juni."
Tulisan tangannya — di sudut kanan atas, di atas tanda nada — aku tidak akan pernah salah mengenalinya.
Tulisan Laras.
Aku mundur satu langkah. Lalu dua. Aku menabrak meja kopi.
Dari dapur, aku mendengar suara Senja bernyanyi pelan. Tanpa kata. Hanya melodi. Melodi yang sama.
"Hujan Bulan Juni."
---
Aku keluar rumah sebelum tengah hari.
Aku tidak bilang ke mana aku pergi. Aku hanya mengambil jaket, memakai sepatu, dan berjalan keluar. Senja tidak menahanku. Ia hanya berkata, "Hati-hati di jalan, Pak," dari dapur, dan tidak menoleh.
Udara luar terasa lebih mudah dihirup.
Aku berjalan ke warung kecil di ujung gang. Aku pesan teh manis dan duduk di bangku kayu. Ibu pemilik warung menyambutku dengan senyum. Aku tidak mengenalinya dari dulu. Mungkin warung ini baru.
"Bapak dari rumah nomor dua belas?" tanya ibu itu.
"Iya."
"Ooh. Saya kira rumah itu sudah kosong dari lama. Senang rasanya ada yang pulang."
"Rumah itu memang kosong, Bu. Saya baru pulang semalam."
Ibu itu mengernyit sedikit. "Kosong? Tapi saya sering lihat lampu di rumah itu menyala malam-malam. Bu Wulan yang sudah lama meninggal. Saya pikir ada yang menjaga."
Aku meletakkan gelas teh pelan-pelan.
"Ibu sering lihat orang keluar masuk rumah itu?"
Ibu itu menggeleng. "Itu dia yang aneh, Pak. Lampunya sering nyala, tapi saya belum pernah lihat ada orang yang keluar. Atau masuk. Tidak pernah, selama setahun terakhir ini. Saya pikir Bu Wulan pasang lampu otomatis saja, biar rumahnya aman."
Aku menelan ludah.
"Ibu yakin? Nggak ada pembantu atau pengurus rumah?"
"Tidak ada, Pak. Saya yang jualan di sini tiap hari dari pagi sampai malam. Kalau ada yang keluar masuk, pasti saya lihat. Rumah itu pagarnya menghadap gang ini. Nggak mungkin saya nggak lihat."
Aku mencoba menjaga ekspresiku tetap tenang.
"Oke. Makasih, Bu."
Aku membayar teh itu. Aku berjalan kembali ke rumah dengan langkah yang terasa berat.
Dari luar pagar, aku bisa melihat jendela dapur. Cahaya pagi masuk ke sana, dan aku bisa melihat siluet seseorang — Senja — sedang berdiri di konter, memotong sesuatu dengan pelan.
Ia sedang ada di rumah.
Ia selalu ada di rumah.
Dan menurut ibu warung, tidak ada seorang pun yang pernah melihat ia keluar masuk.
Tidak pernah.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar