Stasiun Bandung tidak berubah.


Aku tidak tahu kenapa aku berharap ia berubah. Mungkin karena aku sudah berubah — atau setidaknya berubah bentuk, meski belum tentu berubah ke arah yang lebih baik. Rasanya tidak adil kalau tempat-tempat tetap sama sementara orang-orang pecah perlahan-lahan.


Tapi stasiun itu tetap sama. Atap tingginya yang dicat putih. Papan keberangkatan yang berkedip-kedip sebentar setiap kali angka berubah. Bau kopi dari warung kecil di sudut peron. Dan udara — udara Bandung yang selalu satu atau dua derajat lebih sejuk dari yang kuingat, sampai aku ingat lagi bahwa ya, Bandung memang begini.


Aku menyeret koper kecilku ke luar. Taksi sudah menunggu di pinggir jalan.


"Ke mana, Pak?" tanya sopir.


"Lembang. Jalan Sanggara."


Ia mengangguk. Taksi mulai bergerak. Aku tidak berkata apa-apa selama sisa perjalanan. Sopir itu juga tidak memaksa percakapan — salah satu alasan aku suka Bandung. Orang-orangnya tahu kapan harus diam.


Perjalanan ke Lembang memakan waktu hampir satu setengah jam. Macet. Selalu macet di bagian atas Setiabudhi. Aku menatap jendela — deretan factory outlet yang sebagian sudah tutup, sebagian berubah jadi kafe, sebagian masih berdiri seperti hantu dekade lalu yang menolak pergi.


Di satu titik, taksi melewati tikungan di Lembang yang tidak pernah kulupakan. Jalan itu sudah diperbaiki sekarang. Aspalnya hitam pekat. Pembatas jalan baru. Lampu penerangan jalan yang dulu tidak ada, sekarang berdiri tegak setiap lima puluh meter.


Aku menahan napas sebentar tanpa sadar.


Sopir tidak memperhatikan. Ia sibuk memaki mobil lain yang menyelip.


Aku mengembuskan napas pelan-pelan. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri — kalau aku pulang ke rumah itu, aku tidak akan mampir ke tempat itu. Tidak dulu. Mungkin tidak akan pernah. Aku belum tahu.


Taksi melaju terus. Tikungan itu tertinggal di belakang. Aku membuka jendela dan membiarkan angin Lembang menampar wajahku — angin yang dingin, berbau tanah basah, dan samar-samar, aroma kopi dari kebun yang entah di mana.


"Sebelah sini, Pak?" tanya sopir.


Kami sudah masuk Jalan Sanggara. Deretan rumah-rumah kecil dengan pagar kayu, beberapa dengan pohon mangga besar di halaman. Semuanya sama seperti ingatanku, dan sekaligus berbeda — seperti melihat foto lama yang warnanya sudah pudar.


"Nomor dua belas. Yang ada pagar besi hitamnya."


Sopir mengangguk. Ia melambatkan laju. Aku melihat pagar itu dari jauh.


Dan aku melihat rumah itu.


---


Aku tidak turun dari taksi selama hampir satu menit.


Sopir menunggu dengan sabar. Mungkin ia pernah mengantar orang-orang seperti aku sebelumnya — orang yang pulang ke tempat yang tidak ingin mereka datangi. Ia hanya mematikan meter dan menunggu.


Aku menatap rumah itu lewat jendela taksi.


Cat putihnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Pagar besinya berkarat di sudut bawah. Halaman depan penuh rumput liar yang tingginya sampai lutut. Pohon jambu tua di samping — yang dulu menjadi alasan kami memilih tanah ini — masih berdiri, tapi setengah daunnya sudah kering.


Rumah itu tidak menyambutku.


Rumah itu menatapku seperti teman lama yang kecewa karena terlalu lama kutinggal.


"Pak?" tanya sopir.


"Iya. Maaf."


Aku turun. Aku membayar. Aku menyeret koperku keluar dari bagasi. Sopir mengangguk sekali, lalu pergi. Suara mesin taksinya memudar perlahan di kejauhan.


Dan aku berdiri sendirian di depan rumah yang dulu kubangun.


---


Kuncinya ada di kantong jaketku.


Notaris mengirimkannya lewat kurir tiga hari yang lalu, ketika aku mengonfirmasi kehadiranku. Kunci kecil, tunggal, dengan gantungan kunci dari kayu yang aku tidak kenal. Mungkin Ibu Wulan yang menambahkannya. Kayunya halus, berbentuk hati kecil yang canggung. Seperti hasil kerajinan anak SD.


Aku mengeluarkan kunci itu. Aku menatapnya sebentar.


Lalu aku mendorong pagar. Engselnya berderit keras, suara yang menusuk ketenangan sore. Aku berjalan melewati halaman. Rumput liar menyerempet celana panjangku. Aku sampai di teras.


Aku berhenti.


Mengapa aku ragu?


Ini hanya rumah. Bangunan. Kayu dan beton dan kaca. Tidak ada yang menakutkan di balik pintu itu — tidak ada apa-apa, sebenarnya. Hanya debu, mungkin. Perabot yang tertutup kain putih. Aroma rumah kosong.


Tapi tanganku gemetar saat memegang pintu.


Aku memaksa diriku. Aku memutar kunci. Kuncinya berbunyi — klik kecil yang terdengar terlalu keras di telinga. Aku mendorong pintu.


Pintu terbuka.


Aku masuk.


---


Bau rumah menyambutku lebih dulu dari pemandangan.


Bau yang aneh — bukan bau apek yang kuduga. Bukan bau kayu tua atau debu yang bertumpuk. Ini bau yang lebih... hangat. Seperti bau rumah yang masih dihuni. Samar-samar ada aroma vanila — mungkin dari pengharum ruangan yang Ibu Wulan pernah pasang. Dan di bawahnya, samar sekali, aroma yang lebih lembut. Aroma yang kukenal tapi tidak bisa kunamai.


Aku berdiri di ambang pintu selama beberapa detik.


Lalu aku masuk.


Ruang tamu terbuka di depanku. Sofa abu-abu yang kami beli tahun kelima. Meja kopi kayu dari pasar loak itu. Rak buku di dinding timur. Piano tua di sudut ruangan — yang dulu milik nenek Laras, yang kami bawa dari Yogya dengan susah payah.


Piano itu tertutup kain putih sekarang.


Ibu Wulan yang menutupinya. Tidak ada yang lain yang tahu bahwa piano itu penting.


Aku menelan ludah. Aku memaksa diriku melanjutkan langkah.


Rumah itu bersih. Itu yang mengejutkanku. Aku kira aku akan menemukan sarang laba-laba di sudut-sudut, debu setebal tiga senti di meja, mungkin kecoa atau tikus atau dua-duanya. Tapi tidak. Lantainya bersih. Meja kopi hanya berdebu tipis. Sofa masih tegak, tidak berjamur.


Seseorang telah merawatnya.


Pikiran itu mengusikku. Ibu Wulan tidak mungkin setiap minggu ke sini sendirian — beliau sudah tua, dan rumahnya sendiri di Bandung kota. Pasti ada petugas kebersihan yang disewa. Tapi catatan notaris tidak menyebut tentang itu.


Aku mencatat dalam hati untuk menanyakannya nanti. Bukan sekarang.


Aku berjalan ke tengah ruang tamu. Lantai kayu berbunyi kecil di bawah sepatuku. Aku berhenti di depan piano. Kain putih itu sudah sedikit menguning di ujungnya. Aku mengangkat sudutnya.


Tuts piano di bawahnya masih mengkilap. Seolah baru saja dibersihkan.


Aku menurunkan kain itu lagi.


---


Aku menjelajahi rumah dengan pelan, seperti turis di museum yang tidak yakin apakah ia boleh menyentuh sesuatu.


Dapur: bersih. Panci-panci tergantung di dinding. Rak bumbu masih ada, meskipun beberapa toplesnya sudah kosong. Kulkas bersih — dan menyala. Siapa yang menyalakan kulkas? Aku membukanya. Kosong, kecuali satu botol air mineral dan sekaleng susu kental manis yang belum kedaluwarsa. Tanggal kedaluwarsa: bulan depan.


Seseorang baru-baru ini di sini.


Aku menutup kulkas. Aku menggelengkan kepala. *Tenang, Arsen. Mungkin Ibu Wulan minta tukang kebun yang merangkap pengurus rumah untuk membeli kebutuhan dasar sebelum kamu datang. Itu wajar.*


Aku berjalan ke kamar tidur utama.


Dan di sini aku berhenti sebentar lebih lama.


Tempat tidurnya dirapikan. Seprai putih, tanpa lipatan. Selimut yang dulu dibeli Laras di Bali — motif ikat biru tua — terlipat rapi di ujung kaki tempat tidur. Bantal empat buah, dua di setiap sisi. Di meja nakas sebelah kiri — sisi yang dulu kupakai — ada cangkir kosong dan lampu baca.


Aku menahan napas. Aku tidak sadar aku menahannya sampai aku mengembuskannya dengan gemetar.


Aku tidak akan tidur di kamar ini malam ini. Itu keputusan pertama yang kuambil.


Aku melanjutkan. Kamar mandi. Kamar tamu — yang dulu kami rencanakan untuk anak, tapi tidak sempat kami gunakan. Lorong kecil. Kamar Ibu Wulan — yang beliau tempati sesekali saat berkunjung. Aku tidak masuk ke situ. Aku menutup pintunya lagi.


Aku kembali ke ruang tamu. Aku duduk di sofa. Aku menaruh kepalaku di tangan.


Rumah ini tidak merasa seperti rumah kosong.


Rumah ini merasa seperti rumah yang pemiliknya baru saja keluar sebentar.


---


Aku memutuskan untuk tidur di ruang tamu.


Aku tidak ingin masuk ke kamar utama. Sofa cukup panjang. Aku bisa tidur meringkuk kalau perlu. Aku mengeluarkan selimut dari dalam koperku — aku sengaja membawanya, entah kenapa, seolah aku sudah tahu aku tidak akan berani menyentuh selimut di kamar.


Aku membuka tas. Aku mengambil laptop dan meletakkannya di meja kopi. Aku mengambil buku yang sudah empat bulan tidak kuselesaikan, menaruhnya di samping laptop. Ritual kecil untuk membuat ruangan ini terasa sedikit lebih milikku.


Jam di dinding menunjukkan pukul enam sore. Langit di luar mulai merah. Aku menyalakan lampu ruang tamu. Bohlam kuning hangat. Salah satunya mati — yang di sudut — tapi dua yang lain masih menyala.


Aku lapar, tapi aku tidak ingin keluar. Aku juga tidak ingin memasak. Aku membuka tas lagi, mengeluarkan roti kering yang kubeli di stasiun tadi, dan memakannya di sofa sambil menatap langit-langit.


Aku mengirim pesan ke Raka: *Sudah sampai.*


Ia membalas hampir seketika: *Gimana?*


Aku tidak tahu harus jawab apa. Aku menulis: *Rumahnya bersih.* Lalu aku menghapusnya. Aku menulis: *Oke.* Aku mengirimnya.


Ia membalas: *Kalau butuh apa-apa, telepon.*


*Oke*, aku mengetik lagi.


Aku menaruh handphone di meja. Aku memejamkan mata. Aku merasakan kelelahan yang bukan kelelahan biasa — kelelahan yang menumpuk dari dua tahun, yang baru sekarang mengizinkan dirinya keluar, sekarang bahwa aku berada di tempat di mana ia berhak ada.


Aku tertidur di sofa tanpa melepas jaket.


---


Aku terbangun karena suara piano.


Awalnya aku tidak sadar. Aku kira itu mimpi. Aku pernah bermimpi Laras bermain piano berkali-kali selama dua tahun terakhir — lagu yang sama, "Hujan Bulan Juni", aransemennya sendiri. Di mimpi-mimpiku ia selalu menoleh dan tersenyum dan aku selalu bangun tepat sebelum ia mengatakan sesuatu.


Tapi aku tidak sedang bermimpi.


Aku tahu karena aku membuka mata dan melihat langit-langit ruang tamu. Lampu masih menyala. Jam menunjukkan pukul sebelas malam. Dan suara piano itu masih terdengar.


Pelan. Lembut. Tidak sempurna — ada satu nada yang selalu tertinggal sedikit, seperti piano yang sudah lama tidak ditala.


Lagu itu... aku kenal lagu itu.


Aku duduk perlahan. Darahku terasa mengalir dingin di lengan.


"Hujan Bulan Juni."


Aku tahu aransemen ini. Aku tahu pemainnya. Atau setidaknya, aku tahu satu orang yang memainkan lagu ini persis seperti ini.


Tapi orang itu sudah dua tahun tidak bersamaku.


Aku berdiri. Aku mengintip ke arah piano.


Kain putih itu masih di sana, menutupi tuts.


Aku menatapnya lama.


Tidak ada yang memainkan piano.


Tapi suaranya masih terdengar — dari suatu tempat di rumah ini. Pelan. Di kejauhan. Tapi jelas. Tidak mungkin aku salah dengar.


Aku berjalan pelan ke arah sumber suara. Ia terdengar seperti berasal dari ruang lain. Dapur? Bukan. Kamar utama? Bukan.


Suara itu terdengar seperti berasal dari luar rumah — dari halaman belakang.


Jantungku berdetak keras sekarang. Aku menelan ludah. Aku meraih ponsel di meja kopi — tanganku hampir menjatuhkannya. Aku membuka pintu ke arah halaman belakang.


Suara piano itu berhenti.


Aku berdiri di ambang pintu. Halaman belakang kosong. Hanya pohon jambu tua yang bergoyang pelan di angin malam. Bintang-bintang di langit. Tidak ada siapa-siapa.


Aku berdiri di situ selama hampir satu menit.


Lalu, di belakangku — di dalam rumah — aku mendengar suara tuts piano lagi.


Satu nada. Pelan.


Lalu nada kedua.


Lalu nada ketiga.


Aku berbalik perlahan.


Dari ruang tamu, melalui lorong, aku bisa melihat sebagian piano dari sudutku. Kain putih yang tadi menutupinya — tergeletak di lantai.


Dan pemain piano itu sedang duduk di bangkunya, punggungnya menghadapku, memainkan lagu kesayangan istriku yang sudah meninggal dua tahun yang lalu.