Aku duduk di teras depan sampai matahari mulai condong ke barat.


Aku tidak masuk ke dalam rumah. Aku tidak tahu bagaimana menghadapinya — menghadapi Senja, menghadapi pertanyaan yang menumpuk di kepalaku, menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang terlalu mengerikan untuk kuakui secara jujur.


Ibu warung salah. Itu kesimpulan yang paling rasional. Mungkin Senja selalu masuk lewat pintu belakang — rumah ini punya pintu belakang yang tersambung ke gang sempit menuju jalan lain. Mungkin Senja bekerja pada malam hari, jam-jam tidur ibu warung. Mungkin ada banyak penjelasan yang masuk akal.


Tapi setiap kali aku mencoba meyakinkan diri, ada bagian kecil di dadaku yang menolak.


Bagian itu mengingat cara Senja tidak pernah menyentuh jari-jariku saat menyerahkan cangkir. Cara ia tidak menjawab pertanyaan tentang kapan tepatnya ia mulai bekerja. Cara ia tahu aku minum kopi pahit.


Cara ia memainkan lagu itu.


Aku mengusap wajahku dengan kedua tangan. Aku butuh Raka. Aku butuh suara manusia yang bisa kupercaya penuh. Aku membuka ponsel — tapi justru Raka-lah yang menelepon lebih dulu.


"Rak."


"Sen. Lo di mana?"


"Di teras rumah."


Jeda sebentar. "Oke. Lo sendirian?"


"Iya. Kenapa?"


"Gue udah cek catatan Ibu Wulan. Yang dikirim notaris ke gue. Sen—"


Aku menunggu.


"—gue nggak nemu satu pun catatan soal pengurus rumah."


Aku menekan ponsel lebih keras ke telinga.


"Lo yakin?"


"Gue cek dua kali. Tiga kali. Catatan keuangan beliau lengkap, Sen. Ibu Wulan itu orangnya rapi. Semua pengeluaran dicatat, sampai level belanjaan mingguan. Nggak ada entry lima juta perbulan untuk pengurus rumah. Nggak ada entry untuk siapa pun yang namanya Senja. Bahkan nggak ada transaksi cash besar secara rutin yang nggak bisa dijelaskan."


Aku memejamkan mata.


"Mungkin beliau bayar dari sumber lain. Tabungan yang berbeda."


"Semua rekening beliau udah gue akses, Sen. Perintah pengadilan. Itu bagian dari proses waris. Nggak ada."


"Mungkin beliau nggak nyatat karena lupa."


"Ibu Wulan nggak pernah lupa. Lo tau itu."


Ya. Aku tahu. Ibu Wulan adalah orang yang menyimpan tanda terima parkir dari sepuluh tahun lalu. Kalau ia mempekerjakan seseorang, pasti ada jejaknya di suatu tempat.


"Rak, perempuan itu ada di rumah sekarang. Dia di dalam. Dia memasak untuk aku tadi pagi. Dia beneran ada."


"Gue nggak bilang dia nggak ada."


"Terus lo bilang apa?"


"Gue bilang... mungkin dia bukan yang dia bilang."


Aku tertawa pelan — tawa yang tidak lucu. "Oke. Jadi lo pikir dia apa? Penipu? Masuk ke rumah kosong, pura-pura jadi pengurus, supaya bisa mencuri apa?"


"Gue nggak tahu, Sen."


"Rumah ini nggak ada yang berharga. Serius. Elektronik udah lama. Nggak ada brankas. Perhiasan Laras yang—"


Aku berhenti. Aku tidak bisa melanjutkan.


"Sen. Gue harus nanya."


"Apa?"


Jeda lama.


"Lo masih minum obatnya?"


Aku diam.


"Sen."


"Nggak."


"Sejak kapan?"


"Beberapa bulan."


"Berapa bulan?"


"Empat. Mungkin lima."


Aku mendengar Raka mengembuskan napas di ujung sana. Bukan napas marah. Napas yang lebih menyedihkan dari itu.


"Sen, dr. Maheswari bilang lo belum boleh berhenti mendadak. Lo—"


"Aku nggak mau dengar itu sekarang, Rak."


"Oke. Oke. Gue nggak bakal lanjutin."


Jeda.


"Tapi Sen, denger. Gue cuma mau bilang — kalau lo lihat sesuatu yang ganjil, jangan langsung percaya itu beneran. Oke? Lo dua tahun nggak kemana-mana. Lo nggak minum obat selama lima bulan. Lo baru aja pulang ke rumah yang, jujur aja, bukan tempat yang emosinya gampang buat lo. Wajar kalau pikiran lo lagi... lagi nggak stabil."


"Aku lihat dia, Rak."


"Gue nggak bilang lo nggak lihat."


"Aku bicara sama dia. Kita makan bersama. Dia beneran ada."


"Gue percaya."


"Kalau lo percaya, kenapa—"


"Karena Sen, ada sesuatu yang aneh, dan gue cuma mau lo hati-hati. Itu aja. Lo bisa janji sama gue?"


Aku menelan ludah.


"Iya. Aku janji."


"Dan Sen."


"Hm?"


"Telepon dr. Maheswari. Serius. Besok. Atau lusa. Jangan sampai akhir minggu ini lewat tanpa lo telepon beliau."


"Oke, Rak."


"Gue nggak main-main."


"Iya. Aku ngerti."


Ia menutup telepon tanpa menutup dengan basa-basi. Itu tidak biasa. Raka biasanya selalu bilang, *"Jaga diri, Sen."* atau *"Telepon gue kapan aja."* Tapi kali ini ia hanya diam, lalu garis telepon terputus.


Aku menatap ponselku di tangan.


Di layar, waktu panggilan: 6 menit 23 detik.


---


Aku masuk ke rumah.


Aromanya — aroma kopi sudah hilang sekarang, diganti aroma yang lebih hangat, lebih bersahaja. Bumbu. Bawang yang digoreng pelan di minyak panas. Di dapur, Senja sedang memasak. Sesuatu di panci — aku tidak bisa melihatnya dari ruang tamu, tapi aromanya mengingatkanku pada sesuatu.


Soto ayam.


Laras dulu sering masak soto ayam untuk makan malam. Dengan kuah kuning yang ia belajar dari neneknya, yang ia klaim tidak ada restoran yang bisa menirunya.


Aku berdiri di ambang dapur.


Senja menoleh. Ia tersenyum.


"Oh, Bapak sudah pulang. Saya lagi masak soto. Saya nggak tahu Bapak akan keluar berapa lama, jadi saya mulai agak siangan."


"Dari mana kamu tahu aku suka soto?"


Ia ragu. Satu detik. "Tebakan juga, Pak. Ada bahan-bahan di kulkas. Sayuran, ayam. Dan Bandung lagi dingin. Soto cocok."


"Kulkas itu tadi pagi kosong."


Senyum itu tidak pudar, tapi ada sesuatu yang berkedip di matanya.


"Saya belanja tadi siang, Pak. Selagi Bapak keluar."


"Kamu keluar rumah?"


"Iya. Sebentar. Ke warung di seberang jalan."


"Ibu warung di seberang jalan nggak pernah lihat kamu."


Senyum Senja menghilang perlahan.


"Siapa yang Bapak tanya?"


"Ibu yang jualan di warung ujung gang. Aku mampir tadi. Dia bilang dia nggak pernah lihat siapa pun keluar masuk rumah ini selama setahun terakhir. Termasuk kamu."


Aku berusaha menjaga nada suaraku tetap tenang. Tapi aku mendengar ketegangan di suaraku sendiri — dan Senja pasti juga mendengarnya.


Ia mematikan api kompor. Ia mengelap tangannya di apron. Ia berbalik sepenuhnya menghadapku.


"Pak Arsen, saya bisa jelaskan."


"Jelaskan."


"Saya selalu masuk lewat pintu belakang. Ada gang kecil di belakang rumah, tersambung ke jalan Cimanggu. Saya naik angkot dari sana. Ibu warung tidak mungkin melihat saya karena memang saya tidak pernah lewat depan."


Masuk akal. Rumah ini memang punya pintu belakang. Aku lupa tadi.


Tapi aku masih belum puas.


"Ibu warung bilang lampu rumah ini sering menyala malam hari, tapi dia nggak pernah lihat siapa pun di rumah."


"Memang saya jarang ke depan, Pak. Saya lebih banyak di kamar belakang atau dapur."


"Dan Ibu Wulan tidak pernah mencatat pembayaran ke kamu."


Ia diam.


"Raka — sahabatku yang pengacara — sudah cek semua catatan Ibu Wulan. Nggak ada entry untuk kamu. Nggak ada entry untuk pengurus rumah. Nggak ada sama sekali."


Senja menunduk. Tangannya yang tadi terlipat di depan, sekarang menggenggam ujung apron. Aku melihat buku-buku jarinya yang memutih.


"Saya tidak tahu kenapa, Pak."


"Maksudnya?"


"Saya tidak tahu kenapa tidak ada catatan. Saya... saya hanya tahu saya di sini. Saya di sini sudah lama. Saya mengerjakan hal-hal yang harus dikerjakan. Kadang saya terbangun dan tidak ingat bagaimana saya sampai ke rumah ini."


Aku menatapnya lama.


"Apa maksud kamu kamu terbangun dan nggak ingat?"


Ia mengangkat wajahnya. Matanya berkaca-kaca.


"Pak Arsen, saya... saya tidak ingat banyak hal. Tentang diri saya. Tentang masa lalu saya. Saya tahu nama saya Senja. Saya tahu saya menjaga rumah ini. Tapi tentang keluarga saya, asal saya, di mana saya tinggal sebelumnya — saya tidak bisa mengingatnya. Saya pikir itu karena saya pernah sakit. Pernah kecelakaan. Saya tidak tahu. Kadang saya mencoba mengingat dan kepala saya sakit sekali."


Ia mengusap matanya dengan punggung tangan.


"Saya tidak berbohong, Pak. Saya betul-betul tidak tahu. Saya yakin saya pernah dipekerjakan di sini. Saya yakin ada seseorang yang peduli pada saya dan membawa saya ke sini. Tapi detailnya — saya tidak bisa mengingatnya."


Aku tidak tahu harus merasa apa.


Amnesia. Itu bisa menjelaskan beberapa hal. Orang yang pernah mengalami trauma berat bisa kehilangan ingatan. Ia mungkin memang dipekerjakan oleh Ibu Wulan atas dasar kasihan — Ibu Wulan memang orang yang suka menolong orang asing, itu yang pernah diceritakan ayahku dulu. Mungkin karena itulah tidak ada kontrak tertulis, tidak ada pencatatan resmi. Ibu Wulan mungkin membayarnya secara diam-diam, di luar pembukuan.


Tapi ini... ini terlalu banyak kebetulan.


"Senja."


"Iya, Pak?"


"Lagu tadi malam. 'Hujan Bulan Juni'. Itu aransemen yang spesifik. Bukan aransemen umum yang ada di mana-mana. Dari mana kamu belajar?"


Ia menatapku.


"Dari partitur di atas piano, Pak."


"Partitur itu tulisan tangan. Bukan partitur cetak."


"Iya. Saya tahu."


"Bagaimana kamu bisa baca aransemen tulisan tangan dengan sempurna, dengan detail-detail seperti jeda dan ritardando yang cuma penulisnya yang tahu?"


Ia menelan ludah.


"Saya... saya tidak tahu, Pak. Saya hanya main saja. Lagu itu, kadang rasanya sudah di jari saya. Seperti otot saya yang ingat. Saya tidak tahu dari mana."


Aku memejamkan mata. Aku mencoba bernapas.


Ada banyak kemungkinan yang bisa kuambil sekarang.


Satu: Senja benar-benar orang yang amnesia, kebetulan bisa memainkan piano, kebetulan dipekerjakan Ibu Wulan secara informal, kebetulan selalu masuk lewat pintu belakang. Rangkaian kebetulan yang mungkin terjadi kalau kau cukup beruntung atau cukup sial.


Dua: Senja adalah penipu yang jauh lebih cerdas dari yang kukira, yang berhasil mempersiapkan skenario ini dengan detail yang mengerikan — mengetahui kopi kesukaanku, lagu Laras, bahkan selai srikaya.


Tiga: Aku memang sudah gila. Seperti yang ditakutkan Raka. Seperti yang ditakutkan dr. Maheswari. Aku menciptakan seluruh perempuan ini di kepalaku — dan semua hal yang ia ceritakan, semua detail yang terasa nyata, adalah halusinasi sempurna yang otakku ciptakan karena aku tidak minum obat selama lima bulan.


Empat: Ada penjelasan yang tidak masuk dalam tiga kategori itu. Penjelasan yang tidak kumengerti. Penjelasan yang tidak ingin kumengerti.


Aku membuka mata.


Senja masih berdiri di depan kompor. Menunggu. Matanya masih berkaca-kaca.


"Pak Arsen tidak percaya saya, ya?" tanyanya pelan.


Aku tidak menjawab.


Ia mengangguk kecil, seperti mengerti.


"Kalau Bapak mau saya pergi, saya akan pergi. Saya tidak akan memaksa tinggal."


"Kamu mau pergi ke mana?"


Pertanyaan itu keluar sebelum aku sempat memikirkannya. Dan aku melihat Senja — untuk sepersekian detik — terlihat kebingungan. Kebingungan yang murni. Seperti ia tidak tahu jawabannya.


"Saya... saya tidak tahu, Pak."


Ia menunduk lagi.


"Mungkin itu juga kenapa saya terus di sini. Karena saya tidak tahu mau ke mana."


Aku tidak tahu kenapa jawaban itu membuat dadaku terasa sesak.


Aku tidak tahu kenapa aku tidak bisa menyuruhnya keluar, meskipun kepala logikaku mengatakan itulah yang seharusnya kulakukan.


Aku tidak tahu kenapa aku justru berkata:


"Makan sotonya sama aku. Kali ini kamu nggak boleh nolak."


Ia mengangkat wajahnya. Matanya masih basah, tapi ada senyum kecil sekarang — senyum yang tidak bisa disembunyikan.


"Baik, Pak."


---


Tapi malam itu, saat aku berbaring di kamar utama — yang sudah ia bersihkan dan ganti seprainya — aku tidak bisa tidur selama berjam-jam.


Aku menatap langit-langit. Aku menghitung retakan kecil di plafon yang dulu aku janji akan kuperbaiki tapi tidak pernah sempat.


Dan di luar kamar, di ruang tamu, aku mendengar langkah kaki yang pelan. Langkah yang tidak pernah mendekat ke pintu kamar, tidak pernah jauh juga. Langkah yang berjalan bolak-balik di ruang tamu sepanjang malam, seperti seseorang yang menunggu entah apa.


Aku tidak berani membuka pintu.


Aku hanya berbaring di sana, mendengar langkah itu, sampai akhirnya fajar datang dan rumah kembali menjadi sunyi.


Saat aku keluar kamar keesokan paginya, Senja sudah di dapur lagi. Membuat kopi. Tersenyum ke arahku.


Seolah malam sebelumnya tidak pernah terjadi.


Seolah ia tidak pernah berjalan di ruang tamu selama lima jam, dengan langkah yang tidak pernah lelah, menunggu sesuatu yang tidak pernah datang.