Gita mengusap permukaan meja marmer di ruang makan itu dengan gerakan pelan, berulang, dan penuh kehati-hatian. Ujung jemarinya merasakan dinginnya batu pualam hitam legam yang didatangkan khusus dari luar kota tiga tahun lalu. Ada sebuah senyum tipis, nyaris tak kasat mata, yang terbit di sudut bibir wanita berusia tiga puluh delapan tahun itu. Udara sejuk dari pendingin ruangan yang menyala senyap berpadu dengan aroma gurih rempah-rempah—aroma rendang daging sapi dan sup iga kesukaan suaminya yang masih mengepul pelan di atas pemanas keramik elegan di tengah meja.
Hari ini bukan hari biasa. Hari ini adalah tanggal dua belas. Tepat lima belas tahun usia pernikahan mereka.
Pandangan Gita menyapu ke sekeliling ruangan luas yang menjadi saksi bisu perjalanan hidupnya. Matanya menelusuri setiap sudut dengan perasaan bangga yang membuncah. Ia menatap lampu gantung kristal raksasa yang memendarkan cahaya hangat keemasan, memantul pada lantai granit yang selalu dipelnya sendiri hingga mengkilap karena ia tidak pernah benar-benar percaya pada hasil kerja asisten rumah tangga untuk hal-hal yang ia anggap personal. Pandangannya beralih pada sofa kulit asli berwarna cokelat tua di ruang keluarga yang empuk dan kokoh, lalu pada partisi kayu jati dengan ukiran Jepara dua muka yang memisahkan ruang tamu dan ruang keluarga.
Semuanya, setiap paku yang tertancap, setiap bata yang tersusun, setiap helai gorden beludru yang menggantung di jendela setinggi tiga meter itu, adalah hasil dari keringatnya. Ya, keringatnya yang harfiah. Keringat yang bercampur dengan air mata, darah, dan rasa lelah yang bertahun-tahun meremukkan tulang punggungnya.
Ingatannya perlahan melayang, ditarik mundur ke masa belasan tahun silam. Ingatan yang selalu ia simpan rapi sebagai pengingat agar ia tidak pernah menjadi manusia yang angkuh. Lima belas tahun lalu, jangankan meja marmer bernilai puluhan juta ini, alas makan mereka hanyalah selembar tikar pandan tipis yang ujung-ujungnya sudah terurai. Tikar itu digelar di atas lantai semen yang permukaannya tidak rata, selalu terasa basah dan lembap di sebuah kontrakan petak sempit di pinggiran kota. Kontrakan yang atap asbesnya selalu bocor setiap kali hujan deras turun, memaksa Gita menadahi air dengan panci-panci penyok dan baskom plastik yang sudah pudar warnanya.
Raka, suaminya, saat itu baru saja terkena pemutusan hubungan kerja dari sebuah pabrik tekstil berskala menengah. Pria itu terpuruk, kehilangan arah, dan menghabiskan hari-harinya dengan mengurung diri, merokok di teras depan sambil menatap jalanan berdebu dengan tatapan kosong. Gita-lah yang saat itu mengambil alih kemudi kapal yang hampir karam tersebut. Ia menolak untuk menyerah pada kemiskinan yang mencekik. Ia menolak melihat suaminya kelaparan.
Dengan modal nekat dan sisa uang pesangon Raka yang tak seberapa, Gita mulai membuat kue-kue basah. Ia bangun pada pukul dua dini hari, saat seluruh kota masih terlelap dalam mimpi indah mereka. Tangan Gita yang dulunya halus, mulai terbiasa dengan panasnya kukusan, kasarnya adonan, dan tajamnya pisau dapur. Ia mengadon tepung, mengukus putu ayu, membungkus lemper, hingga jari-jarinya melepuh, memerah, dan akhirnya menebal menjadi kapalan yang tak pernah bisa hilang hingga hari ini. Setelah matahari terbit, dengan mengendarai sepeda motor butut yang knalpotnya berasap tebal, ia berkeliling dari satu pasar ke pasar lain, menitipkan kue-kuenya di warung-warung kecil, menelan gengsi dan rasa malu saat ditolak atau diusir oleh pemilik warung yang sudah memiliki pemasok tetap.
Dari kue basah, kegigihan Gita membuahkan hasil. Ia mulai menerima pesanan katering kecil-kecilan untuk arisan ibu-ibu PKK, lalu beralih ke katering nasi kotak untuk acara kantor. Uang mulai terkumpul, selembar demi selembar rupiah ia simpan dengan teliti. Ketika ia melihat peluang yang lebih besar di bidang pakaian, Gita mengalihkan haluannya. Berbekal mesin jahit bekas yang pedalnya sering macet, ia menerima jahitan rumahan. Ia tidur hanya tiga jam sehari. Matanya cekung, punggungnya sering kali terasa seperti ditusuk-tusuk jarum tak kasat mata akibat terlalu lama membungkuk di depan mesin jahit. Sakit kepala yang mendera hanya ia obati dengan menelan dua butir parasetamol murahan yang dibelinya di warung ujung jalan, lalu ia akan kembali menatap tumpukan kain dan pola.
Gita bekerja layaknya sebuah mesin yang tidak memiliki tombol mati. Ia membesarkan konveksi kecilnya hingga memiliki puluhan mesin jahit industri, mempekerjakan puluhan karyawan, dan mendapatkan tender seragam dari berbagai perusahaan besar.
Sementara Raka?
Raka mengambil peran yang selalu ia sebut sebagai "bagian manajerial". Raka yang mengurus administrasi, hubungan luar, dan perbankan. Raka yang berdasi dan berpenampilan rapi menemui klien, sementara Gita berkutat dengan debu kain dan peluh di ruang produksi. Raka yang memegang kendali penuh atas semua uang yang masuk.
Gita tidak pernah keberatan. Sama sekali tidak. Baginya, pernikahan adalah sebuah penyatuan yang absolut. Raka adalah suaminya, imamnya, pelindungnya.
“Kamu ini istri yang luar biasa hebat, Ta. Aku yang atur semua urusan kertas, bank, dan birokrasi, ya. Kamu fokus saja berkreasi dan jaga kualitas produksi. Kita ini satu tim yang solid. Uangku, uangmu. Rumah ini, rumah kita. Semuanya untuk masa depan kita berdua.”
Kata-kata manis Raka malam itu, sekitar sepuluh tahun lalu, saat mereka pertama kali menyetor uang muka untuk tanah luas tempat rumah ini berdiri, masih terngiang sangat jelas di telinga Gita. Suara Raka yang berat dan menenangkan itu adalah mantra ajaib yang membuat Gita rela bekerja lebih keras lagi keesokan harinya. Ia sangat mempercayai pria itu dengan segenap jiwa dan raganya. Raka tidak pernah main tangan, tidak pernah berbicara kasar, dan selalu memujinya di depan orang lain. Di mata Gita, Raka adalah dermaga tempatnya bersandar saat ombak dunia bisnis terlalu ganas menghantamnya. Ia rela menyerahkan seluruh hasil jerih payahnya ke rekening atas nama Raka, membiarkan suaminya yang mengurus nama di setiap aset berharga mereka—mulai dari mobil, ruko tempat konveksi, hingga sertifikat rumah mewah ini. Toh, mereka adalah suami istri. Tidak ada yang perlu dicurigai dari pasangan hidup sendiri.
Gita menghela napas panjang, menarik dirinya kembali ke masa kini. Ia menunduk, melirik jam tangan perak tipis yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul setengah sembilan malam.
Seharusnya Raka sudah pulang sejak dua jam yang lalu. Tadi pagi, saat menyantap sarapan roti panggangnya, Raka telah berjanji dengan tatapan meyakinkan bahwa ia akan pulang lebih awal untuk merayakan hari jadi mereka yang kelima belas. Gita bahkan telah mempersiapkan dirinya dengan sebaik mungkin. Ia mengenakan tunik sutra berwarna salem muda yang jatuh pas di tubuhnya—baju mahal yang sangat jarang ia pakai karena takut terkena noda. Ia juga memoles wajahnya dengan riasan tipis; sedikit foundation untuk menutupi flek hitam akibat kelelahan, perona pipi warna persik, dan lipstik warna nude yang membuat wajahnya terlihat lebih segar. Sebuah usaha yang jarang ia lakukan karena setiap hari waktunya habis untuk memantau karyawan, mengecek stok kain, dan memeriksa laporan keuangan dari ruang kerjanya di rumah.
Gita meraih ponsel cerdasnya yang tergeletak di samping vas bunga mawar putih di atas meja makan. Ia membuka layar, mengetuk aplikasi pesan berlogo hijau.
Tiga pesan WhatsApp yang ia kirim sejak pukul enam sore tadi hanya menunjukkan dua centang abu-abu. Belum dibaca. Dua panggilan telepon yang ia lakukan pada pukul tujuh dan delapan tadi dialihkan ke kotak suara.
Ada sebuah perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba merayap naik dari perutnya, menyebar ke rongga dadanya seperti ribuan semut kecil yang menggerogoti ulu hatinya. Rasa dingin yang aneh tiba-tiba menyentuh tengkuknya. Tapi Gita, dengan kebiasaannya yang selalu menekan perasaan negatif, buru-buru menepis firasat itu jauh-jauh.
Mungkin Mas Raka sedang rapat mendadak dengan klien barunya dari Surabaya. Atau jalanan sedang macet total karena hujan rintik-rintik tadi sore. Jangan suudzon, Gita. Kamu tidak boleh merusak malam yang indah ini dengan pikiran buruk, batinnya menenangkan diri, mencoba merasionalisasi kecemasannya sendiri.
Gita meletakkan kembali ponselnya, lalu melangkah pelan menuju jendela kaca raksasa di ruang depan yang menghadap langsung ke halaman. Ia menyibakkan sedikit gorden beludru itu. Garasi luar berkapasitas dua mobil itu masih terlihat kosong di satu sisinya, hanya menyisakan mobil operasional konveksi. Taman kecil yang ia rawat sendiri dengan kedua tangannya setiap akhir pekan—berisi puluhan pot tanaman hias mahal, monstera, dan berbagai jenis anggrek bulan—tampak diam mematung dalam siraman cahaya lampu taman kekuningan. Rumah besar ini, tanpa suara bariton Raka yang biasa memanggil namanya saat pulang, terasa sangat sepi dan hampa, bagaikan sebuah museum mewah yang tak berpenghuni.
Tepat saat Gita mendesah pasrah dan hendak membalikkan badan kembali ke meja makan untuk mematikan pemanas keramik agar rendangnya tidak mengering, seberkas sorot lampu putih terang menyapu pagar besi hitam rumah mereka. Suara deru mesin mobil yang sangat ia kenal, suara roda yang bergesekan dengan paving block halaman, terdengar memasuki area rumah.
Senyum Gita merekah seketika, cerah seperti matahari pagi yang menembus awan mendung. Beban berat, kecemasan, dan segala pikiran buruknya luntur tak bersisa dalam hitungan detik. Ia melepaskan genggamannya pada gorden, lalu setengah berlari menuju pintu utama berbahan kayu jati solid berukir yang menjulang tinggi. Tangannya dengan cekatan memutar kunci ganda, lalu menekan kenop pintu dan menariknya ke dalam.
"Mas, kok baru pu—"
Kalimat sambutan hangat itu terputus mengambang di udara. Senyum di bibir Gita membeku seketika, seolah waktu tiba-tiba berhenti berdetak. Otot-otot di wajahnya seakan lumpuh tersengat aliran listrik bertegangan tinggi.
Di sana, di bawah cahaya terang benderang dari lampu hias teras rumahnya, Raka berdiri. Suaminya yang malam ini tampak gagah mengenakan kemeja biru muda kesukaannya yang lengan bajunya digulung hingga siku, ternyata tidak pulang sendirian.
Seorang wanita asing berdiri menempel rapat di sebelah Raka. Wanita itu usianya mungkin baru menginjak awal tiga puluhan, lima atau enam tahun lebih muda dari Gita. Kulitnya putih mulus tanpa cela. Ia mengenakan gaun selutut berwarna merah marun berbahan ketat yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna dan provokatif, sangat kontras dengan tunik salem berlengan panjang milik Gita yang sopan dan longgar. Rambut wanita itu dicat cokelat terang, bergelombang indah menjuntai hingga ke punggungnya. Hidungnya mancung sempurna, dan bibirnya dipulas lipstik warna merah menyala yang tampak menantang.
Namun, bukan penampilan fisik wanita itu yang membuat jantung Gita seolah diremas oleh tangan raksasa yang tak kasat mata. Melainkan apa yang dilakukan wanita itu. Tangan wanita tersebut, dengan jari-jari ramping berkuku lentik yang dicat merah senada dengan bibirnya, melingkar sangat erat di lengan kiri Raka. Begitu erat, posesif, dan sangat intim. Jari-jari itu meremas kemeja biru Raka dengan sebuah klaim kepemilikan yang terang-terangan.
Dan Raka... pria yang selama lima belas tahun tidur di ranjang yang sama dengannya, pria yang memakan masakan hasil racikannya, pria yang memakai baju yang ia setrikakan dengan penuh cinta setiap pagi... sama sekali tidak menepis tangan itu. Raka tidak menghindar. Tubuh Raka justru condong ke arah wanita tersebut.
Raka menatap Gita lurus-lurus. Gita mencari-cari, mengais-ngais sisa empati di mata pria itu. Namun tidak ada senyum bersalah di wajah Raka. Tidak ada kepanikan, kegugupan, atau raut wajah terkejut karena perselingkuhannya tertangkap basah. Sorot mata Raka justru sedingin balok es di tengah badai salju. Pria itu menatap Gita dari atas ke bawah, seolah wanita yang baru saja membukakan pintu rumah ini bukanlah istrinya, melainkan hanyalah seorang asisten rumah tangga yang kebetulan lewat untuk membukakan jalan.
Gita membuka mulutnya, mencoba memproduksi suara dari pita suaranya yang tiba-tiba mengering, namun tenggorokannya terasa seperti disumpal oleh gumpalan pasir bercampur pecahan beling. Udara malam yang sejuk dari luar tiba-tiba terasa tebal dan mencekik lehernya, membuatnya sulit bernapas. Kakinya mulai bergetar hebat di dalam sandal rumah yang ia kenakan.
"M-Mas...?" Suara Gita akhirnya keluar, terdengar seperti bisikan parau yang menyedihkan, bergetar dan sarat akan ketakutan yang mendalam. Matanya yang mulai memanas bergerak bergantian dengan cepat dari wajah datar Raka ke wajah wanita asing di sebelahnya.
Wanita bergaun merah itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap Gita dari ujung rambut yang dijepit sederhana di belakang kepala, turun ke tunik salemnya, hingga ke ujung sandal rumahnya. Lalu, perlahan namun pasti, wanita itu menarik sudut bibirnya, mengukir sebuah senyum simpul. Sebuah senyum miring yang meremehkan, yang seolah berkata 'oh, jadi ini wanita tua yang posisinya sudah aku gantikan'. Senyum itu adalah sebuah serangan langsung yang menyayat harga diri Gita hingga berdarah.
Di detik itu, di bawah pendaran lampu teras yang terang, dunia Gita yang selama ini ia bangun dengan darah dan air mata, dunia yang ia anggap sempurna, aman, dan tak tergoyahkan, hancur berkeping-keping. Berhenti berputar, menyisakan ruang hampa yang siap menelannya hidup-hidup.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar