Keheningan yang membekukan darah menguasai ruang tamu malam itu. Kalimat terakhir Raka menggantung di udara, berputar-putar seperti bilah pisau berkarat yang siap mencabik sisa kewarasan Gita.

“Jika ada yang harus keluar dari rumah ini karena tidak terima... orang itu adalah kamu.”

Gita masih terimpuh di atas dinginnya lantai granit. Ia menatap wajah suaminya, pria yang selama lima belas tahun menjadi pusat semestanya, dengan pandangan kosong. Telinganya berdenging, otaknya menolak memproses sederet kata-kata yang baru saja diucapkan pria itu. Ada sebuah penolakan masif di dalam kepalanya. Sesuatu pasti salah. Raka pasti salah bicara. Atau mungkin Gita yang salah dengar karena efek tamparan yang masih meninggalkan rasa kebas dan perih di pipi kirinya.

"Kamu... kamu ngomong apa barusan, Mas?" Suara Gita tidak lebih dari sebuah bisikan serak, nyaris tak terdengar. Air mata masih mengalir deras dari pelupuk matanya, menetes jatuh membasahi tunik sutra salem yang ia kenakan. "Keluar? Aku yang harus keluar?"

Raka menarik napas panjang, merapikan kerah kemejanya yang sedikit berantakan, lalu menatap istrinya dengan sorot mata merendahkan. Tidak ada keraguan di matanya. Tidak ada penyesalan. Pria itu berdiri tegak, memancarkan aura arogansi yang selama ini selalu ia sembunyikan di balik topeng suami yang penyayang dan pengertian.

"Kamu tidak tuli, Gita. Aku rasa kalimatku sudah sangat jelas," ucap Raka dengan nada bicara yang pelan namun penuh penekanan di setiap suku katanya. "Rumah ini milikku. Secara hukum, secara legalitas, ini adalah aset milik Raka Aditya. Laras adalah istriku, dan dia sedang mengandung anak kandungku, penerus keturunanku. Dia punya hak penuh untuk tinggal di rumah suaminya. Kalau kamu merasa keberatan berbagi atap dengan istri keduaku, pintu keluar ada di sebelah sana. Silakan angkat kakimu dari sini."

Laras, wanita bergaun merah yang berdiri sedikit di belakang Raka, menyembunyikan senyum kemenangannya di balik bahu suaminya. Ia mengelus perutnya yang masih rata dengan gerakan lambat dan penuh arti, memastikan mata Gita menangkap gestur provokatif tersebut. Laras tahu persis di mana titik terlemah wanita yang sedang hancur di depannya ini. Fakta bahwa ia bisa memberikan apa yang selama lima belas tahun gagal diberikan oleh Gita adalah senjata pamungkas yang tidak akan bisa ditangkis.

Gita menatap perut Laras, lalu kembali menatap mata Raka. Napasnya mulai memburu, dadanya naik turun dengan cepat seiring dengan gelombang amarah dan keputusasaan yang kini mendidih di dalam nadinya.

"Milikmu?" Gita mencoba berdiri. Kakinya gemetar hebat, lututnya terasa seperti jeli, memaksanya bertumpu pada meja nakas di dekatnya. Benda-benda di sekelilingnya tampak berputar. "Rumah ini milikmu, katamu? Punya hak apa kamu mengklaim rumah ini, Raka?! Dari ujung pagar depan sampai tembok belakang, dari genteng sampai ubin yang kamu injak sekarang, semuanya dibeli pakai uangku! Pakai darah dan keringatku! Ingat nggak waktu kita bayar uang muka tanah ini? Kamu cuma pegang map, sementara aku yang begadang tiga malam berturut-turut ngejar target konveksi buat nutupin kekurangannya! Kamu bilang ini rumah kita!"

Raka tertawa. Sebuah tawa pendek, sinis, dan kering yang menggema mengerikan di ruangan itu. Ia membuang muka sejenak, seolah argumen Gita adalah lelucon paling basi yang pernah ia dengar.

"Uangmu?" Raka menelengkan kepalanya, menatap Gita dengan sorot mata yang menggelap. "Coba tunjukkan padaku, Gita. Di mana bukti kalau ini uangmu? Semua transaksi, dari mulai DP tanah, pembelian material, sampai pembayaran ke pemborong... semuanya ditransfer dari rekening atas nama siapa? Rekeningku. Semua nota pembelian atas nama siapa? Namaku. Siapa yang tanda tangan di hadapan notaris saat pembuatan akta jual beli? Aku, Gita. Bukan kamu."

Pernyataan Raka menghantam dada Gita bagaikan godam baja. Kenyataan pahit itu merangsek masuk, mengoyak-ngoyak pertahanan jiwanya. Ingatan-ingatan dari masa lalu bermunculan bak kepingan puzzle yang kini menyusun sebuah gambar monster yang mengerikan.

Gita ingat hari itu. Hari ketika mereka duduk di ruang ber-AC yang dingin di kantor seorang notaris tersohor di pusat kota. Gita saat itu sangat kelelahan, baru saja pulang dari pabrik kain di Majalaya untuk mengecek bahan baku. Ia masih mengenakan kemeja lusuh dan celana bahan yang dipenuhi debu kain. Raka, dengan setelan jas rapinya, menyodorkan setumpuk dokumen tebal kepadanya.

“Tanda tangan di sini saja, Ta. Sebagai saksi kalau aku yang beli aset ini untuk keluarga kita. Sisanya biar aku yang urus, kamu pulang saja, pasti capek, kan?”

Kata-kata manis itu, senyum menenangkan itu... semuanya adalah jebakan. Semua dokumen itu, yang ditandatangani Gita tanpa repot-repot ia baca klausulnya karena rasa percaya yang terlalu buta pada suaminya sendiri, ternyata adalah surat-surat yang menyerahkan hak penuh atas semua kekayaan yang ia kumpulkan susah payah ke tangan pria pengkhianat ini.

Gita mundur selangkah, menggelengkan kepalanya dengan kuat. Rambutnya yang dijepit sederhana kini terurai berantakan, membingkai wajahnya yang pucat pasi dan basah oleh air mata.

"Nggak... nggak mungkin," desis Gita. "Sertifikatnya... sertifikat itu ada nama kita berdua. Kamu janji waktu itu, Mas. Kamu bilang notarisnya bakal bikin atas nama kita berdua!"

Raka mengangkat bahunya acuh tak acuh. "Itu cuma caraku menenangkanmu agar kamu mau terus bekerja. Kenyataan di atas kertasnya berbeda. Hukum negara ini sangat sederhana, Gita. Siapa nama yang tertulis di dokumen legal dari Badan Pertanahan Nasional, dialah pemilik sahnya. Uang yang kamu hasilkan dari konveksi itu? Begitu uang itu masuk ke rekening suamimu, itu menjadi harta pencarian suami. Aku kepala keluarga. Aku yang berhak mengatur semuanya."

"Kamu menipuku, Raka!" teriak Gita, suaranya pecah, mengiris malam. "Kamu merencanakan ini semua dari awal! Kamu memanfaatkanku! Kamu jadikan aku mesin pencetak uangmu selama bertahun-tahun!"

"Aku tidak menipumu," sangkal Raka dengan tenang, sama sekali tidak terpancing emosi. "Aku hanya mengamankan masa depanku. Masa depan keturunanku." Ia melirik Laras kembali dengan tatapan lembut, yang langsung membuat darah Gita mendidih. "Lagipula, untuk apa aku membiarkan aset sebesar ini jatuh ke tangan wanita mandul yang bahkan tidak bisa memberiku satu anak pun selama lima belas tahun? Kalau terjadi apa-apa dengan kita, harta ini mau diwariskan ke siapa? Anak panti asuhan? Tidak. Aku butuh penerus darah dagingku sendiri. Dan Laras memberikannya padaku."

Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Raka, memotong urat nadi Gita dengan sangat presisi. Hinaan tentang ketidakmampuannya memberikan anak selalu menjadi luka paling bernanah di hati Gita. Dan kini, pria yang seharusnya melindungi luka itu justru menggaraminya dengan brutal.

Laras tidak ingin membuang kesempatan emas ini. Ia melepaskan pelukannya dari lengan Raka, melangkah maju dengan gemulai, pinggulnya bergoyang sensual. Ia mendekati Gita yang berdiri mematung. Laras berhenti tepat di depan Gita, menatapnya dengan tatapan meremehkan dari jarak dekat. Aroma parfum mawar yang menyengat kembali menusuk penciuman Gita.

"Mbak Gita," panggil Laras dengan suara yang dibuat sedemikian rupa agar terdengar halus, namun sarat akan racun yang mematikan. "Sebagai sesama perempuan, aku ngerti perasaan Mbak. Pasti sakit banget lihat suami sendiri bawa perempuan lain. Tapi, Mbak juga harus introspeksi diri. Pernikahan itu bukan cuma soal ngumpulin uang dan beli rumah mewah. Laki-laki itu butuh penerus, Mbak. Butuh darah daging."

Laras mengulurkan tangannya yang dihiasi cat kuku merah, berpura-pura ingin merapikan kerah tunik Gita yang sedikit miring, namun Gita dengan kasar menepis tangan kotor itu. Laras hanya tersenyum tipis, tidak marah.

"Mbak kan sudah tua, sudah hampir kepala empat, dan... yah, seperti yang dibilang Mas Raka, rahim Mbak mungkin memang sudah nggak berfungsi," lanjut Laras dengan kekejaman yang dibalut kesopanan palsu. "Jadi, daripada Mbak capek-capek marah, teriak-teriak nggak jelas, mending Mbak ikhlasin saja. Biarkan Mas Raka bahagia sama aku dan anak kami. Mbak boleh kok tetap di sini, tidur di kamar tamu di lantai bawah sana. Nanti Mbak bisa bantu-bantu ngasuh anak aku kalau sudah lahir. Itung-itung, buat ngobatin rasa rindu Mbak yang nggak pernah bisa punya anak itu."

Setiap kata yang keluar dari mulut berlipstik merah menyala itu adalah racun mematikan yang disuntikkan langsung ke jantung Gita. Tawaran untuk menjadi pengasuh bagi anak hasil perselingkuhan suaminya sendiri di dalam rumah yang ia bangun dengan darah dan keringatnya? Ini bukan lagi sekadar pengkhianatan. Ini adalah pembunuhan karakter. Ini adalah penghinaan paling keji yang bisa diterima oleh seorang manusia yang memiliki harga diri.

Gita mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menembus kulit telapak tangannya, meneteskan darah segar yang tak ia rasakan sakitnya. Ia menatap Laras dengan sorot mata yang perlahan berubah. Kesedihan, kebingungan, dan rasa syok yang tadi mendominasi matanya mulai menguap, digantikan oleh bara api kemarahan yang membakar hitam di iris matanya.

"Tutup mulut kotor dan berbisamu itu, Pelacur," desis Gita. Suaranya tidak lagi berteriak histeris, melainkan sangat rendah, berat, dan dipenuhi kebencian yang mendalam.

Senyum di wajah Laras memudar seketika, matanya membelalak kaget mendengar nada suara Gita yang tiba-tiba berubah mengerikan.

"Gita! Sudah kubilang jaga bicaramu!" Raka membentak keras, melangkah maju hendak melindungi istri sirinya.

Namun Gita tidak mundur. Ia mengangkat sebelah tangannya, menunjuk tepat ke depan wajah Raka. Gerakan itu begitu tiba-tiba dan tegas hingga Raka tanpa sadar menghentikan langkahnya.

"Jangan berani-berani kamu melangkah maju, Raka," ancam Gita dengan suara bergetar namun tajam. Matanya menatap Raka penuh perhitungan. "Kamu pikir aku bodoh? Kamu pikir kamu bisa membuangku begitu saja bermodalkan selembar kertas yang kamu sebut sertifikat itu? Sertifikat itu ada di dalam brankas di ruang kerjaku! Dan aku sendirilah yang akan membuktikan kalau ucapan busukmu itu hanya kebohongan belaka untuk mengintimidasi aku!"

Tanpa menunggu balasan dari dua manusia hina di depannya, Gita membalikkan tubuhnya. Ia berlari secepat yang ia bisa, mengabaikan kakinya yang masih lemas dan gemetar, mengabaikan sandal rumahnya yang terlepas di tengah jalan. Ia setengah berlari menaiki tangga kayu jati yang melingkar menuju lantai dua. Napasnya terengah-engah, dadanya terasa sesak seolah ada batu besar yang menimpanya.

Dalam kepalanya, Gita terus merapal doa. Tolong, Tuhan... biarkan sertifikat itu atas nama berdua. Biarkan ada sedikit keadilan tersisa untukku di rumah ini.

Gita mencapai ujung tangga, berbelok ke kiri menyusuri lorong yang dipenuhi bingkai foto pernikahan dan liburan mereka. Setiap foto yang terpajang di dinding itu—foto mereka tertawa di Bali, foto mereka berpelukan di depan menara Eiffel—kini terasa seperti rentetan hinaan yang menampar wajahnya. Ia tiba di depan pintu kayu mahoni ruang kerjanya. Dengan tangan gemetar, ia memutar kenop pintu dan membantingnya terbuka.

Ruangan itu gelap. Gita meraba dinding, menekan saklar lampu. Cahaya putih terang menyilaukan mata. Di sudut ruangan, tertanam di balik dinding panel kayu di belakang meja kerja besarnya, terdapat sebuah brankas besi berwarna abu-abu gelap.

Gita menggeser panel kayu tersebut, lalu berlutut di depan brankas. Jari-jarinya yang gemetar parah memutar kombinasi angka. Enam digit. Tanggal pernikahan mereka. Betapa ironisnya, ia harus menggunakan tanggal yang menjadi awal kehancurannya untuk membuka kotak penyimpan masa depannya.

Klik. Pintu brankas yang berat itu terbuka.

Gita memasukkan tangannya secara paksa ke dalam, menarik setumpuk map plastik berisi berbagai macam dokumen penting. BPKB mobil, polis asuransi, buku tabungan, akta perusahaan, dan di bagian paling bawah... sebuah map tebal berwarna hijau bersimbol Garuda emas. Sertifikat Hak Milik (SHM) rumah ini.

Dengan napas tersengal, Gita duduk bersimpuh di atas karpet lantai. Ia membuka map hijau itu dengan tidak sabar, tangannya bergerak brutal. Matanya memindai rentetan kalimat formal yang tercetak di atas kertas khusus tersebut. Jantungnya berdetak liar, memompa darah ke telinganya hingga ia bisa mendengar detaknya sendiri. Matanya menyusuri baris demi baris, mencari kolom nama pemilik hak.

Tatapannya terpaku pada satu baris kalimat. Matanya membelalak lebar, membaca deretan huruf kapital yang tercetak hitam tebal di sana.

NAMA PEMEGANG HAK: RAKA ADITYA.

Hanya satu nama. Tidak ada kata 'DAN', tidak ada nama Gita di sana. Tidak ada sama sekali.

Gita membeku. Kertas itu terasa berubah menjadi selembar es yang membakar tangannya. Otaknya menolak menerima informasi yang baru saja dikirimkan oleh retinanya. Ia membaca baris itu lagi, dan lagi, dan lagi, berharap huruf-huruf itu akan berubah secara ajaib. Tapi nama Raka Aditya tetap bertengger di sana dengan sombongnya. Menertawakan kebodohan Gita.

"Aku sudah bilang, Gita. Kenapa kamu begitu keras kepala?"

Suara Raka terdengar dari ambang pintu. Pria itu berdiri santai, bersandar pada kusen pintu ruang kerja dengan kedua tangan di saku celana, sementara Laras mengintip dari balik punggungnya dengan senyum mencibir.

"Kamu pikir aku akan membiarkan celah sekecil apa pun untukmu?" lanjut Raka sambil berjalan masuk secara perlahan mendekati istrinya yang sedang hancur lebur di atas karpet. "Semua dokumen di rumah ini, dari sertifikat rumah ini, akta konveksi, tiga ruko yang sedang disewakan, sampai empat mobil operasional... semuanya murni atas namaku. Tidak ada harta gono-gini di antara kita, Gita. Karena secara tertulis, kamulah yang menumpang hidup pada usahaku."

Gita mendongak, menatap pria yang kini berdiri menjulang di atasnya. Air matanya menetes jatuh mengenai kertas sertifikat yang masih ia pegang erat-erat.

"Ini nggak adil, Mas..." bisik Gita dengan suara merana, hancur berkeping-keping. "Semua uangnya dari aku. Rekening penampungan konveksi itu aku yang isi setiap hari dari hasil peluhku. Kamu tahu itu, Raka! Kamu tahu persis kalau ini semua hasil kerja kerasku!"

"Keadilan di dunia ini diukur dari apa yang tertulis di atas kertas bermaterai, Gita. Bukan dari siapa yang lebih banyak berkeringat di pabrik," balas Raka dengan sangat dingin. Ia berjongkok di depan Gita, menatap tepat ke dalam mata istrinya yang sarat akan luka. "Lagipula, uang yang kamu masukkan ke rekeningku itu adalah bentuk baktimu sebagai seorang istri kepada suami. Itu kewajibanmu. Dan sebagai suami, kewajibanku adalah mengelolanya untuk kepentingan yang lebih besar. Untuk masa depan anakku."

Raka merampas sertifikat itu dari tangan Gita dengan sekali sentakan kasar. Gita yang tidak siap, kehilangan keseimbangannya dan terjatuh menumpu pada kedua tangannya di atas karpet.

"Kamu iblis berwajah manusia, Raka," isak Gita, air matanya tak terbendung lagi. Rasa sesak di dadanya membuatnya sulit merangkai kata. "Kamu mengkhianatiku, merampas semua hakku, membunuh harga diriku, dan kamu bangga dengan itu semua? Kamu tidak takut karma dari Tuhan?!"

Raka berdiri kembali, mengibaskan sertifikat di tangannya, membersihkan kertas itu dari bekas air mata Gita dengan raut wajah jijik. "Tuhan memberiku istri baru dan seorang anak. Aku rasa Tuhan sedang berpihak padaku hari ini, Gita."

Pria itu berbalik, berjalan menuju pintu tempat Laras menunggu. Sebelum melangkah keluar, Raka menghentikan langkahnya, menoleh sedikit tanpa benar-benar menatap Gita yang masih tersungkur.

"Aku beri kamu waktu sampai besok pagi," ucap Raka dengan nada perintah yang tak terbantahkan. "Kemasi barang-barang pribadimu. Pakaianmu, barang-barang yang kamu bawa dari kontrakan kumuh kita dulu. Jangan bawa satu pun barang yang dibeli dari uang di rekeningku. Besok jam delapan pagi, pastikan kaki kotormu sudah tidak ada di rumah ini. Karena aku dan Laras ingin sarapan dalam suasana yang tenang."

Raka melangkah pergi, merangkul pinggang Laras, meninggalkan Gita sendirian di ruang kerjanya. Meninggalkan wanita yang telah membangun istana ini dari tanah kosong, kini terduduk merintih memeluk dirinya sendiri di tengah kegelapan malam, menyadari bahwa ia baru saja kehilangan segalanya dalam kurun waktu kurang dari satu jam. Semua yang ia bangun, semua yang ia perjuangkan, ternyata tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.