"Mas, dia... siapa?"
Pertanyaan itu akhirnya lolos dari bibir Gita yang bergetar hebat. Suaranya terdengar sangat asing di telinganya sendiriβlemah, serak, bergetar di setiap suku kata, dan penuh dengan keputusasaan yang telanjang. Kakinya yang mengenakan sandal rumah berbulu tipis terasa seolah dipaku ke lantai marmer teras dengan paku baja berkarat. Ia tidak bisa melangkah maju, apalagi mundur. Ia hanya berdiri di sana, seperti rusa yang tertangkap sorot lampu mobil di tengah jalan gelap, menunggu hantaman mematikan.
Alih-alih menjawab dengan kepanikan atau setidaknya kebohongan yang dibuat-buat, Raka justru menghela napas panjang yang terdengar sangat keras di telinga Gita. Helaan napas itu penuh dengan rasa bosan, seolah pertanyaan Gita adalah sebuah gangguan kecil yang sangat menyebalkan di penghujung hari kerjanya. Pria itu menoleh sebentar ke arah wanita bergaun merah di sebelahnya, melepaskan lengannya dari pelukan wanita itu dengan gerakan yang sangat lembut dan hati-hati, lalu mengusap punggung tangan wanita itu sejenak untuk menenangkannya.
Setelah itu, Raka melangkah maju melewati Gita begitu saja, seolah istrinya itu hanyalah pajangan pintu yang tidak terlihat. Bahu Raka bahkan menyenggol pelan bahu Gita saat pria itu melintas masuk ke dalam rumah.
"Masuk dulu, capek aku seharian di jalan," ucap Raka dengan nada suara yang sangat dingin dan mendatar, tanpa sedikit pun menatap mata istrinya yang kini sudah berkaca-kaca.
Wanita bergaun merah itu mengangguk patuh, lalu melangkah mengikuti Raka dari belakang. Saat tubuhnya melewati Gita di ambang pintu, aroma parfum wanita ituβaroma mawar yang sangat manis, pekat, dan menyengatβmenusuk masuk ke dalam rongga hidung Gita, menembus paru-parunya dan membuat perut Gita mual seketika. Aroma itu terasa sangat invasif, sebuah bau benda asing yang mencemari udara rumahnya yang bersih. Wanita itu bahkan menyempatkan diri melirik sinis ke arah Gita dari sudut matanya, sambil tangan kirinya dengan sengaja merapikan helai rambut cokelatnya yang bergelombang. Sebuah gerakan kecil, halus, namun memancarkan aura dominasi dan kemenangan yang telak.
Gita menarik napas dangkal, memaksa tubuhnya yang kaku untuk bergerak. Ia memutar tubuhnya perlahan, mengikuti dua sosok manusia itu masuk ke dalam ruang tamu rumahnya. Seluruh tubuh Gita gemetar hebat, bukan karena hembusan angin malam atau dinginnya pendingin ruangan, tapi karena pompaan adrenalin, rasa syok yang melumpuhkan otak, dan fakta brutal yang sedang menghantam kewarasannya secara bertubi-tubi tanpa ampun.
Wanita asing itu berjalan melenggang dengan santai menggunakan sepatu hak tinggi merahnya yang berbunyi klik-klak di atas lantai granit, suaranya menggema memecah keheningan malam. Ia melangkah ke tengah ruang keluarga, membiarkan matanya yang lebar menyapu seluruh interior rumah dari ujung ke ujung. Tangannya yang dihiasi gelang emas putih bertahtakan berlian kecil terulur, menyentuh dengan ringan vas kristal Bohemia mahal di atas meja nakas, lalu beralih menengadah, menatap kagum pada kerumitan lampu gantung kristal di atas kepalanya.
"Bagus juga seleramu, Mas. Luas dan letaknya strategis. Jauh lebih mewah dari yang aku bayangkan pas kamu cerita," ucap wanita itu dengan nada suara yang manja dan mendayu-dayu, suaranya memantul di dinding-dinding ruangan yang sepi itu. Ia lalu menatap sofa kulit cokelat tua yang melingkar di depan televisi raksasa. "Tapi, sofa cokelat ini modelnya agak kuno dan membosankan, ya? Kesannya gelap dan bikin sumpek. Nanti kalau aku sudah beres-beres, kita ganti yang warna krem saja ya, Mas? Biar lebih aesthetic dan terang."
Gita merasa kepalanya baru saja dipukul dengan palu godam seberat sepuluh kilogram tepat di ubun-ubun. Pandangannya sempat mengabur sejenak.
Kita? Ganti sofa? Sofa kulit sapi asli berwarna cokelat tua itu bukanlah barang rongsokan. Itu adalah sofa pesanan khusus buatan pengrajin lokal yang Gita tabung uangnya selama berbulan-bulan dari hasil lembur konveksinya tiga tahun lalu. Ia ingat betul bagaimana punggungnya terasa seperti patah karena harus menyelesaikan pesanan ribuan kemeja kampanye partai demi bisa membeli sofa yang dikeluhkan Raka karena sofa lama mereka membuat punggung suaminya sakit saat menonton bola. Sofa itu adalah simbol kerja kerasnya, dan kini, seorang pelacur yang entah dari mana asalnya dengan mudahnya ingin membuangnya ke tempat sampah.
"Terserah kamu saja nanti, Sayang. Senyaman kamu saja. Besok kita lihat-lihat katalognya," balas Raka dengan nada suara yang berubah drastis menjadi lembut dan penuh kasih.
Pria itu melepaskan jam tangan mahalnya, lalu meloloskan jas kerja yang sejak tadi ia bawa di lengannya. Ia menyodorkan jas itu kepada wanita bergaun merah tersebut. Dan yang membuat ulu hati Gita semakin hancur, wanita itu menerimanya dengan gerakan yang sangat natural, seolah mengambil jas suami pulang kerja adalah rutinitas harian yang sudah mereka lakukan bertahun-tahun. Ia melipat jas Raka di lengan kirinya dengan luwes.
Pemandangan domestik yang menjijikkan itu membuat dada Gita serasa mau meledak. Batas kesabarannya, tembok penyangkalan yang coba ia bangun sejak lima menit lalu, runtuh seketika berkeping-keping. Ia melangkah maju dengan cepat, napasnya memburu. Tangannya mengepal sangat erat di sisi tubuhnya, hingga kuku-kukunya yang tak terpoles cat memutih dan menancap menyakitkan di telapak tangannya sendiri.
"Mas Raka!" Suara Gita kini meledak naik satu oktaf penuh, melengking pecah oleh beban emosi yang sudah tidak mampu lagi ia bendung. "Aku tanya sekali lagi sama kamu, dia ini siapa?! Dan apa maksudnya omongan perempuan ini barusan?! Ganti sofa?! Rumah ini rumahku!"
Raka yang sedang melonggarkan dasinya perlahan membalikkan badannya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjang bahan berwarna gelapnya, lalu menatap Gita dengan raut wajah datar yang teramat sangat mengintimidasi. Pria yang biasanya memanggilnya 'Sayang', pria yang pagi tadi masih mencium keningnya dengan mesra sebelum memanaskan mesin mobil berangkat kerja, pria yang bersumpah di hadapan Tuhan dan penghulu lima belas tahun lalu untuk melindunginya, kini menatapnya seolah Gita adalah seekor parasit menjijikkan yang mengotori lantainya.
"Gita, duduk. Jangan teriak-teriak dan jangan bikin ribut malam-malam begini. Tetangga bisa dengar. Aku capek seharian cari uang, jangan tambah bebanku," kata Raka dengan nada merendahkan dan memerintah layaknya seorang majikan kepada bawahannya.
"Aku nggak mau duduk!" teriak Gita, air mata pengkhianatan yang panas, perih, dan asin akhirnya mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya terhadap wajah suaminya mengabur. Tubuhnya bergetar hebat didera amarah yang menyala-nyala. "Kamu bawa perempuan murahan masuk ke dalam rumah kita, bergandengan tangan, di hari anniversary kita yang kelima belas! Dan kamu dengan entengnya suruh aku tenang?! Siapa pelacur ini, Mas?! Jawab aku!!"
PLAK!
Suara tamparan itu menggema sangat keras, memantul di dinding-dinding rumah yang luas, memecah kesunyian malam dengan brutal.
Kekuatan tamparan itu begitu besar hingga kepala Gita terlempar dengan keras ke samping kanan. Pijakan kakinya goyah, tubuhnya oleng ke belakang, dan ia harus mencengkeram sandaran kursi makan berbahan kayu jati di dekatnya dengan kuat agar tubuhnya tidak tersungkur mencium lantai granit.
Rasa panas yang menyengat dan perih luar biasa langsung menjalar di permukaan kulit pipi kirinya. Kebas merambat seketika dari rahang hingga ke pelipisnya. Telinga kirinya berdenging keras dengan nada tinggi yang menyakitkan, menutupi suara detak jam dinding. Rasa amis samar-samar terasa di sudut bibirnya yang robek kecil karena bergesekan dengan giginya sendiri.
Namun, demi Tuhan, rasa sakit fisik di pipinya itu sama sekali tidak ada apa-apanya, tidak sebanding dengan hancur leburnya hati Gita di dalam dada. Hatinya seperti dijatuhkan dari lantai seratus sebuah gedung, hancur berkeping-keping hingga tak bisa dikenali lagi bentuknya.
Selama lima belas tahun mereka mengarungi bahtera rumah tangga. Lima belas tahun Gita membanting tulang, memeras keringat, menyerahkan seluruh masa mudanya, kesenangannya, hidupnya, demi mengangkat derajat pria ini. Separah apa pun pertengkaran mereka di masa lalu saat uang sedang sulit-sulitnya, Raka tidak pernah sekali pun mengangkat tangannya kepada Gita. Raka bahkan tidak pernah membentaknya secara fisik. Dan malam ini, hari ini, demi membela harga diri seorang wanita asing yang baru saja ia bawa pulang, tangan besar yang biasa memeluk Gita erat saat tidur itu, tangan yang sama itu telah menampar wajahnya dengan kejam.
Gita menyentuh pipi kirinya perlahan dengan jari-jarinya yang gemetar. Ia mengangkat wajahnya lambat-lambat, menatap Raka melalui tirai air mata yang akhirnya jatuh berderai deras, membasahi wajahnya, merusak riasan tipis yang ia persiapkan dengan susah payah untuk suaminya malam ini. Raka berdiri di depannya dengan dada naik turun, napasnya memburu, rahangnya mengeras, dan tangan kanannya yang habis menampar Gita masih sedikit terangkat di udara.
"Jaga mulut kotormu itu, Gita!" bentak Raka dengan suara menggelegar yang menggetarkan kaca jendela. Matanya melotot tajam, memancarkan kebencian yang membuat bulu kuduk Gita meremang. "Jangan pernah berani-beraninya kamu panggil dia pelacur! Jaga adabmu!"
Melihat situasi yang memanas, wanita bergaun merah itu, Laras, melangkah maju. Bukannya merasa bersalah karena telah memicu kekerasan dalam rumah tangga orang lain, Laras justru memeluk lengan Raka dari samping dengan erat. Ia menyandarkan kepalanya di bahu pria itu, memasang wajah ketakutan dan cemas yang sangat dibuat-buat, meskipun mata liciknya yang tajam menatap Gita dari balik bahu Raka penuh dengan kilatan kemenangan yang absolut.
"Mas... udah, Mas. Sabar, Istighfar. Jangan kasar sama dia, kasihan Mbak Gita," ucap Laras dengan suara yang dilembut-lembutkan, seolah ia adalah bidadari penengah yang bijaksana. Laras menatap Gita dengan raut wajah iba dan belas kasihan yang sangat palsu, jenis tatapan yang justru lebih merendahkan daripada cacian.
Laras berdeham pelan, memperbaiki postur tubuhnya agar terlihat lebih anggun, lalu tersenyum tipis ke arah Gita. "Mbak Gita, maafkan kelancangan saya. Kita belum berkenalan secara resmi. Kenalkan... nama saya Laras. Larasati."
Laras menjeda kalimatnya dengan sengaja, sebuah trik teaterikal untuk membiarkan keheningan yang menyesakkan memenuhi seluruh sudut ruangan, membiarkan Gita tersiksa dalam antisipasi. Ia menatap Raka dari samping sejenak dengan tatapan memuja, lalu kembali menatap tepat ke manik mata Gita yang merah dan bengkak.
"Saya bukan pelacur seperti yang Mbak tuduhkan barusan. Saya ini istri sah dari Mas Raka. Istri yang diikat secara agama. Kami baru saja melangsungkan pernikahan siri secara tertutup sebulan yang lalu di luar kota."
Bumi tempat Gita berpijak seolah amblas seketika. Gravitasi terasa hilang, menelannya ke dalam sebuah lubang hitam pekat yang dingin, gelap, dan hampa udara. Paru-parunya mendadak menolak untuk menyerap oksigen di sekitarnya.
Istri? Menikah? Sebulan yang lalu?
Kata-kata itu berputar-putar di dalam kepala Gita seperti kaset rusak yang diputar dengan volume maksimal. Ia menggelengkan kepalanya pelan, mundur selangkah ke belakang, menjauh dari dua monster yang berdiri di hadapannya.
"Nggak... ini nggak mungkin. Mas Raka... kamu cuma mau bikin aku marah, kan? Kamu bohong, kan, Mas?" Gita menangis histeris. Suaranya pecah, raungannya memilukan menyayat hati siapa pun yang memiliki nurani. Ia menatap Raka lekat-lekat, memohon, mengais kebohongan di mata suaminya, berharap Raka akan tertawa dan mengatakan ini semua hanyalah lelucon hari jadi yang sangat buruk.
Tapi yang ia temukan di sepasang mata pria itu hanyalah kekerasan hati yang membatu. Tidak ada penyesalan. Tidak ada iba.
"Laras berkata jujur dan apa adanya," suara Raka memotong tangisan pilu Gita. Suaranya datar, sedingin baja, dan tanpa ampun. Pria itu mengangkat dagunya, menunjukkan arogansinya. "Aku sudah menikahinya secara siri. Laras sekarang adalah tanggung jawabku. Dan ada satu hal lagi yang harus kamu tahu, Gita. Alasan kenapa aku membawanya ke rumah ini malam ini..." Raka menjeda, melirik perut rata Laras sejenak. "Laras sedang mengandung anakku. Usia kandungannya sudah masuk minggu keenam."
Gita mematung. Seluruh persendian di tubuhnya serasa dicabut paksa.
Kata 'anak' yang keluar dari mulut Raka itu ibarat belati berkarat, tumpul, dan bergerigi yang ditusukkan perlahan-lahan tepat menembus ulu hatinya, lalu diputar dengan sangat kejam hingga menghancurkan organ-organ di dalamnya.
Selama lima belas tahun menikah, rahim Gita belum juga dikaruniai keturunan. Mereka telah mendatangi belasan dokter spesialis kandungan terbaik, mencoba berbagai macam pengobatan alternatif yang menyakitkan, meminum rebusan jamu yang rasanya seperti racun, dan melakukan program bayi tabung yang menguras tabungan dan emosi. Dan setelah semua pemeriksaan menyeluruh itu, dokter menyatakan dengan tegas bahwa rahim dan sel telur Gita baik-baik saja, tidak ada masalah. Masalah ketidaksuburan yang fatal itu ada pada kualitas dan kuantitas sperma Raka.
Gita menerima kenyataan pahit itu dengan lapang dada. Ia menyembunyikan rekam medis itu dari mertuanya untuk menjaga harga diri Raka sebagai laki-laki. Ia menelan semua hinaan keluarga suaminya yang sering menyebutnya wanita mandul pembawa sial. Ia tidak pernah menuntut Raka, tidak pernah mencela suaminya sedikit pun karena ia teramat sangat mencintai pria itu. Baginya, pernikahan mereka sudah cukup sempurna meski hanya berdua.
Tapi sekarang? Pria mandul ini menghamili perempuan lain?
Otak Gita bekerja dengan cepat di tengah kekalutan. Sebuah kebenaran yang jauh lebih kotor menghantamnya. Raka tidak mungkin tiba-tiba subur. Jika perempuan ini hamil, maka Raka pasti telah melakukan perawatan rahasia yang menguras banyak biaya. Uang siapa? Tentu saja uang hasil keringat Gita yang mengalir deras ke rekening Raka setiap bulannya. Raka menggunakan uang darah Gita untuk memperbaiki kesuburannya, menyewa perempuan lain, menikahinya, dan menghamilinya, sementara Gita dibiarkan merasa bersalah sebagai wanita yang tidak sempurna selama bertahun-tahun.
"Kamu... kamu benar-benar iblis, Mas..." Gita merintih pilu. Tubuhnya meluruh, kedua lututnya membentur lantai granit dengan bunyi berdebam yang keras. Ia memukul-mukul dadanya sendiri yang terasa sesak dan nyeri luar biasa, mencoba mengeluarkan udara yang terjebak di sana. "Aku banting tulang buat kamu tiap hari! Aku tidur cuma tiga jam, Mas! Aku yang bangun rumah ini dari nol dengan tanganku sendiri! Aku yang nutupin aib kemandulanmu di depan keluargamu! Dan ini... ini balasan kamu buat pengorbananku?!"
Gita mendongak, matanya merah menyala oleh amarah yang kini membakar habis semua sisa cintanya. Ia menunjuk ke arah pintu depan dengan tangan kanannya yang bergetar hebat. Emosinya memuncak mencapai ubun-ubun. Rasa sakit dan syoknya kini bertransformasi menjadi murka yang tak terbendung.
"Keluar dari rumahku!" jerit Gita sekuat tenaga hingga urat-urat di lehernya menonjol keluar. "Keluar kalian berdua dari sini! Bawa perempuan murahan ini keluar dari rumahku sekarang juga, Raka!! Jangan pernah injakkan kaki kalian yang kotor itu di lantai rumah yang aku beli pakai keringatku sendiri!!"
Raka sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Ia membiarkan gema jeritan istrinya memudar di udara. Perlahan, ia melepaskan tangan Laras dari lengannya, lalu berjalan mendekati Gita yang masih terduduk di lantai dengan aura intimidasi yang sangat pekat dan mencekik. Jarak mereka kini hanya terpaut kurang dari satu meter. Raka menunduk, menatap wajah istrinya yang basah, hancur berantakan, dan dipenuhi kebencian itu.
Bukannya merasa bersalah atau ketakutan melihat amarah Gita, sudut bibir Raka justru berkedut pelan. Otot wajahnya bergerak membentuk sebuah seringai kecil, sinis, dan teramat sangat menakutkan. Seringai seorang predator yang tahu bahwa mangsanya sudah masuk ke dalam perangkap tak bersudut.
"Rumahmu?" bisik Raka pelan. Suaranya rendah, nyaris seperti desisan ular berbisa, namun nadanya setajam silet bedah yang mengiris tepat di jantung pertahanan Gita. Pria itu mendengus meremehkan, tawa kecil meluncur dari hidungnya. "Coba kamu bersihkan ingusmu, bangun, dan ingat-ingat lagi dengan otakmu yang cerdas itu, Gita. Siapa nama yang tertera di sertifikat tanah dan bangunan rumah mewah ini? Siapa nama yang tercetak tebal di semua akta notaris perusahaan konveksi itu?"
Gita terkesiap. Matanya membelalak lebar. Napasnya tercekat keras di tenggorokan seolah ada tangan tak kasat mata yang mencekiknya. Detak jantungnya berhenti berdenyut selama satu detik penuh. Ingatan tentang kunjungannya ke notaris bertahun-tahun lalu, tentang puluhan berkas yang ia tanda tangani tanpa membaca isinya karena percaya pada suaminya, menghantamnya bagai kereta ekspres.
Raka perlahan menegakkan tubuhnya kembali. Ia melipat kedua tangannya di depan dada bidangnya. Matanya yang tajam menatap Gita dari atas ke bawah dengan kepuasan yang kejam dan absolut. Kemenangan mutlak seorang manipulator ulung.
"Jaga mulut kotormu, dan sadar di mana posisimu sekarang, Gita," ucap Raka dengan nada final, mengakhiri semua perdebatan. "Ini rumahku. Sertifikatnya atas namaku. Uangnya ada di rekeningku. Laras tidak akan pergi ke mana-mana. Dia akan tinggal di sini, di rumahku, dan melahirkan anakku di sini." Raka menjeda kalimatnya, membiarkan kenyataan itu menguliti Gita hidup-hidup. "Jika ada yang harus keluar dari rumah ini karena tidak terima... orang itu adalah kamu."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar