"Kamu cuma numpang di sini, Gita. Kamu tidak diinginkan lagi. Jadi kemasi barang rosokanmu, dan keluar dari rumah anakku sekarang juga!"
Gema teriakan Bu Ningsih memantul di langit-langit ruang keluarga yang menjulang tinggi, menabrak pilar-pilar marmer, dan menusuk langsung ke gendang telinga Gita. Kalimat itu bukan sekadar usiran; itu adalah sebuah palu godam tak kasat mata yang menghancurkan sisa-sisa martabat Gita hingga menjadi debu yang paling halus.
Gita mematung. Matanya yang sudah merah dan bengkak menatap bergantian wajah empat manusia yang berdiri di depannya. Tidak ada satu pun dari mereka yang menunjukkan setitik pun keraguan. Siska berdiri dengan tangan terlipat di dada, dagunya terangkat menantang. Bu Ningsih menatapnya dengan raut jijik, seolah Gita adalah tikus got yang mengotori karpet sutra turkinya. Laras bersembunyi di balik tubuh Bu Ningsih, membelai perut ratanya dengan senyum penuh kemenangan yang sengaja ia pamerkan kepada Gita. Dan Raka... pria yang lima belas tahun lalu berjanji di hadapan penghulu untuk melindunginya seumur hidup, kini hanya berdiri dengan tangan masuk ke saku celana, wajahnya datar, kaku, tanpa sedikit pun belas kasihan.
"Kalian mengusirku?" bisik Gita. Suaranya serak, nyaris habis, terdengar seperti gesekan kertas ampelas. "Malam ini? Di saat aku bahkan tidak tahu harus pergi ke mana?"
"Apa peduli kami kamu mau pergi ke mana?!" sahut Bu Ningsih dengan suara melengking, memajukan tubuhnya ke arah Gita dengan beringas. Jari telunjuk wanita paruh baya yang dihiasi cincin emas besarβcincin yang dibelikan Gita dari hasil keuntungan pertama konveksinyaβmenunjuk tepat di depan hidung Gita. "Kamu bisa tidur di kolong jembatan, di emperan toko, atau kembali ke gubuk kumuh orang tuamu yang sudah mati itu! Terserah! Yang jelas, rumah ini harus bersih dari kotoran sepertimu malam ini juga. Laras sedang hamil muda, dia butuh ketenangan, butuh aura positif. Kehadiran perempuan mandul pembawa sial sepertimu cuma akan bikin cucuku di dalam perut ini stres!"
Kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut mertuanya itu menorehkan luka yang menganga semakin lebar di hati Gita. Ia menatap Raka, memberikan pria itu satu kesempatan terakhir. Satu celah terakhir untuk menghentikan kegilaan ini.
"Mas..." panggil Gita dengan suara bergetar, air matanya menetes jatuh ke lantai marmer yang dingin. "Kamu membiarkan ibumu mengusirku? Setelah semua yang aku berikan untuk keluarga ini? Untuk kamu?"
Raka mendesah panjang, sebuah desahan bosan dan terganggu. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lalu menatap Gita dengan sorot mata yang sedingin es di kutub utara.
"Ibu benar, Gita. Kehadiranmu di sini cuma akan memicu keributan setiap hari. Kamu tidak akan sudi menerima Laras, dan Laras tidak akan nyaman hidup satu atap dengan mantan istri suaminya," ucap Raka dengan nada suara seolah ia sedang menjelaskan masalah matematika yang sangat sederhana kepada seorang anak yang lamban. "Kita akhiri saja semuanya malam ini. Berkemaslah. Aku minta Pak Joko, sopirku, untuk mengeluarkan koper lamamu dari gudang."
Mantan istri. Dua kata itu menghantam kewarasan Gita dengan telak. Pernikahan mereka bahkan belum dibatalkan secara hukum agama maupun negara, belum ada ketukan palu pengadilan agama, tapi di mata Raka, ia sudah menjadi barang rongsokan yang kedaluwarsa.
Gita tertawa. Sebuah tawa yang sangat sumbang, kering, dan mengerikan. Tawa yang lahir dari puncak rasa sakit yang tak lagi bisa ditampung oleh jiwa seorang manusia. Air mata mengalir deras membasahi pipinya yang memerah, sementara tawanya semakin kencang, menggema di ruangan mewah itu.
"Orang gila," desis Gita di sela-sela tawanya. Ia menatap keempat orang itu dengan pandangan nanar. "Kalian semua benar-benar orang gila yang tidak punya hati nurani."
"Heh! Berani kamu ngatain kami gila?!" Siska maju selangkah, wajahnya memerah karena marah.
Namun sebelum Siska bisa berbuat lebih jauh, Gita membalikkan badannya dengan kasar. Ia tidak ingin melihat wajah-wajah iblis itu lebih lama lagi. Rasa mual di perutnya sudah mencapai puncaknya, membuatnya ingin memuntahkan semua isi lambungnya. Dengan langkah gontai, kaki yang bergetar menahan berat tubuhnya sendiri, Gita menaiki anak tangga satu demi satu. Setiap pijakan terasa sangat berat, seolah gravitasi bumi tiba-tiba berlipat ganda, menariknya paksa ke bawah. Tangannya mencengkeram railing tangga dari kayu jati dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih, mencoba mencari sisa-sisa kekuatan untuk tetap berdiri tegak.
Ia menyusuri lorong panjang di lantai dua menuju kamar utama. Kamar yang selama sepuluh tahun terakhir menjadi tempatnya merebahkan tubuh yang remuk akibat bekerja belasan jam sehari. Kamar yang cat dindingnya ia pilih sendiri warnanya, yang gordennya ia jahit sendiri dengan tangan yang berdarah tertusuk jarum.
Gita mendorong pintu kamar yang terbuat dari kayu mahoni berukir itu hingga terbuka lebar. Ruangan itu luas, dilengkapi dengan ranjang king size berkanopi, meja rias berlapis kaca, dan sebuah walk-in closet yang menyambung dengan kamar mandi. Udara di dalam kamar terasa dingin dan mencekik.
Ia melangkah masuk menuju walk-in closet. Di dalam sana, terdapat sebuah koper kanvas kusam berwarna biru pudar yang rodanya sudah sedikit miring. Koper itu diletakkan dengan sembarangan oleh entah siapa di tengah ruangan. Itu adalah koper yang ia bawa lima belas tahun lalu dari kontrakan sempit mereka, koper yang menjadi saksi bisu perjuangannya dari nol.
Dengan tangan gemetar dan napas memburu, Gita membuka resleting koper yang berbunyi serak karena karatan. Ia menarik laci lemari pakaian besar yang terbuat dari kayu oak. Pakaiannya tidak banyak. Sebagian besar isi lemari mewah ini didominasi oleh setelan jas mahal Raka, kemeja sutra Raka, dan jam tangan koleksi pria itu. Pakaian Gita hanyalah tunik-tunik sederhana, daster katun pudar, celana bahan untuk ke pabrik konveksi, dan beberapa potong baju muslim bekas. Ia tidak pernah menghamburkan uang hasil jerih payahnya untuk membeli pakaian branded karena menurutnya, uang itu lebih baik diputar untuk modal usaha dan membeli mesin jahit baru. Kebodohan yang kini sangat ia sesali.
Gita meraih tumpukan daster dan pakaian dalamnya, memasukkannya ke dalam koper tanpa melipatnya dengan rapi. Tangannya bergerak cepat, didorong oleh adrenalin, amarah, dan rasa sakit yang menyayat-nyayat.
"Jangan bawa barang-barang yang dibeli pakai uang Mas Raka."
Suara melengking itu membuat gerakan Gita terhenti. Ia menoleh perlahan dan mendapati Siska berdiri menyandar di ambang pintu walk-in closet, melipat tangannya di dada dengan tatapan mengawasi yang sangat merendahkan. Adik iparnya itu memandangnya seperti seorang sipir penjara yang sedang mengawasi narapidana berkemas.
Gita mengepalkan tangannya kuat-kuat, berusaha menahan letupan emosi di kepalanya. "Semua barang di rumah ini, sampai ke paku-pakunya, dibeli pakai uangku, Siska. Kalau kamu lupa, aku ingatkan lagi, kakakmu itu tidak bisa membedakan mana kain katun dan mana kain polyester."
Siska mendengus sinis, matanya memutar jengah. "Uangmu, uangmu. Uang suami itu milik suami. Uang istri juga milik suami. Hukum dari mana yang kamu pakai? Hukum jalanan? Pokoknya, Mas Raka bilang kamu cuma boleh bawa pakaian lusuhmu yang dulu. Jangan berani-berani sentuh tas Hermes palsu atau perhiasan yang ada di brankas meja rias itu."
Gita memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Berdebat dengan parasit seperti Siska saat ini tidak akan membuahkan hasil apa pun selain membuang-buang energi yang sangat ia butuhkan untuk bertahan hidup malam ini.
Tanpa menjawab sepatah kata pun, Gita kembali berkemas. Ia menutup resleting koper birunya dengan kasar, mengabaikan beberapa helai kain yang terjepit. Setelah itu, ia melangkah menuju meja rias, mengambil sebuah tas tangan kulit berwarna hitam yang sangat sederhanaβtas yang selalu ia pakai ke pasar untuk membeli bahan baku. Ia memasukkan dompetnya, powerbank, charger, dan sebuah buku catatan kecil berisi daftar supplier konveksinya. Itu adalah satu-satunya barang berharga yang menjadi nyawanya saat ini.
Saat Gita hendak menutup tas tangannya, sebuah tangan besar tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat. Sangat kuat hingga Gita meringis kesakitan.
Raka entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya. Pria itu menatap lurus ke arah tas tangan Gita. Dengan gerakan kasar, Raka merebut tas tangan kulit itu dari pelukan Gita, membalikkan isinya, dan menumpahkan semua barang ke atas tempat tidur.
Dompet, ponsel, buku catatan, lipstik murah, dan kunci mobil berhamburan di atas seprai putih bersih.
"Mas! Apa-apaan kamu?!" teriak Gita, mencoba merebut kembali barang-barangnya, namun Raka dengan mudah mendorong bahu Gita hingga wanita itu terhuyung mundur dan membentur pintu lemari.
Raka tidak memedulikan teriakan istrinya. Pria itu mengambil dompet kulit panjang milik Gita, membukanya dengan paksa. Dengan jari-jarinya yang besar, Raka mencabut tiga kartu kredit berlimit ratusan juta, dua kartu debit dari bank berbeda yang menyimpan uang miliaran rupiah hasil konveksi, dan segepok uang tunai seratus ribuan yang baru ditarik Gita siang tadi untuk membayar gaji lembur karyawan besok.
"Ini fasilitas dari perusahaanku," ucap Raka dengan nada dingin tanpa dosa, memasukkan semua kartu dan uang tunai itu ke dalam saku celananya.
"Itu uangku, Raka! Itu uang operasional konveksi untuk besok pagi! Karyawan butuh makan! Dan kartu-kartu itu pakai namaku!" jerit Gita histeris. Ia menerjang maju, memukul-mukul dada Raka dengan kedua kepalan tangannya yang lemah. Air matanya mengalir semakin deras, menyadari betapa kejam dan sistematisnya pria ini melucuti semua alat pertahanannya.
Raka menepis tangan Gita dengan mudah, menangkap kedua pergelangan tangan istrinya dan mencengkeramnya erat hingga memerah. Pria itu menundukkan wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata Gita dengan sorot mengancam yang membuat darah Gita membeku.
"Aku yang mengurus administrasinya, jadi secara teknis itu adalah uang perusahaan yang terdaftar atas namaku, Raka Aditya. Dan ingat baik-baik, Gita. Kartu-kartu ini memang atas namamu, tapi rekening utamanya, sumber dananya, terhubung langsung ke rekeningku. Aku sudah menelepon pihak bank lima menit yang lalu untuk memblokir semua aksesmu. Sekarang, kartu-kartu ini cuma potongan plastik tidak berguna di tanganmu." Raka melepaskan cengkeramannya, lalu melempar dompet yang kini kosong melompong itu ke wajah Gita.
Dompet kulit itu membentur pipi Gita yang masih memar akibat tamparan tadi, lalu jatuh ke lantai.
Raka beralih mengambil kunci mobil Honda CRV yang tergeletak di atas kasur, memasukkannya ke saku yang lain. "Mobil ini aset perusahaan. Kamu tidak berhak membawanya. Kamu jalan kaki saja, atau panggil taksi. Itu pun kalau kamu punya sisa uang receh."
Gita menatap Raka dengan pandangan ngeri. Pria yang berdiri di hadapannya ini bukanlah suaminya. Ini adalah monster, iblis berwujud manusia yang telah merencanakan pemusnahan finansial dan sosialnya dengan sangat rapi dan keji. Raka tidak hanya mengusirnya, pria itu memastikan Gita keluar dari rumah ini dalam keadaan telanjang bulat secara finansial. Pria itu merampas nyawanya, merampas darahnya, merampas masa depannya.
Gita menelan ludah yang terasa seperti pecahan kaca di tenggorokannya. Ia menunduk, memungut dompet kosongnya dengan tangan yang gemetar hebat, lalu memasukkannya kembali ke dalam tas tangannya bersama ponsel dan buku catatannya. Ia meraih gagang koper biru pudar itu, menariknya dengan sisa tenaga yang ia miliki. Roda koper yang rusak berderit nyaring, memecah kesunyian kamar yang terasa seperti kamar mayat baginya.
Ia melangkah keluar dari kamar, menyeret koper berat itu melewati Siska yang memandangnya dengan senyum puas, melewati Raka yang bahkan tidak menoleh sedikit pun padanya. Gita menuruni tangga dengan susah payah. Setiap kali roda kopernya membentur anak tangga kayu, bunyi BAM! BAM! BAM! menggema di seluruh penjuru rumah, seolah menjadi genderang kematian bagi pernikahannya.
Di lantai bawah, dekat pintu utama yang sudah terbuka lebar, Bu Ningsih dan Laras berdiri menanti. Dua algojo yang siap mengeksekusi martabatnya. Angin malam berhembus masuk dari pintu yang terbuka, menusuk kulit Gita yang hanya terbalut tunik sutra tipis.
Di luar, di pelataran rumah, terlihat beberapa tetangga mulai keluar dari pagar rumah mereka. Ada Ibu RT, ada satpam perumahan, ada asisten rumah tangga tetangga yang sedang membuang sampah. Mereka semua berkumpul dalam jarak aman, berbisik-bisik, menjadikan tragedi kehancuran hidup Gita sebagai tontonan gratis sinetron larut malam.
"Ayo cepat! Jangan lelet! Bau miskinmu bikin rumah ini kotor!" bentak Bu Ningsih seraya menendang koper Gita yang baru saja tiba di lantai bawah.
Tendangan Bu Ningsih membuat koper itu terguling, roda plastiknya yang rapuh patah dan terpelanting mengenai kaki Gita. Rasa sakit menjalar dari ujung jari kakinya, tapi Gita menahannya. Ia menegakkan kembali kopernya dengan susah payah.
Gita berdiri di ambang pintu, perbatasan antara surga yang ia bangun dan neraka yang menantinya di luar sana. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap untuk terakhir kalinya pada interior rumah mewah ini. Menatap meja marmer tempatnya menangis tadi, menatap lampu kristal yang cahayanya kini terasa menyilaukan dan menyakitkan, menatap dinding-dinding yang menyimpan tawa dan tangisnya selama lima belas tahun.
Tatapan Gita kemudian beralih pada Raka yang baru saja turun dari tangga, berdiri berdampingan dengan Laras, Bu Ningsih, dan Siska. Empat manusia yang telah menguliti hidupnya hidup-hidup.
Gita menegakkan punggungnya, mengangkat dagunya tinggi-tinggi meski air mata terus mengalir tanpa henti di wajahnya. Ia tidak akan memohon. Ia tidak akan bersujud meminta belas kasihan pada kawanan serigala ini.
"Raka... Bu Ningsih... Siska..." Suara Gita tidak lagi bergetar. Suara itu rendah, dalam, dan dipenuhi oleh sebuah sumpah serapah yang paling gelap. "Kalian ingat baik-baik wajahku malam ini. Ingat baik-baik wanita yang kalian tendang keluar tanpa membawa apa pun dari rumah yang ia bangun dengan darahnya sendiri. Karena aku bersumpah demi Tuhan yang menciptakan langit dan bumi... aku tidak akan mati di jalanan. Aku akan kembali. Dan saat hari itu tiba, aku pastikan kalian berempat yang akan mengemis memohon kematian di bawah kakiku."
Mendengar ancaman itu, Bu Ningsih mendecih ludah ke lantai. "Cuih! Banyak omong kamu, dasar gelandangan! Pergi sana!"
Wanita paruh baya itu maju, mendorong bahu Gita dengan sekuat tenaga menggunakan kedua tangannya.
Gita yang tidak siap, terhuyung ke belakang. Kakinya tersandung batas pintu utama. Ia jatuh terjengkang ke luar teras, lututnya menghantam lantai batu alam dengan sangat keras. Suara tulang yang berbenturan dengan batu terdengar ngilu. Kulit lututnya robek menembus celana kain yang ia kenakan, darah segar langsung merembes keluar. Kopernya ikut terlempar, resletingnya yang rusak terbuka sebagian, memuntahkan beberapa daster usangnya ke atas tanah.
Pemandangan itu disaksikan langsung oleh para tetangga yang mengintip dari balik pagar. Terdengar pekikan tertahan dari beberapa ibu-ibu, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani maju untuk menolong karena takut mencampuri urusan rumah tangga orang kaya. Pak Joko, sopir keluarga yang berdiri di dekat garasi, hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang pucat dan matanya yang berkaca-kaca melihat majikan perempuan yang selama ini selalu memberinya bonus THR dilecehkan sedemikian rupa.
"Tutup pintunya! Kunci gerbangnya!" teriak Raka dari dalam rumah dengan suara menggelegar, memberikan perintah kepada satpam pribadinya.
BLAM!
Pintu kayu jati berukir raksasa itu dibanting tertutup dengan sangat keras, suaranya memekakkan telinga, memutus akses Gita dari dunia yang selama ini ia kenal. Terdengar bunyi putaran kunci ganda dari dalam. Klik. Klik.
Gita masih terduduk di atas lantai batu alam teras rumahnya yang dingin. Darah merembes perlahan dari lututnya, bercampur dengan debu. Angin malam bulan April yang menusuk tulang menerpa wajahnya, mengeringkan air mata di pipinya yang memar.
Ia sendirian. Benar-benar sendirian.
Diusir dari istananya sendiri, dirampok habis-habisan oleh pria yang paling ia percayai, dan dibuang seperti anjing kudisan di tengah malam buta. Gita menunduk menatap telapak tangannya yang kotor dan gemetar, telapak tangan yang selama lima belas tahun membangun kekayaan yang kini dinikmati oleh seorang pelacur.
Kegelapan malam menelannya bulat-bulat. Tidak ada tempat untuk pulang, tidak ada bahu untuk bersandar, tidak ada uang untuk berlindung. Di hadapannya, jalan aspal panjang yang gelap dan asing menanti langkah pertamanya menuju kehancuran yang tak berujung.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar