Malam terasa begitu panjang dan menyiksa, seolah waktu sengaja berhenti berdetak hanya untuk memperpanjang durasi penderitaan Gita. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia duduk mematung di atas karpet ruang kerjanya. Mungkin satu jam, mungkin dua jam. Matanya bengkak, kering, dan perih karena terlalu banyak menangis hingga kelenjar air matanya tak mampu lagi memproduksi cairan. Hidungnya tersumbat, dan kepalanya berdenyut nyeri seakan ada ribuan jarum yang ditusukkan dari dalam tengkoraknya.

Udara dingin dari Air Conditioner yang dibiarkan menyala menusuk tulang-tulangnya, namun Gita tidak peduli. Rasa dingin itu tidak sebanding dengan kebekuan yang menyelimuti hatinya. Pandangannya kosong, menatap nanar pada brankas besi yang pintunya masih menganga lebar, menampilkan kekosongan yang merefleksikan hidupnya saat ini. Semua dokumen penting telah dirampas kembali oleh Raka.

Gita berusaha mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya yang berserakan. Otaknya yang cerdas, yang biasanya dengan mudah memecahkan masalah produksi konveksi yang rumit, kini buntu. Ia terjebak dalam labirin keputusasaan tanpa tahu di mana letak pintu keluarnya.

Tiba-tiba, keheningan rumah besar itu dipecahkan oleh suara bel pintu utama yang berbunyi nyaring dan bertalu-talu. Ting-tong! Ting-tong!

Suara itu disusul oleh suara deru mesin dua buah mobil yang baru saja memasuki pelataran parkir rumahnya. Disusul suara pintu mobil yang dibanting, lalu suara percakapan beberapa orang dewasa yang terdengar sayup-sayup dari lantai bawah.

Gita tersentak pelan dari lamunannya. Tubuhnya bereaksi. Harapan, sebuah perasaan kecil yang rapuh namun persisten, mendadak mekar kembali di sudut hatinya.

Itu pasti keluarga Mas Raka, batin Gita.

Ia sangat mengenali suara deru mesin mobil Kijang Innova milik mertuanya, Ibu Ningsih, yang setiap akhir pekan selalu datang berkunjung. Gita memaksa tubuhnya yang kaku dan remuk redam untuk bangkit berdiri. Ia berpegangan pada tepi meja kerjanya. Ya, Ibu Ningsih dan adik perempuan Raka, Siska, pasti datang. Mungkin Raka yang menelepon mereka.

Sebuah secercah cahaya ilusi menerangi pikiran kalut Gita. Mertuanya pasti akan memarahi Raka. Mereka pasti akan membelanya. Selama sepuluh tahun terakhir, kehidupan ekonomi keluarga Raka ditopang penuh oleh uang yang dikirimkan Gita dari hasil keuntungan konveksi. Siapa yang merenovasi rumah tua Bu Ningsih di kampung hingga menjadi rumah paling gedongan di desa? Gita. Siapa yang melunasi biaya operasi bypass jantung Bu Ningsih tiga tahun lalu yang menghabiskan dana ratusan juta rupiah? Gita. Siapa yang membayar lunas uang pangkal masuk universitas swasta ternama untuk Siska, membelikan gadis itu mobil city car merah untuk kuliah, hingga membiayai pesta pernikahan Siska di gedung mewah tahun lalu? Semuanya uang Gita.

Meski mereka selalu melontarkan sindiran tajam tentang Gita yang belum bisa memberikan keturunan, Gita selalu membalasnya dengan senyuman dan amplop tebal. Ia yakin, kali ini, di saat rumah tangga putranya berada di ujung tanduk karena kehadiran seorang pelakor, Bu Ningsih pasti akan menggunakan otoritasnya sebagai ibu untuk mengusir Laras. Mereka tidak mungkin melupakan budi baik Gita yang telah mengangkat derajat keluarga mereka dari jurang kemiskinan.

Dengan sisa tenaga dan harapan palsu yang ia pegang erat, Gita merapikan rambutnya yang berantakan, menghapus sisa air mata di pipinya dengan punggung tangannya yang gemetar. Ia melangkah keluar dari ruang kerja, menuruni anak tangga kayu melingkar itu dengan tergesa-gesa.

Saat ia baru mencapai pertengahan tangga, langkah Gita terhenti tiba-tiba. Kakinya terpaku di atas anak tangga. Pemandangan yang tersaji di ruang keluarga di lantai bawah itu membekukan darah di pembuluhnya seketika, menghancurkan sisa-sisa kewarasan dan harapannya menjadi debu yang tertiup angin malam.

Di sana, di ruang keluarga yang terang benderang, berdiri Bu Ningsih—mertuanya yang mengenakan gamis sutra mahal—dan Siska, adik iparnya yang menenteng tas branded keluaran terbaru. Raka berdiri di samping mereka. Namun bukan kehadiran mereka yang membuat jantung Gita berhenti berdetak, melainkan apa yang sedang mereka lakukan.

Bu Ningsih tidak sedang memarahi Raka. Wanita paruh baya itu justru sedang memeluk Laras dengan sangat erat dan penuh kasih sayang. Wajah keriput Bu Ningsih memancarkan kebahagiaan yang luar biasa. Ia mengelus-elus punggung Laras, lalu tangannya turun, mengusap perut Laras yang masih rata dengan kelembutan yang tidak pernah, sekalipun, Gita dapatkan selama lima belas tahun menjadi menantunya.

"Ya ampun, Laras... menantu Mama yang cantik," ucap Bu Ningsih dengan suara yang bergetar penuh haru, suaranya menggema mencapai telinga Gita di atas tangga. "Kamu sehat-sehat, kan, Nak? Kandungannya nggak rewel? Aduh, Mama ini seneng banget pas Raka nebak kabarin kalau kamu udah positif hamil. Akhirnya... akhirnya doa Mama selama puluhan tahun terkabul. Mama bakal punya cucu laki-laki dari Raka."

"Alhamdulillah sehat, Ma. Dedek bayinya anteng kok di dalam," jawab Laras dengan nada manja dan sok suci. Ia mencium punggung tangan Bu Ningsih dengan takzim. "Maaf ya, Ma, Laras baru bisa pindah ke sini sekarang. Mas Raka yang minta nunggu momen pas anniversary ini biar lebih... epik."

"Ah, nggak apa-apa, sayang. Yang penting sekarang kamu udah ada di rumah ini. Rumah suami kamu yang sah," balas Bu Ningsih dengan senyum semringah yang membuat perut Gita mual muntah seketika.

Di sampingnya, Siska, adik ipar yang selama ini biaya hidupnya dibanggung Gita, ikut menimpali sambil tersenyum lebar. Siska yang malam itu mengenakan gelang emas tebal—gelang yang dibelikan Gita bulan lalu sebagai hadiah ulang tahunnya—memeluk bahu Laras dengan akrab.

"Bener tuh, Mbak Laras. Rumah sebesar ini sayang banget kalau sepi, nggak ada suara anak kecil," celoteh Siska dengan nada sengaja dikeraskan. "Lagian, Mas Raka emang butuh istri yang beneran bisa ngurus dia dan ngasih keturunan. Bukan cuma istri yang sibuk sendiri sama mesin jahitnya di pabrik bau debu, tapi mandul." Siska tertawa kecil, melirik sinis ke arah tangga atas.

Dada Gita terasa seperti ditusuk ribuan belati tajam yang diputar secara serentak. Napasnya tersendat, udaranya direnggut habis. Kepalanya pusing bukan kepalang.

Mereka tahu.

Kenyataan brutal itu menghantamnya tanpa ampun. Bu Ningsih tahu. Siska tahu. Mereka semua tahu tentang pernikahan siri ini. Mereka tahu tentang Laras, mereka tahu tentang kehamilan ini, dan mereka semua menyembunyikannya dari Gita. Bersekongkol dengan Raka untuk menusuknya dari belakang. Mereka menikmati uang hasil keringat Gita setiap bulan, sementara di belakangnya, mereka merestui pria itu menghamburkan uang Gita untuk menikahi perempuan lain.

Kemarahan yang sebelumnya hanya membakar hati Gita, kini meledak menjadi api neraka yang menjalar ke seluruh saraf di tubuhnya. Ia tidak lagi peduli pada sopan santun. Ia tidak peduli pada rasa hormat. Dengan langkah lebar dan berat yang menghentak keras di setiap anak tangga, Gita turun, menerobos keheningan ruangan itu bagaikan badai yang siap menghancurkan segalanya.

"Oh... jadi begini kelakuan kalian di belakangku?!" suara Gita menggelegar, memantul di dinding-dinding rumah yang luas. Suaranya serak, tajam, dan penuh dengan kebencian absolut.

Sontak, tawa dan obrolan hangat keluarga itu terhenti. Empat pasang mata menoleh serentak ke arah bawah tangga tempat Gita berdiri dengan dada naik turun, wajah memerah padam, dan tangan terkepal erat hingga urat-urat nadi di lengannya terlihat menonjol.

Raka mendecak sebal, merotasikan bola matanya, tampak sangat terganggu dengan kehadiran istrinya. "Gita, jangan mulai lagi. Ini sudah larut malam."

"Diam kamu, Raka!" bentak Gita dengan telunjuk mengarah tepat ke wajah suaminya. "Urusanku sekarang bukan cuma sama pelacur peliharaanmu ini, tapi sama keluarga lintah daratmu ini!"

Gita memindahkan tatapan berapinya kepada Bu Ningsih dan Siska yang kini menatapnya dengan raut wajah defensif. Gita tertawa sumbang, sebuah tawa kering yang terdengar sangat menyedihkan dan sarat akan luka.

"Luar biasa ya, sandiwara kalian sekeluarga ini," desis Gita seraya melangkah perlahan mendekati mereka, membuat Bu Ningsih secara refleks menarik Laras ke belakang punggungnya seolah Gita adalah monster berpenyakit menular. "Ibu Ningsih yang terhormat... Siska sang adik ipar kesayangan... kalian tahu semuanya, kan? Kalian bersekongkol menjebakku di rumahku sendiri. Kalian membiarkan anak laki-laki kebanggaan kalian ini menghancurkan rumah tangganya, membuang istri yang sudah menghidupi kalian selama sepuluh tahun!"

"Heh, Gita! Jaga mulutmu kalau bicara sama orang tua!" Bu Ningsih akhirnya bersuara, menunjuk wajah Gita dengan tangan gemetar karena emosi. Matanya mendelik tajam, tak ada lagi sisa-sisa mertua yang selalu memanggil Gita 'anakku sayang' setiap kali tanggal gajian tiba. "Siapa yang kamu panggil lintah darat?! Kamu itu cuma istri dari anakku! Jangan kurang ajar!"

"Kurang ajar?!" Gita balas berteriak, air mata kemarahan kembali menggenang di pelupuk matanya namun ia tahan agar tidak jatuh. Ia pantang terlihat lemah di depan mereka. "Ibu yang kurang ajar! Kalian sekeluarga yang tidak tahu diri! Ibu lupa siapa yang bayar biaya operasi jantung Ibu tiga tahun lalu?! Tiga ratus juta, Bu! Uang dari mana?! Dari kantong Raka? Bukan! Raka cuma manajer palsu yang nggak ngerti apa-apa soal jahit kain! Itu uang hasil lemburku siang malam! Uang dari darahku!"

Gita mengalihkan telunjuknya ke arah Siska yang kini mematung dengan wajah memucat. "Dan kamu, Siska! Kamu bangga pamer tas mahal dan gelang emas di depan mataku sekarang? Kamu lupa siapa yang bayar lunas uang kuliahmu di Jakarta?! Siapa yang biayain resepsi pernikahan mewahmudi hotel bintang lima tahun lalu karena suamimu yang pengangguran itu nggak punya modal?! Aku yang bayar! Aku yang menghidupi kalian semua dari kemiskinan yang mencekik!"

Ruang keluarga itu hening sejenak, hanya terdengar napas memburu Gita yang kehabisan oksigen setelah memuntahkan fakta-fakta menyakitkan tersebut. Siska menundukkan kepalanya, menggigit bibir bawahnya, tidak berani menatap mata kakak iparnya.

Namun, alih-alih merasa malu atau bersalah setelah kebohongannya dan sifat parasitnya ditelanjangi habis-habisan, wajah Bu Ningsih justru mengeras. Ego dan arogansinya sebagai ibu dari seorang laki-laki yang ia anggap derajatnya jauh lebih tinggi dari perempuan mana pun, mengambil alih. Ia melangkah maju, membusungkan dadanya menantang Gita.

"Terus kenapa kalau kamu yang bayar semuanya?!" teriak Bu Ningsih dengan suara melengking yang menyakitkan telinga. "Kamu pikir dengan uangmu itu kamu bisa membeli harga diri anak laki-lakiku?! Kamu pikir uangmu itu bisa menebus kecacatanmu sebagai perempuan yang tidak bisa hamil?!"

Kata-kata Bu Ningsih melesat bagai anak panah beracun, menancap tepat di ulu hati Gita. Napas Gita tercekat.

"Dengar ya, Gita," lanjut Bu Ningsih dengan nada suara merendahkan, ia berkacak pinggang menatap Gita dari ujung kepala hingga kaki. "Tugas utama seorang istri itu melayani suami di ranjang dan memberikan keturunan penerus keluarga! Kamu ngasih apa ke Raka selama lima belas tahun ini? Cuma uang?! Uang itu nggak bisa nerusin marga keluarga kami! Uang istri itu pada hakikatnya adalah uang suami. Apapun yang kamu hasilkan setelah menikah, itu hak milik Raka karena dia kepala keluarga. Dan sebagai ibunya, uang Raka adalah uangku juga! Jadi jangan sok berjasa dan merasa paling berkorban!"

Logika sesat dan tidak masuk akal yang dilontarkan mertuanya itu membuat Gita merasa dunia benar-benar sudah gila. Ia menatap lekat-lekat wajah-wajah di depannya. Wajah Raka yang angkuh dan acuh tak acuh. Wajah Siska yang memalingkan muka pura-pura tuli. Wajah Laras yang tersenyum sinis penuh kemenangan di balik perlindungan ibu mertua barunya. Dan wajah Bu Ningsih yang menatapnya dengan penuh kebencian dan rasa jijik yang tak ditutup-tutupi.

Gita menyadari satu hal malam ini. Ia sendirian. Tidak ada yang pernah benar-benar mencintainya di keluarga ini. Mereka tidak melihatnya sebagai manusia, sebagai istri, atau sebagai anggota keluarga. Di mata mereka, Gita hanyalah sebuah mesin ATM berjalan yang bisa diperah tenaganya, diambil hartanya, lalu ditendang keluar saat mesin itu dianggap sudah rusak karena tidak bisa mencetak keturunan. Semua kebaikan, pengorbanan, dan cintanya selama lima belas tahun ternyata tidak ada artinya di hadapan keserakahan dan ego keluarga ini.

"Kalian semua... benar-benar iblis," desis Gita pelan, suaranya parau menahan rasa sakit yang teramat sangat dalam. Keputusasaan mulai menyelimuti matanya yang memerah.

"Siapa yang iblis?! Kamu yang iblis, istri mandul pembawa sial!" Bu Ningsih menunjuk-nunjuk pintu depan dengan beringas. Wajahnya merah padam. "Raka sudah menceritakan semuanya sama Mama! Sertifikat rumah ini milik Raka! Uang di bank milik Raka! Kamu nggak punya hak sepeser pun di sini! Sadar dirilah, perempuan tidak tahu diuntung!"

Bu Ningsih melangkah mendekati Gita, menatap tepat ke dalam matanya dengan kebencian murni, dan melontarkan kalimat terakhir yang mengunci nasib Gita malam itu. Kalimat yang akan mengubah hidup Gita selamanya.

"Kamu cuma numpang di sini, Gita. Kamu tidak diinginkan lagi. Jadi kemasi barang rosokanmu, dan keluar dari rumah anakku sekarang juga!"