"Aku tidak akan menjadi istri yang kau harapkan."

Suara Nadira mengalun datar, menembus keheningan ruang rias yang terasa sedingin lemari es. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar berbingkai kayu jati ukir, membiarkan matanya menelusuri setiap inci penampilannya yang terasa sangat asing. Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu mengenakan kebaya putih sederhana berbahan brokat halus. Tidak ada payet yang berlebihan, tidak ada mahkota berkilau, dan tidak ada senyum bahagia yang biasanya menghiasi wajah seorang pengantin. Hanya ada sanggul rapi yang menahan rambut hitam legamnya, serta pulasan riasan tipis yang bahkan gagal menutupi rona pucat di wajahnya yang kehilangan nyawa.

Di belakangnya, pantulan seorang pria dewasa bersetelan jas hitam pekat tampak mendominasi ruangan. Pria itu baru saja melangkah masuk tanpa mengetuk, membawa serta aura intimidasi yang membuat oksigen di sekitar Nadira seolah tersedot habis. Arkana Mahendra. Pria berusia empat puluh empat tahun itu berdiri dengan postur tegap yang tak tergoyahkan, menyilangkan kedua tangan di dada. Matanya yang tajam, kelam, dan tak terbaca menatap Nadira melalui pantulan cermin. Ia menilai gadis itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, persis seperti seorang eksekutif kejam yang sedang mengevaluasi aset perusahaan yang baru saja diakuisisinya.

Mendengar kalimat pembuka Nadira yang penuh dengan duri pertahanan, sudut bibir Arkana nyaris tidak berkedut.

"Kuharap kau mengingat kalimat itu baik-baik, Nadira," balas Arkana. Suaranya berat, maskulin, dengan intonasi rendah yang menggetarkan udara di sekitarnya. "Karena ekspektasiku terhadapmu sama sekali tidak melibatkan drama emosional murahan, apalagi ilusi tentang keluarga bahagia."

Nadira memejamkan mata sejenak. Tangannya yang bertumpu pada meja rias terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Ia menelan ludah, berusaha mendorong paksa kepahitan yang menggores kerongkongannya bak pecahan kaca. Tiga minggu. Hanya butuh waktu tiga minggu bagi dunianya yang tenang untuk hancur lebur tanpa sisa. Tiga minggu yang lalu, ia hanyalah seorang mahasiswi tingkat akhir yang sedang sibuk menyusun skripsi dan bermimpi bekerja di sebuah firma desain interior. Kini, ia mengenakan kebaya pengantin untuk menyerahkan kebebasannya kepada pria yang usianya hampir dua kali lipat darinya.

Semua ini bermula dari sebuah skandal kotor. Skandal penggelapan dana bernilai puluhan miliar dan kecelakaan lalu lintas fatal yang melibatkan Kevin—putra sulung Arkana dari pernikahan sebelumnya. Kevin yang mabuk telah menabrak seorang pejalan kaki hingga tewas, dan dalam kepanikannya, pemuda itu menggunakan dana darurat perusahaan untuk menyuap berbagai pihak demi menutupi jejaknya. Sayangnya, jejak itu mengarah pada satu orang: Rasyid. Ayah Nadira yang bekerja sebagai kepala akuntan di perusahaan milik Arkana.

Dewan direksi yang korup menjadikan Rasyid sebagai kambing hitam. Ayahnya, seorang pria jujur yang hidupnya hanya didedikasikan untuk membesarkan Nadira seorang diri setelah istrinya meninggal, tiba-tiba dihadapkan pada ancaman dua puluh tahun penjara. Nadira masih ingat malam itu—malam di mana ayahnya pulang dengan seragam kerja yang kusut, bersimpuh di lantai ruang tamu, dan menangis tersedu-sedu seperti anak kecil yang kehilangan arah.

Lalu, Arkana Mahendra turun tangan. Pria yang tak tersentuh itu datang membawa sebuah rancangan 'solusi' yang lebih terdengar seperti vonis mati bagi masa muda Nadira. Arkana akan membersihkan nama Rasyid sepenuhnya. Ia akan menggunakan pengaruhnya untuk membungkam media, membereskan kekacauan hukum, melunasi seluruh kerugian perusahaan dari kantong pribadinya, dan mengirim Kevin jauh ke Eropa. Namun, di dunia Arkana, tidak ada makan siang gratis. Syaratnya hanya satu, dan tidak bisa dinegosiasi: Nadira harus menikah dengannya.

Sebuah pernikahan dadakan dan tertutup. Arkana membutuhkan pengalihan isu yang sempurna. Ia butuh citra baru di mata publik dan para pemegang saham yang mulai meragukan stabilitas mentalnya setelah kegagalan pernikahan pertamanya dan kekacauan yang ditimbulkan putranya. Pernikahan dengan gadis dari keluarga biasa yang bersih dari skandal akan memberinya narasi yang tepat: seorang CEO mapan yang kembali membangun kehidupan keluarga yang harmonis. Nadira hanyalah pion di atas papan catur pria itu.

"Waktunya tiba," suara parau dan bergetar memecah keheningan yang mencekik di ruang rias tersebut.

Nadira membuka matanya. Melalui cermin, ia melihat pantulan Rasyid yang berdiri di ambang pintu. Pria paruh baya itu mengenakan kemeja batik yang terlihat kebesaran di tubuhnya yang semakin kurus. Bahunya merosot, matanya memerah, dan bibirnya bergetar menahan isak tangis yang tak berani ia tumpahkan di hadapan Arkana. Rasyid tampak seperti pria yang jiwanya telah diremukkan. Ia merasa gagal. Gagal sebagai seorang pelindung, gagal sebagai seorang ayah.

Nadira memutar tubuhnya perlahan, mengabaikan eksistensi Arkana sejenak. Ia berjalan mendekati ayahnya, suara gesekan kain kebayanya terdengar berdesir di lantai marmer. Ia menyentuh lengan Rasyid dengan kedua tangannya yang dingin namun mantap. Tidak ada setetes pun air mata di pelupuk mata Nadira. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri sejak malam Arkana menyodorkan kesepakatan itu bahwa ia tidak akan pernah menangis meratapi nasibnya. Tangisan hanya akan menunjukkan kelemahan, dan di hadapan predator berdarah dingin seperti Arkana Mahendra, kelemahan adalah pemicu untuk dikendalikan lebih jauh.

"Semuanya akan baik-baik saja," bisik Nadira, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada ayahnya. "Ayo, Yah. Jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama."

Ruang tamu kediaman Rasyid yang biasanya terasa hangat dan nyaman kini disulap menjadi tempat akad nikah seadanya yang menyesakkan dada. Perabot-perabot tua telah disingkirkan ke sudut, digantikan oleh karpet permadani dan sebuah meja kecil berlapis kain putih di tengah ruangan. Udara terasa pengap, kipas angin di langit-langit berputar lamban seolah ikut enggan merayakan hari ini. Kontras dengan kesederhanaan ruangan itu, aroma parfum maskulin Arkana—campuran vetiver, kayu cendana, dan sesuatu yang beraroma kekuasaan—menginvasi indra penciuman Nadira, mendominasi aroma melati dari riasannya.

Hanya ada segelintir orang di sana. Penghulu dari KUA setempat yang tampak gugup, dua pria berbadan tegap berpakaian rapi yang bertindak sebagai saksi dari pihak Arkana—yang wajahnya kaku tanpa ekspresi layaknya robot—serta Rasyid dan Nadira. Tidak ada keluarga besar, tidak ada tetangga, tidak ada kerabat. Arkana benar-benar memastikan pernikahan ini kedap suara hingga tiba waktunya untuk diumumkan ke publik.

Arkana duduk bersila di hadapan Rasyid. Postur tubuh pria itu terlalu besar, auranya terlalu berkuasa untuk berada di ruangan berukuran empat kali empat meter ini. Jas mahalnya tampak kontras dengan cat dinding rumah yang mulai mengelupas di beberapa sudut. Rahang Arkana yang tegas mengeras, sorot matanya lurus menatap Rasyid tanpa keraguan sedikit pun. Ia tampak seperti sedang menyetujui sebuah kontrak bisnis bernilai triliunan rupiah, bukan sedang mengambil alih tanggung jawab atas hidup seorang wanita.

Penghulu berdeham, memecah ketegangan yang menggantung tebal di udara, lalu mulai membacakan khotbah nikah yang terdengar seperti gumaman tanpa makna di telinga Nadira. Gadis itu duduk menunduk di sebelah ayahnya. Matanya terpaku pada pola serat karpet di bawahnya. Jantungnya berdetak lambat, mati rasa. Ia mengunci rapat-rapat pintu perasaannya, membangun dinding bata tak kasat mata di sekeliling kewarasannya.

"Saudara Arkana Mahendra bin almarhum Haris Mahendra..." Rasyid memulai, suaranya pecah di suku kata pertama. Pria tua itu harus berhenti sejenak, menarik napas panjang yang terdengar menyakitkan, sebelum melanjutkan dengan tangan yang bergetar saat menjabat tangan kokoh Arkana. "Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Nadira Azzahra, dengan mas kawin perhiasan emas seberat lima puluh gram dan uang tunai seratus juta rupiah, dibayar tunai."

Tidak ada jeda. Tidak ada keraguan sedetik pun dari pria di hadapannya.

"Saya terima nikah dan kawinnya Nadira Azzahra binti Rasyid dengan mas kawin tersebut, dibayar tunai."

Satu tarikan napas. Lantang. Mantap. Tanpa getar emosi. Suara bariton Arkana mengisi setiap sudut ruangan, menyegel takdir mereka berdua.

"Bagaimana saksi? Sah?"

"Sah."

"Sah."

Kata sah bergema di ruangan itu, meruntuhkan dunia Nadira untuk yang kedua kalinya. Kata itu mengunci takdirnya dalam sebuah sangkar emas yang dingin. Nadira masih menunduk ketika Arkana beringsut mendekat kepadanya untuk memakaikan cincin. Tangan besar dan hangat milik Arkana meraih tangan Nadira yang sedingin es. Jari panjang pria itu dengan cekatan menyematkan sebuah cincin berlian berpotongan zamrud di jari manis Nadira. Cincin itu pas sempurna, berkilau memantulkan cahaya lampu, namun terasa sangat berat, seolah batu berharga itu menghisap seluruh kebebasan dan oksigen dari paru-paru Nadira.

Kini gilirannya. Dengan gerakan mekanis, Nadira mengambil cincin platina polos dari kotak bludru merah dan menyematkannya di jari manis Arkana. Setelah itu, sesuai instruksi penghulu yang terdengar mendesak, Nadira meraih punggung tangan suaminya untuk menciumnya. Sebuah bentuk penghormatan dan ketaatan.

Saat hidungnya menyentuh punggung tangan pria itu, Nadira bisa merasakan tekstur kulit Arkana, aroma maskulin yang memabukkan, dan kehangatan suhu tubuhnya. Semua itu berbanding terbalik dengan sikapnya yang membeku. Sebagai balasan, Arkana meletakkan tangan kirinya di atas puncak kepala Nadira. Sebuah sentuhan ringan, sangat prosedural, tanpa afeksi, tanpa doa tulus yang biasanya diucapkan seorang suami, yang berlangsung kurang dari tiga detik sebelum pria itu menarik tangannya kembali.

Acara selesai dalam waktu kurang dari satu jam. Dokumen-dokumen negara ditandatangani. Buku nikah berwarna merah dan hijau diserahkan. Tidak ada resepsi megah, tidak ada tawa bahagia kerabat, tidak ada ucapan selamat yang tulus. Penghulu dan kedua saksi langsung berpamitan, diantar oleh salah satu anak buah Arkana, meninggalkan pasangan yang baru menikah itu bersama Rasyid di ruang tamu.

Begitu pintu depan tertutup, Rasyid tidak bisa menahannya lagi. Ia memeluk Nadira erat-erat, menenggelamkan wajahnya di bahu putrinya, dan tangisnya akhirnya pecah menjadi isakan yang menyayat hati.

"Maafkan Ayah, Nadi... Maafkan Ayah..." isak Rasyid berulang kali, suaranya teredam di kain kebaya Nadira. Pria itu memeluk putrinya seakan ini adalah detik terakhir mereka bisa bernapas di udara yang sama. "Ayah pria yang tidak berguna. Ayah mengorbankan masa depanmu demi kesalahan yang tidak Ayah lakukan."

Nadira menelan bongkahan batu di tenggorokannya. Ia mengusap punggung ayahnya yang bergetar hebat dengan gerakan konstan dan menenangkan. Ia menatap lurus melewati bahu ayahnya, matanya kosong menatap dinding ruang tamu yang memajang foto kelulusannya.

"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Yah," ucap Nadira pelan, memastikan suaranya tidak bergetar. "Nadira yang memilih ini. Nadira tidak akan membiarkan Ayah membusuk di penjara demi bajingan-bajingan itu. Ayah akan aman sekarang. Semuanya sudah selesai."

Dari sudut ruangan, Arkana berdiri dalam diam, mengamati interaksi melodramatis ayah dan anak itu. Ia telah memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan hitamnya. Wajahnya tetap datar seperti pahatan marmer, namun matanya merekam setiap detail di depannya. Ia melihat bagaimana Nadira dengan keras kepala menahan dagunya agar tetap terangkat. Ia melihat kilat kemarahan dan kebanggaan yang berbaur di mata gadis itu, menolak membiarkan air matanya jatuh di hadapan pria yang telah membelinya.

Di dalam benak Arkana yang sangat analitis, muncul setitik rasa heran. Gadis-gadis seusianya yang pernah ia temui biasanya akan menangis histeris, menuntut kemewahan, atau mencoba merayunya. Namun Nadira berbeda. Gadis ini memiliki duri, dan ia menggunakannya untuk menutupi lukanya sendiri. Setidaknya, pikir Arkana, gadis ini tidak cengeng. Ia benci wanita cengeng.

"Barang-barangmu sudah dimasukkan ke mobil?" suara Arkana yang tajam memotong momen emosional itu tanpa belas kasihan. Waktu adalah uang, dan ia sudah membuang terlalu banyak waktu berharganya hari ini untuk sebuah sandiwara seremonial. Jadwal pertemuannya dengan investor dari Singapura akan dimulai tiga jam lagi.

Nadira perlahan melepaskan pelukan ayahnya. Ia memberikan satu senyuman tipis yang menenangkan untuk Rasyid, sebelum memutar tubuhnya. Ia menatap lurus ke sepasang mata elang milik suaminya—suaminya, sebuah kata yang terasa sangat asing, beracun, dan menjijikkan saat diucapkan di dalam kepalanya.

"Sudah," jawab Nadira singkat. Nada suaranya kembali sedingin es.

"Kalau begitu, kita berangkat sekarang." Arkana membalikkan badan, melangkah keluar pintu tanpa mengucapkan pamit yang layak kepada ayah mertuanya.

Nadira mencium punggung tangan ayahnya untuk terakhir kali. "Nadi pergi dulu, Yah. Jaga kesehatan. Nadi akan sering menelepon."

Rasyid hanya bisa mengangguk pasrah, mengusap air matanya saat melihat putri semata wayangnya berjalan keluar rumah, menyusul langkah lebar pria yang kini menguasai hidupnya.

Di luar, udara siang yang terik terasa menyengat kulit. Sebuah mobil sedan Maybach hitam legam yang mewah terparkir mendominasi jalanan sempit di depan rumah. Seorang sopir berseragam rapi dengan sigap membukakan pintu belakang. Nadira masuk lebih dulu, mencium aroma kulit interior mobil yang mahal, disusul oleh Arkana yang duduk di sebelahnya. Pintu ditutup dengan suara thud yang berat, memotong semua suara dari luar, memisahkan Nadira dari kehidupan lamanya secara permanen.

Di dalam kabin mobil yang kedap suara dan berpendingin udara itu, keheningan langsung mengambil alih. Jarak antara paha Nadira dan Arkana hanya terpisah belasan sentimeter, namun rasanya seperti ada jurang tak berdasar yang memisahkan mereka. Nadira membuang muka, menatap ke luar jendela yang berkaca gelap. Ia melihat rumah masa kecilnya, tempat ia belajar berjalan, tertawa, dan menangis, perlahan bergerak mundur dan mengecil sebelum akhirnya menghilang di belokan jalan. Bersamaan dengan itu, sirnalah seluruh sisa kebebasan yang ia miliki.

Nadira menarik napas panjang, mengisi paru-parunya, mencoba meredam debar jantungnya yang berontak melawan kepanikan yang mulai merayap naik. Ia tahu, mulai detik ini, hidupnya adalah sebuah medan perang. Ia harus menetapkan batas teritori sejak awal jika tidak ingin diinjak-injak. Ia tidak akan membiarkan pria arogansi di sebelahnya ini menelan harga dirinya bulat-bulat.

Nadira memutar kepalanya perlahan. Ia menatap Arkana. Pria itu sama sekali tidak menoleh padanya. Arkana sudah mengeluarkan sebuah tablet canggih dari tas kerjanya dan mulai membaca deretan angka serta grafik laporan keuangan. Wajahnya serius, dahinya berkerut samar. Pria itu bersikap seolah ia sedang duduk di kursi kebesarannya di lantai lima puluh gedung perusahaannya, bukan sedang berada di perjalanan menuju rumah setelah prosesi akad nikahnya sendiri. Arkana benar-benar menganggapnya tidak kasat mata.

Rasa panas menjalar di dada Nadira. Harga dirinya tersengat.

"Aku akan melakukan apa yang menjadi tugasku di depan publik," Nadira membuka suara. Suaranya tidak keras, namun setajam sembilu yang mengiris keheningan kabin. "Aku akan tersenyum saat kau butuh aku tersenyum di depan kamera. Aku akan diam saat kau butuh aku diam di acara bisnismu. Aku akan memainkan peran ini dengan sempurna."

Jari Arkana yang sedang menggeser layar tablet berhenti di udara. Pria itu perlahan menolehkan kepalanya. Tatapan matanya yang gelap dan mengintimidasi langsung menembus pertahanan Nadira, seolah berusaha menguliti isi kepala gadis itu.

Nadira tidak memalingkan wajahnya. Ia menahan napas, namun matanya tetap menantang. "Tapi di luar itu," lanjut Nadira, menekankan setiap suku kata, "jangan pernah berharap aku akan tunduk dan menjadi istri patuh yang memujamu di dalam rumah."

Arkana memiringkan kepalanya sedikit. Ia mengamati wajah tegang namun penuh perlawanan di hadapannya dengan saksama. Alih-alih marah, sebuah lengkungan tipis yang sangat sinis dan merendahkan terbentuk di salah satu sudut bibir pria dewasa itu. Ia melihat kemarahan Nadira bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai sebuah tantangan kecil yang menghibur.

"Bagus," jawab Arkana dengan suara rendah yang meluncur mulus namun mematikan. Matanya menelusuri rahang Nadira yang mengeras. "Karena aku juga tidak menikahimu untuk cinta."