Pagi pertama di kediaman Mahendra datang tanpa sambutan hangat dari sinar matahari. Langit Jakarta mendung, seolah bersimpati pada suasana hati Nadira. Gadis itu terbangun dengan rasa pening yang berdenyut di pelipisnya. Ia membuka mata, dan selama beberapa detik yang membingungkan, ia tidak mengenali langit-langit berornamen gipsum di atasnya. Aromanya salah—tidak ada wangi deterjen murah dan udara pengap khas kamarnya yang lama. Yang ada hanya aroma lavender yang terlalu kuat dari mesin pewangi ruangan mahal.
Realitas menghantam dadanya seperti palu godam. Ia kini adalah Nyonya Mahendra.
Nadira bangkit dari ranjang raksasa itu perlahan. Tubuhnya terasa remuk redam, bukan karena aktivitas fisik, melainkan karena kelelahan emosional yang menyedot habis energinya. Makan malam semalam adalah simulasi siksaan neraka. Empat puluh lima menit duduk di meja yang panjangnya mengintimidasi, mengunyah steak wagyu yang rasanya seperti karet di mulut Nadira, diiringi keheningan yang sangat canggung. Arkana sibuk dengan pikirannya sendiri, dan Kalista memancarkan aura permusuhan yang begitu pekat hingga membuat udara terasa sulit dihirup.
Nadira berjalan menuju cermin di kamar mandi. Kantung matanya menghitam. Ia menyalakan keran air dingin dan membasuh wajahnya berulang kali, mencoba menampar dirinya sendiri agar bangun dari mimpi buruk ini. Ia tidak boleh lemah. Perjanjian sudah ditandatangani. Ayahnya aman. Sekarang, yang perlu ia lakukan hanyalah bertahan hidup di rumah yang membekukan ini.
Setelah mandi, Nadira membuka lemarinya. Ia kembali dihadapkan pada realitas kesenjangan sosialnya. Ia memilih sebuah kemeja katun berwarna biru muda dan rok panjang hitam—pakaian yang biasa ia kenakan ke kampus saat akan bertemu dosen pembimbing skripsi. Ia menyisir rambutnya dan mengikatnya dalam gaya ponytail yang rapi. Tidak ada riasan wajah, hanya pelembap bibir sekadarnya.
Ketika Nadira melangkah menuruni tangga menuju ruang makan, ia sudah bisa mendengar denting halus garpu dan pisau perak yang beradu dengan piring porselen.
Di meja makan, Arkana duduk di tempatnya yang biasa. Pria itu sudah mengenakan setelan jas navy yang dipotong sempurna (bespoke), rambutnya disisir ke belakang dengan pomade, terlihat sangat tajam, segar, dan siap untuk menerkam lawan bisnisnya hari ini. Di tangan kirinya terdapat sebuah tablet yang menampilkan grafik saham, sementara tangan kanannya memegang secangkir kopi hitam.
Di sisi lain meja, Kalista sedang mengaduk oatmeal-nya dengan gerakan malas. Gadis belia itu mengenakan piyama sutra mewah, tampak tidak peduli dengan kehadiran dunia di sekitarnya.
Langkah Nadira yang memasuki ruangan membuat Arkana mendongak dari tabletnya selama sekian detik. Tatapan matanya yang kelam menyapu penampilan sederhana Nadira. Tidak ada komentar yang keluar dari mulut pria itu, namun Nadira bisa melihat sebelah alis Arkana terangkat milimeter kecil, sebelum pria itu kembali fokus pada layar di hadapannya.
"Selamat pagi," ucap Nadira sopan, memilih kursi yang agak jauh dari mereka berdua.
Bi Inah langsung muncul dengan cepat, menuangkan air putih ke gelas Nadira. "Anda ingin sarapan apa, Nyonya? Kami memiliki roti panggang, telur, pancake, atau nasi goreng."
"Roti panggang dan teh hangat saja, Bi. Terima kasih," jawab Nadira pelan.
Keheningan kembali menyelimuti ruangan itu. Hanya terdengar suara kunyahan pelan dan ketukan layar tablet Arkana. Nadira mencoba mengabaikan hawa dingin yang menguar dari Kalista. Ia menggigit rotinya dalam diam.
"Ayah tidak memberinya kartu kredit, ya?"
Suara Kalista tiba-tiba memecah keheningan. Pertanyaan itu tidak ditujukan kepada Nadira, melainkan pada Arkana, namun Kalista menatap lurus ke arah pakaian yang dikenakan Nadira dengan tatapan mencemooh.
Arkana tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan bacaannya di satu paragraf, meletakkan tabletnya di atas meja, lalu menatap putrinya dengan ekspresi tenang yang sulit ditebak. "Kenapa kamu bertanya?"
Kalista mendengus pelan, meletakkan sendoknya. "Hanya observasi. Dia memakai baju yang terlihat seperti beli di pasar loak. Besok Ayah ada konferensi pers tentang pernikahan konyol ini, kan? Kalau wartawan melihat 'istri baru' CEO Mahendra Group berpakaian seperti mahasiswi magang yang kelaparan, saham perusahaan Ayah bisa anjlok karena dikira kita sudah bangkrut."
Kata-kata Kalista diucapkan dengan nada santai, elegan, tanpa berteriak, namun bisa menyayat mental seseorang hingga berdarah-darah. Kalista sangat tahu cara menggunakan kelas sosialnya sebagai senjata.
Nadira merasakan wajahnya memanas. Telinganya berdenging. Tangannya yang memegang cangkir teh gemetar samar, namun ia buru-buru meletakkan cangkir itu kembali ke tatakannya agar tidak menimbulkan suara berisik yang menunjukkan kelemahannya.
Arkana melirik ke arah Nadira, mengamati reaksi gadis itu. Ini adalah sebuah ujian kecil. Di lingkungan bisnis Arkana yang kejam, orang yang terpancing emosi pada provokasi pertama adalah orang yang akan mati lebih dulu. Arkana ingin melihat bagaimana 'istri sewaan'-nya ini bertahan di bawah tekanan putri kandungnya sendiri.
Nadira tidak menunduk. Ia meraih serbet kain di pangkuannya, mengelap sudut bibirnya dengan gerakan pelan dan anggun yang secara mengejutkan terlihat sangat natural. Ia lalu menoleh, menatap tepat ke arah Kalista.
"Pakaian ini memang tidak dibeli di butik mewah tempatmu biasa berbelanja, Kalista," ucap Nadira. Suaranya sangat tenang, artikulasinya sangat jelas. "Tapi pakaian ini dibeli dengan uang halal hasil keringat ayahku, bukan dari hasil mengemis atau menipu. Jadi, pakaian ini sangat layak untuk kupakai."
Kalista menyipitkan matanya, tidak suka balasan tajam tersebut. "Uang halal? Jangan membuatku tertawa. Ayahmu hampir masuk penjara karena penggelapan dana perusahaan ayahku. Dan kau di sini sekarang karena ayahku harus menutupi kekacauan yang dibuat keluargamu."
Dada Nadira terasa seperti ditusuk jarum panas, tetapi ia mempertahankan ekspresi datarnya. Ia tahu fakta yang sebenarnya. Ayahnya tidak bersalah; Kevin, kakak Kalista-lah yang bersalah. Namun perjanjian diam yang dibuat oleh Arkana melarang siapa pun mengungkit kesalahan Kevin. Ayah Nadira rela mengambil peluru itu, dan Nadira tak akan membiarkan pengorbanan ayahnya sia-sia dengan membongkar rahasia di depan Kalista.
"Apa yang terjadi di perusahaan adalah urusan ayahku dan suamiku," Nadira menggunakan kata suamiku dengan sedikit penekanan sarkastik yang membuat Arkana diam-diam tertarik. "Tapi aku berdiri di sini sekarang, dan aku sangat tahu di mana posisiku."
Kalista mencondongkan tubuhnya ke depan, memangkas jarak secara agresif, matanya berkilat penuh kebencian. "Bagus kalau kamu sadar diri. Karena semua orang di lingkaran pergaulanku sudah tahu siapa dirimu sebenarnya. Mereka tahu kamu bukan wanita yang selevel dengan ayahku. Semua orang tahu kenapa kamu dinikahi Ayah. Kamu cuma alat. Alat murah yang beruntung bisa tinggal di rumah ini. Jadi jangan pernah berani bertingkah seolah kamu nyonya rumah di sini."
Serangan itu brutal, verbal, dan telanjang. Hinaan yang dilontarkan Kalista bergema di ruang makan yang mewah itu, menegaskan kembali status menyakitkan yang harus disandang Nadira.
Nadira merasakan matanya mulai memanas, tanda bahwa air mata pertahanan diri mulai berkumpul. Namun ia menggigit bagian dalam pipinya sekuat tenaga hingga ia mengecap rasa anyir darah. Ia menolak menangis di hadapan anak kecil yang manja ini, dan terutama di hadapan pria yang sedang mengamatinya dalam diam di ujung meja.
Nadira menarik napas panjang. Ia berdiri dari kursinya. Postur tubuhnya tegak, dagunya terangkat dengan kebanggaan yang tidak bisa dibeli dengan miliaran rupiah milik keluarga Mahendra.
"Aku mengerti pendapatmu, Kalista," jawab Nadira, suaranya kini sedikit bergetar karena menahan beban emosional yang terlampau berat, namun tetap terdengar lantang. "Aku tahu bagaimana orang-orang di luar sana akan memandangku. Mereka bisa memanggilku gold digger, simpanan, atau alat bayaran. Bebas."
Nadira lalu memutar wajahnya, menatap Arkana yang sejak tadi hanya menjadi penonton bisu. Sorot mata Nadira memancarkan perlawanan, kekecewaan, dan sebuah ketahanan yang luar biasa.
Arkana balas menatap mata cokelat gadis itu. Untuk pertama kalinya, Arkana merasa ada yang aneh di dadanya. Sebuah sengatan tipis yang tidak biasa saat melihat keputusasaan yang dibalut keberanian di wajah Nadira. Arkana selalu berpikir bahwa uang bisa menundukkan siapa saja. Namun menatap Nadira saat ini, ia mulai ragu apakah uangnya bisa benar-benar membeli ego gadis ini.
Nadira mencengkeram tepi meja makan hingga buku-buku jarinya memutih, lalu dengan satu tarikan napas terakhir, ia menjatuhkan kalimat penutupnya.
"Aku mungkin menikah karena keadaan," ucap Nadira, menekan setiap kata agar terukir di udara. "Aku mungkin terpaksa berada di rumah ini untuk menyelamatkan keluargaku. Tapi aku tidak menjual diriku. Tidak padamu, Kalista. Dan tidak pada ayahmu."
Tanpa menunggu balasan dari Kalista maupun Arkana, Nadira berbalik. Ia berjalan meninggalkan ruang makan dengan langkah cepat namun terukur, menjaga punggungnya tetap lurus hingga ia menghilang di balik lorong menuju tangga, membawa serta sisa-sisa harga diri yang mati-matian ia pertahankan.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar