"Tersenyumlah sedikit lagi. Kamera dari sudut kanan belum mendapatkan angle yang bagus."
Suara bariton yang berat dan maskulin itu berbisik tepat di telinga Nadira. Hembusan napas Arkana yang hangat menyapu anak rambut di pelipis gadis itu, mengantarkan desir halus yang memaksa bulu kuduknya meremang. Dari sudut pandang puluhan lensa kamera yang berkedip menyilaukan di hadapan mereka, bisikan itu terlihat seperti interaksi intim sepasang pengantin baru yang dimabuk asmara. Namun bagi Nadira, suara itu tak lebih dari sebuah komando militer yang dibalut beludru.
Ini adalah malam konferensi pers yang dijanjikan Arkana. Malam di mana Nadira harus secara resmi melangkah ke panggung sandiwara, mempertontonkan dirinya sebagai piala kemenangan Arkana Mahendra di hadapan sirkus media ibu kota.
Ruang ballroom salah satu hotel bintang lima paling eksklusif di Jakarta itu disesaki oleh jurnalis dari berbagai portal berita dan majalah bisnis. Lampu-lampu kristal raksasa memendarkan cahaya keemasan, memantul pada gaun sutra berwarna emerald green yang membalut tubuh ramping Nadira. Gaun itu adalah karya desainer ternama yang didatangkan khusus oleh asisten Arkana pagi ini, harganya mungkin setara dengan biaya hidup Nadira selama bertahun-tahun. Gaun itu mencetak lekuk tubuhnya dengan elegan, namun di saat yang sama, terasa seperti baju zirah yang sangat berat.
Arkana berdiri tegap di sebelahnya, memancarkan pesona dominan seorang penguasa. Pria itu mengenakan setelan jas charcoal grey yang memeluk postur tubuhnya dengan sempurna. Tangannya, sebuah tangan besar dengan jari-jari kokoh yang terbiasa menandatangani kontrak bernilai triliunan, kini melingkar erat di pinggang Nadira.
Nadira menahan napas setiap kali ibu jari Arkana mengusap pelan sisi pinggangnya dari balik bahan sutra gaunnya. Sentuhan itu dirancang untuk memperkuat ilusi kemesraan di depan publik, namun efeknya pada Nadira jauh dari sekadar ilusi. Kulitnya terasa terbakar. Ada sengatan listrik statis yang menjalari sarafnya setiap kali kulit mereka bersentuhan, sebuah reaksi fisiologis pengkhianat yang sangat dibenci Nadira.
"Bapak Arkana! Di sini, Pak!" seru seorang reporter wanita dari barisan depan, menyodorkan mikrofonnya. "Pernikahan ini terkesan sangat mendadak dan tertutup. Apalagi dengan perbedaan usia dua puluh satu tahun di antara Anda berdua. Apakah ada alasan khusus mengapa Anda merahasiakannya dari publik hingga hari ini?"
Nadira merasakan tubuhnya menegang. Perbedaan usia. Kata-kata itu diucapkan dengan nada menelisik yang tajam. Ia menunggu Arkana meledak, atau setidaknya menunjukkan rahang yang mengeras. Namun, pria di sebelahnya itu adalah aktor paling brilian yang pernah Nadira kenal.
Arkana tersenyum. Sebuah senyum yang begitu menawan, karismatik, dan meluluhkan, hingga Nadira nyaris tertipu jika ia tidak tahu betapa dinginnya hati pria itu.
"Sesuatu yang sangat berharga biasanya memang disimpan rapat-rapat, bukan?" Arkana menjawab dengan nada ringan yang memancing tawa kecil dari para hadirin. Ia menoleh menatap Nadira, menatap langsung ke dalam mata cokelat istrinya dengan sorot yang memancarkan adorasi palsu tingkat tinggi. "Nadira bukan seseorang yang terbiasa dengan sorotan media. Saya ingin memastikan akad nikah kami berjalan sakral dan privat, hanya untuk keluarga inti. Usia hanyalah angka di atas kertas bagi saya. Ketika Anda menemukan seseorang yang bisa memberikan kedamaian di tengah dunia bisnis yang brutal, Anda tidak akan membiarkannya pergi hanya karena standar konvensional masyarakat."
Lampu kilat kamera meledak lebih beringas. Beberapa reporter mengangguk takjub, mencatat kalimat puitis yang keluar dari mulut seorang CEO berdarah dingin. Arkana baru saja memutar narasi dari sebuah skandal transaksional menjadi kisah romansa yang elegan dan pelindung.
Nadira memaksakan senyum simetris di bibirnya. Dalam hati, ia merasa mual. Kedamaian. Pria ini baru saja menghancurkan kedamaiannya dan mengurungnya dalam sangkar es, namun ia bisa berbicara tentang kedamaian dengan wajah tanpa dosa.
"Bagaimana dengan Anda, Nyonya Mahendra?" tanya jurnalis lain, menodongkan kamera tepat ke wajah Nadira. "Bagaimana rasanya menjadi pendamping salah satu pria paling berpengaruh di negeri ini?"
Jantung Nadira berdegup kencang. Ia belum terbiasa dengan panggilan itu. Ia melirik sekilas ke arah Arkana. Tangan pria itu di pinggangnya memberikan tekanan lembut, sebuah isyarat halus untuk tidak menghancurkan pertunjukan.
Nadira menarik napas dangkal, memoles senyumnya agar terlihat lebih tulus. "Rasanya... luar biasa. Arkana adalah pria yang sangat bertanggung jawab. Ia melindungi apa yang menjadi miliknya dengan sangat baik. Saya bersyukur memiliki seseorang yang selalu bisa diandalkan."
Itu adalah kebohongan yang dirangkai dari kebenaran yang dipelintir. Arkana memang melindungi ayahnya, dan Arkana memang menganggap Nadira sebagai properti miliknya. Jurnalis tidak perlu tahu detail di baliknya.
Konferensi pers berlangsung selama satu jam yang terasa seperti penyiksaan fisik dan mental berabad-abad bagi Nadira. Ketika sesi foto terakhir selesai dan Arkana akhirnya memberikan sinyal kepada pengawalnya untuk membuka jalan, Nadira merasa lututnya nyaris menyerah.
Mereka dikawal ketat melewati lobi hotel, masuk ke dalam privasi absolut mobil Maybach hitam yang sudah menunggu. Pintu ditutup. Tirai kompartemen ditarik, memisahkan mereka dari sopir di depan.
Dan dalam sekejap mata, sandiwara itu runtuh tak bersisa.
Hawa di dalam mobil seketika turun ke titik beku. Arkana menarik tangannya dari pinggang Nadira dengan kecepatan seolah ia baru saja menyentuh bara api. Pria itu menggeser tubuhnya ke sudut jok kulit, membetulkan letak dasinya dengan gerakan kaku, dan langsung menatap ke luar jendela yang menampilkan lampu-lampu jalanan Jakarta yang buram karena rintik hujan.
Nadira mengusap pelan sisi pinggangnya yang tadi disentuh oleh Arkana. Tempat itu masih terasa hangat, meninggalkan jejak imajiner yang menggelisahkan. Ia menelan ludah, mengalihkan pandangannya ke arah berlawanan. Jarak di antara mereka di kursi belakang mobil itu tidak lebih dari dua jengkal, namun membentang layaknya samudra tak berujung.
Sisa perjalanan menuju mansion dihabiskan dalam keheningan yang menyesakkan. Tidak ada evaluasi, tidak ada ucapan terima kasih. Mereka hanyalah dua orang asing yang kebetulan berbagi oksigen di ruang yang sama.
Setibanya di rumah, hujan turun semakin deras, menghantam atap kaca mansion dengan ritme yang buas. Suasana rumah sangat sepi. Bi Inah dan para pelayan sudah mundur ke area service, dan mobil sport Kalista tidak terlihat di garasi. Kemungkinan besar gadis belia itu sedang berpesta di suatu kelab malam, melarikan diri dari realitas keluarganya.
Nadira melepas sepatu hak tingginya yang menyiksa sejak dari ambang pintu depan. Ia tidak peduli pada tata krama saat ini. Kakinya lecet parah. Menjinjing sepatunya dengan satu tangan, ia mulai menaiki tangga marmer menuju kamarnya di sayap kiri. Kepalanya berdenyut nyeri, sisa-sisa adrenalin yang menguap dari konferensi pers.
Namun, langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mengikutinya dari belakang.
Nadira menoleh. Arkana sedang menaiki tangga di belakangnya. Pria itu sudah melepas jasnya, menyampirkannya di salah satu bahu, dengan dua kancing teratas kemejanya yang sudah terbuka. Rambutnya yang biasa tersisir rapi kini sedikit berantakan karena disisir asal dengan jari. Di bawah pencahayaan lampu lorong yang temaram, Arkana tampak luar biasa lelah, namun tetap memancarkan bahaya yang memikat.
Nadira menghentikan langkahnya di ujung tangga lantai dua, tepat di titik di mana lorong terbagi menjadi sayap kanan dan sayap kiri. Arkana berhenti tepat satu anak tangga di bawahnya. Jarak mereka kini hanya terpaut beberapa sentimeter. Posisi Nadira yang lebih tinggi membuat wajah mereka sejajar.
Udara di antara mereka mendadak berubah padat. Aroma vetiver dan alkohol mahal dari napas Arkana bercampur dengan aroma parfum jasmine yang menguar dari tubuh Nadira, menciptakan kombinasi yang memabukkan dan mengintimidasi pada saat bersamaan.
"Kau melakukan tugasmu dengan baik malam ini," suara Arkana memecah keheningan yang hanya diisi oleh suara hujan. Nada bicaranya datar, tanpa emosi, layaknya atasan yang mengevaluasi kinerja bawahannya. "Saham perusahaan diprediksi akan stabil besok pagi saat bursa efek dibuka. Media memakan narasimu bulat-bulat."
Nadira menatap sepasang manik mata kelam itu. "Aku hanya melakukan apa yang tertulis di dalam kontrak, Tuan Arkana. Tidak lebih."
"Tetap pertahankan sikap seperti itu," sahut Arkana, matanya menelusuri wajah pucat Nadira, turun ke leher jenjang gadis itu, lalu berhenti di bahu Nadira yang sedikit menggigil. Hawa dingin dari pendingin ruangan mansion ini menembus sutra tipis gaun yang dikenakannya.
Tanpa sadar, sebuah insting primitif yang sudah lama terkubur dalam diri Arkana mengambil alih. Tangan pria itu bergerak naik. Jari-jarinya yang panjang nyaris menyentuh bahu Nadira, mungkin untuk memeriksa suhu tubuhnya, mungkin untuk merapikan tali gaun yang sedikit bergeser, atau mungkin... hanya karena ia ingin menyentuhnya.
Mata Nadira membelalak. Tubuhnya bereaksi lebih cepat dari otaknya. Dengan gerakan panik dan refleks perlindungan diri yang luar biasa kuat, Nadira melangkah mundur satu langkah besar.
Ia tersandung ujung gaunnya sendiri, nyaris jatuh ke belakang, namun dengan cepat menyeimbangkan diri. Punggungnya menabrak dinding dingin di awal lorong sayap kiri. Napas Nadira memburu. Ia menatap tangan Arkana yang kini menggantung di udara dengan sorot mata seperti melihat seekor ular berbisa.
"Pasal tujuh," desis Nadira, suaranya bergetar hebat. Jantungnya berdetak liar hingga terasa menyakitkan di tulang rusuknya. Ketakutan yang selama ini ia tekan dalam-dalam akhirnya merembes keluar. "Jangan sentuh aku. Kita tidak sedang berada di depan kamera."
Tangan Arkana terhenti di udara. Pria itu menatap tangannya sendiri seolah tangan itu adalah entitas asing yang mengkhianatinya. Rahangnya perlahan mengeras. Kilatan gelap dan berbahaya langsung menyapu matanya.
Perasaan tertolak ini sangat baru bagi Arkana. Selama bertahun-tahun, tidak ada wanita yang pernah mundur dari sentuhannya. Mereka justru memohon. Namun gadis ini menatapnya dengan ketakutan dan rasa jijik, mengibasnya seolah Arkana adalah penyakit menular. Harga diri Arkana sebagai seorang pria terkoyak telak.
Arkana perlahan menurunkan tangannya, memasukkannya ke dalam saku celana untuk menyembunyikan kepalan tangannya yang menegang. Sorot matanya berubah menjadi balok es.
"Jangan terlalu melebih-lebihkan dirimu, Nadira," ucap Arkana, suaranya kini mengalun sangat dingin dan mematikan, mengiris langsung ke ulu hati Nadira. "Aku melihat serangga di bahumu. Aku tidak berniat melanggar aturan yang kubuat sendiri, apalagi untuk menyentuh wanita kurus dan pucat sepertimu. Kembalilah ke kamarmu."
Tanpa menunggu balasan, Arkana berbalik dengan gerakan tajam. Ia melangkah menyusuri lorong sayap kanan, bahunya tegap dan kaku, meninggalkan Nadira yang berdiri gemetar dengan napas tertahan di persimpangan lorong tersebut.
Di dalam kesunyian yang kembali mencekik, Nadira akhirnya membiarkan air mata lolos dari pertahanannya. Bukan air mata kesedihan, melainkan kemarahan pada ketidakberdayaannya sendiri.
Sementara itu, di balik pintu tebal berpanel kayu walnut di sayap kanan, Arkana berdiri mematung di tengah kamarnya yang luas. Ruangan itu gelap gulita, namun ia tidak menyalakan lampu. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Ia berjalan ke arah minibar, menuangkan segelas penuh whiskey tanpa es, dan menegaknya dalam satu tarikan napas panjang.
Rasa panas yang membakar kerongkongannya tidak mampu mengalihkan pikirannya. Ia memutar gelas kristal kosong di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Arkana tidak pernah berbohong, tetapi baru saja ia mengarang alasan konyol tentang serangga. Ia tahu persis apa yang ia lakukan tadi. Ia memang bermaksud menyentuh bahu gadis itu. Ia ingin merasakan lagi kehangatan kulit di balik sutra hijau itu. Dan ketika Nadira melangkah mundur dengan sorot mata penuh ketakutan, sesuatu di dalam dada Arkana berdenyut tidak nyaman. Rasa frustrasi yang ganjil dan tidak beralasan.
Pria itu melempar gelas kristalnya ke perapian batu yang tidak menyala. Gelas itu hancur berkeping-keping, suaranya nyaring memecah keheningan.
Arkana menopangkan kedua tangannya di atas meja perapian, menundukkan kepalanya. Ia mengingat aroma jasmine yang tertinggal di udara. Ia mengingat getar bibir gadis itu saat melawan ucapannya. Ia mengingat sorot mata cokelat yang menolak untuk tunduk.
Sialan, batin Arkana merutuk dirinya sendiri dengan kasar. Kenapa aku mulai memperhatikan wanita yang seharusnya hanya formalitas?
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar