Langkah kaki Nadira menggema di sepanjang lorong berlantai pualam, menciptakan ritme kosong yang beresonansi dengan detak jantungnya sendiri. Ia baru saja keluar dari ruang kerja Arkana, meninggalkan pria itu berkutat kembali dengan layar tabletnya seolah pernikahan dan perdebatan mereka barusan tidak pernah terjadi. Di hadapannya, seorang wanita paruh baya berseragam hitam putih yang sangat rapi berjalan memandunya.

"Mari, Nyonya. Saya tunjukkan kamar Anda," ucap wanita itu tadi saat Arkana memanggilnya melalui interkom. Namanya Bi Inah, kepala pelayan di mansion ini.

Panggilan 'Nyonya' itu terdengar sangat janggal di telinga Nadira. Rasanya seperti ia sedang mengenakan pakaian kebesaran milik orang lain, sebuah kostum panggung yang tidak pas di tubuhnya.

Mansion Keluarga Mahendra ini tidak terasa seperti sebuah tempat tinggal. Saat Nadira mengikuti Bi Inah melewati ruang demi ruang, ia merasa sedang menyusuri galeri seni modern atau lobi hotel bintang lima yang sepi pengunjung. Dinding-dindingnya dicat dengan warna monokromatik abu-abu dan putih, dihiasi lukisan abstrak berukuran raksasa yang tidak Nadira pahami maknanya. Jendela-jendela kaca membentang dari lantai hingga ke langit-langit, membiarkan cahaya matahari sore menembus masuk, namun entah mengapa tidak ada kehangatan yang tertinggal di dalam sana.

Tidak ada foto keluarga. Tidak ada pernak-pernik kecil yang menunjukkan sentuhan manusiawi. Tidak ada kekacauan yang biasa ditemui di sebuah rumah yang hidup. Semuanya tertata presisi, klinis, dan steril. Sama persis seperti pemiliknya.

"Rumah ini terbagi menjadi dua sayap utama, Nyonya," Bi Inah menjelaskan dengan nada suara yang sangat sopan, namun terjaga jaraknya. Wanita paruh baya itu tidak menoleh, terus melangkah dengan postur tegap. "Sayap kanan adalah area pribadi Tuan Arkana. Kamar utama, ruang kebugaran pribadi, dan perpustakaan berada di sana. Tuan sangat menjaga privasinya, dan para staf hanya diizinkan masuk ke sayap kanan pada jam-jam tertentu untuk membersihkan ruangan."

Nadira mengangguk pelan, meskipun Bi Inah tidak melihatnya. Ia mengingat klausul dalam perjanjian sialan itu. Privasiku adalah milikku, dan privasimu adalah milikmu.

"Dan sayap kiri," Bi Inah berhenti di sebuah lorong yang luas, berbelok ke arah deretan pintu berpanel kayu tebal. "Adalah area untuk anggota keluarga yang lain. Kamar Nona Kalista berada di ujung lorong ini. Dan kamar Anda, Nyonya, ada di sebelah sini."

Bi Inah membuka sebuah pintu kayu ek yang berat, mempersilakan Nadira masuk.

Begitu melangkah melewati ambang pintu, Nadira tertegun sejenak. Jika kamar ini disebut sebagai 'kamar tamu' atau 'kamar tidur terpisah', maka ukuran kemewahan keluarga Mahendra benar-benar di luar nalar akal sehatnya. Kamar itu besarnya nyaris seukuran seluruh rumah ayahnya. Sebuah ranjang berukuran king size dengan kanopi minimalis dan seprai sutra berwarna taupe mendominasi bagian tengah ruangan. Ada area duduk dengan sofa beludru mewah, televisi layar datar raksasa yang menempel di dinding, dan sebuah pintu kaca geser yang mengarah ke balkon pribadi dengan pemandangan taman belakang dan kolam renang tanpa tepi.

"Kamar mandi dalam ada di sebelah kiri, lengkap dengan bathtub dan ruang shower. Ruang ganti dan lemari pakaian walk-in closet ada di sebelah kanan," Bi Inah melanjutkan perkenalannya, suaranya mengalun datar seolah ia sudah menghafal skrip ini bertahun-tahun. "Dua koper barang-barang Anda sudah kami rapikan dan susun di dalam lemari, Nyonya."

Nadira menoleh, merasa sedikit terkejut. "Kalian sudah membongkar barang-barangku?"

"Sesuai prosedur standar kami, Nyonya," Bi Inah menunduk sedikit, ekspresinya tidak berubah. "Jika Nyonya membutuhkan sesuatu, Anda bisa menekan tombol interkom di meja nakas. Kami akan segera datang."

"Terima kasih, Bi," ucap Nadira canggung. Ia mengusap lengan kebayanya yang tiba-tiba terasa gatal. "Bi Inah... tidak perlu memanggilku Nyonya. Nadira saja. Panggil aku Nadira."

Untuk pertama kalinya, Bi Inah mengangkat wajah dan menatap mata Nadira secara langsung. Ada kilatan keraguan di mata wanita paruh baya itu, campur aduk antara simpati dan profesionalisme yang kaku.

"Maafkan saya, Nyonya," jawab Bi Inah dengan nada final yang halus. "Tuan Arkana sangat ketat mengenai hierarki dan tata krama di dalam rumah ini. Anda adalah istri Tuan Arkana secara sah, dan staf diwajibkan memanggil Anda Nyonya."

Nadira menghela napas tipis, menyerah. "Baiklah. Kalau begitu, saya ingin istirahat sebentar. Tolong jangan biarkan siapa pun masuk."

"Tentu, Nyonya. Makan malam akan disajikan pukul tujuh tepat di ruang makan utama. Tuan Arkana memiliki kebiasaan makan malam tepat waktu."

Setelah Bi Inah menunduk dan keluar dari kamar, menutup pintu rapat-rapat, Nadira berdiri mematung di tengah ruangan yang luar biasa luas itu. Kesunyian langsung menerkamnya dari segala penjuru. Ia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.

Perlahan, Nadira berjalan menuju walk-in closet. Saat lampu otomatis menyala, ia melihat betapa menyedihkannya pemandangan di dalam sana. Lemari raksasa bertingkat yang terbuat dari kayu mahoni itu dibiarkan kosong melompong di sebagian besar raknya. Di satu sudut kecil yang terpencil, tergantung beberapa potong kemeja flanel, kaus katun biasa, celana jeans, dan dua buah gaun sederhana miliknya. Pakaian-pakaian murah yang ia bawa dari rumah lamanya tampak seperti sekumpulan kain lap yang salah tempat di tengah kemegahan lemari mahal tersebut.

Nadira mengulurkan tangan, menyentuh lengan salah satu kemeja flanelnya. Tiba-tiba, tanpa aba-aba, pertahanannya runtuh. Kakinya terasa seperti agar-agar. Ia merosot turun ke lantai berkarpet tebal, menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut, dan membiarkan satu isakan lolos dari bibirnya.

Ia merindukan ayahnya. Ia merindukan rumah kecilnya yang hangat. Ia merindukan aroma masakan sayur asem di dapur tuanya. Di ruangan raksasa ini, di dalam mansion bernilai ratusan miliar ini, Nadira tidak pernah merasa sekecil dan sekerdil ini seumur hidupnya. Ia hanyalah debu yang tersapu masuk ke dalam istana es.

Di sayap kanan mansion, Arkana berdiri menghadap jendela kaca raksasa di ruang kerjanya. Ia sudah mengganti kemeja kerjanya dengan kaus turtleneck hitam berbahan kasmir dan celana panjang yang lebih santai. Segelas single malt scotch berada di genggaman tangan kanannya, es batunya berdenting pelan saat ia memutar gelas tersebut.

Matanya menatap lurus ke arah taman belakang yang mulai diselimuti senja, namun pikirannya sedang membedah kejadian satu jam yang lalu.

“Kau tidak diizinkan menyentuhku tanpa izinku. Sama sekali. Tidak di dalam rumah ini, tidak saat kita berpapasan di lorong, tidak di balik pintu kamar yang tertutup.”

Kalimat gadis itu, diucapkan dengan rahang mengeras dan mata cokelat yang menyala penuh tantangan, terus terngiang di kepala Arkana seperti sebuah melodi sumbang yang mengganggu konsentrasinya. Nadira Azzahra. Dua puluh tiga tahun. Lulusan arsitektur interior yang cerdas, memiliki IPK nyaris sempurna, namun terjebak dalam lubang utang karena ayahnya terlalu naif.

Arkana telah membaca seluruh latar belakang gadis itu sebelum menyodorkan kontrak pernikahan. Ia tahu Nadira adalah anak tunggal yang mandiri, bukan tipe gadis manja yang menghabiskan uang ayahnya di kelab malam. Namun, Arkana tidak menduga bahwa di balik wajah lembut dan penampilannya yang sederhana, Nadira menyimpan ego dan harga diri setajam belati.

Pria itu menyesap scotch-nya, merasakan sensasi panas alkohol yang membakar tenggorokannya. Ia harus mengakui, ada kepuasan tersendiri saat melihat gadis itu berani menatap balik matanya. Di dunia Arkana, semua orang menunduk. Karyawannya, kompetitornya, bahkan wanita-wanita yang pernah mengisi ranjangnya, semuanya tunduk pada kekuasaan dan kekayaannya. Mereka berkata 'ya' sebelum Arkana selesai memberikan perintah.

Tetapi Nadira berbeda. Gadis itu tidak peduli pada uangnya. Gadis itu menarik garis batas wilayah dengan sangat jelas dan mengancam akan menggigit siapa pun yang berani melewatinya.

Menarik, batin Arkana. Sebuah seringai tipis kembali menghiasi wajah tampannya yang dingin.

Ia tidak menikahi Nadira karena ketertarikan fisik. Ia menikahinya murni sebagai langkah public relations darurat. Tim humas perusahaannya sedang bekerja lembur hari ini, mempersiapkan rilis pers besar-besaran untuk besok pagi mengenai "Pernikahan Tertutup CEO Mahendra Group yang Penuh Khidmat", demi menenggelamkan berita tentang Kevin yang kabur ke Swiss.

Bagi Arkana, Nadira hanyalah alat pemadam kebakaran. Setelah api skandal ini padam, ia berencana membiarkan gadis itu menjadi pajangan berdebu di rumah ini. Namun sekarang, setelah melihat cakar kecil yang disembunyikan gadis itu, Arkana merasa seperti baru saja membeli sebuah mainan puzzle psikologis yang rumit. Ia tidak berniat melanggar janjinya untuk tidak menyentuh Nadira. Arkana adalah pria yang memegang kata-katanya. Lagipula, memaksa seorang gadis yang membencinya sama sekali bukan gaya Arkana. Ia lebih suka melihat seseorang menyerah secara sukarela.

Telepon di meja kerjanya berdering pendek, menyela lamunannya.

"Tuan," suara Bi Inah terdengar dari speaker. "Nona Kalista baru saja tiba di rumah."

Arkana meletakkan gelasnya. Rahangnya sedikit menegang. "Beri tahu dia aku ada di ruang kerja. Dan pastikan dia turun untuk makan malam bersama pukul tujuh."

Ini adalah bagian tersulit dari rencananya. Kalista, putri bungsunya yang berusia sembilan belas tahun, adalah satu-satunya orang di dunia ini yang sedikit banyak bisa membuat Arkana merasa seperti manusia biasa. Dan Arkana tahu, Kalista tidak akan menerima kehadiran wanita asing yang hanya empat tahun lebih tua darinya sebagai 'ibu tiri'.

Satu jam kemudian.

Nadira telah membersihkan diri. Ia mandi berlama-lama di bawah kucuran air hangat, berusaha melunturkan kelelahan mental yang menderanya seharian ini. Ia mengganti kebayanya dengan pakaian yang paling nyaman dan sopan yang ia miliki: sebuah kardigan rajut tebal berwarna krem yang menutupi kaus putih polosnya, dipadukan dengan celana kulot hitam panjang. Rambutnya yang masih setengah basah dibiarkan tergerai menutupi punggung.

Ia melirik jam dinding. Pukul 18.45. Masih ada lima belas menit sebelum makan malam. Perutnya berbunyi pelan. Ia belum makan apa pun sejak pagi karena terlalu gugup menghadapi akad nikah.

Didorong oleh rasa haus dan lapar, Nadira memutuskan untuk keluar dari kamarnya lebih awal. Ia ingin mencari dapur, mungkin sekadar meminta segelas air hangat sebelum menghadapi Arkana di meja makan.

Ia berjalan menyusuri lorong sayap kiri, menuruni tangga utama yang megah dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara berisik. Rumah ini sangat sunyi, seolah dinding-dindingnya menyerap seluruh frekuensi suara. Ia menemukan area ruang makan utama—sebuah ruangan dengan meja kayu mahoni panjang yang bisa menampung dua puluh orang, diterangi lampu gantung kristal yang mewah. Di seberang ruang makan itu, terdapat pintu ganda bergaya saloon yang mengarah ke dapur bersih yang sangat luas dan berlapis marmer Carrara.

Saat Nadira melangkah masuk ke area dapur, langkahnya terhenti secara mendadak.

Di depan konter pulau dapur (kitchen island), berdiri seorang gadis muda. Gadis itu mengenakan gaun mini hitam ketat berbahan satin yang dibalut dengan jaket kulit mahal, kaki jenjangnya dibalut sepatu bot semata kaki. Rambutnya dipotong bob asimetris dengan highlight merah burgundy yang mencolok. Ia sedang memegang sebuah apel hijau, namun gerakannya terhenti saat menyadari kehadiran Nadira.

Gadis itu memutar tubuhnya perlahan. Matanya—mata yang bentuknya sama persis dengan mata kelam nan tajam milik Arkana—menatap Nadira dari atas ke bawah. Tatapan itu menelanjangi Nadira, menilai harga pakaian murahan yang dikenakannya, dan mencetak sebuah kesimpulan yang merendahkan dalam hitungan detik.

Nadira tahu siapa dia. Kalista Mahendra. Putri bungsu Arkana. Anak perempuan yang kabarnya tumbuh besar di asrama elite di luar negeri dan baru saja kembali ke Indonesia tahun lalu.

Udara di dapur itu seketika terasa beku.

Nadira mencoba bersikap dewasa. Ia memaksakan sebuah senyum tipis dan mengangguk sopan. "Hai. Kamu pasti Kalista."

Kalista tidak membalas senyum itu. Ia menggigit apel hijaunya dengan suara kres yang keras dan bergema, mengunyahnya pelan sambil terus menatap Nadira dengan sorot mata yang penuh dengan permusuhan dan rasa jijik yang tidak ditutup-tutupi.

"Dan kamu," suara Kalista terdengar merdu namun sedingin silet. Ia melempar sisa apelnya ke dalam tempat sampah stainless steel dari jarak jauh. "Pasti proyek amal terbaru ayahku."

Senyum Nadira langsung lenyap. Tangannya yang berada di dalam saku kardigan mengepal. "Aku Nadira."

"Aku tidak peduli siapa namamu," potong Kalista cepat, melangkah maju mendekati Nadira dengan postur tubuh yang sengaja dibuat mengintimidasi. Tinggi mereka hampir sama, namun aura Kalista yang agresif membuat ruangan itu seolah menyempit. "Kamu pikir dengan memakai pakaian kasual dan bersikap canggung di rumahku, kamu bisa mengambil simpati? Dengar baik-baik. Aku tahu persis jenis wanita seperti apa yang sudi menikah dengan pria seumur ayahku tanpa ada cinta sama sekali."

Kalista tersenyum miring, senyum yang mewarisi kesombongan Arkana. "Kamu mungkin berhasil menipu publik atau media besok pagi. Tapi jangan harap kamu bisa berakting menjadi nyonya rumah di depanku. Kamu hanyalah sebuah transaksi."

Nadira menahan napas. Kata-kata Kalista menohok tepat di titik kelemahannya. Kenyataan bahwa gadis berusia sembilan belas tahun ini mengetahui persis status hinanya membuat harga diri Nadira terluka parah. Namun, ia tidak akan membiarkan anak manja ini menginjak-injaknya.

Nadira menegakkan punggungnya, menatap lurus ke dalam mata Kalista tanpa berkedip. Ia tidak mundur selangkah pun.

"Kamu benar," jawab Nadira dengan nada tenang yang sangat kontras dengan agresivitas Kalista. "Ini adalah sebuah transaksi. Dan dalam transaksi ini, tugasku bukan untuk menjadi ibumu atau mencari simpatimu. Jadi kamu tidak perlu khawatir, Kalista. Anggap saja aku hantu yang kebetulan tinggal di sayap kiri rumah ini."

Kalista tampak sedikit terkejut dengan balasan yang tenang dan tanpa emosi itu. Biasanya, simpanan atau wanita-wanita yang mendekati ayahnya akan berusaha keras mengambil hatinya dengan membelikannya barang mewah atau bersikap manis secara menjijikkan. Tapi Nadira tidak.

Sebelum Kalista bisa membalas, suara langkah kaki berat dari arah ruang makan menghentikan mereka. Arkana muncul di ambang pintu dapur, menatap kedua wanita itu dengan wajah tanpa ekspresi.

"Makan malam sudah siap. Duduklah di meja," perintah Arkana dingin. Pria itu tidak menanyakan apa yang sedang mereka perdebatkan. Ia tidak peduli.

Kalista mendengus kasar, memutar bola matanya, dan berjalan melewati Nadira dengan sengaja menyenggol bahu gadis itu cukup keras hingga Nadira sedikit terhuyung.

Nadira mengambil napas panjang, menenangkan debar jantungnya. Saat ia melangkah menuju ruang makan, ia berpapasan dengan dua orang pelayan dapur yang sedang membawa nampan berisi makanan. Para pelayan itu langsung menunduk dalam, menghentikan langkah mereka untuk memberikan jalan.

"Silakan, Nyonya," ucap salah satu dari mereka dengan sangat sopan.

Namun, indra pendengaran Nadira yang masih tajam menangkap sesuatu. Tepat ketika ia melangkah melewati mereka menuju ruang makan yang megah, salah satu pelayan itu mencondongkan tubuhnya kepada temannya. Bibirnya nyaris tidak bergerak, namun bisikannya terdengar sangat jelas di telinga Nadira layaknya tamparan keras di udara yang sunyi.

"Itu pasti sugar baby baru Tuan... Lihat saja pakaiannya, pantas Nona Kalista marah."

Langkah Nadira terhenti sejenak di ambang pintu ruang makan. Jantungnya serasa diremas oleh tangan yang tak kasat mata. Ia menatap ke arah meja makan di mana Arkana sudah duduk di kursi utama bak seorang raja, dan Kalista yang duduk sambil sibuk dengan ponselnya.

Di sinilah ia sekarang. Terjebak di sebuah istana mewah, dipanggil Nyonya oleh mereka yang menghinanya di belakang, dibenci oleh anak tirinya, dan diabaikan oleh suami yang telah membelinya. Rumah ini bukanlah tempat berlindung. Rumah ini adalah neraka pribadinya.