Perjalanan menuju kawasan perumahan elite di pusat kota Jakarta Selatan itu terasa seperti perjalanan menuju tiang gantungan bagi Nadira. Mobil Maybach hitam yang membawanya meluncur mulus tanpa hambatan, meninggalkan kemacetan jalanan ibu kota dan memasuki sebuah area eksklusif di mana pepohonan besar tumbuh rindang menjadi kanopi jalan. Mobil itu melewati sebuah gerbang besi tinggi yang dijaga ketat oleh dua orang petugas keamanan berseragam lengkap. Mereka langsung memberikan hormat saat mengenali pelat nomor mobil tersebut.
Di balik gerbang itu, terhampar sebuah pekarangan yang sangat luas dengan taman bergaya zen yang dirawat secara presisi. Tidak ada rumput liar, tidak ada daun kering yang berserakan. Semuanya terukur. Mobil perlahan berhenti di depan drop-off point sebuah rumah—atau lebih tepatnya, sebuah mansion bergaya arsitektur modern kontemporer. Bangunan itu didominasi oleh kaca-kaca raksasa, pilar-pilar beton ekspos, dan sentuhan kayu solid yang mahal. Rumah itu sangat besar, sangat megah, menunjukkan strata sosial pemiliknya, namun pada saat yang sama, memancarkan aura dingin yang mengintimidasi. Rumah itu tampak tidak memiliki jiwa, persis seperti pemiliknya.
Sopir bergegas turun dan membukakan pintu untuk Arkana. Pria itu melangkah keluar lebih dulu, membetulkan letak jasnya sebentar, dan langsung melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menoleh ke belakang sedetik pun. Tidak ada gestur membukakan pintu untuk istrinya, tidak ada uluran tangan yang romantis, apalagi kata-kata sambutan seperti 'selamat datang di rumah kita'.
Nadira tidak peduli. Ia justru bersyukur tidak perlu berpura-pura. Ia turun sendiri dari sisi pintu yang lain, merapikan sedikit lipatan pada kain kebayanya, dan menarik napas dalam-dalam sebelum melangkahkan kaki melewati pintu kayu jati ganda yang menjulang tinggi itu.
Begitu masuk, Nadira disambut oleh lorong utama rumah yang memiliki langit-langit setinggi dua lantai. Sebuah lampu kristal gantung berbentuk asimetris mendominasi ruangan, memantulkan cahaya ke lantai marmer Italia yang mengkilap bagai cermin. Udara di dalam rumah diatur pada suhu dingin yang menusuk tulang.
"Bi Inah akan menunjukkan kamarmu nanti," suara Arkana menggema, memecah kesunyian rumah yang terasa mati itu. Pria itu sedang melepaskan jas hitamnya dan menyerahkannya tanpa melihat kepada seorang pelayan pria berseragam yang muncul entah dari sudut mana dengan gerakan seefisien hantu. Sambil melonggarkan ikatan dasinya, Arkana menaiki anak tangga pertama. "Tapi sebelum itu, ikut aku ke ruang kerja. Sekarang."
Nadira tidak menjawab. Mengomel atau menolak hanya akan membuang energinya. Ia mengangkat ujung kebayanya agar tidak tersandung, lalu berjalan mengikuti langkah-langkah lebar dan berat Arkana menaiki tangga melingkar tersebut.
Mereka tiba di lantai dua dan Arkana membuka sebuah pintu berpanel ganda di ujung lorong. Ruang kerja pria itu bernuansa jauh lebih gelap daripada sisa bagian rumah. Dindingnya berlapis panel kayu walnut berwarna cokelat tua. Rak-rak buku menutupi dua sisi dinding, dipenuhi oleh deretan buku tebal, ensiklopedia bisnis, dan dokumen-dokumen boks yang tersusun rapi tanpa setitik debu pun. Di tengah ruangan, menghadap ke sebuah jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan kolam renang di halaman belakang, terdapat sebuah meja kerja berbahan marmer hitam yang sangat masif.
Arkana berjalan memutari meja itu dan langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kursi kerja berlapis kulit berwarna hitam. Ia mengisyaratkan Nadira dengan gerakan dagu yang arogan. "Duduk."
Nadira melangkah masuk. Ia merasakan atmosfer ruangan itu menekan bahunya, namun ia memaksakan tubuhnya untuk tetap tegak. Ia duduk di salah satu kursi tamu di seberang meja Arkana. Permukaan kulit kursi itu terasa dingin di bawah tubuhnya. Ia menaruh kedua tangannya di atas pangkuan, menolak menunjukkan bahasa tubuh yang gelisah.
Arkana membuka laci meja bagian kanan, mengeluarkan sebuah map tebal berbahan kulit sapi asli berwarna biru dongker. Ia meletakkan map itu di atas meja marmer, lalu mendorongnya dengan satu jari hingga meluncur pelan dan berhenti tepat di hadapan Nadira.
"Buka dan baca," perintah Arkana mutlak. Tidak ada ruang untuk diskusi.
Mata Nadira berpindah dari wajah Arkana ke map tersebut. Dengan tangan yang sedikit kaku, ia membuka sampulnya. Di dalamnya terdapat belasan lembar kertas HVS tebal yang dipenuhi ketikan rapi berbahasa hukum yang kaku dan rumit. Di bagian atas halaman pertama, tertulis tebal: PERJANJIAN PRANIKAH DAN KETENTUAN DOMESTIK.
Itu adalah aturan main. Aturan yang didiktekan secara sepihak oleh Arkana Mahendra untuk mengatur hidupnya mulai hari ini hingga waktu yang tidak ditentukan.
Mata Nadira mulai memindai deretan kalimat tersebut. Semakin jauh ia membaca, semakin rahangnya mengeras.
Pasal 3, Ayat 1: Pihak Kedua (Nadira Azzahra) melepaskan seluruh hak secara hukum atas segala bentuk aset, properti, saham perusahaan, deposito, maupun benda bergerak dan tidak bergerak yang dimiliki oleh Pihak Pertama (Arkana Mahendra) sebelum dan selama pernikahan berlangsung.
Pasal 5, Ayat 2: Pihak Kedua memiliki kewajiban mutlak untuk mendampingi Pihak Pertama dalam acara-acara sosial, pertemuan bisnis, dan acara keluarga besar dengan menunjukkan gestur, sikap, serta tata krama yang menunjang reputasi dan citra publik Pihak Pertama sebagai kepala keluarga yang harmonis.
Pasal 7, Ayat 1: Tidak ada tuntutan pemenuhan kebutuhan secara emosional, afeksi romantis, atau komitmen cinta dari kedua belah pihak. Pernikahan ini secara sadar disepakati murni bersifat transaksional demi kepentingan bersama.
Nadira membaca poin demi poin tersebut hingga akhir. Setiap kata, setiap klausa di dalam kertas itu seolah menampar wajahnya berulang kali, menegaskan statusnya yang menyedihkan di rumah ini. Ia bukanlah seorang nyonya rumah. Ia bukanlah seorang pendamping hidup. Ia hanyalah seorang aktris bayaran, pegawai kontrak yang disewa untuk memainkan lakon istri bahagia, dengan bayaran berupa keselamatan ayahnya.
"Seperti yang tertulis di sana, kau telah mendapatkan perlindungan finansial penuh untuk ayahmu," Arkana mulai berbicara. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi, menyatukan ujung-ujung jari tangannya di depan dada, dan menatap Nadira dengan sorot mata kalkulatif layaknya predator yang sedang mengukur kemampuan mangsanya. "Seluruh utang perusahaan yang dituduhkan pada keluargamu telah aku lunasi pagi ini. Jejak pidana ayahmu di kepolisian sudah dihapus secara permanen, dan dia tetap memegang posisinya sebagai kepala akuntan di kantorku tanpa ada satu pun orang yang berani mempertanyakannya. Aku telah memenuhi bagianku dari kesepakatan."
Arkana memberikan jeda, membiarkan bobot kalimatnya meresap ke dalam kepala gadis muda itu. "Sebagai gantinya, kau memberikan waktumu, kehadiranmu saat aku membutuhkanmu, dan... kepatuhanmu dalam ruang lingkup publik."
Nadira mengangkat wajahnya dari dokumen itu, menatap lurus ke arah Arkana. Jantungnya bergemuruh karena amarah, namun wajahnya tetap terkendali.
"Tidak ada tuntutan cinta dariku," lanjut Arkana, nada bicaranya datar, seolah membahas laporan laba rugi. "Aku bukan pria bodoh yang mempercayai omong kosong seperti romansa. Kau bebas melakukan apa pun yang kau mau di dalam rumah ini. Kau bisa membaca, melanjutkan studimu, berbelanja, atau apa pun itu, selama aktivitasmu tidak mengganggu jadwalku dan yang terpenting, tidak mencoreng nama baikku di luar sana."
Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menopangkan kedua lengannya di atas meja marmer, membuat sosoknya terlihat semakin mengintimidasi. "Dan kau bisa bernapas lega, karena kau tidak memiliki kewajiban untuk melayaniku layaknya istri tradisional di rumah-rumah lain. Kita akan tidur di kamar yang terpisah. Kamarku ada di sayap kanan, kamarmu di sayap kiri. Privasiku adalah milikku, dan privasimu adalah milikmu. Jangan pernah mencampuri urusan pribadiku, dan aku tidak akan mencampuri urusanmu. Kau mengerti batasannya, Nadira?"
Di dalam benaknya yang dingin, Arkana sedang memprediksi reaksi gadis ini. Ia sudah biasa melihat berbagai macam topeng wanita. Mungkin Nadira akan merasa terhina karena dianggap hanya sebatas properti. Mungkin ia akan marah, menangis, merobek kertas itu dan mengumpat, atau sebaliknya—mungkin gadis itu akan bernapas lega karena ia tidak harus menyerahkan tubuhnya kepada pria yang terpaut usia dua puluh satu tahun darinya. Bagi Arkana, hubungan antarmanusia tidak lebih dari sekadar kontrak mutualisme. Emosi yang tak terukur hanya akan membawa kehancuran dan kelemahan. Ia sudah belajar pelajaran itu dengan sangat keras, sangat brutal, dari pernikahan pertamanya bersama Vania bertahun-tahun yang lalu. Sebuah kesalahan yang bersumpah tidak akan pernah ia ulangi seumur hidupnya.
Namun, reaksi yang diberikan Nadira sepenuhnya melenceng dari perhitungan matematis Arkana.
Gadis itu tidak meneteskan air mata kemarahan. Ia tidak merobek dokumen itu. Nadira justru menutup map tersebut dengan sangat perlahan. Ia mengambil sebuah pena bermerek Montblanc yang tergeletak di atas meja Arkana, memutarnya sejenak di sela jari-jarinya, lalu menatap lurus menembus manik mata hitam kelam suaminya. Ada api di mata cokelat terang gadis itu. Api pemberontakan.
"Aku sangat mengerti, Tuan Arkana," ucap Nadira. Nadanya sengaja dibuat formal, mengalir tenang namun mengandung ketegasan yang tak bisa dianggap remeh. "Perjanjian ini menyatakan bahwa kau tidak menuntut pemenuhan kewajiban sebagai istri sepenuhnya. Tapi, untuk sebuah kontrak yang dibuat oleh pebisnis sekelas dirimu, bahasa di pasal tujuh ini terlalu... ambigu."
Alis tebal Arkana bertaut. Kerutan ketidaksukaan muncul di dahinya. "Ambigu?"
"Ya. Ambigu dan multi-tafsir," Nadira mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, secara bawah sadar meniru postur dominan Arkana, menantang pria itu di kandangnya sendiri. "Jika kau benar-benar menginginkan batasan yang jelas, tanpa ada ekspektasi atau area abu-abu, maka mari kita buat batasan itu mutlak agar tidak ada yang bisa melanggarnya."
Nadira memutar pena di tangannya lagi, membuka halaman terakhir yang berisi kolom tanda tangan, namun ia menahan gerakannya di atas kertas.
"Aku setuju dengan semua syaratmu. Kau membeliku dengan kebebasan ayahku, aku mengakuinya. Tapi aku punya satu syarat tambahan sebelum aku menandatangani ini. Dan syarat ini tidak bisa dinegosiasi."
Arkana mendengus pelan. Sebuah tawa kering yang meremehkan, yang sama sekali tidak mengubah kekakuan di wajahnya. "Kau lupa posisi berdirimu saat ini, Nadira. Ayahmu hampir membusuk di penjara dengan status koruptor, dan kau sama sekali tidak memiliki uang sepeser pun untuk membayarku kembali. Kau pikir kau sedang berada di posisi yang punya hak untuk mengajukan syarat tambahan kepadaku?"
"Tentu saja aku punya," balas Nadira cepat, tanpa berkedip. Kilat harga diri memancar kuat dari tatapannya, membuat Arkana secara tak sadar menahan napas sedetik. "Kau mungkin memiliki uang dan kekuasaan, tapi kau membutuhkanku. Kau butuh aku yang bersih dari skandal ini untuk menyelamatkan reputasimu yang terancam hancur. Kau butuh aku untuk menutupi kegagalan memalukanmu dalam mendidik anakmu yang pembunuh itu."
Mata Arkana langsung menggelap berbahaya mendengar sindiran tajam Nadira tentang Kevin. Rahangnya menegang hingga urat di lehernya menonjol, namun secara mengejutkan, pria itu tidak meledak. Ia membiarkan kemarahannya mendidih di dalam, menunggu gadis itu menyelesaikan keberaniannya yang lancang.
"Kau membayarku untuk tampil sempurna di depan publik, menjadi properti pameranmu," lanjut Nadira, suaranya sedikit bergetar karena adrenalin, namun ia memaksanya tetap stabil. "Aku akan memberikan itu. Aku akan berakting sebaik mungkin di depan teman-teman bisnismu. Tapi tubuhku adalah milikku sepenuhnya. Bukan aset yang masuk ke dalam neraca keuanganmu."
Nadira menarik kertas itu lebih dekat padanya. "Syaratku sederhana," katanya, menekankan setiap suku kata agar menggema di ruangan itu. "Kau tidak diizinkan menyentuhku tanpa izinku. Sama sekali. Tidak di dalam rumah ini, tidak saat kita berpapasan di lorong, tidak di balik pintu kamar yang tertutup. Sentuhan apa pun yang diperlukan di depan publik—genggaman tangan di depan kamera, rangkulan di depan relasi kerjamu—semua itu hanya untuk pertunjukan dan harus berakhir begitu kita masuk ke dalam mobil. Begitu kita kembali ke kehidupan privat, kau tidak memiliki hak fisik maupun seksual sekecil apa pun atas diriku."
Suasana ruang kerja yang dingin itu mendadak terasa hampa udara. Keheningan turun dengan bobot berton-ton.
Arkana menatap Nadira dalam diam yang mencekam. Selama bertahun-tahun hidupnya di puncak rantai makanan, wanita-wanita dengan kasta sosial tertinggi berlomba-lomba untuk menarik perhatiannya. Mereka memakai gaun desainer, parfum memabukkan, dan senyum manis yang direkayasa, mencoba mencari celah untuk masuk ke dalam hidupnya—dan tempat tidurnya—demi mengamankan kekayaan dan status mereka.
Namun sekarang, di hadapannya, duduk seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun yang hanya mengenakan kebaya pengantin sederhana, tanpa perhiasan mewah, tanpa harta sepeser pun. Gadis yang secara teknis sudah menjadi miliknya secara hukum, namun justru sedang membangun benteng berduri yang sangat tinggi di sekeliling dirinya, menolak untuk disentuh.
Ada kilatan keterkejutan di mata kelam Arkana. Keberanian gadis ini bukan sekadar gertakan kosong dari seorang anak kecil yang ketakutan. Ada api kehidupan di matanya. Api perlawanan yang entah mengapa membuat insting primitif di dalam dada Arkana berdesir. Sesuatu yang sudah lama mati di dalam diri Arkana tiba-tiba terusik. Sebuah dorongan asing, hasrat yang gelap untuk menundukkan, menghancurkan pertahanan itu, dan melihat api di mata gadis itu padam di bawah dominasinya.
Arkana menyandarkan kembali punggung lebarnya ke kursi. Ia mengamati fitur wajah Nadira dalam durasi yang terasa menyiksa, membuat bulu kuduk gadis itu meremang meski ia berusaha keras menyembunyikannya. Arkana menyeringai tipis. Sebuah senyuman miring yang tidak simetris, yang membuat wajah tampan pria paruh baya itu terlihat sangat berbahaya dan mematikan.
"Kau pikir aku pria hidung belang rendahan yang tidak bisa mengendalikan nafsu birahiku pada gadis kecil sepertimu?" balas Arkana, suaranya mengalun sangat pelan dan rendah, menggetarkan gendang telinga Nadira layaknya auman singa jantan yang menahan diri sebelum menerkam.
"Aku tidak mengenalmu, Tuan Arkana," balas Nadira tak gentar, tangannya mencengkeram pena semakin erat. "Dan aku tidak berniat mengambil risiko sekecil apa pun tentang keselamatan dan integritasku."
Arkana terdiam lagi. Detak jam dinding antik bergaya Eropa di sudut ruangan terdengar sangat keras menemani ketegangan di antara mereka. Setelah beberapa saat yang terasa seperti selamanya, Arkana mengangguk pelan. Sebuah tanda persetujuan yang penuh dengan arogansi dan kepercayaan diri absolut.
Ia merogoh bagian dalam jasnya yang tersampir di sandaran kursi, mengambil sebuah pena fountain emas berukiran inisial namanya sendiri, lalu melemparkannya ke atas meja hingga beradu dengan dokumen di depan Nadira.
"Tuliskan syarat konyolmu itu di bagian bawah halaman terakhir, secara spesifik, dan tandatangani," titah Arkana dengan nada bosan, seolah ia baru saja mengabulkan permintaan permen dari seorang anak kecil.
Tanpa membuang waktu, Nadira membuka penutup pena emas itu. Dengan tulisan tangan kursif yang rapi, kuat, dan menekan kertas—menyalurkan seluruh emosinya—ia menuliskan klausul tambahan mengenai larangan sentuhan fisik tanpa konsensual. Setelah titik terakhir dibubuhkan, ia menandatangani bagian atas namanya yang tercetak, lalu mendorong map itu kembali melintasi meja marmer ke hadapan suaminya.
Arkana mengambil dokumen tersebut. Matanya dengan cepat memindai tulisan tangan Nadira. Tulisan yang berkarakter, pikirnya. Pria itu membuka tutup penanya sendiri, lalu dengan gerakan tangan yang elegan namun tegas, ia membubuhkan tanda tangannya di sebelah tanda tangan Nadira.
Ia menutup map kulit itu. Bunyi thud yang dihasilkan saat sampulnya bertabrakan memecah kesunyian mutlak di ruangan itu, meresmikan perang dingin yang baru saja mereka mulai.
Arkana menopang dagunya dengan satu tangan, menatap mata cokelat terang Nadira lekat-lekat. Ia melihat dinding pertahanan yang dibangun gadis itu dengan keputusasaan dan harga diri yang tersisa. Arkana adalah seorang penakluk. Ia menaklukkan perusahaan, ia menaklukkan pasar, dan kini, tanpa ia sadari, tantangan terbesar justru duduk manis di seberang mejanya.
Sudut bibir Arkana kembali tertarik ke atas, membentuk seringai misterius yang membuat jantung Nadira berdegup salah tingkah.
"Sepakat," kata Arkana pelan, suaranya mengalun membelai udara, layaknya sebuah janji sekaligus ancaman yang mematikan. "Kita lihat... sampai kapan kamu bisa menjaga jarak itu dariku, Nadira."
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar