Denting gelas kristal yang saling beradu terdengar seperti melodi paling indah malam itu. Cahaya dari lampu gantung chandelier raksasa di tengah ballroom hotel bintang lima itu memantul di setiap sudut ruangan, menyirami para tamu undangan dengan pendar keemasan yang mewah. Di tengah lautan manusia yang mengenakan gaun malam dan setelan jas elegan, Lana berdiri. Gaun sutra zamrud yang membalut tubuhnya terasa pas, menjuntai menyapu lantai marmer dengan anggun.

Namun, bukan gaun mahal atau perhiasan berlian di lehernya yang membuat Lana merasa seperti wanita paling beruntung di dunia malam ini. Melainkan sepasang lengan kokoh yang melingkar posesif namun lembut di pinggangnya. Lengan suaminya. Bramantyo.

"Tujuh belas tahun," suara bariton Bram mengalun melalui mikrofon, mendominasi seluruh ruangan dan membungkam bisik-bisik kekaguman para tamu. Pria itu menatap lurus ke dalam mata Lana, mengabaikan ratusan pasang mata yang sedang menonton mereka. "Orang bilang, cinta sejati itu seperti mitos. Sesuatu yang hanya ada di buku dongeng atau naskah film murahan. Tapi setiap kali aku bangun di pagi hari dan melihat wajah wanita ini di sebelahku... aku tahu mitos itu nyata."

Lana merasakan pipinya memanas. Senyum malu-malu mengembang di bibirnya. Di usia yang menginjak akhir tiga puluhan, kecantikan Lana tidak memudar, justru semakin matang. Dan tatapan Bram padanya malam ini—tatapan penuh pemujaan, kebanggaan, dan cinta yang begitu dalam—membuatnya merasa kembali seperti gadis berusia dua puluh tahun yang baru pertama kali jatuh cinta.

Bram mengangkat gelas champagne-nya tinggi-tinggi. "Untuk Lana. Istriku, nyawaku, dan kompas dalam hidupku. Terima kasih karena tidak pernah menyerah padaku, bahkan ketika aku bukan siapa-siapa. Dan untuk putri kita yang luar biasa, Nadin. Kalian berdua adalah alasan aku masih bernapas hari ini."

Riuh tepuk tangan pecah seketika. Beberapa tamu wanita bahkan terlihat menyeka sudut mata mereka dengan tisu. Lana menunduk sedikit, menyembunyikan mata almondnya yang mulai berkaca-kaca. Bram meletakkan mikrofon, menarik Lana mendekat, dan mengecup kening istrinya itu perlahan. Sangat lembut. Sangat penuh perhitungan. Tepuk tangan semakin bergemuruh.

"Kamu berlebihan, Mas," bisik Lana di sela-sela riuhnya suasana, setengah memprotes namun hatinya membengkak oleh kebahagiaan.

Bram tertawa pelan. Tawanya renyah, tawa seorang pria yang tahu persis bahwa ia memegang kendali atas dunianya. "Aku hanya mengatakan kebenaran, Sayang. Kamu pantas mendapatkan dunia beserta isinya."

Seorang gadis remaja dengan gaun berwarna peach berlari kecil menghampiri mereka. Nadin. Wajahnya adalah perpaduan sempurna antara ketegasan rahang Bram dan kelembutan mata Lana. "Papa romantis banget sih! Nadin sampai merinding dengarnya," goda gadis berusia enam belas tahun itu sambil memeluk lengan ayahnya.

Bram mengacak-acak rambut putrinya yang sudah ditata rapi. "Papa cuma pamer sama teman-teman Papa, Din. Biar mereka tahu kalau Papa ini pria paling beruntung karena punya dua bidadari di rumah."

Malam itu mengalir seperti mimpi yang terlalu indah. Siska, sahabat Lana sejak kuliah, menghampirinya saat Bram sedang sibuk menyapa para kolega bisnisnya di sudut lain ruangan.

"Lan, jujur ya, kadang aku ngerasa pengen nyekik kamu," kata Siska sambil menyesap minumannya, matanya tak lepas dari sosok Bram yang sedang tertawa karismatik di tengah sekelompok pria berjas. "Suamimu itu sisanya tinggal satu nggak sih di bumi? Udah tampan, mapan, perusahaannya makin raksasa, eh bucinnya nggak ketulungan sama istri. Nggak pernah ada gosip miring seujung kuku pun."

Lana tersenyum lembut. "Kamu ini ada-ada aja, Sis. Mas Bram juga manusia biasa. Dia juga sering bikin kesal kok kalau naruh handuk basah sembarangan di kasur."

"Halah, kalau cuma handuk basah mah, jangankan satu, sepuluh handuk basah tiap hari aku rela kalau suaminya modelan Bramantyo," canda Siska yang langsung disambut tawa renyah Lana.

Namun di lubuk hatinya yang terdalam, Lana menyetujui ucapan Siska. Hidupnya memang sempurna. Sangat, sangat sempurna. Tidak ada yang instan dalam pernikahan mereka. Lana menemani Bram dari saat pria itu hanya seorang pegawai rendahan yang sering begadang mengerjakan proposal hingga asam lambungnya naik. Lana yang menggadaikan perhiasan warisan ibunya untuk modal awal perusahaan Bram. Dan kini, setelah 17 tahun keringat dan air mata, mereka memanen hasilnya. Ekonomi mereka tidak hanya stabil, tapi berlebih. Nadin tumbuh menjadi anak yang cerdas dan penurut. Dan Bram... Bram adalah suami yang tidak pernah membiarkan Lana merasa sendirian.

Padahal, Lana tahu betul betapa melelahkannya hidup suaminya beberapa hari terakhir ini.

"Mas Bram pasti capek banget," gumam Lana pada dirinya sendiri, matanya mengikuti pergerakan suaminya.

Bram baru saja tiba di Jakarta sore tadi. Selama tiga hari berturut-turut, suaminya itu bercerita bahwa ia terjebak dalam marathon meeting di kantor pusatnya di kawasan Sudirman, Jakarta, untuk mengurus krisis akuisisi perusahaan kompetitor. Saking sibuknya, Bram bahkan mengatakan ia harus menginap di ruang kerjanya dan nyaris tidak sempat membalas pesan Lana karena ponselnya selalu digunakan untuk conference call. Bahkan, puncaknya adalah kemarin—hari Jumat. Bram menelepon Lana dengan suara serak yang memprihatinkan, mengatakan bahwa ia sama sekali tidak bisa keluar dari ruang rapat karena direksi terus menekannya.

"Sayang, maafkan aku. Aku benar-benar terkurung di lantai empat puluh ini. Kepalaku rasanya mau pecah. Aku berjanji, besok sore urusan ini selesai dan aku akan menebusnya di acara anniversary kita," begitu kata Bram kemarin di telepon.

Dan pria itu membuktikannya. Ia pulang sore tadi dengan wajah lelah, mata sedikit berkantung, mengenakan setelan jas abu-abu yang terlihat kusut. Namun ia tidak mengeluh. Ia mandi, berganti pakaian dengan tuxedo hitam yang sudah Lana siapkan, dan menjelma menjadi raja di pesta malam ini, hanya demi memastikan Lana bahagia.

Rasa cinta yang merangsek dada Lana saat ini begitu besar hingga rasanya hampir menyesakkan.




Pukul satu dini hari, rumah mewah di kawasan Pondok Indah itu akhirnya kembali sunyi. Pesta telah usai. Nadin sudah terlelap di kamarnya sejak setengah jam yang lalu, kelelahan setelah berdansa dan mengobrol dengan teman-temannya.

Di kamar utama yang luas dan benderang oleh lampu tidur temaram, Bram sudah berbaring di atas ranjang king size. Pria itu bahkan belum sempat mengganti celana kainnya, hanya bertelanjang dada dengan posisi tengkurap. Napasnya terdengar berat dan teratur. Ia tertidur pulas nyaris seketika setelah kepalanya menyentuh bantal.

Lana duduk di tepi ranjang, masih mengenakan piyama lilit sutranya. Ia memandangi punggung suaminya dengan tatapan teduh. Tangannya terulur, mengusap bahu Bram yang tegang dengan sangat lembut. Kulit suaminya terasa hangat.

"Terima kasih untuk malam ini, Mas," bisik Lana di tengah keheningan kamar. "Kamu kerja keras sekali."

Bram hanya menggeliat kecil, mengeluarkan suara gumaman tak jelas, lalu kembali tenggelam dalam lelapnya. Pria ini pasti kehabisan tenaga. Tiga hari disiksa rapat di Sudirman, langsung dilanjutkan dengan menjadi tuan rumah pesta besar. Lana memaklumi seutuhnya.

Lana beranjak dari ranjang. Ia adalah tipe wanita yang tidak bisa tidur jika kamarnya masih berantakan. Matanya menyapu ruangan dan terpaku pada setelan jas abu-abu milik Bram—jas yang suaminya kenakan saat baru tiba di rumah sore tadi dari 'medan perangnya' di kantor Sudirman. Jas itu teronggok begitu saja di atas sofa kecil di sudut kamar, dilempar asal-asalan oleh Bram yang buru-buru mandi tadi sore.

Dengan langkah pelan agar tidak menimbulkan suara, Lana berjalan menghampiri sofa tersebut. Ia meraih jas abu-abu berbahan wol halus itu. Aroma parfum Bram—campuran cedarwood dan musk yang sangat maskulin—masih menguar tipis dari serat kainnya. Lana tersenyum kecil. Ia selalu menyukai wangi ini.

Sebagai istri yang terbiasa mengurus segala keperluan suaminya selama belasan tahun, jari-jari Lana secara otomatis bergerak menyusuri saku-saku jas tersebut. Ia harus memastikan tidak ada benda penting seperti kuitansi, kartu nama, atau flashdisk yang tertinggal sebelum jas ini ia masukkan ke keranjang khusus untuk di-laundry besok pagi.

Saku kiri luar, kosong.

Saku kanan luar, kosong.

Lana membalik bagian dada jas tersebut dan merogoh saku bagian dalam.

Gerakan jari Lana terhenti. Ujung jarinya menyentuh sesuatu yang kaku. Bukan kertas struk biasa. Teksturnya licin, seperti kertas tebal berkualitas tinggi.

Kening Lana berkerut samar. Dengan perlahan, ia menarik benda itu keluar dari saku dalam jas Bram.

Di bawah cahaya lampu tidur yang kekuningan, Lana menyipitkan mata untuk membaca tulisan yang tertera di benda tersebut. Jantungnya, yang sedari tadi berdetak dalam ritme yang tenang dan penuh kedamaian, tiba-tiba kehilangan satu ketukan.

Itu adalah dua buah tiket fisik. Tiket berhologram dengan dominasi warna merah dan emas.

Di bagian atas tiket itu terpampang logo besar yang sangat Lana kenal: VIP ACCESS - PREMIUM THEME PARK BANDUNG.

Lana menelan ludah. Kepalanya mendadak terasa sedikit pening. Bandung? Mengapa ada tiket taman hiburan di Bandung di dalam saku jas suaminya? Bukankah Bram baru saja mati-matian rapat di Sudirman selama tiga hari terakhir? Mungkinkah ini titipan kolega kerjanya? Atau hadiah klien yang lupa Bram berikan padanya?

Tangan Lana mulai bergetar halus saat matanya bergerak turun ke bagian tengah tiket. Di sana, dicetak dengan tinta hitam tebal yang sangat jelas, tertera tanggal kunjungan yang berlaku untuk tiket tersebut.

Valid for: Jumat, 11 Oktober.

Napas Lana tercekat di tenggorokan. Udara di dalam kamar tidur yang luas ini tiba-tiba terasa ditarik habis tak bersisa. Ia membaca tanggal itu sekali lagi. Dan sekali lagi. Memastikan bahwa matanya tidak sedang mengkhianatinya akibat kelelahan.

Jumat, 11 Oktober. Itu adalah hari kemarin.

Hari di mana suaminya menelepon dengan suara serak, mengeluh pusing setengah mati karena terkurung di ruang rapat lantai 40 gedung kantornya di Jakarta. Hari di mana Bram bersumpah ia nyaris tidak bisa makan siang karena terus ditekan oleh dewan direksi.

Lalu, bagaimana mungkin... jas yang Bram pakai untuk rapat kemarin... mengantongi dua tiket taman hiburan di Bandung yang tanggalnya menunjukkan hari yang sama? Taman hiburan? Dua tiket?

Darah Lana terasa mengalir turun dari wajahnya, membuat ujung-ujung jarinya berubah sedingin es. Logika di kepalanya mulai berputar dengan kecepatan gila, mencoba mencari ribuan pembenaran untuk suaminya. Mungkin tiket ini dibeli secara online lalu dicetak sembarangan? Tidak, ini tiket fisik yang ujungnya sudah tersobek. Tanda bahwa tiket ini sudah melewati mesin pemindai gerbang masuk. Tiket ini sudah digunakan.

Lana membalikkan badannya perlahan, menatap sosok suaminya yang masih tertidur pulas dengan dada naik-turun yang teratur. Sosok pria yang beberapa jam lalu berpidato memujanya di hadapan ratusan orang. Sosok ayah yang sempurna. Sosok suami yang tak bercela.

Tiba-tiba, suara dengkuran halus Bram yang biasanya menenangkan Lana, kini terdengar mengancam. Aroma cedarwood di jas itu mendadak membuat perut Lana mual.

Ada celah besar dalam cerita suaminya. Celah yang terlalu ganjil untuk diabaikan. Dan bagi Lana, seorang wanita yang menghabiskan 17 tahun untuk memastikan rumah tangganya tanpa retak, penemuan ini bukan sekadar kebetulan. Ini adalah peringatan pertama bahwa kastil pasir yang ia banggakan selama ini mungkin dibangun di atas sebuah kebohongan yang sangat rapi.

Tangan Lana meremas kedua tiket itu hingga sedikit berkerut. Matanya tak lepas dari punggung Bram. Sesuatu di dalam dada Lana, ilusi kesempurnaan yang selama ini ia pelihara dengan segenap jiwanya, baru saja retak dan pecah tanpa suara.