sebuah rutinitas pagi yang menjadi penanda bahwa keluarganya memulai hari dengan perut kenyang dan hati yang utuh. Namun pagi ini, Lana merasa mual setiap kali menghirupnya.

Ia sama sekali tidak memejamkan mata semalaman. Setelah menemukan dua tiket taman hiburan Bandung itu di saku jas suaminya, Lana hanya bisa berbaring kaku di sebelah Bram yang mendengkur pelan. Otaknya berputar seperti kaset kusut, mengulang kembali percakapan teleponnya dengan Bram hari Jumat kemarin. Suara Bram yang parau, keluhannya tentang dewan direksi di Sudirman, janji-janji manisnya. Semua terdengar sangat meyakinkan. Sangat nyata.

Lalu, dari mana tiket dengan tanggal kunjungan di hari yang sama itu berasal? Di Bandung pula?

"Pagi, Ma!"

Suara ceria Nadin membuyarkan lamunan Lana. Gadis berseragam putih abu-abu itu berjalan gontai memasuki dapur, mencium pipi ibunya sekilas, lalu duduk di kursi pantry sambil menuangkan susu ke dalam gelas.

"Pagi, Sayang," balas Lana, berusaha keras menstabilkan suaranya agar tidak terdengar bergetar. Ia mematikan kompor, memindahkan nasi goreng ke mangkuk saji, dan membawanya ke meja makan. "Gimana tidurnya? Nyenyak habis pesta semalam?"

"Nyenyak banget dong. Kayaknya aku langsung teler begitu nyentuh kasur," Nadin terkekeh sambil menyendok sarapannya. "Oh ya, Ma, hari ini aku pulangnya agak telat ya. Ada latihan debat buat kompetisi bulan depan."

Lana memaksakan sebuah senyum keibuan, mengelus puncak kepala putrinya. "Iya, hati-hati. Jangan lupa makan siangnya dihabiskan."

Tepat saat Nadin menyelesaikan kalimatnya, suara langkah kaki berat terdengar menuruni tangga kayu jati rumah mereka. Jantung Lana yang tadinya berdetak dalam ritme yang cepat, kini berpacu semakin liar, memukul-mukul tulang rusuknya dengan brutal.

Bram muncul di ambang pintu ruang makan. Pria itu tampak sangat segar, rambutnya yang mulai diselingi uban tipis di bagian samping tersisir rapi, aroma sabun mandi dan aftershave menguar darinya, menutupi jejak kelelahan pesta semalam. Ia mengenakan kemeja biru muda yang lengannya digulung hingga siku. Karismanya menguar tanpa perlu bersusah payah.

"Pagi, dua bidadari Papa," sapa Bram dengan suara baritonnya yang renyah. Ia berjalan menghampiri meja makan, mengecup puncak kepala Nadin, lalu beralih mengecup bibir Lana sekilas. Kecupan itu terasa hangat di bibir Lana, tapi anehnya, tak mampu menghangatkan tubuhnya yang mendadak terasa sedingin es.

"Papa mau kopi?" tawar Lana, tangannya bergerak otomatis mengambil cangkir, sebuah kebiasaan yang sudah mendarah daging selama tujuh belas tahun.

"Boleh, Sayang. Black coffee, seperti biasa," jawab Bram sambil menarik kursi dan duduk. Ia mencomot sepotong mentimun dari piring nasi goreng Nadin, membuat putrinya merengut manja.

Lana menuangkan kopi panas dari teko ke dalam cangkir keramik. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan segenap keberanian dan sisa kewarasannya. Di dalam saku celemek yang ia kenakan, dua lembar tiket VIP itu terasa seperti bara api yang membakar kulitnya menembus kain.

Ini saatnya. Ia harus bertanya. Ia tidak bisa hidup dengan rasa curiga yang mencekik lehernya seperti ini. Ia hanya perlu memancing suaminya dengan hati-hati. Bram pasti punya penjelasan. Pria ini sangat mencintainya, Bram tidak mungkin mengkhianatinya. Ya, pasti ada penjelasan logis.

Lana meletakkan cangkir kopi di depan Bram dan duduk di kursi berseberangan dengannya. Ia menatap wajah suaminya lekat-lekat, menyunggingkan senyum yang sudah ia latih di depan cermin toilet sepuluh menit yang lalu.

"Mas," panggil Lana, suaranya terdengar kasual, sangat santai. "Jas abu-abu yang kamu pakai pulang kemarin sore, udah aku taruh di keranjang laundry, ya. Nanti biar dikirim ke penatu."

Bram meniup kopinya pelan, menatap Lana dengan sorot mata yang teduh. "Oh, iya. Makasih ya, Sayang. Untung kamu ingatkan, itu jas jasnya kena tumpahan kopi sedikit pas rapat kemarin."

Lana mengangguk pelan. Jari-jarinya di bawah meja saling bertautan erat hingga buku-bukunya memutih. "Sama-sama. Oh ya... pas aku ngecek saku jasnya sebelum ditaruh keranjang, aku nemu sesuatu."

Tangan Lana masuk ke saku celemeknya, menarik keluar dua lembar tiket berhologram itu, lalu meletakkannya di atas meja makan, tepat di sebelah piring Bram. "Ini tiket taman hiburan di Bandung. Tanggalnya... hari Jumat kemarin. Waktu kamu lagi rapat maraton di Sudirman."

Lana menahan napasnya. Matanya mengunci setiap inci pergerakan wajah Bram. Ia mencari kilatan kepanikan, kedutan gugup di sudut bibir, atau pergerakan mata yang menghindar. Apapun yang menandakan kebohongan.

Namun, Bramantyo adalah maestro.

Pria itu tidak tersentak sedikit pun. Alisnya hanya bertaut samar, membentuk kerutan kebingungan yang sangat natural, sebelum ia meletakkan cangkir kopinya dan mengambil tiket tersebut. Ia membolak-balik tiket itu sejenak, lalu matanya membesar, seolah baru saja teringat sesuatu yang sangat remeh namun mengganggu.

Sebuah tawa kecil meluncur bebas dari bibir Bram. Tawa yang terdengar tulus, tanpa beban, dan sama sekali tidak defensif.

"Astaga, Tuhan! Pantas saja aku cari-cari di tas kerja tidak ada," Bram menepuk jidatnya pelan sambil menggelengkan kepala.

Lana mengerjap. Respons ini di luar ekspektasinya. "Kamu... cari-cari tiket ini?"

Bram menatap Lana sambil tersenyum geli. "Iya, Sayang. Ini tuh tiket titipan si Riko."

"Riko? Riko teman kantormu di divisi marketing itu?" tanya Lana, suaranya mulai kehilangan ketegangan, digantikan oleh rasa bingung.

"Iya, siapa lagi," Bram menyandarkan punggungnya di kursi. "Kemarin Jumat pagi, sebelum rapat direksi dimulai, Riko nyamperin aku ke ruangan. Dia panik setengah mati. Keponakannya yang dari Surabaya lagi liburan di Bandung hari itu juga, dan merengek minta masuk ke taman hiburan ini. Masalahnya, tiket VIP-nya sold out di mana-mana."

Bram menyesap kopinya lagi dengan sangat tenang, lalu melanjutkan ceritanya tanpa jeda yang mencurigakan. "Kamu tahu kan, perusahaan kita punya akses kuota platinum ke beberapa tempat wisata sana dari jalur corporate? Riko mohon-mohon minta tolong aku yang pesenin pakai akunku. Karena aku lagi pusing nyiapin berkas rapat, aku minta sekretarisku untuk print fisik tiketnya sekalian biar Riko tinggal kasih ke kurir untuk dikirim ke Bandung."

Bram menghela napas panjang, menatap tiket itu dengan tatapan bersalah. "Sorenya, pas aku lagi di tengah-tengah dicecar sama dewan direksi, Riko chat minta tiketnya. Aku niatnya mau kantongi tiket ini biar pas keluar toilet bisa langsung kukasih ke dia. Eh, gara-gara kepala rasanya mau pecah mikirin akuisisi, aku malah main masukin ke saku jas dan lupa sama sekali sampai kebawa pulang."

Bram menatap Lana dalam-dalam, senyum lembutnya kembali mengembang. "Keponakannya Riko pasti ngamuk nggak bisa masuk taman hiburan gara-gara Mas pelupa begini. Riko juga pasti ngomel-ngomel nyariin aku dari kemarin. Duh, Mas merasa bersalah banget."

Penjelasan itu meluncur dengan sangat mulus. Tidak ada nada bergetar, tidak ada penjelasan yang berbelit-belit. Alibi itu begitu rapi, masuk akal, dan sangat cocok dengan karakter Bram yang memang kadang pelupa jika sedang stres dengan pekerjaan.

Lana terdiam. Tubuhnya yang sedari tadi kaku seperti papan, mendadak lemas. Napas yang ia tahan tanpa sadar akhirnya berhembus panjang. Rasa lega yang luar biasa, sedingin guyuran air es di padang pasir, menyiram seluruh dadanya.

Tuhan, apa yang sudah kupikirkan? jerit Lana dalam hati, dikuasai rasa bersalah yang menusuk-nusuk. Ia baru saja mencurigai suaminya memiliki wanita idaman lain atau membohonginya pergi ke Bandung, padahal pria ini baru saja melalui hari yang sangat berat demi menafkahi keluarganya.

Melihat Lana yang terdiam dengan wajah sedikit pucat, Bram bangkit dari kursinya. Ia berjalan mendekati Lana, berdiri di samping istrinya itu, lalu dengan lembut merangkul bahu Lana. Tangan Bram yang besar dan hangat mengelus puncak kepala Lana.

"Sayang..." suara Bram merendah, berubah menjadi bisikan parau yang sangat manipulatif, menyentuh titik paling rapuh dalam hati seorang wanita. "Kamu mikir yang aneh-aneh ya dari semalam? Lihat nih, wajahmu pucat, matamu sampai ada lingkar hitamnya."

Lana menunduk, tak berani menatap mata suaminya. "Aku... aku cuma bingung aja, Mas."

Bram mengangkat dagu Lana dengan jari telunjuknya, memaksa istrinya menatap matanya yang memancarkan kejujuran mutlak. "Lana, dengerin aku. Lain kali, kalau ada sesuatu yang janggal, sekecil apa pun itu, langsung bangunin Mas, ya? Jangan dipendam sendiri sampai kamu kurang tidur begini. Mas nggak mau kamu stres. Di dunia ini, hidup Mas cuma buat kamu dan Nadin. Nggak ada rahasia."

Lana merasakan matanya memanas. Air mata kelegaan dan rasa bersalah menggenang di pelupuk matanya. Ia memeluk pinggang Bram, membenamkan wajahnya di perut suaminya itu. "Maafin aku, Mas. Aku emang yang terlalu overthinking. Maafin aku."

Bram membalas pelukan itu dengan erat, mencium puncak kepala istrinya berulang kali. Sambil menatap dinding kosong di atas kepala Lana, seulas senyum simpul yang sangat tipis, dingin, dan nyaris tak terlihat, melintas cepat di bibir Bram. Senyum seorang pemenang.

"Nggak apa-apa, Sayang. Udah, tiketnya biar Mas bawa lagi buat dibalikin ke Riko. Mas mau minta maaf ke dia sekalian," kata Bram sambil menepuk-nepuk punggung istrinya, memadamkan sisa-sisa bara kecurigaan itu hingga menjadi abu.

Pagi itu kembali terasa sempurna. Lana mengantar suaminya sampai ke pintu depan, membetulkan letak dasi Bram, dan melambaikan tangan dengan senyum paling tulus saat mobil Bram melaju keluar dari gerbang rumah. Awan hitam kecurigaan telah lenyap, berganti dengan langit biru kepercayaan yang semakin kuat.

Atau setidaknya, itulah yang Lana yakini.




Siang harinya, suasana rumah terasa sangat sepi. Nadin masih di sekolah, dan para asisten rumah tangga sedang beristirahat di paviliun belakang. Lana duduk di ruang keluarga yang sejuk ber-AC, menyesap secangkir teh chamomile hangat untuk menenangkan sarafnya yang masih sedikit terguncang akibat kurang tidur semalaman.

Untuk mengusir kebosanan, Lana mengambil ponselnya dari atas meja dan mulai membuka aplikasi Instagram. Ibu-ibu sosialita kenalannya banyak yang mengunggah foto-foto dari pesta anniversary-nya semalam. Lana tersenyum melihat berbagai pujian di kolom komentar tentang betapa beruntungnya ia memiliki suami sesempurna Bramantyo.

Lana mensyukuri keputusannya tadi pagi. Ia bangga karena suaminya membuktikan bahwa semua kecurigaan konyolnya tidak berdasar. Bram adalah pria baik. Pria yang rela kerepotan membantu teman kantornya, Riko, meski sedang dalam tekanan tinggi.

Jempol Lana terus menggulir layar ke bawah, melihat update dari teman-temannya. Sesekali ia menekan tombol hati merah pada foto-foto yang lewat di berandanya. Hingga tiba-tiba, gerak jempolnya terhenti.

Sebuah foto hitam putih muncul di layarnya. Foto sepasang tangan, satu tangan besar milik laki-laki menggenggam erat tangan perempuan yang lebih kecil dan tampak pucat, dengan selang infus yang menempel di punggung tangannya.

Itu adalah unggahan dari Dina, istri Riko. Lana cukup mengenal Dina karena mereka sering bertemu di acara gathering perusahaan akhir tahun. Dina adalah wanita yang ceria, namun foto ini terasa begitu suram.

Kening Lana berkerut pelan. Ia menekan foto tersebut untuk membaca caption panjang yang menyertainya.

"Tuhan lebih menyayangi malaikat kecil kami sebelum ia sempat melihat dunia..."

Napas Lana tertahan. Dina keguguran? Ia baru tahu kabar duka ini. Lana merasa simpati yang mendalam mulai merayapi dadanya. Ia terus membaca barisan kalimat penuh kesedihan itu ke bawah.

"Seminggu terakhir ini adalah masa paling kelam dan menyiksa dalam hidupku. Tapi Tuhan maha baik, Ia memberiku suami yang luar biasa."

Mata Lana bergerak menyusuri kalimat berikutnya, dan seketika, udara di sekitarnya terasa membeku.

"Terima kasih suamiku, Riko. Terima kasih karena sudah membatalkan semua pekerjaan dan rapat-rapat pentingmu di kantor, mematikan ponselmu, dan membawaku jauh dari Jakarta untuk menyembuhkan luka fisik dan mentalku. Langit Singapura hari ini mungkin tidak bisa menghapus duka di hatiku, tapi setidaknya aku memilikimu di sisiku setiap detik selama satu minggu penuh ini."

Cangkir teh chamomile di tangan Lana bergetar hebat hingga isinya tumpah mengenai karpet berbulu tebal di bawahnya, namun Lana tidak peduli. Matanya melebar, membaca ulang kalimat itu seolah huruf-huruf di layar ponselnya berubah menjadi pisau berduri yang menusuk langsung ke bola matanya.

Seminggu terakhir... membatalkan semua pekerjaan... mematikan ponsel... Langit Singapura...

Dina mengunggah lokasi pos tersebut: Mount Elizabeth Hospital, Singapore.

Lana menelan ludahnya yang terasa sepahit empedu. Kepalanya mendadak pening, bumi seakan berhenti berputar.

Jika Riko dan istrinya berada di Singapura selama seminggu penuh dan Riko mematikan ponselnya, membatalkan semua pekerjaannya...

Lalu... siapa pria bernama Riko yang mendatangi ruang rapat Bram hari Jumat kemarin? Siapa Riko yang memohon-mohon dibelikan tiket taman hiburan Bandung itu?

Tidak ada Riko.

Riko tidak pernah menitipkan tiket itu. Riko tidak pernah berada di Jakarta minggu ini.

Jantung Lana berdentum brutal di gendang telinganya. Rasa dingin menjalari tulang punggungnya, menyisakan sebuah kesadaran yang sangat mengerikan.

Bramantyo, suaminya yang sempurna, ayah yang memujanya, pria yang tadi pagi menatap langsung ke matanya sambil mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang... baru saja membohonginya tanpa berkedip. Ia telah menciptakan sebuah skenario palsu yang begitu detail dan meyakinkan, membuat Lana justru merasa bersalah karena telah mencurigainya.

Tangan Lana mencengkeram ponselnya kuat-kuat. Kali ini, tidak ada lagi rasa lega. Tidak ada lagi alibi pelupa. Yang tertinggal hanyalah rasa mual yang meluap-luap dan sebuah fakta kelam yang menampar wajahnya.

Suaminya berbohong. Dan tiket Bandung itu adalah kuncinya.