Gelapnya malam menelan separuh jalan raya, sementara lampu jalanan yang berjejer sesekali melemparkan bayangan panjang yang melesat cepat menembus kaca mobil. Di balik kemudi Honda HR-V putihnya, Lana duduk kaku menyerupai patung es. Tangannya mencengkeram setir berlapis kulit itu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih pasi, seolah setir itu adalah satu-satunya benda yang menahannya agar tidak jatuh ke dalam jurang kegilaan.
Udara di dalam kabin mobil terasa membekukan tulang, padahal Lana sudah mematikan pendingin ruangan sejak ia keluar dari gerbang tol dalam kota setengah jam yang lalu. Getaran halus dari mesin mobil menjalar naik dari pedal gas ke kakinya yang telanjang, mengingatkannya bahwa ia mengemudi hanya dengan mengenakan sandal rumahan tipis, celana training hitam, dan kaus oblong kebesaran. Ia bahkan lupa membawa jaket. Saat ia berlari keluar dari rumahnya menyusul jejak Range Rover suaminya, tidak ada satu pun hal rasional yang tersisa di kepalanya. Yang tertinggal hanyalah dorongan primitif untuk mencari kebenaran, seburuk apa pun bentuknya.
Di atas dasbor mobilnya, layar ponsel yang terpasang pada holder memancarkan cahaya biru redup. Aplikasi pelacak GPS itu masih menyala. Sebuah titik merah kecil yang merepresentasikan mobil Bram bergerak stabil di atas garis rute digital. Jarak mereka terpaut sekitar sepuluh kilometer. Angka di spidometer Lana menunjukkan 120 km/jam, angka yang seumur hidup belum pernah ia sentuh jika sedang menyetir sendirian. Namun malam ini, ketakutan telah membunuh semua kehati-hatiannya.
Jalan Tol Cipularang di atas pukul dua dini hari bagaikan lorong hampa tak berujung. Hanya ada deretan truk kargo besar yang merayap pelan di lajur kiri. Lana menyalip mereka satu per satu dengan manuver kasar, matanya menatap tajam ke depan membelah kabut tipis yang mulai turun menyelimuti kawasan perbukitan Purwakarta.
Di dalam kepalanya yang berdenging, badai perang batin berkecamuk tanpa ampun. Fase penolakan—mekanisme pertahanan diri paling purba dari seorang manusia—bekerja keras mencoba melindungi kewarasannya.
Tidak mungkin. Ini pasti ada penjelasan logis, batin Lana meronta, mencoba membangun kembali sisa-sisa ilusi yang telah runtuh beberapa jam lalu. Mungkin Mas Bram sedang ada keadaan darurat? Mungkin salah satu direksi perusahaannya kecelakaan di Bandung dan butuh bantuannya segera? Atau... atau mobilnya dicuri? Ya, bisa saja komplotan perampok menyelinap ke garasi rumah, mengambil kunci cadangan, dan melarikan Range Rover itu ke luar kota.
Air mata hangat kembali menggenang di pelupuk matanya, mengaburkan pandangannya. Lana mengusapnya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Ia benci pada dirinya sendiri karena masih berusaha mencari pembenaran untuk pria yang baru saja menatap matanya dan berbohong dengan sangat sempurna tadi pagi.
“Mas nggak mau kamu sama Nadin ketularan. Flu ini kayaknya lumayan berat... Mas butuh istirahat total malam ini...”
Gema suara serak Bram kembali terngiang, menyayat hatinya seperti belati berkarat. Jika memang ada keadaan darurat bisnis, pria ambisius seperti Bram tidak punya alasan untuk menyembunyikannya. Pria itu selalu membanggakan setiap krisis yang berhasil ia tangani. Jika mobilnya dicuri, sistem alarm ganda yang terhubung ke ponsel Bram pasti sudah berteriak nyaring membelah seisi rumah.
Satu-satunya penjelasan yang tersisa adalah penjelasan yang paling Lana hindari sedari tadi. Sebuah skenario klise yang sering ia dengar dari gosip ibu-ibu arisan, namun selalu ia tertawakan karena ia merasa pernikahannya tak tersentuh oleh hal menjijikkan semacam itu.
Perselingkuhan.
Dada Lana sesak seolah dihimpit blok beton. Ia meremas setir semakin kuat. Siapa wanita itu? Pertanyaan beracun itu merayap masuk, melilit lehernya. Apakah dia lebih muda dariku? Lebih cantik? Atau mungkin dia salah satu klien bisnisnya yang elegan? Sejak kapan? Sejak kapan pria yang memujaku di depan ratusan tamu semalam, diam-diam membagi tubuh dan hatinya untuk perempuan lain?
Memori demi memori kebersamaan mereka selama tujuh belas tahun berkelebat cepat layaknya slide proyektor yang rusak. Perjuangan mereka dari nol, tawa Nadin saat balita yang diangkat tinggi-tinggi oleh Bram, perayaan anniversary semalam yang terasa begitu megah dan menguras air mata bahagia. Bagaimana mungkin seseorang bisa merangkul keluarga dengan begitu hangat, sementara tangannya yang lain merakit bom waktu yang siap menghancurkan segalanya?
"Kamu pembohong, Mas... Kamu pembohong," isak Lana pelan, suaranya tercekat dan bergetar hebat di tengah deru mesin. Ia memukul setir mobilnya keras-keras dengan sebelah tangan. "Apa salahku? Apa kurangku sampai kamu tega lakuin ini?!"
Pertanyaan itu tak terjawab, menguap begitu saja diserap dinginnya malam Cipularang.
Waktu merambat bagaikan siput. Setelah nyaris dua jam mengemudi dengan napas tertahan dan jantung yang berdetak tak karuan, gerbang tol Pasteur akhirnya terlihat di kejauhan, berpendar keemasan di bawah lampu merkuri. Titik di layar ponselnya menunjukkan bahwa mobil Bram sudah keluar dari jalan tol sekitar lima belas menit yang lalu dan kini mulai memperlambat kecepatannya di jalanan arteri kota Bandung.
Lana menempelkan kartu uang elektroniknya di gerbang tol dengan tangan gemetar, lalu menginjak pedal gas kembali. Udara Bandung yang masuk melalui celah kaca jendela terasa sangat dingin, menusuk kulitnya, namun tak sedikit pun mampu mendinginkan kepalanya yang mendidih.
Ia mengikuti panduan rute di layar ponselnya. Mobil Bram tidak menuju ke pusat bisnis, tidak juga ke kawasan hotel berbintang tempat ia biasanya menginap jika ada kunjungan kerja. Titik merah itu bergerak ke arah utara, menanjak ke sebuah kawasan perumahan elite yang terkenal dengan udaranya yang sejuk, pepohonan rindang, dan rumah-rumah berhalaman luas.
Jalanan aspal di kawasan itu mulus dan diapit oleh pepohonan pinus tinggi. Sangat sepi. Hanya ada suara jangkrik dan gesekan daun yang tertiup angin. Lana mematikan aplikasi pemutar musiknya, membiarkan kabin mobilnya tenggelam dalam keheningan yang mencekam. Ia menekan tombol lampu utama, mengubahnya menjadi lampu senja yang redup agar kehadirannya tak terlalu mencolok.
Layar ponselnya berkedip. Titik merah itu berhenti total.
Lana menginjak pedal rem perlahan. Jantungnya berdentum brutal, memukul rongga dadanya sekeras genderang perang. Ia melihat alamat yang tertera di aplikasi pelacak: Jalan Pinus Asri Blok C Nomor 12.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan kurang dari 10 km/jam, matanya menyapu nomor-nomor rumah besar yang terpasang di dinding pagar batu alam. Nomor 6... Nomor 8... Nomor 10...
Lana menahan napasnya. Tepat di depannya, berjarak sekitar dua puluh meter, berdiri sebuah rumah berdesain modern tropis dua lantai yang terlihat sangat asri dan elegan. Pagar kayunya yang menjulang tinggi sedang dalam posisi terbuka separuh. Di area carport yang benderang oleh lampu sorot kuning yang hangat, sebuah mobil terparkir membelakangi jalan.
Range Rover hitam. Pelat nomornya berakhiran B 1 BRM. Mobil suaminya.
Lana segera menepikan mobilnya di bawah bayangan pohon besar di seberang jalan, beberapa rumah sebelum target. Ia mematikan mesin, mematikan seluruh lampu kabin, dan menenggelamkan tubuhnya serendah mungkin di balik kemudi. Napasnya tersengal, pendek-pendek dan memburu.
Penolakan terakhirnya resmi hancur malam ini. Bukti fisik itu ada di depan matanya. Mobil suaminya, yang seharusnya terparkir rapi di garasi rumah mereka di Pondok Indah, kini berada ratusan kilometer jauhnya di garasi sebuah rumah misterius di Bandung. Tidak ada laporan pencurian. Tidak ada rekan bisnis yang terluka parah.
Ini adalah perjalanan yang direncanakan. Sangat rapi. Sangat sistematis.
Lana menatap rumah itu dengan pandangan nanar dari balik kaca depan mobilnya yang mulai berembun. Rumah itu tidak terlihat seperti tempat persinggahan rahasia yang murahan. Rumah itu memancarkan aura homey, kehangatan keluarga, lengkap dengan pot-pot tanaman hias yang tertata rapi di teras dan sebuah ayunan kayu kecil di sudut taman. Rumah itu terlihat dihidupi dengan cinta.
Cinta siapa? batin Lana menjerit pilu.
Ia tidak tahu harus berbuat apa. Tubuhnya terasa dipaku ke kursi kemudi. Haruskah ia turun sekarang? Menyeret langkah kakinya ke sana, menekan bel dengan brutal, dan menampar wajah suaminya di depan siapa pun yang berada di dalam rumah itu? Haruskah ia berteriak histeris, menghancurkan kaca mobil Range Rover itu dengan batu untuk meluapkan seluruh amarah dan sakit hatinya?
Niat itu begitu kuat, mengalir deras dalam nadinya bersama adrenalin. Tangannya sudah terulur memegang tuas pintu mobil.
Namun, sebelum ia sempat menarik tuas tersebut, pergerakan di rumah itu menghentikan seluruh fungsi motorik tubuh Lana.
Pintu kayu utama rumah bernomor 12 itu terbuka perlahan. Cahaya terang dari ruang tamu tumpah ke area teras.
Lana menahan napas hingga paru-parunya terasa nyeri. Matanya tak berkedip menatap sosok tinggi besar yang melangkah keluar dari balik pintu. Sosok itu berdiri di bawah cahaya lampu teras.
Bramantyo. Suaminya.
Pria itu tidak mengenakan setelan jas, tidak juga mengenakan kemeja formal apalagi pakaian pasien rumah sakit seperti orang yang sedang sakit flu berat. Bram mengenakan satu set piyama katun berwarna abu-abu muda kotak-kotak. Piyama yang terlihat sangat nyaman, sangat santai. Piyama yang belum pernah sekalipun Lana lihat ada di dalam lemari pakaian mereka di Jakarta.
Bram meregangkan otot bahunya, menghirup udara malam Bandung dengan senyum tersungging di bibirnya. Wajahnya sama sekali tidak pucat. Ia terlihat segar, bahagia, dan penuh energi. Tidak ada tanda-tanda kelelahan dari "meeting maraton" atau "flu berat" yang ia keluhkan beberapa jam lalu di Jakarta. Pria itu tampak seperti seorang raja yang baru saja pulang ke istananya.
Tubuh Lana gemetar hebat. Giginya bergemeretak menahan isak tangis yang mendesak naik ke tenggorokan. Pengkhianatan itu terpampang di depan matanya tanpa tirai penghalang, begitu nyata hingga menggores bola matanya.
Tapi mimpi buruk itu belum berakhir.
Sedetik kemudian, sosok lain muncul dari balik pintu yang terbuka itu. Seorang wanita.
Wanita itu melangkah pelan mendekati Bram. Ia mengenakan gaun tidur panjang berbahan satin berwarna navy yang melapisi tubuhnya yang sintal. Rambut ikalnya yang sebahu dibiarkan tergerai berantakan, membingkai wajah putihnya yang memancarkan kecantikan alami nan lembut. Ia terlihat seumuran dengan Lana, namun memancarkan aura keibuan yang sangat hangat dan menenangkan.
Dunia Lana berhenti berputar. Udara di dalam mobilnya seakan berubah menjadi racun mematikan yang mencekiknya.
Wanita itu berdiri di samping Bram, mengatakan sesuatu yang tidak bisa didengar Lana. Bram menoleh, lalu tawanya pecah. Tawa renyah nan dalam, persis seperti tawa yang Bram keluarkan saat ia menggoda Lana di pesta semalam.
Lalu, di bawah sorot lampu teras yang temaram, di depan mata kepala Lana yang mulai mengabur oleh air mata, Bram melingkarkan kedua lengannya ke pinggang wanita itu dari belakang. Pria itu menarik tubuh sang wanita agar menempel erat di dadanya, menyandarkan dagunya di bahu wanita tersebut. Sang wanita tertawa kecil, memiringkan kepalanya, membiarkan bibir Bram mendarat lembut di pelipisnya. Sebuah ciuman penuh keintiman, keakraban, dan... cinta.
Bukan sekadar ciuman nafsu. Itu adalah gestur sepasang suami istri yang sedang membagi kehangatan di malam yang dingin. Gestur yang sudah terlalu sering Lana terima selama belasan tahun ini.
Lana menggigit bagian dalam pipinya sekuat tenaga hingga ia bisa mengecap rasa anyir darah di lidahnya. Rasa sakit fisik itu tak ada artinya dibandingkan dengan hancurnya jiwa Lana saat ini.
Semua pertanyaannya terjawab. Skenario yang paling ia takuti kini menjelma menjadi daging dan darah, berdiri tanpa dosa di teras rumah miliaran rupiah. Bramantyo tidak hanya membohonginya soal pekerjaan. Bramantyo tidak hanya memiliki selingkuhan.
Melihat tatapan memuja Bram pada wanita itu, melihat bagaimana pria itu bergerak begitu natural di rumah ini—rumah yang jelas-jelas bukan dibeli untuk Lana—sebuah kebenaran kelam lain menghantam kesadaran Lana dengan telak.
Wanita itu bukan simpanan semalam. Tempat ini bukan sarang pelacuran. Ini adalah sebuah rumah. Sebuah panggung sandiwara kedua yang dibangun suaminya.
Bramantyo, suami sempurnanya, ternyata memiliki kehidupan ganda. Dan kehidupan di Jakarta bersama Lana dan Nadin, mungkin hanyalah separuh dari kebohongan besar pria itu.
Dari balik kemudi mobilnya yang gelap, Lana memandang adegan mesra di seberang jalan itu dengan mata yang perlahan mengering. Kesedihan dan keputusasaannya telah terbakar habis, menyisakan bara dendam yang menyala terang di matanya. Permainan ini baru saja dimulai. Dan Lana berjanji pada dirinya sendiri, ia tidak akan hancur sendirian.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar