Urat-urat di punggung tangan Lana menonjol, menegang seolah siap meledak dari balik kulitnya yang seputih porselen. Kakinya yang telanjang dan gemetar perlahan bergerak, melayang tepat di atas pedal gas mobilnya.
Di seberang jalan sana, di bawah hangatnya cahaya lampu teras rumah bernomor 12 itu, Bram masih memeluk wanita itu dari belakang. Tawa renyah mereka membelah kesunyian malam Bandung, terdengar begitu lepas, begitu bahagia. Tawa seorang pria yang merasa dirinya di atas segalanya, yang merasa berhasil mempecundangi dunia.
Injak pedalnya, Lana. Injak sekarang, sebuah suara gelap dan primitif berbisik keras di telinganya.
Pikirannya memproyeksikan sebuah skenario brutal yang terasa sangat memuaskan: Honda HR-V putihnya melesat maju membelah jalanan sepi ini dengan kecepatan seratus kilometer per jam. Menghantam pagar kayu mewah itu hingga hancur berkeping-keping. Menabrak bagian belakang Range Rover hitam kebanggaan suaminya hingga ringsek. Dan membiarkan pecahan kaca serta hantaman baja itu menghancurkan kemesraan menjijikkan yang sedang dipertontonkan di depan matanya.
Lana ingin melihat wajah arogan Bram berubah menjadi pias. Ia ingin wanita bergaun navy itu menjerit ketakutan. Ia ingin menghancurkan rumah ini, meratakan kebohongan ini dengan tanah malam ini juga. Persetan dengan hukum, persetan dengan segalanya!
Ujung jari kaki Lana menyentuh permukaan pedal gas. Tuas transmisi sudah ia geser ke posisi 'Drive'. Sedikit saja tekanan, dan semuanya akan berakhir.
Namun, tepat di sepersekian detik sebelum otot kakinya menegang untuk menginjak pedal itu dalam-dalam, sebuah bayangan melintas di benaknya, menghantam kewarasannya lebih keras dari beton manapun.
Wajah Nadin.
Gadis enam belas tahunnya yang ceria. Gadis yang memakai gaun peach semalam, memeluk lengan ayahnya dengan bangga, tertawa dengan mata berbinar bahagia. “Papa romantis banget sih!”
Napas Lana tercekat keras di tenggorokan.
Jika ia menabrakkan mobil ini sekarang, ia mungkin akan mati, atau berakhir membusuk di penjara dengan seragam tahanan. Berita tentang 'Istri Pengusaha Sukses Mengamuk dan Menabrak Rumah Selingkuhan Suami' akan menjadi santapan lezat media massa. Nadin akan hancur. Putrinya yang tidak berdosa itu akan kehilangan ibunya, kehilangan sosok ayahnya, dan dipaksa menanggung malu seumur hidupnya karena skandal kotor ini.
Bram bisa saja selamat, membayar pengacara termahal di Jakarta, memutarbalikkan fakta bahwa Lana adalah istri yang kehilangan kewarasannya, lalu pria keparat itu akan hidup bahagia bersama wanita ini.
Tidak. Lana menggelengkan kepalanya dengan brutal. Tidak. Aku tidak akan membiarkan bajingan itu menang. Aku tidak akan mengorbankan masa depan Nadin untuk sampah seperti mereka.
Dengan sisa-sisa kewarasan yang ia miliki, Lana menggeser kembali tuas transmisi ke posisi 'Parkir'.
Dan di detik itu juga, pertahanan dirinya runtuh seutuhnya.
Lana menjatuhkan dahinya ke atas setir berlapis kulit itu. Mulutnya terbuka lebar, namun tidak ada suara yang keluar pada awalnya. Dadanya naik-turun dengan ritme yang menyakitkan, berebut oksigen dengan rasa sesak yang membunuh. Lalu, sebuah jeritan panjang, serak, dan penuh penderitaan meledak dari tenggorokannya.
Ia menangis histeris. Air mata membanjiri wajahnya, membasahi setir mobilnya. Tangannya memukul-mukul paha dan dadanya sendiri, mencoba menyalurkan rasa sakit tak kasatmata yang merobek-robek jantungnya. Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, Lana meraung layaknya seekor induk serigala yang baru saja kehilangan anak-anaknya.
Ia menangisi tujuh belas tahun hidupnya yang ternyata hanyalah sebuah lelucon. Ia menangisi setiap pengorbanannya. Ia menangisi setiap kecupan, setiap pelukan, dan setiap kata cinta dari Bram yang ternyata telah dibagi dengan wanita lain.
Di luar sana, Bram dan wanita itu berjalan masuk ke dalam rumah. Pintu kayu berukir itu ditutup rapat. Lampu teras dimatikan. Meninggalkan Lana sendirian di dalam kegelapan, tenggelam dalam lautan air matanya sendiri.
Matahari fajar menyingsing di ufuk timur saat mobil Lana kembali memasuki Tol Cipularang menuju Jakarta. Sinar keemasannya menembus kaca mobil, terasa begitu menyilaukan dan seolah mengejek nasibnya pagi ini.
Lana tidak lagi menangis. Matanya memang merah dan bengkak parah, rambutnya berantakan, dan tubuhnya sedingin mayat, tapi air matanya sudah mengering total. Selama perjalanan panjang yang sunyi itu, sesuatu di dalam diri Lana telah mati, dan sesuatu yang baru telah mengambil alih.
Wanita lugu yang rela memasak nasi goreng setiap pagi dan percaya pada setiap kata-kata suaminya telah ia tinggalkan di depan rumah bernomor 12 di Bandung tadi. Yang duduk di balik kemudi saat ini adalah seorang ibu yang terluka, yang insting bertahannya telah menyala.
Lana tahu, ia berhadapan dengan manipulator ulung. Bramantyo bukanlah pria bodoh yang selingkuh lewat chat murahan atau menyewa kamar hotel per jam. Bram membangun rumah yang nyata. Bram memiliki kehidupan yang tertata di sana. Wanita itu... wanita itu bahkan tidak terlihat seperti wanita simpanan yang gila harta. Gestur mereka terlalu alami, terlalu familiar.
Jika Lana langsung melabrak Bram siang ini saat pria itu pulang, ia tahu persis apa yang akan terjadi. Bram akan memutarbalikkan fakta. Bram akan berkelit dengan ribuan alasan bisnis. Atau lebih parahnya, Bram akan menghapus semua jejak, memindahkan asetnya, dan menceraikan Lana lalu mengambil hak asuh Nadin dengan alasan Lana mengalami gangguan kejiwaan. Uang dan kekuasaan Bram bisa membeli pengadilan mana pun di negeri ini.
Lana tidak boleh gegabah. Ia butuh lebih dari sekadar emosi. Ia butuh strategi. Ia butuh identitas wanita itu. Ia butuh tahu nama yang tertera di sertifikat rumah mewah tersebut. Ia butuh bukti-bukti finansial.
Lana memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya di Pondok Indah tepat pukul lima pagi. Para asisten rumah tangganya belum bangun. Rumah raksasa itu masih tertidur.
Lana mengendap-endap masuk. Ia melewati kamar tamu di lantai bawah. Pintu itu masih tertutup rapat, selimut di dalamnya masih rapi tak tersentuh. Skrip kebohongan Bram masih tergeletak di sana, menunggu aktor utamanya kembali untuk memainkannya.
Lana naik ke lantai dua, masuk ke kamar mandi utama. Ia menyalakan keran shower dengan air paling dingin, membiarkan tubuhnya diguyur air es tersebut. Ia menyabuni tubuhnya berkali-kali, menggosok kulitnya dengan kasar hingga kemerahan, seakan ingin melunturkan semua sentuhan kotor Bram dari tubuhnya.
Hari ini, aku akan menjadi aktris yang lebih baik darimu, Mas, batin Lana.
Pukul satu siang.
Suara deru mesin Range Rover hitam terdengar memasuki garasi. Jantung Lana berdebar pelan, namun bukan lagi debaran cinta atau ketakutan. Itu adalah debaran adrenalin seorang prajurit yang bersiap memasuki medan perang.
Lana berdiri di dapur, mengenakan gaun rumah berbahan katun yang rapi, rambutnya disisir anggun. Ia telah menggunakan concealer tebal di bawah matanya dan pulasan blush on tipis untuk menutupi wajah pucatnya. Di atas kompor, panci berisi sup buntut kesukaan Bram sedang mendidih, menyebarkan aroma rempah yang menggugah selera.
Pintu penghubung dapur terbuka. Bram melangkah masuk.
Pria itu masih mengenakan kemeja dan celana bahan yang sama seperti kemarin. Jas abu-abunya tidak ada, mungkin tertinggal di mobil. Namun yang membuat Lana nyaris muntah adalah betapa piawainya suaminya itu berakting.
Bram berjalan dengan bahu sedikit membungkuk. Wajahnya yang semalam di Bandung terlihat sangat cerah dan segar, kini diatur sedemikian rupa hingga terlihat kelelahan. Ia terbatuk kecil, memijat bagian belakang lehernya.
"Sayang," sapa Bram dengan suara serak yang dibuat-buat. Pria itu mendekat, melingkarkan lengannya di pinggang Lana, dan mencium pipinya.
Aroma parfum Bram menusuk hidung Lana. Tidak ada lagi aroma cedarwood. Ada aroma lain di sana. Aroma sabun mandi floral yang manis. Aroma rumah di Bandung. Aroma wanita itu.
Butuh seluruh kekuatan mental yang Lana miliki agar tangannya tidak mengambil panci berisi kuah sup panas itu dan menyiramkannya ke wajah suaminya detik ini juga.
Sebaliknya, Lana memutar tubuhnya, membalas pelukan suaminya dengan senyum termanis yang bisa ia ciptakan. "Mas udah pulang? Gimana meeting pagi ini sama investor Jepang? Berjalan lancar?"
Bram menghela napas panjang, melepaskan pelukannya dan menarik kursi meja makan. "Lancar, Syukurlah. Mereka setuju dengan ekspansi proyek kita. Tapi kepalaku rasanya mau pecah, Sayang. Untung semalam Mas tidur di kamar bawah, flu Mas lumayan mereda meski badan masih agak meriang. Maaf ya, Mas sampai nggak sempat naik ke kamar buat pamit pagi tadi."
Pembohong yang luar biasa.
Lana mengambil mangkuk, menyendokkan nasi putih hangat dan potongan buntut sapi berkuah kaldu bening ke dalamnya. Ia meletakkan mangkuk itu tepat di hadapan Bram, lengkap dengan irisan jeruk nipis dan sambal hijau kesukaan suaminya.
"Nggak apa-apa, Mas. Aku ngerti kok. Namanya juga demi masa depan perusahaan kita," jawab Lana lembut. Suaranya tidak bergetar sedikit pun.
Lana duduk di seberang Bram, menopang dagu dengan punggung tangannya, menatap suaminya yang mulai menyuapkan sup itu ke dalam mulutnya.
Tensi di ruang makan itu begitu tebal hingga bisa dipotong dengan pisau. Setidaknya, dari sisi Lana. Bram tampak makan dengan sangat lahap, sama sekali tidak menyadari badai mematikan yang sedang duduk mengawasinya dari seberang meja.
Setiap kali Bram mengunyah makanannya, Lana memperhatikan bibir pria itu. Bibir itu... bibir yang semalam mengecup pelipis wanita lain. Saat tangan besar Bram mengambil gelas air putih, mata Lana terpaku pada jari-jari panjang itu. Jari-jari itu... jari yang semalam membelai pinggang wanita bergaun biru navy. Rasa jijik yang luar biasa merayap di bawah kulit Lana seperti ribuan semut berbisa. Pria di hadapannya ini bukan lagi suaminya. Pria ini adalah parasit. Seorang monster yang memakai topeng manusia sempurna. Dan Lana sedang memberinya makan.
"Supnya enak banget, Sayang. Pas banget buat badan yang lagi nggak enak gini," puji Bram sambil tersenyum hangat menatap Lana. "Kamu emang istri yang paling hebat. Mas nggak tahu bakal jadi apa kalau nggak ada kamu."
Kau akan tahu rasanya hancur saat aku mengambil semuanya darimu nanti, Mas, balas Lana di dalam kepalanya.
Namun di luar, bibir Lana membalas senyuman itu dengan sempurna. "Habiskan ya, Mas. Biar kamu cepat pulih. Kamu harus kuat, masih banyak tanggung jawab yang harus kamu urus."
Ya. Tanggung jawab di dua kota yang berbeda.
Bram mengangguk, sama sekali tidak menangkap sarkasme setajam silet yang tersembunyi di balik nada lembut istrinya.
Selesai makan, Bram naik ke lantai atas untuk tidur siang, beralasan ingin mengistirahatkan tubuhnya yang "meriang". Begitu pintu kamar utama tertutup, topeng Lana luruh ke lantai. Napasnya terengah-engah. Ia berlari ke wastafel dapur dan mencuci tangannya dengan sabun antiseptik berulang-ulang, merasa kotor hanya karena telah menyentuh piring bekas makan suaminya.
Lana butuh bantuan. Ia tidak bisa menyelidiki ini sendirian tanpa memancing kecurigaan Bram. Ia mengingat nomor kontak seorang detektif swasta spesialis perselingkuhan yang pernah dipakai oleh salah satu teman sosialitanya dulu. Ia harus menghubungi orang itu besok pagi-pagi sekali. Ia harus tahu siapa nama wanita bergaun navy itu.
Lana sedang mengeringkan tangannya dengan lap serbet ketika suara ketukan keras dan riang terdengar dari arah pintu depan.
Itu pasti Nadin. Gadis itu sudah pulang dari sekolah.
Lana menarik napas dalam-dalam, kembali menata ekspresi wajahnya. Ia tidak boleh membiarkan Nadin melihat ada yang salah dengan ibunya. Ia memaksakan senyum yang lebar dan berjalan cepat menuju ruang depan.
Begitu pintu utama dibuka, Nadin berhambur masuk seperti angin puting beliung yang penuh kegembiraan. Gadis berseragam putih abu-abu itu memeluk ibunya dengan sangat erat hingga Lana sedikit terhuyung ke belakang. Wajah Nadin memerah, matanya berbinar-binar cerah, memancarkan euforia kebanggaan yang meluap-luap.
"Ma! Mama! Coba tebak?!" teriak Nadin heboh, melemparkan ransel sekolahnya ke sofa sembarangan.
"Ada apa ini? Sayang, jangan teriak-teriak, Papa lagi istirahat di atas, kepalanya pusing," Lana menegur lembut sambil mengelus punggung putrinya. "Ada apa sih? Menang arisan di sekolah?"
"Lebih bagus dari itu, Ma!" Nadin melompat-lompat kecil di tempat, kedua tangannya memegang bahu Lana dengan erat.
Nadin menarik napas panjang, lalu mengucapkan kalimat yang menghentikan detak jantung Lana detik itu juga.
"Ma, aku lolos seleksi! Aku masuk babak final kompetisi debat nasional mewakili sekolah!"
"Astaga, Sayang! Benarkah?" Lana refleks tersenyum, kebanggaan seorang ibu murni mengambil alih sejenak. "Mama bangga banget sama kamu! Wah, kita harus syukuran kecil-kecilan ini. Kapan lombanya?"
Nadin menyeringai lebar, sebuah senyuman yang begitu polos, sama sekali tidak menyadari bahwa kata-katanya berikutnya akan menarik pelatuk sebuah pistol imajiner tepat di kepala ibunya.
"Bulan depan, Ma! Dan Mama harus ikut nemenin aku, soalnya lombanya diadakan di luar kota!" Nadin memekik girang. "Lombanya di Bandung, Ma!"
Dunia Lana berhenti berputar.
Kata 'Bandung' menggema di telinganya bagaikan dentang lonceng kematian. Senyum di bibir Lana membeku seketika. Darahnya terasa surut dengan cepat dari wajahnya, turun ke ujung-ujung kakinya, membuatnya merasa mual dan pusing dalam waktu bersamaan.
Di atas sana, suaminya yang memiliki kehidupan rahasia sedang tertidur pulas. Di depannya, putri semata wayangnya baru saja mengumumkan bahwa takdir akan menarik mereka secara paksa menuju kota tempat kebohongan itu bersemayam.
Bandung.
Lana menatap wajah Nadin yang masih tertawa bahagia. Udara di sekitarnya terasa menipis. Takdir rupanya memiliki selera humor yang sangat kelam. Ini bukan lagi sekadar kebetulan. Ini adalah sebuah bom waktu yang baru saja diaktifkan, dan Lana hanya punya waktu satu bulan sebelum dua dunianya yang saling bertentangan itu bertabrakan dengan hancur lebur.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar