Lana diam terpaku menatap layar ponsel di tangannya. Ruang keluarga yang sejuk dan terang benderang itu mendadak terasa seperti ruang hampa udara yang menyedot habis oksigen di paru-parunya.
Mual yang luar biasa hebat tiba-tiba menghantam perutnya, bergulung-gulung naik ke kerongkongan bak ombak pasang. Ia melempar ponselnya ke atas sofa seolah benda pipih itu baru saja menjelma menjadi kalajengking berbisa, lalu berlari terhuyung-huyung menuju kamar mandi tamu di dekat dapur.
Lana jatuh berlutut di depan kloset. Ia memuntahkan seluruh isi perutnya. Nasi goreng seafood yang tadi pagi ia telan dengan perasaan lega kini keluar bersama cairan empedu yang terasa membakar tenggorokannya. Ia terbatuk-batuk keras, air matanya merebak jatuh membasahi lantai ubin yang dingin.
Tubuh wanita itu bergetar hebat. Jantungnya memukul-mukul tulang rusuknya seakan meronta ingin keluar. Tangannya mencengkeram tepi kloset hingga buku-buku jarinya memutih, berusaha menopang tubuhnya yang mendadak kehilangan seluruh tenaganya.
Di dalam kepalanya, memori tadi pagi berputar layaknya kaset rusak yang diputar berulang-ulang dengan volume maksimal.
“Astaga, Tuhan! Pantas saja aku cari-cari di tas kerja tidak ada... Ini tuh tiket titipan si Riko.”
Suara bariton Bram terngiang, begitu renyah, begitu natural. Lana mengingat dengan jelas bagaimana suaminya itu menatap lurus tepat ke dalam bola matanya tanpa berkedip. Ia mengingat usapan hangat tangan Bram di puncak kepalanya. Ia mengingat nada suara Bram yang merendah, penuh kasih sayang, menegurnya karena terlalu banyak pikiran hingga kurang tidur.
Pria itu berbohong.
Bramantyo, laki-laki yang telah berbagi ranjang dengannya selama tujuh belas tahun, laki-laki yang mengetahui setiap jengkal tubuhnya, ayah dari putri semata wayangnya, baru saja menatap wajahnya dan merangkai sebuah skenario fiktif tanpa menunjukkan satu pun micro-expression kegugupan. Tidak ada keringat dingin, tidak ada mata yang membuang pandang, tidak ada bibir yang bergetar.
Ia membohongi Lana dengan sangat lancar, setenang seseorang yang sedang membicarakan cuaca.
Lana menarik napas tersengal, bangkit perlahan, dan berjalan ke wastafel. Ia menyalakan keran, membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali, berharap suhu beku itu bisa membangunkan dirinya dari mimpi buruk ini. Namun, saat ia mendongak dan menatap pantulan dirinya di cermin, kenyataan menamparnya dengan kejam.
Mata almondnya merah dan sembab. Wajahnya pucat pasi. Ia tidak lagi melihat bayangan seorang istri pengusaha sukses yang hidupnya menjadi kiblat ibu-ibu sosialita. Ia melihat pantulan seorang wanita bodoh. Seorang badut yang selama ini menari bahagia di atas panggung ilusi yang dibangun suaminya.
"Siapa kamu sebenarnya, Mas?" bisik Lana pada pantulannya sendiri, suaranya pecah, diiringi isak tangis yang tertahan di tenggorokan.
Lana mengusap wajahnya dengan handuk. Di detik handuk itu turun dari wajahnya, sorot mata Lana berubah. Rasa mual dan tangis keputusasaan itu perlahan mengeras, membeku menjadi sebuah tekad yang dingin dan tajam. Istri penurut yang lugu itu telah mati di lantai kamar mandi ini. Sesuatu yang lain—insting bertahan hidup seorang wanita yang terancam—baru saja lahir.
Lana berjalan keluar, memungut ponselnya kembali, dan melangkah mantap menaiki tangga menuju ruang kerja suaminya di lantai dua.
Selama ini, ruang kerja Bram adalah zona yang selalu Lana hormati. Ia hanya masuk untuk mengantarkan kopi atau membersihkan debu, tidak pernah menyentuh dokumen atau menyalakan komputernya. Ia sangat memercayai ruang privasi itu. Namun hari ini, batas itu tidak lagi berlaku.
Lana duduk di kursi kulit kebesaran milik Bram, menekan tombol power pada MacBook Pro berwarna abu-abu gelap di atas meja kayu jati itu. Layar menyala, meminta kata sandi. Lana mengetikkan kombinasi angka tanpa ragu: tanggal pernikahan mereka dan tanggal lahir Nadin.
Klik. Layar utama terbuka. Bahkan kata sandinya pun dirancang sedemikian rupa untuk membuat Lana merasa dicintai.
Jari-jari Lana bergerak cepat di atas trackpad. Ia bukan ahli IT, tapi ia adalah seorang wanita cerdas yang tahu di mana harus mencari. Ia membuka browser utama Bram, mengeklik riwayat pencarian. Matanya menyapu deretan teks yang muncul.
Bursa saham harian. Berita ekonomi makro. Harga stik golf keluaran terbaru. Portal berita nasional.
Semuanya bersih. Sangat bersih.
Lana beralih ke aplikasi perbankan, masuk ke rekening joint account yang biasa Bram gunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan operasional pribadinya. Lana mengecek mutasi sebulan terakhir. Tidak ada yang mencurigakan. Hanya pembayaran uang sekolah Nadin, tagihan kartu kredit yang berisi transaksi makan siang bersama klien, dan pembelian tiket pesawat untuk 'dinas luar kota' yang selalu dikirimkan invoice-nya ke email Lana.
Tidak ada transaksi aneh. Tidak ada pengeluaran tak terduga. Tidak ada pemesanan hotel gelap atau transfer ke rekening misterius.
Lana menyandarkan punggungnya ke kursi. Kepalanya berdenyut nyeri. Untuk sejenak, secercah keraguan kembali muncul. Mungkinkah aku salah? Mungkinkah Dina, istri Riko, salah menulis tanggal di Instagram? Tapi logika Lana menolak menyerah. Tidak ada kebetulan yang sepresisi ini. Tiket fisik itu nyata. Bekas sobekan tiket itu nyata. Tanggal itu nyata. Jika semuanya normal, mengapa mutasi rekening Bram begitu steril? Seorang pria dengan mobilitas setinggi Bramantyo, seorang CEO dengan uang miliaran di tangannya, mustahil memiliki jejak digital yang selurus dan sesederhana ini.
"Terlalu bersih," gumam Lana, matanya menyipit menatap layar.
Dan di situlah Lana menyadari sesuatu yang mengerikan. Kesempurnaan ini bukanlah bukti kesetiaan. Kesempurnaan ini adalah hasil dari sebuah kurasi. Bram tidak menyembunyikan kebohongannya di laptop ini; laptop ini adalah alat untuk menutupi kebohongannya. Suaminya pasti memiliki ponsel lain. Rekening lain. Identitas ganda yang sengaja dipisahkan dari dunia Lana dan Nadin.
Lana tidak bisa melawan hantu. Ia butuh bukti fisik. Ia tidak bisa hanya mengandalkan insting dan tiket sialan itu. Ia harus tahu ke mana suaminya pergi saat ia beralasan sedang 'dinas'.
Dengan tangan yang sedikit gemetar namun dipenuhi determinasi, Lana mengambil ponselnya, membuka aplikasi e-commerce, dan mengetikkan satu kata kunci di kolom pencarian. GPS Tracker Mini. Ia memilih model paling kecil, seukuran koin, yang memancarkan sinyal langsung ke aplikasi di ponsel. Ia memilih opsi pengiriman instan.
Tiga jam kemudian, seorang kurir ojek online mengantarkan sebuah paket kecil berlapis plastik hitam. Lana menyembunyikannya di dalam saku daster, lalu masuk ke kamarnya. Ia membuka kemasannya, mengunduh aplikasi yang tertera di buku panduan ke dalam ponselnya, dan menekan tombol aktivasi. Sebuah titik biru berkedip di layar ponselnya, menunjukkan lokasinya saat ini dengan akurasi yang presisi.
Senjata pertamanya telah siap.
Menjelang magrib, suara deru mesin mobil Range Rover hitam milik Bram terdengar memasuki garasi. Lana yang sedang memotong sayur di dapur, menarik napas dalam-dalam, mengatur raut wajahnya agar terlihat sesantai mungkin. Ia adalah aktris sekarang, dan panggung sandiwaranya baru saja dimulai.
Bram melangkah masuk melalui pintu penghubung garasi dan dapur. Pria itu melepaskan dasinya dengan gerakan lelah. Wajahnya terlihat pucat, dan sesekali ia terbatuk pelan dengan tangan menutupi mulut.
"Mas udah pulang?" sapa Lana, meletakkan pisau dan menghampiri suaminya. Ia mengambil tas kerja Bram, menahan diri untuk tidak menggeledahnya saat itu juga.
"Iya, Sayang. Jalanan macet banget," suara Bram terdengar lebih parau dari biasanya. Pria itu mencium kening Lana, namun kali ini Lana bisa merasakan betapa dinginnya bibir itu. "Kepala Mas pusing banget. Kayaknya Mas kena flu, ketularan orang-orang kantor yang pada tumbang."
Bram terbatuk lagi, kali ini terdengar lebih berat. Ia memijat pelipisnya dengan dramatis.
"Ya ampun, badan kamu anget, Mas," Lana menyentuh dahi Bram dengan punggung tangannya, berakting cemas dengan sangat sempurna. "Kamu langsung mandi air hangat ya, nanti aku bawain sup ayam ke kamar."
"Makasih, Sayang," Bram memaksakan sebuah senyum lemah. "Oh ya, Lana... Mas tidur di kamar tamu bawah aja ya malam ini?"
Lana menaikkan alisnya, berpura-pura terkejut. "Lho? Kenapa? Aku bisa urus kamu di kamar atas kok."
Bram menggeleng pelan, tangannya mengusap pipi Lana dengan lembut. Sebuah sentuhan manipulatif yang biasanya selalu berhasil membuat Lana luluh. "Mas nggak mau kamu sama Nadin ketularan. Flu ini kayaknya lumayan berat. Besok pagi-pagi sekali Mas ada meeting sama investor dari Jepang, Mas butuh istirahat total malam ini biar besok bisa mikir jernih. Nggak apa-apa, ya?"
Penjelasan itu sangat rasional. Sangat penuh perhatian. Sangat Bramantyo.
"Ya udah kalau gitu," jawab Lana dengan nada pasrah yang dibuat-buat. "Nanti aku siapin selimut tambahan dan air putih di nakas kamar tamu ya. Kamu istirahat yang benar."
"Kamu memang istri yang paling pengertian," puji Bram, mengecup puncak kepala Lana sekali lagi sebelum berjalan gontai menuju kamar mandi.
Lana berdiri mematung menatap punggung suaminya menghilang di balik pintu. Rasa muaknya kembali menggelegak. Meeting dengan investor Jepang? Istirahat total? Kalimat itu terdengar seperti kaset rekaman kebohongan yang sama dengan rapat maraton di lantai empat puluh hari Jumat kemarin.
Malam semakin larut. Jarum jam di dinding ruang keluarga menunjukkan pukul sebelas lewat tiga puluh menit. Rumah itu sunyi senyap, hanya menyisakan suara detak jam dan dengung pelan pendingin ruangan.
Lana duduk di tepi ranjang di kamar utama lantai dua. Ia belum mengganti pakaiannya, masih mengenakan celana training gelap dan kaos hitam yang membaur dengan bayangan malam. Di telapak tangannya, benda bundar kecil berwarna hitam—GPS tracker itu—terasa dingin menempel di kulitnya.
Ini saatnya.
Lana bangkit. Ia berjalan mengendap-endap, membuka pintu kamar utama tanpa menimbulkan suara decitan sedikit pun. Lorong lantai dua gelap gulita. Ia menuruni anak tangga satu demi satu dengan kaki telanjang. Setiap kali papan kayu jati itu berderit samar, jantung Lana rasanya melompat ke tenggorokan.
Ia melewati pintu kamar tamu di lantai bawah tempat suaminya berada. Pintu itu tertutup rapat. Dari celah bawah pintu, tidak ada cahaya yang memendar. Bram sepertinya benar-benar sudah tertidur.
Lana terus berjalan melewati dapur, menuju pintu akses yang menghubungkan rumah dengan garasi dalam. Tangan Lana yang berkeringat dingin memutar kenop pintu perlahan. Bunyi klik pelan terdengar sekeras ledakan meriam di telinga Lana, tapi ia tidak berhenti.
Udara garasi terasa pengap dan berbau oli bercampur debu. Range Rover hitam milik Bram terparkir gagah membelakangi pintu. Mengandalkan sisa cahaya rembulan yang menembus ventilasi garasi, Lana berjalan merayap mendekati mobil besar tersebut.
Lana tahu ia tidak bisa menempelkan alat itu di luar mobil, takut jika suaminya mencuci mobil dan alat itu terlepas. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan kunci cadangan mobil Bram yang memang selalu ia simpan di laci dapur.
Tangannya bergetar saat menekan tombol unlock. Beruntung, sistem alarm mobil ini menggunakan mode senyap jika ditekan dua kali berturut-turut. Lampu sein berkedip tanpa suara bip.
Lana menarik tuas pintu penumpang depan, membukanya hanya cukup untuk memasukkan setengah badannya. Jantungnya memompa darah dengan kecepatan yang membuat telinganya berdenging. Ia meraba bagian kolong kursi penumpang, melewati karpet beludru, mencari sudut besi di kerangka bawah kursi. Begitu tangannya menyentuh sebuah rongga sempit di balik pegas jok, ia menempelkan GPS tracker bermagnet kuat itu ke sana. Bunyi clack pelan terdengar saat magnet menempel sempurna pada besi kerangka.
Selesai. Alat itu tersembunyi dengan sempurna. Mustahil ditemukan kecuali jok mobil itu dibongkar total.
Lana menarik napas lega, mundur perlahan, dan menutup pintu mobil. Ia mengunci kembali mobil itu dengan mode senyap, lalu bergegas kembali masuk ke dalam rumah. Setibanya di kamar utama, Lana mengunci pintu, menjatuhkan dirinya ke atas kasur, dan menatap langit-langit kamar dengan napas terengah-engah.
Keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia baru saja melakukan sesuatu yang gila. Ia melanggar batas privasi yang paling sakral dalam rumah tangganya. Namun ironisnya, ia tidak merasa bersalah. Ia justru merasa memegang kendali.
Waktu merambat dengan sangat lambat. Pukul satu dini hari. Pukul dua dini hari.
Lana belum bisa memejamkan matanya sedikit pun. Ia terus menatap layar ponselnya, melihat titik biru diam yang menandakan lokasi mobil Bram di garasi rumah mereka. Pikiran Lana mulai berkecamuk. Apakah ia terlalu paranoid? Apakah Bram benar-benar hanya sedang flu dan butuh istirahat di kamar bawah?
Di tengah keheningan malam yang menusuk tulang, sebuah getaran singkat dari ponsel di genggamannya mengejutkan Lana.
Bzzzt.
Layar ponsel menyala terang, membelah kegelapan kamar. Sebuah notifikasi berbentuk kotak putih muncul di bagian atas layar dari aplikasi tracking tersebut.
Peringatan Pergerakan: Perangkat 'Mobil Mas Bram' telah meninggalkan area Geofence (Rumah Pondok Indah).
Napas Lana tercekat keras. Matanya membelalak lebar, tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca.
Ia segera menekan notifikasi itu. Layar berpindah ke peta digital. Di sana, titik biru itu tidak lagi berada di rumahnya. Titik biru itu sedang bergerak menyusuri peta virtual. Kecepatannya menunjukkan angka 40 km/jam, lalu perlahan naik menjadi 60 km/jam. Mobil itu keluar dari kompleks perumahan mereka.
Lana melompat dari ranjang, berlari tanpa suara ke luar kamar dan menuruni tangga secepat kilat. Ia berhenti tepat di depan pintu kamar tamu tempat Bram menginap. Tanpa berpikir panjang, Lana memutar kenop pintu dan mendorongnya terbuka.
Kamar itu kosong.
Cahaya lampu jalanan dari luar jendela menyorot ranjang queen size di tengah ruangan. Selimutnya masih terlipat rapi. Bantalnya tak tersentuh. Seprai itu bersih tanpa kerutan. Tidak ada bau obat, tidak ada suara dengkuran orang sakit.
Bram tidak pernah tidur di kamar ini. Alasan flu, alasan takut menularkan penyakit pada anak dan istrinya, alasan pertemuan bisnis pagi buta—semuanya hanyalah omong kosong. Skenario murahan agar pria itu bisa memiliki malam yang bebas untuk kabur dari rumah tanpa perlu mengendap-endap dari kamar utama.
Lana menoleh ke arah ponselnya dengan tangan yang bergetar hebat. Titik biru di layarnya terus bergerak dengan kecepatan konstan, semakin menjauhi Jakarta Selatan. Jalur merah di peta menunjukkan rute yang sedang ditempuh mobil suaminya. Titik itu berbelok masuk ke gerbang tol dalam kota, lalu terus mengarah ke timur.
Tujuannya sangat jelas dan presisi, terpampang di layar layaknya vonis mati. Mobil itu sedang melaju menuju Tol Cipularang.
Jalur menuju Bandung.
Lana menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha meredam jeritan histeris yang merobek kerongkongannya. Kakinya lemas, tubuhnya luruh ke lantai kamar tamu yang dingin. Air matanya kembali tumpah, bukan lagi karena keputusasaan, melainkan karena rasa sakit yang tak terbayangkan saat sebuah pengkhianatan terbentang nyata di depan matanya.
Malam itu, ilusi sempurnanya hancur berkeping-keping, digantikan oleh kenyataan bahwa suaminya sedang dalam perjalanan menuju kehidupan gandanya.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar