Aku menghitung lagi.
Bukan karena tidak percaya angkanya. Tapi karena aku ingin memastikan
otakku tidak salah — bahwa uang yang ada di tanganku ini memang nyata,
dan rencana yang sudah aku susun sejak kemarin malam itu mungkin untuk
dijalankan.
Gajiku bulan ini: dua juta delapan ratus ribu rupiah.
Aku duduk di bangku plastik terminal bayangan, menunggu angkot yang
akan membawaku pulang. Amplop coklat itu aku pegang erat, seperti
seseorang yang menjaga satu-satunya milikinya dari angin kencang.
Dua juta delapan ratus ribu.
Cicilan kontrakan: delapan ratus ribu.
Listrik dan air: estimasi dua ratus ribu.
Makan seminggu untuk dua orang: empat ratus ribu.
Kiriman Ibu Hartati: tiga ratus ribu (kalau beliau tidak minta lebih).
Uang SPP Rini: dua ratus ribu (kalau tidak ada keperluan mendadak).
Bensin motor—
Aku berhenti. Motornya Bagas. Dan Bagas tidak bekerja.
Sisanya untuk apa?
Aku menghela napas panjang. Di luar terminal, matahari sudah mulai
miring ke barat. Perempuan di sebelahku menelpon seseorang, suaranya
riang, tertawa-tawa soal rencana makan malam. Aku menoleh sebentar,
lalu mengalihkan pandangan.
Angkot datang. Aku masuk, duduk di pojok, dan menyimpan amplop itu
dalam tas. Dalam — di bawah dompet, di bawah tisu, di tempat yang
tidak mudah terlihat.
Bukan karena takut kecopetan.
Tapi karena aku tahu, begitu sampai di rumah, amplop itu tidak akan
ada di tanganku lagi.
---
Bagas sudah menunggu di ruang tamu ketika aku membuka pintu. Dia
duduk di sofa, kaki diangkat ke meja, layar ponselnya menyala terang.
Matanya langsung beralih ke tanganku — ke tas yang aku bawa.
"Gajian?" tanyanya.
Bukan 'halo'. Bukan 'capek?' Bukan 'sudah makan?'
"Iya," jawabku pendek.
Aku letakkan tas di kursi, menuju dapur. Belum makan sejak siang —
kantinnya tutup tadi karena ada renovasi, dan aku tidak sempat keluar.
Tapi perutku bisa menunggu. Nasi kemarin masih ada. Aku tinggal panaskan
dan cari lauk seadanya.
"Kar." Suara Bagas dari ruang tamu.
"Sebentar, Mas. Mau masak dulu."
"Nanti aja masaknya. Ke sini dulu."
Aku berhenti di depan kompor. Menghitung sampai tiga dalam hati. Lalu
aku keluar dari dapur, berdiri di ambang pintu.
Bagas sudah berdiri. Tangannya terulur.
"Mana?"
Aku tahu 'mana' yang dimaksud. Aku sudah tahu sejak tadi.
"Mas, aku mau bagi dulu ya. Kita hitung bareng keperluannya—"
"Sekar." Nada suaranya turun satu oktaf. Tanda tidak mau berdebat.
"Amplop gajinya mana?"
Aku keluarkan dari tas. Kuulurkan padanya.
Bagas membuka amplop itu, menghitung dengan ibu jarinya — cepat,
terlatih — lalu mendongak. Ada ekspresi di wajahnya yang tidak aku
suka. Bukan kecewa. Tapi seperti orang yang sedang merencanakan
sesuatu.
"Segini doang?"
"Dua juta delapan," jawabku. "Sama kayak bulan lalu."
"Nggak ada lembur?"
"Ada. Tapi belum masuk. Minggu depan baru cair."
"Oke." Dia lipat amplop itu, masukkan ke saku celana. "Aku butuh
tambahan lima ratus ribu. Buat keperluan."
Aku diam.
Lima ratus ribu dari mana? Itu berarti aku harus potong kiriman Ibu
Hartati, atau pangkas anggaran makan. Atau keduanya.
"Keperluan apa, Mas?"
"Nggak usah tanya-tanya. Pokoknya aku butuh."
Aku menatapnya. Tiga tahun aku menatap wajah ini. Dua tahun terakhir,
wajah ini yang selalu meminta — dan tidak pernah sekalipun mengatakan
terima kasih.
"Baik," kataku akhirnya. "Tapi nanti kita kekurangan buat makan."
"Itu urusanmu. Kamu yang kerja, kamu yang atur."
Dia kembali ke sofa. Kaki naik lagi ke meja. Layar ponsel menyala lagi.
Aku kembali ke dapur.
Manasin nasi kemarin. Menggoreng tempe sisa. Menyeduh teh tanpa gula
karena gula hampir habis dan aku belum beli.
Malam itu aku makan sendirian di dapur. Bagas makan di depan TV,
memanggil sebentar untuk minta diambilkan air minum, lalu fokus lagi
ke layarnya.
Aku cuci piring. Lap meja. Kunci pintu belakang.
Lalu aku duduk sebentar di kursi dapur yang dingin itu, menatap ubin
lantai yang ada satu retakannya di pojok — retakan yang sudah ada
sejak kami pindah ke sini setahun lalu dan tidak pernah diperbaiki —
dan bertanya pada diri sendiri dengan sangat pelan:
Sampai kapan?
Tidak ada yang menjawab.
Aku matikan lampu dapur dan pergi tidur.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar