Sudah jam dua belas lewat tiga puluh ketika aku mendengar suara kunci.
Aku berbaring di kasur sejak jam sepuluh, sudah berusaha tidur dan tidak
berhasil. Ada spreadsheet imajiner yang terus berputar di kepalaku —
kolom pemasukan dan pengeluaran yang tidak mau balance, angka-angka yang
berputar seperti carousel yang tidak punya tombol berhenti. Aku sudah
coba memejamkan mata, sudah coba miring kanan dan kiri, sudah coba teknik
pernapasan yang pernah aku baca di artikel kesehatan — tidak ada yang
berhasil.
Suara kunci berputar. Suara pintu depan terbuka, lalu tertutup dengan
cara yang tidak terlalu hati-hati — bukan dibanting, tapi juga tidak
pelan.
Suara langkah menuju kamar. Pintu kamar terbuka tanpa mengetuk.
Lampu tidak dinyalakan.
"Mas baru pulang?" tanyaku ke langit-langit.
"Iya." Suara Bagas datar. Sedikit napas yang lebih berat dari biasanya.
"Dari mana?"
Suara sepatu dilepas — satu, dua, dijatuhkan ke lantai bukan diletakkan.
Suara ikat pinggang dibuka. Suara baju dilempar ke kursi yang sudah penuh
dengan baju-baju lain yang belum sempat dilipat.
"Ketemu klien."
Klien.
Kata itu sudah aku dengar ratusan kali dalam dua tahun terakhir. Selalu
klien. Selalu meeting. Selalu ada hal yang sedang 'diproses'. Bagas
punya kosakata terbatas tapi sangat produktif dalam hal mendeskripsikan
ketidakjelasan — 'lagi proses,' 'lagi jajaki,' 'lagi tunggu respons,'
'lagi arrange pertemuan lanjutan.'
Dua tahun, dan tidak satu pun dari proses itu yang menghasilkan sesuatu
yang konkret. Bukan uang, bukan kontrak, bukan bahkan selembar proposal
tertulis yang pernah aku lihat.
"Kliennya siapa, Mas?" tanyaku. Suaraku sudah aku atur — tidak menuduh,
tidak menyerang. Sekadar bertanya.
"Nggak kamu kenal."
"Tapi usahanya yang mana? Yang distribusi itu? Atau yang kemarin kamu
cerita soal properti?"
Hening sebentar. Suara kaos dilepas, dilempar entah ke mana.
"Sekar." Nada suaranya berubah — menjadi suara orang yang sangat lelah,
yang sangat terbebani. Suara yang sudah aku hafal sebagai sinyal bahwa
percakapan ini akan berakhir dengan aku yang merasa bersalah sudah bertanya.
"Bisa nggak sih kamu nggak tanya-tanya malam-malam? Aku baru pulang, aku
capek, aku butuh istirahat."
"Aku cuma tanya, Mas. Bukan menginterogasi."
"Terasa seperti interogasi."
"Kalau tanya soal pekerjaan suami terasa seperti interogasi, itu aneh
ya, Mas."
Bagas menghela napas panjang — dramatis, dilebihkan sedikit untuk efek.
Dia menyalakan lampu tidur, bukan lampu utama, sehingga kamar jadi remang.
Lalu dia duduk di pinggir kasur, membelakangi aku.
"Apa yang kamu mau dari aku? Aku sudah kerja keras cari peluang, aku
sudah networking sana sini, aku sudah sacrificing waktu dan tenaga — dan
kamu di rumah tanya-tanya seperti aku belum ngapa-ngapain."
Sacrificing. Kata yang menarik dari seseorang yang tidak bangun sebelum
jam sembilan, yang tidak pernah membayar tagihan apapun dari kantongnya
sendiri, yang pulang jam dua belas malam dari 'meeting klien' yang tidak
pernah ada hasilnya.
Tapi aku tidak mengatakan itu.
"Mas," kataku, duduk. "Aku perlu cerita soal keuangan kita. Ini penting.
SPP Rini satu juta dua. Listrik dua ratus dua puluh. Aku sudah harus
pinjam dari Nadia lagi karena dari sisa gaji tidak ada yang cukup."
"Pinjam lagi sama Nadia."
"Mas, aku baru saja bilang aku sudah pinjam—"
"Ya pinjam lebih banyak."
Aku menatap punggungnya.
Punggung yang tidak pernah berbalik ketika aku berbicara tentang hal-hal
yang sulit. Punggung yang selalu menjadi tameng dari kenyataan yang dia
tidak mau hadapi. Punggung yang berbalik sama mudahnya ketika urusan
selesai dari mulutku — ketika uang sudah diberikan, ketika tagihan sudah
dibayarkan, ketika masalah sudah diatasi oleh tanganku sendiri.
"Kita tidak bisa terus begini, Mas," kataku. "Nadia baik, tapi ini bukan
solusi yang bisa terus dipakai. Kalau Mas ada penghasilan — meskipun
kecil, meskipun kerja serabutan dulu — setidaknya ada yang bisa kita
andalkan selain aku seorang—"
"Aku lagi proses, Sekar!" Suaranya meledak — tiba-tiba, seperti bahan
peledak yang tidak perlu banyak pemicu. Dia berbalik, matanya menyala
dengan kemarahan yang sudah menunggu keluar. "Tidak semua usaha langsung
jalan dari hari pertama! Butuh waktu! Butuh proses! Kamu tidak mengerti
dunia bisnis sama sekali!"
"Aku tidak minta langsung berhasil, Mas—"
"Tapi sikapmu menunjukkan sebaliknya!" Dia berdiri, berjalan ke sisi
lain kamar. "Setiap malam kamu tanya. Setiap minggu kamu cerita soal
uang. Aku lagi bangun sesuatu dan kamu terus-terusan pressure aku. Istri
yang percaya suaminya harusnya support, bukan bikin down!"
Support. Kata yang selalu muncul ketika aku mempertanyakan sesuatu —
seperti kalau aku mendukung berarti aku harus diam, seperti dukungan
istri diukur dari seberapa sering dia tidak bertanya.
Ada yang ingin aku katakan tentang itu. Tentang bagaimana mendukung
seseorang bukan berarti menutup mata terhadap kenyataan. Tentang bagaimana
selama dua tahun ini aku sudah mendukung dengan cara yang paling nyata —
dengan uang yang aku hasilkan setiap hari, dengan waktu yang aku gunakan
untuk mengurus rumah tanpa bantuan, dengan diam yang aku jaga setiap
kali ingin bicara.
Itu semua dukungan. Dukungan yang sesungguhnya. Yang tidak terlihat karena
tidak dibungkus kata-kata tapi terasa di setiap tagihan yang terbayar.
Tapi aku tidak mengatakan itu malam ini.
"Aku percaya Mas bisa," kataku. "Itu kenapa aku minta Mas ikut mikirin
bersama."
"Aku sudah mikir! Kamu yang nggak sabaran!"
Aku memejamkan mata sebentar.
Tidak ada gunanya melanjutkan malam ini. Tidak dalam kondisi seperti
ini, tidak dengan nada seperti ini, tidak ketika kelelahan dan frustrasi
sudah mencampuraduk semuanya jadi tidak produktif.
"Oke, Mas," kataku. "Maaf sudah ganggu istirahatnya."
Aku berbaring kembali. Membelakangi Bagas yang masih berdiri di sisi
lain kamar dengan amarah yang belum sepenuhnya turun.
Beberapa menit kemudian, lampu tidur dimatikan. Bagas berbaring di
sisinya, membelakangi aku juga. Dua orang yang membelakangi satu sama
lain, di kasur yang sama, dalam kamar yang sama, dalam rumah yang sama —
tapi entah sudah berapa lama tidak benar-benar berada di tempat yang sama.
Aku menatap kegelapan.
Bukan kegelapan yang nyaman. Bukan kegelapan yang mengundang tidur.
Tapi kegelapan yang terasa seperti gua — tertutup dari semua sisi, dan
aku yang ada di dalamnya sudah terlalu lama tidak melihat pintu keluar.
Dua tahun. Dua tahun 'proses' yang tidak pernah menghasilkan. Dua tahun
janji yang berputar dalam framing yang sama persis: 'masih proses, butuh
waktu, kamu tidak mengerti.'
Yang aku tidak mengerti bukan dunia bisnis. Yang aku tidak mengerti adalah:
bagaimana seseorang bisa terus percaya pada proses yang tidak pernah menghasilkan
bukti apapun kecuali tagihan baru setiap bulannya.
Aku tidak bisa tidur lagi sampai hampir jam tiga pagi.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar