Surat itu datang hari Selasa pagi, di antara tagihan listrik bulan lalu
yang belum aku bayar dan satu brosur promo minimarket.
Aku yang mengambil surat dari kotak — Bagas tidak pernah repot-repot
memeriksa kotak surat, sudah lama. Biasanya isinya membosankan: tagihan
yang sudah aku antisipasinya, selebaran yang langsung aku buang, sesekali
surat dari kantor Pak Heru soal hal-hal administratif kontrakan.
Amplop putih itu berbeda. Kop surat dari bank. Namaku tercetak jelas di
bagian penerima — nama lengkapku, alamat kontrakan ini.
Aku sobek di ujung amplop dengan jari. Keluarkan lembarannya.
TAGIHAN KARTU KREDIT — AN. SEKAR AYU LESTARI
Nomor kartu: ****-****-****-4782
Saldo tagihan: Rp 4.750.000
Tanggal jatuh tempo: 15 hari dari sekarang
Pembayaran minimum: Rp 475.000
Aku baca lagi.
Lagi.
Dan sekali lagi.
Empat juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah.
Aku berdiri di depan kotak surat itu, di bawah langit pagi yang masih
kelabu, dengan surat itu di tangan dan pikiran yang tiba-tiba berjalan
sangat lambat seolah memproses sesuatu yang terlalu besar untuk dicerna
sekaligus.
Kartu kredit ini. Aku ingat dengan baik kapan aku membuatnya — dua tahun
lalu, ketika ada keperluan mendesak dan rekening tabungan sedang kosong.
Aku buat dengan limit satu juta, yang kemudian diajukan naik ke lima juta
ketika bank menawarkan upgrade. Aku simpan kartunya di laci meja rias —
di amplop kecil, di bawah buku tabungan, di tempat yang tidak ada alasan
orang lain membuka.
Aku hampir tidak pernah menggunakannya. Gesek sekali untuk keperluan
darurat enam bulan lalu — dua ratus lima puluh ribu untuk obat ketika
aku demam tinggi dan tidak ada uang cash. Sudah aku bayar lunas bulan
berikutnya.
Sisa tagihan yang seharusnya ada: nol rupiah.
Yang ada sekarang: empat juta tujuh ratus lima puluh ribu.
Tanganku memegang surat itu — terlalu erat, sehingga ujung-ujung kertasnya
sedikit terlipat. Aku paksakan diri untuk bernapas teratur.
Siapa yang tahu di mana kartu itu aku simpan? Siapa yang tahu PIN-nya?
PIN yang aku set dari tanggal lahirku sendiri — tanggal yang siapapun
yang pernah mengenalku cukup dekat pasti tahu.
Aku tahu jawabannya. Aku sudah tahu sebelum pertanyaan itu selesai
terbentuk di kepala.
---
Aku pulang kerja sore itu dengan kaki yang terasa lebih berat dari biasanya.
Bukan lelah fisik — lelah fisik sudah biasa, sudah jadi bagian dari
setiap hari. Ini sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang lebih dalam dari
otot dan tulang.
Bagas ada di sofa ketika aku masuk. Sudah biasa. Laptop terbuka di atas
pahanya, headphone di telinga, layar menampilkan sesuatu yang tidak bisa
aku lihat dari sudut aku berdiri.
Aku letakkan surat itu di depan laptopnya tanpa berkata apa-apa dulu.
Bagas melirik. Melirik lagi. Salah satu earphone dilepas — hanya satu,
bukan keduanya, seperti memberiku setengah perhatiannya saja.
"Ini apa?" Tapi nada suaranya tidak seperti orang yang benar-benar tidak
tahu.
"Tagihan kartu kredit atasku," kataku. "Empat juta tujuh ratus lima puluh
ribu rupiah. Jatuh tempo lima belas hari lagi."
Bagas menatap surat itu. Satu detik. Dua. Tiga.
"Oh."
Satu suku kata itu saja. Tidak ada penjelasan. Tidak ada permintaan maaf.
Tidak ada ekspresi yang menunjukkan bahwa dia memahami betapa besarnya
angka ini, betapa tidak mungkinnya ini, betapa dia sudah melakukan sesuatu
tanpa memberitahuku, tanpa memintaku izin, tanpa bahkan menganggap aku
perlu tahu.
"Kapan kamu pakai?" tanyaku. Suaraku masih terkontrol — aku bangga akan
itu.
"Beberapa bulan lalu."
"Berapa bulan lalu?"
"Empat atau lima bulan. Lupa persisnya."
"Untuk apa?"
"Keperluan."
"Keperluan apa, Mas?"
"Macem-macem." Dia mau memasang kembali headphone-nya. Aku letakkan
tangan di lengannya, menghentikan gerakan itu.
"Mas." Aku duduk di kursi di sampingnya, memaksanya menatapku. "Ini
kartu kredit atas namaku. Aku yang punya riwayat kredit yang ikut
terpengaruh kalau ini terlambat bayar. Aku berhak tahu uangnya dipakai
untuk apa."
Bagas menghela napas. Panjang dan dramatis, seperti orang yang diminta
mempertanggungjawabkan sesuatu yang menurutnya tidak perlu
dipertanggungjawabkan.
"Buat modal usaha."
"Modal usaha yang mana?"
"Yang lagi aku proses. Aku bilang berkali-kali ada yang lagi berjalan,
butuh modal di depan—"
"Mas," aku memotong pelan. "Kalau kamu butuh modal untuk usaha, kamu
harus bilang dulu. Kita diskusi. Bukan ambil kartu kredit atasku tanpa
bilang. Itu bukan caranya."
"Aku tahu kamu bakal bilang nggak kalau aku minta."
"Mungkin iya, mungkin nggak. Tapi itu hak aku untuk memutuskan. Bukan
kamu yang memutuskan untuk aku."
Bagas menatapku dengan ekspresi yang sudah aku kenal — ekspresi orang
yang sedang mencari cara untuk membalik situasi, untuk menjadikan dirinya
pihak yang dirugikan dalam percakapan ini.
"Sekar, aku coba kerja keras biar kita bisa maju. Aku ambil risiko,
aku keluarkan energi dan pikiran. Kalau kamu mau nyalahin aku setiap
kali aku usaha, gimana aku mau semangat? Gimana aku bisa produktif kalau
di rumah sendiri tidak didukung?"
Aku menatapnya lama.
Ada sesuatu yang bergerak di dalam dadaku — bukan amarah, tapi sesuatu
yang lebih dingin dan lebih tajam dari amarah. Sesuatu seperti kesadaran
yang akhirnya sampai setelah lama mengetuk pintu.
Dia mengambil kartuku tanpa izin. Menggunakannya hampir lima juta rupiah.
Tidak memberitahuku. Dan ketika ketahuan, dia membalik semuanya menjadi
tentang betapa aku tidak mendukungnya.
Ini sudah terlalu sering terjadi.
Bukan baru sekali ini. Bukan baru sejak kemarin. Sudah berulang, dengan
cara yang berbeda-beda, dengan nominal yang berbeda-beda, tapi dengan
pola yang selalu sama: dia mengambil, aku yang mencari cara bayar, dan
ketika aku mempertanyakan — aku yang menjadi yang bersalah.
"Tagihan ini harus dibayar lima belas hari lagi," kataku. Suaraku jernih.
Tidak gemetar. "Dari mana uangnya, Mas? Tolong jelaskan."
"Cari jalan lah."
"Aku yang cari jalan?"
"Kamu yang kerja."
Aku berdiri.
Berjalan ke kamar. Menutup pintu — tidak membanting, hanya menutup.
Duduk di pinggir kasur dengan surat itu masih di tangan, menatap angka
yang tercetak hitam di atas putih itu, dan untuk beberapa menit aku
hanya duduk.
Tidak menangis. Ada sesuatu yang ingin menangis di dalam sana, tapi
tidak bisa keluar.
Yang ada hanya rasa hampa yang aneh — dan di dalam kehampaian itu, sangat
pelan, mulai tumbuh sesuatu yang belum pernah tumbuh sebelumnya:
Pertanyaan.
Bukan tentang bagaimana cara bayar tagihan ini — itu pertanyaan teknis
yang selalu bisa ditemukan jawabannya meski menyakitkan.
Tapi pertanyaan yang berbeda. Pertanyaan yang lebih besar. Pertanyaan
yang selama tiga tahun tidak pernah aku izinkan untuk tumbuh karena takut
dengan jawabannya:
Apakah ini memang seharusnya begini?
Dan kali ini, aku tidak langsung menutup pertanyaan itu.
Aku biarkan ia duduk di sana, di pojok kesadaranku, menunggu.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar