Telepon dari Rini masuk hari Senin siang, tepat ketika aku sedang
makan di meja kantor — nasi bungkus lima ribu yang kubeli dari kantin
sambil menunggu data laporan selesai diprint.
Aku tatap layar sebentar. Rini Pratama. Adik Ipar.
Aku angkat.
"Mbak Sekar." Suaranya langsung datar — bukan tidak sopan, tapi tidak
hangat juga. Seperti orang yang menelepon karena harus, bukan karena
mau.
"Eh, Rini. Ada apa?"
"Mbak, SPP-ku belum dibayar. Batas waktunya Kamis."
Aku letakkan sendok. Nasi bungkusku bisa menunggu.
"Berapa?" tanyaku.
"Satu juta dua ratus."
Aku diam sebentar. Satu juta dua ratus. Di saat yang sama pekan lalu
aku baru transfer tiga ratus ribu untuk Ibu Hartati — yang bulan ini
minta lebih karena katanya ada arisan. Sementara tagihan listrik baru
aku lihat di meja tadi pagi: dua ratus delapan puluh ribu.
"Rini, kemarin Mbak baru transfer ke Ibu—"
"Itu beda, Mbak. Itu keperluannya Ibu. Ini keperluanku. SPP nggak bisa
nunggu, nanti aku nggak boleh ikut ujian."
"Iya, aku tau. Tapi Mbak juga perlu atur dulu, Rin—"
"Atur gimana? Mbak kerja kan? Emang gajinya ke mana?"
Aku tarik napas. Perlahan. Sangat perlahan.
Ke mana gajinya? Mau aku jawab apa? Ke kantong suamimu — abangmu —
yang sudah dua tahun duduk di rumah sambil main game dan entah ngapain
lagi? Ke tagihan kartu kredit yang dia gesek semau dia? Ke makan kita
berdua, ke kontrakan, ke listrik, ke air, ke kirimanmu dan ibumu setiap
bulannya?
"Mbak usahakan, Rini," kataku akhirnya.
"Usahain berarti bisa kan? Aku kirimi rekening ya."
Dia tutup telepon.
Aku menatap nasi bungkus yang sudah mulai dingin.
Sebenarnya makan siang ini bisa aku skip. Sudah biasa. Perut bisa
diajak kompromi. Yang tidak bisa diajak kompromi adalah matematika —
dan matematika hari ini sangat, sangat tidak memihakku.
---
Sore hari, aku membuka buku catatan keuanganku. Buku tulis biasa,
cokelat, yang aku beli di toko alat tulis dekat kantor. Di dalamnya
aku tulis semua pengeluaran dengan tangan — aku lebih percaya tangan
daripada aplikasi, karena kalau aku tulis dengan tangan, aku benar-
benar merasakan setiap angkanya.
Gaji bulan ini: 2.800.000
Bagas ambil: 2.300.000 (termasuk 500 ribu "tambahan" minggu lalu)
Sisa di tanganku: 500.000
Dari 500 ribu itu:
- Listrik: 280.000
- Kiriman Ibu Hartati: 300.000
(tapi sudah transfer 200, kurang 100)
- SPP Rini: 1.200.000
- Makan seminggu: ???
- Transport: ???
Aku menutup buku itu.
Angka tidak bisa berbohong. Ini impossible. Aku sudah tahu dari awal
ini impossible. Tapi aku tetap duduk di sini, mencorat-coret, mencari
celah, seperti orang yang yakin ada solusi ajaib di balik angka-angka
itu kalau dia cukup lama menatapnya.
Tidak ada solusi ajaib.
Yang ada adalah kenyataan: aku harus pinjam dari Nadia lagi.
Aku tidak suka meminjam. Nadia tidak pernah keberatan — dia selalu
bilang 'anggap aja kasih' tapi aku tidak bisa berpikir begitu. Setiap
pinjaman adalah beban yang aku bawa sampai bisa aku kembalikan, dan
beban-beban itu sudah mulai menumpuk.
Aku ketik pesan ke Nadia:
"Nad, bisa pinjam dulu nggak? Nanti aku ganti pas lembur cair."
Balasan datang dalam hitungan detik.
"Berapa? Transfer sekarang."
Aku tersenyum kecil membacanya. Lalu mengetik jumlah yang aku butuhkan.
Dan sambil menunggu notifikasi masuk, aku memandang jendela kamar —
langit sudah gelap, dan di luar sana Bagas sedang rebahan di sofa
menonton YouTube, dan aku di sini menghitung-hitung caranya menutup
lubang yang bukan aku yang membuat.
Komentar
Upayakan bijak dalam memberikan komentar