Ibu Hartati datang hari Minggu dengan dua koper — padahal rencananya

hanya menginap dua malam.

 

Aku menyambut di pintu dengan senyum yang sudah aku latih sejak pagi:

tidak terlalu lebar supaya tidak kelihatan dibuat-buat, tapi cukup

hangat supaya beliau tidak punya alasan untuk complain dari detik pertama.

 

"Eh, Ibu sudah sampai. Masuk, Bu, masuk—"

 

"Aduh, panas banget rumah ini." Ibu Hartati masuk sambil mengipas-

ngipas wajahnya dengan tangan. "AC-nya nggak nyala?"

 

"AC-nya lagi rusak, Bu. Tapi Sekar sudah pasang kipas angin di kamar—"

 

"Kipas angin." Beliau mengulang dua kata itu seperti sebuah tuduhan.

"Kamu kerja, Bagas kerja, tapi AC nggak bisa diperbaiki?"

 

Bagas tidak kerja, Bu. Sudah dua tahun.

 

Tapi tentu saja aku tidak mengatakannya.

 

"Nanti Sekar usahakan, Bu. Silakan duduk dulu, Sekar buatkan minum."

 

Bagas muncul dari kamar — rambutnya rapi, bajunya bagus, wajahnya

segar. Dia peluk ibunya, cium pipi kiri kanan, ketawa-ketawa cerita

entah apa yang aku tidak dengar karena aku sudah di dapur menyiapkan

minum.

 

Teh manis panas untuk Ibu Hartati — beliau tidak suka teh celup,

maunya teh tubruk, jadi aku sudah beli kemarin khusus. Es jeruk untuk

Bagas. Air putih untuk aku sendiri.

 

Aku bawa semuanya ke ruang tamu dalam nampan. Beliau tidak menoleh.

Masih bicara dengan Bagas.

 

Aku letakkan minuman di meja. Kembali ke dapur.

 

Hari itu aku memasak empat menu: sop ayam, tempe orek, tumis kangkung,

dan perkedel jagung. Menu yang aku tahu disukai Ibu Hartati — aku

ingat dari kunjungan-kunjungan sebelumnya, mencatat dalam kepala

seperti murid yang takut gagal ujian.

 

Jam dua belas, aku menyajikan makan siang.

 

Ibu Hartati duduk, melihat meja makan, lalu mengambil sendok.

 

Aku menunggu.

 

Bukan karena berharap dipuji. Aku sudah lama tidak berharap dipuji.

Aku hanya menunggu — karena dengan Ibu Hartati, aku harus siap untuk

apa pun yang keluar dari mulutnya.

 

Beliau mencicipi sop ayam. Mengerutkan dahi.

 

"Asin."

 

"Maaf, Bu. Sekar kurangi garamnya lain kali—"

 

"Ayamnya juga alot. Kurang lama direbusnya."

 

"Iya, Bu."

 

"Kangkungnya." Beliau mengambil satu suap. "Nggak ada rasanya. Bumbu

apa yang kamu pakai?"

 

"Bawang putih, cabai, garam, sedikit terasi—"

 

"Harusnya tambah ebi. Kangkung itu enak kalau ada ebinya. Bagas suka

ebi."

 

Aku melirik Bagas. Bagas makan dengan tenang — tidak membela aku,

tidak mengomentari apapun. Hanya makan.

 

"Baik, Bu. Sekar catat."

 

"Kamu ini sudah tiga tahun nikah sama Bagas, masak begini belum bisa

juga?" Ibu Hartati meletakkan sendoknya. Bukan karena selesai — tapi

karena mau bicara dengan lebih leluasa, rupanya. "Dulu waktu aku

masakin Bagas, dia nggak pernah komplain. Karena aku masak dengan

sepenuh hati."

 

Hatiku mengatupkan diri. Pelan tapi pasti.

 

"Maaf, Bu," kataku lagi.

 

"Istri yang baik itu bisa masak enak. Bisa jaga suami. Bisa bikin

suami betah di rumah." Beliau menatapku dengan tatapan yang sudah

sangat aku kenal. "Kalau suaminya kurang betah, ya berarti ada yang

kurang dari istrinya."

 

Aku menarik napas perlahan.

 

Di meja makan ini, aku yang memasak semua makanannya. Aku yang beli

bahannya. Aku yang bangun jam lima pagi menyiapkannya. Dan sekarang

aku juga yang harus menelan kritik tentang betapa kurang sempurnanya

semua yang aku lakukan.

 

"Ibu benar," kataku. "Sekar akan belajar lebih baik lagi."

 

Ibu Hartati puas. Dia mengambil sendok lagi, melanjutkan makan.

 

Bagas akhirnya angkat bicara — bukan untuk membelaku. Tapi untuk minta

tambah nasi.

 

"Kar, nasinya tambahin."

 

Aku berdiri. Ambil piring Bagas. Ke dapur. Tambahkan nasi. Kembali.

 

Dan di jalan kembali ke meja makan itu, di lorong sempit antara dapur

dan ruang makan, aku berhenti sedetik.

 

Satu detik saja.

 

Untuk mengingatkan diri sendiri bahwa aku punya nama. Bahwa aku punya

kelelahan. Bahwa tidak ada yang melihat itu — tapi itu nyata.

 

Lalu aku masuk lagi ke ruang makan dengan piring nasi di tangan dan

senyum yang sudah kembali terpasang.

 

"Ini, Mas."