Udara di lereng Gunung Sawal seharusnya terasa menyegarkan, membawa aroma pinus dan tanah basah yang menenangkan paru-paru. Namun, bagi Bima, setiap tarikan napas justru terasa berat, seolah udara di sekitarnya mengental oleh kelembapan yang tidak wajar. Jip Toyota Hardtop tua yang ia sewa dari kecamatan terakhir terus meraung membelah kesunyian, memanjat jalanan aspal yang kondisinya semakin memprihatinkan. Aspal yang tadinya mulus kini berubah menjadi batuan makadam lepas, sebelum akhirnya menyempit menjadi jalan tanah berkerikil yang diapit oleh dinding pakis haji dan ilalang liar setinggi dada orang dewasa.

Di kursi penumpang, Bima duduk dalam diam. Di pangkuannya terdapat sebuah tas ransel kanvas berisi perlengkapan jurnalistiknya: kamera mirrorless dengan dua lensa cadangan, perekam suara, baterai ekstra, dan yang paling penting, sebuah buku catatan bersampul kulit kusam milik kakaknya, Arya. Guncangan mobil yang kasar sesekali membuat tas itu merosot, namun Bima selalu sigap menahannya dengan cengkeraman erat. Buku itu adalah satu-satunya petunjuk yang ia miliki.

Sudah tiga bulan berlalu sejak surat terakhir Arya tiba di apartemen Bima di Jakarta. Arya adalah seorang antropolog idealis yang mendedikasikan hidupnya untuk meneliti suku-suku terasing dan fenomena sosial kultural di pelosok Nusantara. Biasanya, Arya selalu mengirimkan kabar setidaknya sebulan sekali, menceritakan keunikan tradisi lokal atau sekadar mengeluh tentang susahnya mencari sinyal internet. Namun, surat terakhir itu berbeda. Tidak ada cap pos yang jelas, hanya amplop cokelat kotor yang diselipkan di bawah pintu apartemennya.

Isi surat itu hanya terdiri dari beberapa baris kalimat yang ditulis dengan tinta yang tampak seperti ditekan terlalu kuat pada kertas, seolah penulisnya sedang dalam keadaan gemetar hebat atau ketakutan setengah mati. “Bim, ini mungkin pesan terakhirku. Jangan pernah mencariku ke tempat ini. Tapi jika aku benar-benar tak pulang, aku mohon satu hal padamu: jangan biarkan mereka mengambil bayanganku. Mereka memakannya, Bim. Mereka memakan cahaya.”

Kalimat itu terus berputar-putar di kepala Bima seperti kaset rusak. Sebagai seorang jurnalis investigasi yang terbiasa membongkar kasus korupsi dan mafia tanah, Bima adalah orang yang sangat logis. Ia bersandar pada fakta, data, dan bukti empiris. Kata-kata seperti 'memakan bayangan' atau 'memakan cahaya' baginya terdengar seperti racauan orang yang kehilangan kewarasan akibat dehidrasi atau malaria tropika. Namun, insting persaudaraannya tidak bisa berbohong. Ada bahaya nyata yang sedang mengancam Arya, dan Bima tidak akan diam saja.

"Mas Bima yakin kita harus terus ke atas?" Suara serak Pak Dadang, supir jip sewaan tersebut, memecah lamunan Bima. Sejak mereka melewati pertigaan terakhir yang memisahkan jalan utama dengan jalur menuju desa ini, raut wajah pria tua itu berubah pucat. Matanya terus terpaku ke depan, menolak untuk melirik ke arah rimbunnya hutan bambu yang memagari sisi kanan dan kiri jalan.

"Yakin, Pak. Sesuai kesepakatan awal kita, tujuan saya adalah Sukamaya. Kakak saya terakhir kali memberikan kordinat yang mengarah ke daerah ini sebelum komunikasinya benar-benar terputus," jawab Bima dengan nada datar namun tegas, mencoba menutupi kegelisahannya sendiri.

Pak Dadang mengusap tengkuknya yang berkeringat dingin, meski AC mobil menyala cukup kencang. "Masalahnya, Mas... Sukamaya itu bukan desa sembarangan. Orang-orang di pasar bawah jarang ada yang mau membicarakan desa itu. Jangankan membicarakan, menatap ke arah lereng ini saja mereka enggan. Penduduk sana... mereka agak berbeda. Tertutup. Sangat tertutup."

Bima tersenyum tipis, senyum sinis yang sering ia gunakan saat menghadapi narasumber yang mencoba menyembunyikan sesuatu. "Berbeda bagaimana, Pak? Apakah mereka punya hukum adat yang keras? Atau menolak orang luar karena trauma masa lalu? Itu hal biasa dalam kajian antropologi, Pak. Kakak saya justru mencari tempat-tempat yang belum tersentuh modernisasi seperti itu."

"Bukan begitu, Mas," potong Pak Dadang cepat. Nada suaranya sedikit bergetar. "Ini bukan soal menolak modernisasi. Mereka punya listrik, mereka punya rumah bagus. Tapi... ada sesuatu yang salah dengan tempat itu. Udara di sana tidak sama. Dan ada desas-desus... ah, sudahlah. Anggap saja omongan orang tua yang percaya takhayul. Tapi mereka bilang, matahari di Sukamaya tidak pernah memberikan keadilan."

Bima mengerutkan kening. "Keadilan bagaimana maksudnya?"

"Matahari menyinari mereka, tapi tidak pernah sudi meninggalkan jejak di tanah mereka," bisik Pak Dadang pelan, seolah takut ada yang mendengarnya dari balik rimbunnya pohon bambu.

Bima hanya menghela napas panjang. Ia memutuskan untuk tidak mendebat lebih lanjut. Baginya, ketakutan masyarakat lokal terhadap mitos adalah hal yang wajar dan sering kali menjadi mekanisme pertahanan diri untuk menjaga privasi wilayah mereka.

Sekitar dua puluh menit kemudian, mobil akhirnya melambat dan berhenti total. Di depan mereka, jalan tanah terputus oleh sebuah gerbang kayu raksasa yang sudah melapuk dimakan usia dan ditumbuhi lumut tebal. Di bagian atas gerbang itu, terdapat ukiran kayu usang bertuliskan: SUKAMAYA.

Namun, yang membuat Bima terpaku bukanlah gerbang itu, melainkan atmosfer yang mendadak berubah drastis saat mesin mobil dimatikan. Begitu deru mesin Hardtop itu hilang, Bima seolah dilempar ke dalam ruang hampa udara. Kesunyian yang menyergap terasa memekakkan telinga. Tidak ada kicauan burung, tidak ada suara jangkrik, bahkan suara angin yang menggesek dedaunan pun tidak terdengar. Hutan di sekitar mereka seolah menahan napas.

"Saya cuma bisa mengantar sampai sini, Mas Bima," kata Pak Dadang sambil memalingkan wajahnya dari gerbang tersebut. Tangannya gemetar saat memegang kemudi. "Mobil tidak bisa masuk, jalannya terlalu sempit dan menanjak tajam setelah gerbang itu. Mas tinggal jalan kaki lurus ke depan sekitar lima ratus meter, nanti akan langsung masuk ke permukiman."

Bima mengangguk. Ia meraih tas ranselnya, merogoh dompet, dan menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu sebagai bayaran tambahan. "Terima kasih, Pak Dadang. Kalau bisa, jemput saya di titik ini minggu depan di jam yang sama."

Pak Dadang menerima uang itu dengan ragu-ragu. Ia menatap Bima dengan pandangan yang sulit diartikan—campuran antara kasihan dan ketakutan. Sebelum Bima membuka pintu mobil, pria tua itu menahan lengannya.

"Mas Bima," panggil Pak Dadang, suaranya nyaris hanya berupa embusan napas. "Kalau Mas merasa ada yang aneh dengan diri Mas sendiri di sana... kalau Mas merasa langkah Mas menjadi terlalu ringan, dan tanah di bawah Mas terasa kosong... larilah. Jangan tunggu malam tiba. Dan apa pun yang terjadi, jangan pernah menerima tawaran mereka untuk tinggal secara permanen."

Bima menatap mata Pak Dadang sejenak, mencari kebohongan di sana, namun ia hanya menemukan ketakutan yang murni. Bima akhirnya mengangguk pelan, membuka pintu, dan melangkah turun. Begitu kakinya menyentuh tanah, Pak Dadang langsung memutar balik jipnya dengan terburu-buru, ban mobil menggilas kerikil dengan kasar, melarikan diri dari tempat itu secepat yang ia bisa.

Kini Bima sendirian. Matahari tepat berada di atas kepala, bersinar sangat terik, namun Bima tidak merasakan kehangatannya. Udara terasa dingin dan menusuk tulang. Ia menarik napas dalam-dalam, mengencangkan tali ranselnya, dan melangkah melewati gerbang kayu yang lapuk itu. Setiap langkah sepatunya yang beradu dengan tanah kering terdengar bergema terlalu keras di telinganya sendiri. Ia memasuki Sukamaya, melangkah menuju misteri yang menelan kakaknya tanpa sisa.